Dasar Kekristenan Nomor #1.

sembah-yesus-masuk-neraka

DAN INGATLAH WAHAI JIDAT KRISTEN …

APA-APA YANG KAMU YAKINI ITU,
SEMUA NYA TIDAKLAH AKAN BERGUNA DAN KAMU TIDAK AKAN DIAKUI SEBAGAI UMAT YESUS, KARENA YESUS SAMA SEKALI TIDAK MAU DI TUHANKAN …

KARENA MEMANG DIA BUKAN TUHAN, DAN KAMU SEKALIAN AKAN DI MASUKAN KE NERAKA JAHANAM SELAMANYA KARENA DIANGGAP SEBAGAI PEMBUAT KEJAHATAN … SBB:

YESUS MENGUTUK ORANG YANG MENUHANKANNYA:

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku (Yesus): Tuhan, Tuhan! Akan masuk kedalam kerajaan sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”. (MAT 7:21)

“Pada hari terakhir (Kiamat) banyak orang akan berseru kepada-Ku (Yesus): Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu (Yesus), dan mengusir setan demi nama-Mu (Yesus), dan mengadakan banyak muzijat demi nama-Mu (Yesus) juga?”. (MAT 7:22)

“Pada waktu itulah Aku (Yesus) akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku (yesus) tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku (Yesus), kamu sekalian pembuat kejahatan”. (MAT 7:23)

4 Hukum Riba dalam Kristen dan Perkembangannya

riba

Riba adalah tindakan yang dilakukan seseorang dengan meminjamkan uang kepada orang lain dan meminta bunga dari orang tersebut. Pada abad keempat, hierarki Gereja Katolik Roma sempat melarang pengambilan bunga semacam ini. Pihak gereja menjadikan Perjanjian Lama sebagai pedoman, dimana di dalamnya terdapat larangan dalam hal pengambilan bunga atau riba.

Banyak pendapat negatif mengenai riba pada jaman ini. Seseorang yang berniat membantu namun memberlakukan praktik riba dianggap sebagai pertolongan palsu.  Selain itu, riba juga dipandang sebagai tindakan yang tidak berperikmanusiaan karena mengambil keuntungan dari orang-orang yang memerlukan. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa pemberi bunga adalah seorang perampok yang kejam.

Dan sebelum kita membahas lebih jauh mengenai hukum riba menurut Kristen, mari terlebih dahulu kita cermati beberapa ayat yang berbicara mengani hukum riba dalam Kristen.

1 Keluaran 22:25-27

“Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya. Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam, sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya–pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih.”

Ulangan 23:19

“Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan atau apapun yang dapat dibungakan.”

Matius 5:42

“Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.”

Imamat 25:36-37

“Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu. Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kauberikan dengan meminta riba.”

Apabila kita mencermati pesan dari ayat-ayat tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya pengambilan bunga / riba dilarang oleh Alkitab. Namun, tentu saja kita harus berpikir terbuka. Kita tidak bisa menilai dari satu sisi saja, kita juga perlu melihat dari sisi lain bahwa dunia semakin berkembang, ekonomi semakin bertumbuh pesat, dan kehidupan modern yang tak terelakkan.

Bukan artinya kita mengabaikan Alkitab sebagai pedoman, melainkan kita memahami riba dengan makna yang berbeda. Dan pelarangan riba dalam Alkitab itu sendiri pasti memiliki alasan. Nah di dalam artikel ini, kita akan mengetahui apa itu sebenarnya riba dan kapan riba itu dapat mendatangkan dosa.

Perkembangan Riba

Pada akhir abad ke-13, terdapat kelompok-kelompok yang berusaha untuk menghilangkan aturan gereja yang dianggap kolot ini, sehingga pemberlakuan bunga mulai berkembang luas dan bahkan dianggap sah di Eropa.

Hal lain yang mempengaruhi meluasnya sistem bunga pada masa itu adalah karena perkembangan ekonomi yang sangat pesat. Uang menjadi unsur yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, sehingga perlahan-lahan pasar uang mulai terbentuk. Dan hal tersebut mendorong semakin meluasnya suku bunga pasar.

Pertimbangan yang dilakukan oleh sarjana Kristen pada saat itu sehingga menerima sistem bunga ini tidak hanya merujuk pada Alkitab, melainkan mereka juga mengaitkan dengan aspek-aspek lain, di antaranya  jenis dan bentuk undang-undang, hak seseorang terhadap harta, ciri dan makna keadilan, bentuk keuntungan, niat dan perbuatan manusia, serta perbedaan antara dosa individu dan kelompok.

Sehingga, definisi bunga itu sendiri pun mulai berubah. Bunga dibedakan menjadi dua macam, yaitu interset dan usury. Interset adalah bunga yang diperbolehkan sedangkan usury adalah bunga yang berlebihan.

Para penggerak sejarah reformasi gereja seperti John Calvin juga berpikir bahwa pemberian bunga boleh dilakukan asalkan bunga tersebut digunakan untuk kepentingan yang produktif. Jadi intinya, mereka berpendapat bahwa dosa atau tidaknya pemberlakuan bunga tergantung pada niat si pemberi bunga.

Dan terlebih lagi, Gereja Katolik pun mulai menerima riba. Namun, bukan karena mereka dengan sengaja melanggar perintah Alkitab, melainkan karena pemahaman mereka terhadap riba itu sendiri mulai berubah. Pada jaman dahulu, uang tidak akan memberikan hasil apabila tidak dijalankan. Dan kita bisa lihat ekonomi saat ini bahwa uang dapat diinvestasikan. Sehingga, pemberian bunga dengan presentase yang pantas dianggap tindakan yang cukup adil. Sedangkan apabila bunga yang diberikan itu terlalu tinggi, maka tindakan ini dianggap suatu dosa. Maka dari itu, riba bisa dipahami dari sisi lain dan harus dilaksanakan dengan bijaksana.

Contoh riba yang tidak boleh dilakukan adalah mengambil bunga dari orang yang miskin dan sangat membutuhkan. Kalau kita melakukannya, itu sama saja kita melanggar hukum kasih dalam Alkitab dengan mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain. Sedangkan contoh riba yang boleh dilakukan adalah pemberian bunga dalam urusan bisnis dimana kedua belah pihak sudah menyetujuinya sejak awal.

Namun, apabila kita melihat dari peran nilai-nilai Kristiani dan tidak melihat dari sisi kepentingan bisnis, maka alangkah baiknya kita meresapi ayat Alkitab dalam Matius 10:8, yang menasihati kita untuk memberi dengan cuma-cuma karena kita telah menerima anugerah-Nya dengan cuma-cuma pula. Terapkan selalu prinsip kasih tentang Alkitab kepada sesama. Dan alangkah baiknya juga kalau kita tidak menjadi pihak yang berhutang. Paulus sendiri mengatakan supaya kita jangan berhutang apapun, selain hutang kasih.

Sekian artikel tentang hukum riba dalam Kristen. Semoga artikel ini dapat membantu pembaca memandang riba dalam berbagai sisi dan sesuai konteksnya. Terima kasih.

Sumber, https://tuhanyesus.org/hukum-riba-dalam-kristen. Diakses 1 Oktober 2019.

-o0o-

Sophislam,

Jadi intinya, Kristen menghalalkan riba, walau pun Alkitab telah menjerit-jerit tentang betapa haramnya riba, sehingga bisa dikatakan bahwa Gereja beserta umatnya begitu berani menentang kitab suci mereka sendiri.

Tidak usah berpanjang lebar mengenai kebolehan riba, toh intinya Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru jelas-jelas mengharamkan riba. Pantaslah, masyarakat Kristen menjadi masyarakat terdepan di dunia di dalam hal praktek riba, yang kemudian menjalar ke mana-mana sampai ke negeri Indonesia.

Ohya, jangan lupa juga satu hal, bahwa Jesus menebus dosa seluruh umatnya. Jadi umatnya (yaitu umat Kristen) dibiarkan saja berbuat maksiat sebanyak mungkin, toh nanti semua dosanya akan ditebus Jesus kelak. Maka dari itu Gereja beserta umatnya berani melawan Alkitab, karena toh nanti Jesus akan datang sebagai penebus dosa, termasuk di dalam hal ini, yaitu menentang Alkitab di dalam hal pengharaman riba.

Islam sendiri dengan jelas mengharamkan riba, tidak beda dengan Alkitab. Dan sampai kini umat Muslim tetap taat kepada pengharaman ini, sehingga semua umat Muslim memandang riba sebagai praktek haram. Diakui tidak sedikit Muslim yang berbuat riba, namun bukankah hal tersebut selalu dikaitkan dengan maksiat dan terkutuk di tengah umat Muslim?

Ujung-ujungnya, bagaimana mungkin umat Kristen dapat dianggap sebagai umat yang kitabiah? Mereka sendiri yang menentang Alkitab mereka, maka apakah pantas disebut umat yang taat kepada Alkitab? Di mana posisi umat Kristen terhadap Alkitab? Ketuhanan Jesus saja, tidak pernah diajarkan Alkitab, tidak ada satu pun ayat Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa Jesus adalah anak Tuhan dan penebus dosa umat, namun entah bagaimana seluruh Gereja dan umatnya meyakini bahwa Jesus adalah putra Allah dan penebus dosa umatnya yang percaya kepada Jesus sebagai  putra Allah. Sekali lagi, di mana posisi umat Kristen terhadap Alkitab mereka sendiri?

Wallahu a’lam bishawab.

Pengertian Kafir Menurut Kristen dan Ayat Alkitabnya

antikafir

Saat ini, isu agama sedang merajalela di Indonesia. Isu agama membuat kata ‘kafir’ menjadi salah satu kata yang sering disebutkan. Begitu mudahnya orang memanggil orang lain dengan sebutan kafir. Di Indonesia, negara dengan populasi Islam terbanyak, sering menggunakan kata kafir untuk orang yang non-Muslim.  Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan ‘kafir’ sebagai orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya. Teologi Islam sendiri memanggil seseorang kafir jika orang tersebut tidak percaya kepada kerasulan nabi Muhammad. Kekristenan pun mengenal kata kafir, tetapi memiliki makna yang berbeda.

Mengapa orang Kristen disebut Kafir, ini dia beberapa alasannya yang perlu kalian ketahui sebagai berikut:

Pada QS Al-Maidah:72 tertulis, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berata, ‘Sesungguhnya Allah ialah Al Masih (Yesus) putra Maryam”. Orang Kristen disebut kafir karena percaya pada Yesus sebagai Allah yang turun ke dunia dan menjadi manusia. (Baca juga: Arti Imanuel)

QS Al-Maidah:73 menyebutkan, “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah satu dari yang tiga”. Kristen adalah agama monoteisme yaitu percaya kepada satu Allah. Namun, dalam kekristenan, orang Kristen percaya adanya tiga pribadi dalam Allah yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Inilah yang biasa disebut sebagai Allah Tritunggal.

Selain kedua ayat tersebut, orang Kristen dipanggil kafir karena tidak mengakui kenabian Muhammad serta tidak berpegang pada ajaran Al-Quran. Ini menyebabkan tidak hanya orang Kristen yang disebut kafir, tetapi juga semua orang non-Muslim (baca juga: Menjadi Murid Kristus).

Kafir Menurut Perjanjian Lama

Bilangan 23:9 (TB) “Sebab dari puncak gunung-gunung batu aku melihat mereka, dari bukit-bukit aku memandang mereka. Lihat, suatu bangsa yang diam tersendiri dan tidak mau dihitung di antara bangsa-bangsa kafir”.

Pada ayat ini, Perjanjian Lama menggunakan istilah goyim yang merupakan bahasa Ibrani untuk menyebutkan kata kafir. Istilah goyim dipakai untuk menyebut bangsa-bangsa non-Yahudi. Bagi bangsa Yahudi, mereka adalah umat khusus, bangsa yang dipilih oleh Allah. Kata kafir di sini pun didefinisikan sebagai orang-orang yang tidak menyembah Allah Abraham (Baca juga: Pengertian Takut Akan Tuhan).

Kafir Menurut Perjanjian Baru

Galatia 2:14 (TB) “Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: ‘Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?”.

Pada ayat ini, ‘kafir’ merupakan terjemahan dari kata ‘ethnikos’. Kata ini menunjukkan sebuah pola hidup yang tidak sesuai dengan adat Yahudi. Kita tahu bahwa Yahudi sendiri memiliki hidup yang menuruti perintah firman Tuhan. Jadi, kata ‘kafir’ di sini menjelaskan hidup yang tidak sesuai perintah firman Tuhan. (baca juga: Perbedaan Islam dan Kristen)

Secara etnologi, kata kafir menurut Kristen merujuk pada orang-orang non-Yahudi seperti yang dijelaskan pada Perjanjian Lama. Namun, Paulus dalam suratnya untuk jemaat di Galatia memakai kata kafir orang-orang yang tidak mengalami pertobatan, yang masih memiliki kehidupan yang sama seperti orang-orang non-Kristen. Sehingga bangsa Yahudi pun bisa saja disebut sebagai kafir. Hal ini juga menekankan bahwa kafir bukan hanya sekedar orang yang tidak menganut agama Kristen. Makna kafir bukan hanya sekedar agama Kristen atau tidak. Orang yang hidup semaunya sendiri, men-tuhan-kan diri sendiri, meski di KTP tertulis Kristen pada kolom agamanya, ia bukanlah seorang Kristen. Ia adalah seorang kafir karena tidak hidup sesuai firman Tuhan. Penyebutan kata kafir oleh Paulus pun juga menjelaskan bahwa tidak ada lagi pemisahan golongan antara Yahudi dan non-Yahudi. Pengelompokan yang ada adalah mengenal Allah atau tidak mengenal Allah. Saat ini, kata kafir dipakai untuk orang-orang yang tidak mengenal Allah. Dengan definisi yang sama, kata kafir dalam Muslim dan Kristen merujuk kepada golongan yang berbeda. Lalu, bagaimana seharusnya kata kafir digunakan?

Sikap Orang Kristen Dalam Menggunakan Kata Kafir

Matius 5:21-22 (TB) “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala”.

Pada ayat ini, kata ‘kafir’ berasal dari kata ‘raka’. ‘Raka’ memang biasa dipakai untuk melakukan penghinaan pada orang lain. Namun, kata ini tidak memiliki makna yang sama dengan kata ‘kafir’ yang kita pahami saat ini. Kita memahami ‘kafir’ berkaitan dengan iman, tetapi kata ‘raka’ berkaitan dengan orang yang tidak tahu apa-apa, orang yang bodoh, dan beberapa keterangan lainnya sebagai berikut:

Jadi, sebenarnya ayat ini memang tidak bermaksud untuk mengatakan sesuatu tentang kafir menurut Kristen dalam orang lain. Mazmur 14:1 (TB) “Untuk pemimpin biduan. Dari Daud. Orang bebal berkata dalam hatinya: ‘Tidak ada Allah.’ Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik.”  (baca juga: Cara Bertobat Orang Kristen)

Namun, pada Mazmur 14:1 dikatakan bahwa orang yang bodoh tidak mengakui keberadaan Allah. Hal ini bisa kita kaitkan kembali dengan ayat sebelumnya (Matius 5:21-22).

Kata ‘raka’ berarti orang bodoh dan menurut ayat ini, orang bodoh tidak mengakui adanya Allah. Dengan begitu, kata ‘kafir’ yang digunakan LAI dalam Matius 5:21-22 menjelaskan kepada kita tentang orang yang tidak mau mengakui adanya Allah. (baca juga: Alasan Orang Islam Masuk Kristen)

Kata kafir memang seringkali dipakai untuk mengungkapkan kebencian dan untuk membela agamanya sendiri. Namun, Jesus mengingatkan bahwa kita tidak boleh mengkafirkan orang lain. Yesus mengkaitkan mengkafirkan orang lain dengan hukum ‘Jangan Membunuh’ yang ada pada Hukum Taurat. Pada Perjanjian Lama, tidak ada hukum yang membahas tentang mengkafirkan orang lain. Namun, Jesus mau menjelaskan bahwa membunuh tidak hanya sekedar membuat orang lain mati secara fisik. Dengan kita menyebut orang lain kafir, kita membunuh pribadi orang tersebut dan itu sama saja dengan pelanggaran Hukum Taurat. (baca juga: Hukum Tabur Tuai)

Sumber, https://tuhanyesus.org/kafir-menurut-kristen/amp

-o0o-

Sophislam,

Memahami artikel milik situs Kristen yang membahas penggunaan kata kafir, maka kita dapat mengambil dua hal yang patut untuk ditelaah.

Pertama.

Ternyata antara Yahudi, Kristen dan Islam mempunyai kesamaan pendirian mengenai kata kafir menurut bahasa masing-masing: goyim, atau raka dsb. Intinya, kata kafir, menurut artikel milik situs Kristen ini, berarti orang yang tidak mengenal Allah, dan atau tidak menjalani hidup sesuai dengan Firman Allah. Sebenarnya faham yang demikian juga terkandung di dalam penggunaan kata kafir di dalam Islam. Di dalam Islam, kafir mempunyai dua makna, yaitu individu yang tidak mengenal Allah, alias mengingkari keesaan Allah Swt, dan yang kedua adalah individu Muslim yang hidupnya tidak sesuai dengan syariah Islam. Pelacur dan koruptor misalnya, juga bisa dikatakan kafir walau pun secara KTP mereka adalah Muslim. Jadi tidak ada bedanya antara Yahudi, Kristen maupun Islam di dalam hal pemaknaan kata kafir.

Jadi menurut Yahudi, semua orang non Yahudi adalah kafir. Kemudian menurut orang Kristen, semua orang non Kristen adalah kafir. Dan terakhir, menurut orang Muslim, semua orang non Muslim (Yahudi, Kristen, Hindu, Buddha, Konghuncu, Shinto, Sikh, Ahmadiyah, atheis dsb) adalah kafir. Itu menurut kitab suci Alkitab dan Alquran / Islam. Fair sudah.

Kedua.

Isu yang kedua, ini yang lebih meruncing. Menurut orang Kristen, Jesus melarang umatnya untuk mengkafirkan orang lain, “Namun, Jesus mengingatkan bahwa kita tidak boleh mengkafirkan orang lain”: itu kata para Kristen.

Pertanyaan: dasarnya apa, untuk menyatakan bahwa Jesus melarang umatnya untuk mengkafirkan orang lain?

Orang Kristen menggunakan ayat ini sebagai dasarnya:

Matius 5:21-22 (TB) “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala” (bold emphasize mine).

Ayat ini tidak BISA / tidak BOLEH dijadikan dasar bagi orang Kristen untuk menyatakan bahwa Jesus melarang umatnya mengkafirkan orang lain. Pada bagian berikutnya, para Kristen lebih jauh menjelaskan bahwa kata kafir pada matius di atas berasal dari kata ‘raka’ yang berarti bodoh. Jelaslah berbeda antara kafir dan bodoh. Jadi seharusnya ayat matius di atas berbunyi demikian,

“….. siapa yang berkata kepada saudaranya: Bodoh, Goblok, Tolol, Ndablek! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan……”.

Itu baru fair: jangan samakan antara kafir dan bodoh, jangan samakan antara kafara dengan raka. By the way, ternyata orang Kristen pun telah LANCANG menerjemahkan kata perkata dari lisan Jesus, sehingga beraninya mengganti kata raka (yang berarti bodoh) dengan kata kafir (yang berarti tidak mengenal Allah, atau mengingkari Allah sebagai Tuhan Semesta alam): Jesus berkata RAKA, bukan kafir atau goyim dsb. Sekali lagi, RAKA, yang berarti bodoh. Mengapa bisa menjadi kafir?

Di dalam Islam pun juga demikian. Islam melarang umatnya untuk mengkatai sesama saudaranya dengan perkataan di luar Iman.

[49 Al Hujurat: 11] Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan (seperti Bodoh, Goblok, Tolol, Ndablek dsb). Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Kata bodoh, dan sejenisnya, tentunya mempunyai arti yang luas: kata bodoh tidak serta merta berarti orang yang tidak mengenal Allah atau mengingkari Allah sebagai Tuhan Semesta alam, dan tidak bisa di-”monopoli” bahwa bodoh hanya dan harus selalu berarti orang yang tidak mengenal Allah Swt.

Kesimpulan.

Baik Yahudi, Kristen maupun Islam, (berdasar artikel Kristen di atas) tidak melarang umatnya masing-masing untuk mengkafirkan orang lain yang tidak seiman, itu intinya. Namun di luar itu, ketiga agama tersebut melarang memanggil sesama saudaranya seiman dengan panggilan yang buruk sesudah Iman, yang artinya, tidak boleh mengkafirkan sesama saudara seiman, selama mereka tidak berkubang maksiat dan kedurjanaan: ini tepat sekali seperti apa yang ditulis orang Kristen sendiri di dalam paparan ini,

“…….. Makna kafir bukan hanya sekedar agama Kristen atau tidak. Orang yang hidup semaunya sendiri, men-tuhan-kan diri sendiri, meski di KTP tertulis Kristen pada kolom agamanya, ia bukanlah seorang Kristen. Ia adalah seorang kafir karena tidak hidup sesuai firman Tuhan”.

Patut diingat, bahwa Kristen menganggap / memanggil umat di luar Kristen dengan sebutan DOMBA SESAT. Bukankah itu juga merupakan penghinaan terhadap kemanusiaan? Kami umat Muslim (dan non Kristen lainnya) oleh para pendeta dan orang Kristen selalu diposisikan sebagai domba sesat, yang artinya pertama, binatang yang tidak mempunyai otak, dan kedua, yang sesat. Sudahlah dikata binatang, masih dikata sesat pula. Itu apa maksudnya? Kalau orang Kristen naik darah kalau diperkatakan kafir oleh umat Muslim, maka umat Muslim pun naik darah kalau diperkatakan sebagai domba sesat oleh umat dan pemuka Kristen.

Ingat, Jesus sendiri yang berlisan: tidaklah aku diutus, kecuali kepada domba-domba yang sesat di kalangan bani Israel – Matius 15:24

Bagaimana mungkin ‘Tuhan’ membinatangkan manusia? Lebih jahat mana, mengkafirkan, atau membinatangkan manusia?

Kalau yang ini bagaimana?

Matius 3:7 Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?

Silahkan direnungkan.

Wallahu a’lam bishawab.

Kristen Menghalalkan Judi

kalah-judi

Apa kata Alkitab mengenai judi? Apakah judi itu dosa?

Pertanyaan: Apa kata Alkitab mengenai judi? Apakah judi itu dosa?

Jawaban: Judi dapat didefinisikan sebagai “upaya mempertaruhkan uang dalam usaha untuk melipat-gandakan uang untuk sesuatu yang kemungkinannya kecil.” Alkitab tidak secara khusus mencela perjudian, pertaruhan atau lotto itu sendiri.

Tapi secara jelas, Alkitab memperingatkan kita untuk menjauhkan diri dari mencintai uang (1 Timotius 6:10; Ibrani 13:5). Alkitab juga menasehati kita untuk menjauhkan diri dari usaha “mendapat kekayaan dengan cepat” (Amsal 13:11; 23:5; Pengkhotbah 5:10).

Judi, sangat jelas, berfokus pada usaha mencintai uang dan menggoda orang dengan janji untuk mendapatkan kekayaan secara cepat dan mudah.

Apa masalahnya dengan judi? Judi adalah isu yang sulit karena jika dilakukan dengan tidak berlebihan dan hanya sesekali, ia cuma sekedar menghamburkan uangnya, namun tidak berarti menjadi sesuatu yang “jahat”.

Orang menghamburkan uang dalam berbagai macam aktivitas. Judi tidak menghamburkan uang lebih banyak atau lebih sedikit dibanding dengan berbelanja, bersantap yang mewah / mahal, ataupun membeli barang yang tidak perlu.

Fakta bahwa uang juga bisa dihamburkan dalam hal-hal lain tidak lantas membenarkan judi.

Uang tidak seharusnya dihambur-hamburkan. Kelebihan uang seharusnya ditabung supaya bisa diberikan untuk pekerjaan Allah, bukan dihabiskan untuk berjudi.

Walaupun Alkitab tidak secara eksplisit mencantumkan judi, Alkitab menyebut permainan “untung-untungan.” Contohnya, melempar undi digunakan dalam kitab Imamat untuk memilih domba yang akan dikorbankan dan domba yang akan dilepaskan. Yosua membuang undi untuk membagi tanah kepada berbagai suku. Nehemia membuang undi untuk menentukan siapa yang akan tinggal di Yerusalem dan siapa yang tidak. Para rasul membuang undi untuk menentukan pengganti Yudas. Amsal 16:33 mengatakan, “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN”.

Dalam Alkitab, judi atau “untung-untungan,” tidak pernah digunakan sebagai hiburan atau sebagai kebiasaan yang pantas bagi para pengikut Allah.

Kasino menggunakan segala bentuk pemasaran untuk menarik penjudi mempertaruh uang mereka sebanyak mungkin. Kasino sering menawarkan minuman beralkohol secara murah, bahkan gratis, yang kemudian mengakibatkan para penjudi mabuk dan menurunnya kemampuan mereka membuat keputusan secara bijaksana.

Segala sesuatu dalam kasino ditata sedemikian rupa untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dan tidak mengembalikan apa-apa, kecuali kesenangan yang singkat dan kosong.

Lotto berusaha melukiskan dirinya sebagai solusi untuk mendanai pendidikan dan / atau program-program sosial. Namun riset memperlihatkan bahwa orang yang bermain lotto biasanya adalah orang-orang yang justru tidak mampu secara finansial untuk memasang lotto. Bagi mereka yang sudah kehabisan akal, daya tarik untuk “cepat kaya” sering merupakan godaan yang terlalu sulit untuk ditahan.

Kesempatan untuk menang begitu kecilnya sehingga akibatnya: banyak yang hidupnya hancur.

Mengapa keuntungan dari lotto tidak menyenangkan Allah? Banyak orang mengklaim bahwa mereka memasang lotto atau berjudi supaya dapat memberi uang kepada gereja, atau untuk pekerjaan amal lainnya. Walaupun ini adalah motif yang baik, kenyataannya hanya sedikit yang menggunakan keuntungan dari judi untuk hal yang rohani.

Studi memperlihatkan bahwa mayoritas dari mereka yang menang lotto justru berada dalam situasi keuangan yang lebih parah, beberapa tahun setelah menang jackpot dibanding sebelumnya.

Hanya sedikit, kalaupun ada, yang memberi untuk pekerjaan amal. Lebih dari itu, Allah tidak membutuhkan uang kita untuk mendanai pekerjaanNya dalam dunia ini. Amsal 13:11 mengatakan, “Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya.”

Allah berdaulat dan akan menyediakan segala kebutuhan gereja melalui cara-cara yang jujur dan pantas. Apakah nama Allah akan dipermuliakan melalui uang hasil penjualan narkoba, atau uang yang dirampok dari bank? Demikian pula, Allah tidak menghendaki uang yang “dicuri” dari orang-orang miskin, melalui godaan untuk cepat kaya, untuk dipersembahkan kepadaNya.

1 Timotius 6:10 memberitahu kita “karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

Ibrani 13:5 menyerukan, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau”.

Matius 6:24 mengatakan, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”.

Sumbeer, https://www.gotquestions.org/Indonesia/dosa-judi.html

-o0o-

Sophislam,

Jadi intinya, mudahnya, Kristen sama sekali tidak mengHARAMkan judi, yang mana itu berarti Kristen / Alkitab TIDAK melarang umatnya untuk berjudi sesuka hati. Hal ini terlihat dari kalimat paparan ini sendiri, yang menyatakan bahwa “Alkitab tidak secara khusus mencela perjudian, pertaruhan atau lotto itu sendiri” (paragraf pertama).

Kemudian dari pada itu, umat Kristen melihat bahwa judi mempunyai sisi mudharatnya yang lebih besar dari sisi manfaatnya, sehingga umat /  pemuka Kristen mencari-cari dalil supaya terdengar seolah Alkitab melarang judi (karena mudharatnya lebih besar). Tentunya hal ini tidak akan berhasil, karena Alkitab sendiri tidak secara khusus mencela judi, pertaruhan atau lotto. Bukan begitu?

Untuk mengaku saja bahwa Alkitab tidak mencela (mengharamkan) judi pemuka Kristen mengalami kesulitan, padahal sudah jelas Alkitab tidak mempunyai ayat yang mencela / mengharamkan judi. Untuk mengaku saja bahwa Alkitab MEMBOLEHKAN judi, pemuka / pemikir Kristen merasa berat hati, karena toh dasarnya untuk melarang / mengharamkan judi memang tidak ada di dalam Alkitab.

Kemudian dari pada itu, orang Kristen membandingkan judi dengan untung-untungan atau mengundi. Tentunya hal ini tidak dapat dibenarkan secara logika, karena judi dan undi jelas berbeda. Mengundi, atau melempar undi, dapat disamakan 100% dengan hompimpah, untuk membagi kelompok bermain. Dan mengapa judi tidak dapat disamakan dengan undi?

Judi mengharuskan kita ‘membayar’ atau ‘melepaskan’ uang kita untuk mendapatkan kesempatan atau keuntungan, sehingga kalau kita tidak mendapat keuntungan tersebut, maka uang kita hilang begitu saja, sementara undi tidaklah demikian. Dalam mengundi, tidak ada harta atau uang kita yang dilepaskan atau dibayarkan, jadi tidak ada ruginya kalau kita tidak menang di dalam undian. Undi biasanya dilakukan bukan untuk mendapat keuntungan, melainkan untuk mendapat solusi adil ketimbang berbuat curang sesama teman atau sesama manusia. Nabi Muhammad Saw sendiri selalu / pernah mengundi para istrinya, istri mana yang akan menemani Nabi bepergian.

Kemudian pada paparan ini, orang Kristen juga ‘menasehati’ bahwa ….

“ ……… Tapi secara jelas, Alkitab memperingatkan kita untuk menjauhkan diri dari mencintai uang (1 Timotius 6:10; Ibrani 13:5). Alkitab juga menasehati kita untuk menjauhkan diri dari usaha “mendapat kekayaan dengan cepat” (Amsal 13:11; 23:5; Pengkhotbah 5:10) …….”

Lha apa salahnya dengan mencintai uang? Tidak boleh dipungkiri bahwa semua orang pasti mencintai uang, karena uang selalu berarti nafkah untuk anak dan cucu. Jadi ayat ini tidak dapat dijadikan alasan untuk melarang judi: jelas tidak ada hubungan antara judi dengan mencintai uang.

Kemudian orang Kristen juga menyinggung supaya jangan mendapat kekayaan dengan cepat. Lha memang mengapa kalau ingin mendapatkan uang dengan cepat? Yang namanya rejeki siapa yang tahu? Kalau Tuhan berkehendak memberi kita uang / rejeki jatuh dari langit di tengah padang pasir, bukankah itu termasuk mendapatkan kekayaan dengan cepat? Banyak dari manusia yang bertemu teman lamanya di atas bus, kemudian teman lama itu memberi uang di dalam jumlah banyak sekali, bukankah itu namanya mendapatkan kekayaan dengan cepat. Apakah itu salah?

Juga banyak orang yang rajin bekerja berjualan gado-gado misalnya, tiba-tiba tidak sampai setahun ia sudah dapat membeli rumah, karena gado-gadonya enak. Bukankah hal tersebut juga termasuk mendapat kekayaan dengan cepat? Apa yang salah dengan itu? Itu kan namanya rejeki, mengapa harus dicela?

Jadi jelas, tidak ada satu pun ayat di dalam Alkitab yang mengarah pada pengHARAMan judi. Cinta uang, ingin mendapatkan kekayaan dengan cepat dsb, hal tersebut tidak dapat dijadikan dalil untuk seolah Kristen mengharamkan judi

Penutup dan kesimpulan.

Kristen tidak mengHARAMkan judi. Itulah sebabnya di dalam masyarakat / komunitas Kristen banyak sekali diselenggarakan judi dan taruhan. Terlebih, seperti yang diungkapkan oleh orang Kristen sendiri, bahwa Alkitab tidak dengan jelas mencela / mengharamkan judi, maka jelaslah itu berarti bahwa Kristen mengHALALkan judi.

Masalahnya ada di pemuka / pemikir umat Kristen itu sendiri, karena mereka melihat besarnya mudharat judi, sementara Alkitab mereka tidak mempunyai ayat yang dengan jelas mengharamkan judi, maka jadilah pemikir-pemikir Kristen itu mencari dail-dalil lain untuk seolah Kristen mengharamkan judi. Hal ini tentunya tidak tepat, seperti yang telah dijelaskan di atas.

Coba renungkan kalimat ini: Kalau memang Tuhan Kristen mengutuk judi, lantas mengapa Tuhan Kristen tidak SECARA EKSPLISIT mengharamkan judi di dalam AlkitabNya?

Terimalah dengan lapang dada kenyataan bahwa Alkitab / Tuhan Kristen TIDAK MENGHARAMKAN judi, sehingga banyak umatNya yang berjudi hingga jatuh miskin. Dan kalau Kristen / Alkitab tidak mengHARAMkan judi, maka itu berarti Kristen / Alkitab MENGAJARKAN JUDI, yaitu bahwa judi adalah ibadah alias kesalehan. Bukankah demikian?

Berbeda dengan Islam sebagai satu-satunya agama yang benar di sisi Allah Swt, dengan jelas, di dalam Alquran maupun Alhadis disebutkan bahwa judi adalah haram, karena banyak mudharat yang diakibatkan judi, dan tidak fair untuk mendapatkan uang melalui judi, maupun tidak fair untuk melepaskan uang di dalam permainan judi.

Kalau Kristen menyatakan bahwa judi adalah kesalehan, maka Islam mengajarkan bahwa judi adalah maksiat dan kedurjanaan. Dari sini maka terlihatlah bahwa Islamlah agama yang benar di sisi Allah, dan agama Kristen merupakan kesesatan.

Wallahu a’lam bishawab.

Iblis Mencobai Jesus, Tuhan Jenis Apa?

person-to-person

Sophislam [February 1, 2011 at 10:22 AM],

Jelaslah jesus bukan Tuhan. kalau dia Tuhan, mengapa bisa dicobai iblis?? Hanya mahluklah yg bisa dicobai iblis…. setuju??? eh, faham??

Kapirit [February 1, 2011 at 10:31 AM],

Kalau begitu, Si Allohmu juga bukan Tuhan karena dihina oleh Richard Dawkins dan saya serta orang lain yang tidak percaya. Ngomong-ngomong loe pernah dengan standar ganda gak ya? Loe baca gak tulisan gw. Lo itu seperti robot yang gak pake pikiran tau gak?

Sophislam [February 1, 2011 at 10:57 AM],

sdr ga lihat ya…?? mata sdr buat apa??

jesus pernah dicobai oleh iblis, dan pencobaan itu adalah PERSON TO PERSON..

sementara, Allah swt, dicoba (diejek?), apakah itu PERSON TO PERSON??

kalo make cara sdr mikir, maka engga pernah ada tuhan satu bijik pun di dunia ini.

coba sdr pikir!

kapir2 mencobai (mengejek?) tuhannya hindu. maka apakah itu artinya tuhan hindu adl mahluk semata?

kapir2 mencoba (mengejek?) tuhannya yahudi. maka apakah itu artinya tuhan yahudi adl mahluk semata??

bukan itu, bocah! bukan itu maksudnyah!

maksudnya adl, jesus itu dicobai oleh iblis, yg mana itu artinya jesus bukanlah tuhan, karena iblis itu mencoba jesus secara PERSON TO PERSON…

nah apakah kapir2 menghina, mengejek, mencobai Allah swt secara person to person? apakah kapir2 itu mencobai tuhannya yahudi or hindu or buddha delel secara person to person??

Kapirit [February 1, 2011 at 11:12 AM],

OK. Dicobai person to person. Istilah yang kedengaran bagus tetapi itu menunjukkan bahwa Allohnya muslim bukan yang mahakuasa. Kalau Allohnya muslim itu mahahadir, mahakuasa, maka dia sedang ditantang secara person to person oleh Richard Dawkins dan oleh saya dan oleh orang-orang lain. Tetapi kalau seperti loe bilang bahwa Richard dan saya tidak sedang menantang si alloh secara person to person, maka Dia tidak mahakuasa, dia tidak mahahadir dan dia tidak paham apa-apa. Alloh yang bodoh! Berulang-ulang saya sudah tantang Dia untuk menyatakan diri sebagai Alloh yang benar tetapi tidak bisa kok. Ahh…. aneh-aneh aja anda ini. Sudah begitu pake kata bocah lagi ke orang lain. Ngaca dulu lah! Pahami implikasi dari apa yang loe katakan. Gw mau katakan ya, ada seorang Kristen yang bernama David Wood (http://www.answeringmuslims.com/) yang ditantang Perang Doa oleh dua orang muslim dan muslim itu lari pontang panting. Itukah si alloh yang kau sembah itu? Lawan orang Kristen (yang notabene bukan rasul) aja gak mampu. Apaan tuh? Cerita lengkap David Wood dapat lo baca di sini. Kalau butuh terjemahan kasih tau gw biar gw terjemahkan

Stoplah sebentar dan pikirkan matang-matang apa yang kau mau katakan. Kalau tidak kau akan tergelincir sendiri hai lawan diskusi. Hati-hati dengan kata-katamu nak!

Lo katakan

::::::::kalo make cara sdr mikir, maka engga pernah ada tuhan satu bijik pun di dunia ini.:::::::

Loe sadar gak apa implikasi dari yang loe katakan itu? Inti dari yang loe katakan adalah, kalau saya konsisten menggunakan standar, maka saya tidak akan punya kemungkinan untuk percaya kepada si Alloh. Karena itu saya memilih untuk tidak logis dan menggunakan standar ganda. Inikah intelektualitas yang loe bangga-banggakan itu? Malu tau! Mendingan lo berpikir dulu dah beberapa kali sebelum lu tulis apa-apa. Begitu ya nak ya? Sukses untukmu. Semoga Tuhan Yesus membuka pikiranmu yang suka melakukan masturbasi intelektual.

Sophislam [February 1, 2011 at 11:40 AM]:

 ya, skg allah swt (ato tuhan dari agama mana pun) memang eksis, dan diklaim sbg maha kuasa oleh kitabsuci masing2!

sdr tahu gak apa maksud dari person to person itu??

kalo skg, ada org kapir, menghina Allah, nah apakah itu dikatakan person to person?? krn bukankah Allah itu ADA di langit, dan menyaksikan si kapir yg menghina atau mengejekNya??

bukan! itu namanya bukan person to person!

person to person, artinya adl SEJARAH!

Kapirit, [February 1, 2011 at 11:47 AM],

Nak, apa maksudmu dengan person to person? Kalau saya dan Richard mengatakan kepada si Alloh, “Hei Alloh, aku mengutukmu hari ini! Engkau adalah Allah yang bodoh! Masa Ajaran Trinitas Kristen aja tidak paham? Kemana aje lo selama ini” Apakah itu bukan person to person? Kalau bukan, silahkan definisikan “person to person”! Btw, lo baca nggak apa yang dituliskan David Wood? Lo paham gak? Kalau loe gak paham, kasih tau aja. Gw bisa terjemahkan!

Sophislam [February 1, 2011 at 12:01 PM],

person to person, artinya, a dan b berhadap2an. ketika a berkata kpd b, maka kala itu juga b menjawab. begitu sebaliknya.

iblis dan jesus berhadap2an. iblis bilang ‘aaa’ kpd jesus. kala itu juga jesus bilang ‘bbb’ kpd iblis. itu namanya PERSON TO PERSON….

skg si kapir, berkata kpd Allah swt, ALLAH, KAU AAA DAN BBB ….

nah apakah Allah langsung MERESPONS perkataan si kapir itu??? Allah ga bilang apa2 kok!

di kantor, A dan B berhadap2an. kasusnya, A bilang kpd C, bhw ‘org ini’ jelek banget. ketika A bilang begitu kpd C, sebenernya yg dimaksud A adl si B.

memang si B jadi tersinggung ketika mendengar A bilang ‘org ini’ jelek. tp apakah A berkata kpd si B secara person to person???

enggak!

bahkan si C pasti bilang kpd A, YA UDAH sdr BILANG AJA LANGSUNG KE B SECARA PERSON TO PERSON…bhw dia jelek …

maka sampai di sini, jelaslah jesus bukan tuhan, krn hanya jesuslah yg pernah dicobai iblis…. Allah tidak pernah dicobai oleh siapa pun, krn katakuncinya adl PERSON TO PERSON …

faham??

Kapirit [February 1, 2011 at 12:08 PM],

OK. Jadi dalam Islam kalau anda mengejek si Alloh, maka Dia sebenarnya tidak tahu kecuali dia berada di depan anda. Baguslah. Berarti allohnya Islam kalah mahakuasa dibanding dengan Allah Kristen. Allah Kristen maha tahu sehingga perbuatan yang dilakukan di tempat tersembunyipun Dia tahu dan Dia akan hukum. Dia akan bereaksi terhadap hal yang anda hanya pikirkan sekalipun. Anda menghina Dia dalam pikiran saja itu sudah penghinaan buat Dia dan sudah pantas dihukum. Ok. Kalau begitu, saya nantang sekarang si alloh muslim yang inferior itu untuk berhadapan dengan Yesus Kristus. Juga perlu diperhatikan adalah bahwa kalaupun saya terima pandangan anda, maka apa yang dilakukan oleh David Wood sudah masuk kualifikasi mengejek secara langsung person to person. Lo baca gak cerita David Wood? Sepertinya tidak deh. Makanya gw tanya apakah lo paham atau tidak. Kalau loe gak paham, gw akan terjemahkan biar lo paham apa yang sebenarnya terjadi.

Lalu dari penjelasan loe, jelas sekali bahwa alloh Islam itu allah yang dibatasi oleh ruang sehingga pada saat dia tidak ada di sini, yaa orang boleh ngomong apapun tetang dia (bahkan memaki-maki) tetapi dia tidak akan menganggap itu sebagai makian. Soalnya dia tidak tahu. OK.. sepotong kotoran sapi dianggap sebagai benteng agung. Ha ha ah

Sophislam [February 2, 2011 at 3:40 PM],

 Ya, Allah memang ada, dan mendengar perkataan si kapir yg menghinaNya. Ya! tapi sdr kelewat bodoh, cucu jelek!!!

Allah mendengar, tapi Allah tidak menggubris.

Sekarang  kita balik ke fakta sejarah  agama yg diakui masing2 pemeluknya aja.

Jesus  telah dicobai iblis, secara person to person, face to face.

Smentara Allah swt TIDAK PERNAH dicobai iblis secara person to person (gak mungkin layaw!).  pembicaraannya  ga usah dilebarin ke mana mana deh. sdr nanti jadi tambah kacok. Faham?

Hanya  Tuhan  yesus  sajalah yg pernah dicobai iblis. tau gak??

Saya  dah bilang, org2 kapir menghina tuhan hindu, bahkan itu dikatakan secara person to person menurut interpretasi kamu. Maka apakah itu berarti Tuhan Tuhan hindu jadi tidak ada? Banyak kapir2 yang menghina Tuhan Buddha. Maka apakah itu berarti Tuhan di dalam agama Buddha jadi tidak ada?

Ada dua pendekatan yang harus kita gunakan untuk menjelaskan masalah mencobai Tuhan ini.

Pendekatan pertama.

Pendekatan person to person or facetoface.

Jangan sdr pikir bahwa person to person (atau face2face) berarti bahwa saat kita menghina / mencobai Tuhan, kemudian Tuhannya tidak menjawab, maka diartikan bahwa Tuhan itu tidak maha mendengar. Tidak! Jelas Tuhan mendengar (menurut kepercayaan masing2 agama ybs).

Memang Tuhan mendengar, namun Tuhan nya kala itu pasti tidak sedang berada face2face. Nah itulah yang terjadi ketika kapir2 menghina Allah Swt. Oke lah kapir2 itu menganggap mereka sedang face2face dengan Allah Swt, namun apakah Allah Swt nya mau face2face dengan mereka? Engga kan? Sekarang kau mau ngemeng apa?

Di dalam Alquran ada ayat yang menjelaskan, dari ribuan manusia / mahluk yang ingin berbicara dengan Allah Swt, maka Allah lah Yang memutuskan siapa-siapa dari mereka yang diijinkan untuk berbicara denganNya (jadi, Allah itu NGANTOR banget!!). Tidak  semua orang ketika ingin berbicara dengan Allah Swt, maka orang itu langsung dapat berbicara denganNya seketika itu juga. Tidak!! Dengan kata lain, kalau kita ingin berbicara dengan Allah, maka itu terserah Allah sendiri, apakah kita diijinkan untuk  berbicara denganNya, atau tidak.

[78:37] Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia.

[78:38] Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.

Jadinya, kalau ada seseorang yang ‘berbicara’ kepada Allah, namun Allah TIDAK MEMALINGKAN WAJAH-NYA kepada orang itu, maka MAU TIDAK MAU orang itu berbicara sendiri!!

Berbicara kepada Allah saja tidak semudah itu, maka apalagi kalau seseorang ingin berbicara kepada Allah yang isinya mengejek Allah????

Maka dapat dipastikan, ketika konco2 sdr yang kapir nista itu sedang mengejek Allah, maka apakah sedang terjadi hubungan person2person alias face2face dengan Allah Swt?? Lha apanya yang face2face?? Allah –nya saja tidak sedang dan tidak sudi mendengar tikus2 sdr itu kok!!!

Akhirnya, pencobaan terhadap Allah, seperti yang sdr dengung2kan di sini, tidak terbukti ada sama sekali. Mampus lhoh!!!!

Beda dengan Jesus sdr yang bau bangkek itu!

Dia tidak di dalam posisi untuk memberi ijin atau tidak -kepada setan (atau kepada siapa pun) untuk dapat berbicara dengan ‘nya’. Lha katanya dia Tuhan? Kok Tuhan tidak mempunyai posisi untuk memberi ijin berbicara kepada orang-orang tertentu? Pun itu pembicaraan si iblis dengan ‘nya’ itu adalah pembicaraan yang konten nya adalah untuk menistakan sang Jesus. Lha apa itu yang namanya Tuhan?

Kalau lah Jesus Tuhan, maka………

Pertama, PASTILAH ia berada di dalam posisi untuk memberi ijin atau tidak kepada siapa pun untuk berbicara dengannya.

Kedua, pun pasti pembicaraan itu (yang diijinkan olehnya) pastilah dan haruslah yang berisi pemuliaan terhadapnya.

Nah apakah kedua point tersebut terpenuhi di dalam kasus Jesus dicobai iblis ini?

Faktanya, iblis dan Jesus telah berkata2 secara person2person (mau ga mau!!! Buktinya Jesus mau-ga-mau merespon semua kata-kata iblis!). Pun pembicaraan itu berkisar pada pencobaan Jesus. Itu …………adalah FAKTAAAAA!!!!!!

Nah akhirnya, apakah Jesus adalah Tuhan?

Pendekatan yang kedua.

Pendekatan kedua adalah, bahwa istilah mencobai itu menurut konteks sejarah agama ybs. Ingat, agama itu adalah sejarah, sejarah Tuhan. Sekali lagi, agama itu adalah sejarah, sejarah Tuhan (maksudnya, bukan sejarah Negara atau sejarah tv delele). Sejarah itu sendiri adalah APA YANG SUDAH TERJADI di masa lampau, dan yang paling menentukan perkembangan masa sekarang.

Lebih tepatnya lagi, agama adalah sejarah pendirian suatu agama, yang mana sejarah itu sendiri berpusat pada kehidupan sang pendiri agama tersebut, seperti Nabi atau Tuhan dari agama tersebut. Kalau di dalam Kristen, maka orang itu adalah Jesus, ngkalik!!

Oleh karena itu, agama adalah MASA LALU, bisa dianggap demikian.

Nah masa sekarang, namanya bukan agama lagi, karena sejarah agama tersebut SUDAH PARIPURNA, sudah selesai, sudah rebes.

Masa sekarang, disebut dengan AJARAN dari agama tersebut. Karena masa sekarang adalah masa menjalankan ajaran dari agama tersebut. Tidak mungkin bahwa agama, sejarah agama tersebut, masih berjalan hingga sekarang. Tidak mungkin agama engga kelar-kelar di dalam proses pembentukannya. Tidak mungkin!

Kita  bikin simple.

Periode Agama = sejarah (pendirian) agama, dan pastilah itu terjadi di masa lalu.

Periode Ajaran = adalah masa sekarang, masa implementasi dari agama tersebut.

Sekarang kita mulai.

Kalau ada orang jaman sekarang yang teriak2 bahwa dia sudah menghina Allah Swt, maka jangan dikatakan bahwa Allah Swt bukan lah Tuhan karena dia bisa diejek / dicobai.

Pun, saya juga bisa kok menghina Tuhan Kristen. Namun apakah itu berarti Tuhan Kristen (dianggap) tidak ada? Bukan, bukan begitu cara berfikirnya.

Di dalam sejarah agama Kristen, dengan kata laen pembentukan agama Kristen itu, dikisahkan bahwa Jesus itu dicobai iblis. Sementara di dalam sejarah agama Islam, Muhammad mau pun Allah Swt tidak pernah dicobai iblis. Faham perbedaannya gak??

Intinya, jangan banding2kan pencobaan Jesus itu dengan manusia-manusia jaman sekarang yang mencobai atau menghina Allah Swt! Itu beda jalur, nek!!

Bandingannya Jesus di Kristen itu adalah Muhammad Saw dan Allah Swt di dalam Islam, nek. Begitu juga sebaliknya.

Nah ada nggak kisah di dalam Islam yang menjelaskan bahwa manusia-manusia engkar mau pun iblis mencobai Muhammad Saw atau Allah Swt?? Tada kan????

Ada pun manusia-manusia sekarang yang menghina mau pun mencobai Tuhan dari suatu agama, maka itu TIDAK MASUK ITUNGAN!!!

Apa dasarnya buat sdr untuk membanding-bandingkan antara pencobaan Jesus oleh iblis DENGAN pencobaan manusia-manusia engkar terhadap Allah Swt??? Gakk nyambung nekkk!!!

Lagian kan sudah saya bilang, ……………

banyak manusia manusia yang menghina Tuhan hindu.

Banyak manusia manusia yang menghina Tuhan Buddha.

Banyak manusia manusia yang menghina Tuhan yahudi.

Banyak manusia manusia yang menghina Tuhan Zoroaster.

Banyak manusia manusia yang menghina Tuhan Kristen.

Nah apakah itu berarti bahwa  Tuhan Tuhan yang dihina itu JADI TIDAK ADA SAMA SEKALI?? Engga kan???

sdr silahkan saja menghina Allah Swt sambil menantang Allah Swt … dan kemudian ternyata di dalam pandangan sdr Allah berdiam diri sehingga itu artinya Allah Swt tidak ada. namun apakah itu berarti bahwa Allah Swt tidak ada?

Ingat, sekarang ini adalah periode AJARAN, bukan periode AGAMA.

Sekarang kita menjalankan ajaran dari agama  tersebut.

Kalau sekarang Allah Swt merespon tantangan kamu, maka berarti sekarang ini Islam MASIH DI DALAM PROSES PEMBENTUKAN. Tambah engga mungkin!

Jadi, Allah Swt itu berdiam diri (atas  tantangan kamu). Mengapa? Yeah karena AJARAN sudah lengkap. Ajaran itu salah satu nya berbunyi, bahwa mereka yang menantang Allah, nanti akan berhadapan denganNya di akhirat. Mereka yang menantang Allah, maka Allah beri mereka kesempatan untuk menikmati hidup di Dunia ini. Nanti dia akan mati. Dan sesudah mati, maka Allah Swt akan membuat perhitungan dengan orang itu. Faham?

Masalah menantang Allah ini, untuk membuktikan apakah Allah Swt itu ada atau tidak, dapat sdr baca di artikel saya yang merupakan hasil debat saya dengan jidat kapirit di ffi. Klik aja https://sophislam.wordpress.com/2017/04/06/tantangan-untuk-allah-matikan-saya/

Nanti akan saya jelaskan tentang mubahalah itu. Insya Allah!

Penutup.

Dari pembicaraan ini,  terbukti sudah bahwa Jesus memang bukanlah Tuhan, mengingat Jesus telah mengalami PENCOBAAN dari Iblis. Apakah mungkin ada Tuhan yang pernah bisa dicobai oleh setan?

Yang memprihatinkan adalah, ketika kaum Kristen dihadapkan pada debat kaum Muslim bahwa Jesus bukanlah Tuhan atas dasar pencobaan Iblis ini, kaum Kristen melakukan ‘serang-balik’ terhadap kaum Muslim dengan menyebutkan bahwa Allah pun juga bukan Tuhan karena Allah ini juga sering menerima pencobaan (dalam bentuk penghinaan) dari orang-orang yang tidak beriman kepadaNya.

Nah atas dasar serang-balik kaum Kristen itu, kaum Muslim membuat sanggahan bahwa pencobaan dalam bentuk penghinaan terhadap Allah swt tidaklah serta merta membuat Allah bukan Tuhan. Hal itu dikarenakan terdapatnya perbedaan antara kasus Jesus dicoba oleh Setan, dan kasus Allah swt dihina oleh kaum kapirit,

  1. Pencobaan iblis terhadap Jesus, terjadi secara person to person, antara sang Iblis dengan sang Jesus. Sementara penghinaan (pencobaan) kaum kapir atas Allah swt, tidak terjadi secara person to person.
  2. Yang jelas, dalam sejarahnya, Jesus pernah dicobai Iblis. Kebalikannya, apakah pernah ada sejarahnya bahwa Allah swt dicobai Iblis?

 

….bersambung ke …

https://sophislam.wordpress.com/2018/08/17/iblis-mencobai-jesus-tuhan-jenis-apa-part-02/

Pengadilan di Dunia- Ajaran Jesus atau Muhammad?

ada-pengadilan-di-dunia-ini-ajaran-jesus-atau-ajaran-muhammad

Jesus mengajarkan,

Janganlah kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi.

Kasihilah musuh-musuhmu, karena jika kamu hanya mengasihi orang yang mengasihimu, maka apakah upahmu di Surga?

Beri maaflah kamu.

Jika musuhmu menampar pipi kirimu, maka berilah pipi kananmu…

Orang Barat adalah bangsa Kristen secara tradisional. Setiap Negara Barat yang Kristen itu mempunyai lembaga peradilan. Barat sudah maju di dalam hal peradilan. Bahkan setiap peradilan itu diselenggarakan atas nama Tuhan Jesus mereka.

Tidak kah ini ironis. Orang Barat yang taat dengan Kristen justru mempunyai lembaga peradilan yang canggih. Bukan kah Jesus mengajarkan supaya jangan ada lembaga peradilan sama sekali? Lha whong Jesus sendiri yang mengajarkan, “jangan lah kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi”. Bukan kah lembaga peradilan adalah tempat di mana para hakim mendapat mandate dari Negara untuk menghakimi orang yang berbuat salah? Di mana relevansinya antara ajaran Jesus dengan kehidupan sehari-hari orang Barat yang Kristen itu?

Kalau orang Barat taat, kalau semua orang Kristen taat ajaran Jesus, pastilah konsekwensinya adalah bahwa semua orang Kristen dan Negara Kristen menolak adanya lembaga peradilan, apalagi lembaga peradilan yang diselenggarakan di bawah nama Tuhan Jesus . Namun mengapa justru semua orang Kristen dan semua Negara Kristen mempunyai lembaga peradilan? Lebih parah lagi tampaknya semua orang Kristen dan semua Negara Kristen BUTUH adanya lembaga peradilan. Kenapa bisa begini?

Apakah kita terpaksa harus bilang bahwa ternyata ajaran Jesus sama sekali tidak ada gunanya dan tidak ada kesesuaiannya dengan hukum Alam dan hukum kehidupan di muka Bumi ini? Buntut-buntutnya, apakah kita harus bilang bahwa ternyata Kristen adalah agama yang salah dan ngaco? Alhamdu………………, lillaaaaaah…….

Ya udah, tinggalin aja deh agama Kristen ini. Memang sudah terbukti sejak awal bahwa Kristen memang ngaco, ndableg, ngawur dan ngigo kayak orang bego….

Bagaimana dengan Islam tentang lembaga peradilan?

Alquran sendiri mengajarkan,

Tidak ada dosa bagi kamu untuk menuntut balas, yaitu balasan yang setimpal. Namun jika kamu ingin memberi maaf, maka itu lebih baik bagi kamu….

Alquran mengajarkan bahwa menuntut balas (dengan yang setimpal) adalah diperbolehkan. Sedangkan menuntut balas berarti akan ada lembaga peradilan. Namun di luar itu, toh pemberian maaf juga sangat dianjurkan. Singkatnya, Islam memberi hak prerogative kepada korban kejahatan, antara untuk menuntut balas ke pengadilan, atau memberi maaf. Fair.

Lebih dari Alquran, Muhammad pun mengajarkan adanya lembaga peradilan. Muhammad mengajarkan adanya qadi alias hakim pemutus perkara. Muhammad mengajarkan adanya pihak saksi. Muhammad pun mengajarkan bentuk-betuk hukuman. Muhammad pun mengajarkan ancaman dosa bagi mereka yang membuat saksi palsu.

Kita harus melihat, ternyata nilai-nilai Islam telah berlaku di seluruh Negara di Dunia, walau pun Negara itu bukan Negara Islam atau bahkan Negara itu adalah Negara yang benci Islam. Buktinya adalah semua Negara itu menyelenggarakan peradilan yang menjadi bagian dari ajaran Islam, sementara peradilan itu adalah salah satu hal yang paling ditentang oleh Jesus.

Kesimpulannya adalah, adanya lembaga peradilan di Dunia ini, sebagai implementasi dari ajaran Jesus, atau ajaran Muhammad?

Tuhan Bapa Penuh Kasih

tuhan-bapa-penuh-kasih

Apakah Tuhan Bapa mu itu mencurahkan banyak KASIH DAN SAYANG yang besar kepada semua orang Kristen sehingga semua orang Kristen dapat menyebar kasih sayang yang mereka dapat dari Tuhan Bapa ke segenap penjuru Dunia? Engga, kan? Terus ngepain Anda / semua orang Kristen koar-koar bahwa Kristen dipenuhi kasih sayang?

Saya beri analogi.

Ada bos kaya. Dia punya 10 pesuruh. Bos ini suruh 10 pesuruh itu untuk KOAR-KOAR ke semua orang bahwa sang bos adalah orang yang banyak uang dan kekayaan. Namun sang bos tidak pernah memberi uang sedikit pun kepada pesuruh2nya. Pesuruh2 nya malah diliputi kemiskinan, penyakit, melarat, dan lain lain. Ini apa2an?

Seharusnya, si bos memberi kepada masing-masing pesuruh itu uang senilai 100 juta, plus 10 juta. Yang 100 juta itu, untuk disebar2kan ke orang orang di pasar sambil bilang bahwa bos mereka adalah orang kaya yang banyak duitnya, dan 10 juta nya untuk upah masing-masing pesuruh. Fair kan?

Kalau memang Tuhan Bible adalah penuh kasih sayang, maka seharusnya semua orang Kristen sudah penuh dengan kasih sayang yang mereka dapat dari gereja mereka. Kemudian sepulangnya dari gereja, mereka bagi-bagikan kasih sayang itu kepada semua orang di sekitar mereka sambil berkata, bahwa Tuhan mereka yang ada di gereja itu telah membagi-bagikan kasih sayang yang amat besar…. Karena Tuhan mereka penuh kasih sayang…

Sekarang, mana buktinya? Anda klaim bahwa Tuhan Bapa dan atau Kristen penuh kasih sayang dan kelembutan. Namun kenyataannya banyak jemaat Gereja yang miskin kasih sayang, hidup melarat, diliputi kebodohan, keterbelakangan dan lain lain seperti yang dialami umat Kristen di NTT. Buat apa Anda teriak-teriak bahwa Tuhan Bapa penuh kasih sementara kemiskinan masih tampak dengan jelas? Sudah begitu pun, Anda masih mau-mau nya disuruh oleh Tuhan Bapa mu untuk koar-koar di tengah pasar bahwa “DIA” itu penuh kasih sayang, sementara Anda sendiri berkampung-kampung masih diliputi kemelaratan. Anda koar-koar ke seluruh manusia bahwa Tuhan Bapa Anda penuh kasih sayang, namun Anda tidak dapat apa-apa dari “DIA”. Anda ini diperbodoh oleh Tuhan Bapa. Kok mau ya?

Mari Sambut Yesus Yang Penuh Damai Ini

MESRADAMAI

Tobelo merupakan sebuah kota kecamatan di Maluku Utara. Tragedi pembantaian Tobelo merupakan rangkaian kasus Ambon Berdarah yang terjadi sejak 19 Januari 1999. Kasus Tobelo sendiri berlangung mulai 24 Desember 1999 hingga 7 Januari 2000. Menurut catatan Tim Investigasi Pos Keadilan Peduli Ummat, 688 orang tewas dan 1.500 dinyatakan hilang.

Tragedi pembantaian di Tobelo ini, bermula ketika Sinode GMIH (Gereja Masehi Injil di Halmahera) mengkoordinir pengungsian umat Kristen ke Tobelo, yang jumlahnya mencapai 30.000 orang, yang dilakukan secara bertahap, sejak pertengahan November hingga awal Desember 1999. Puncaknya, pada Jumat 24 Desember 1999 malam (menjelang Hari Natal 25 Desember 1999) dengan beberapa buah truk, telah diangkut ratusan warga Kristen dari Desa Leleoto, Desa Paso dan Desa Tobe ke Tobelo. Dengan alasan untuk pengamanan gereja. Warga Kristen yang diangkut tersebut menggunakan atribut lengkap (seolah-olah mau perang), seperti kain ikat kepala berwarna merah, tombak, parang dan panah.

Mengetahui gelagat yang kurang baik dari warga Kristen tersebut, umat Islam Tobelo mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Saat itu umat Islam sedang dalam suasana menjalankan ibadah shaum ramadhan. Akhirnya pada 26 Desember 1999, pecahlah pembantaian yang dikesankan adanya kerusuhan, konflk horizontal. Padahal, sebelumnya tidak ada konflik apa-apa. Tragedi ini konon dipicu oleh adanya persoalan sepele berupa pelemparan batu terhadap rumah milik Chris Maltimu seorang purnawirawan polisi. Rupanya pelemparan terhadap rumah Chris Maltimu itu dijadikan trigger untuk aksi pembantaian yang sudah dirancang sebelumnya.

inilah-sumber-damai-yang-agung-itu-untuk-ambon-permai

Menurut Ode Kirani, warga muslim dari desa Togoliwa, kecamatan Tobelo, Halmahera, pada 27 Desember 1999, saat warga desa sedang menjalankan ibadah puasa, tanpa diduga sebelumnya ribuan masa kristen yang berasal dari desa tetangga (antara lain, Telaga Paca, Tobe, Tomaholu, Yaro, dan lain-lain) menyerang desa Togoliwa di saat subuh. Akibat serangan mendadak tersebut ribuan warga muslim di desa tersebut menemui ajal. Kebanyakan dari mereka terbunuh saat berlindung di masjid. (Ambon, Laskarjihad.or.id 16 03 2001).

Rabu, 29 Desember 1999, di Mesjid Al Ikhlas (Kompleks Pam) tempat diungsikanya para ibu dan anak-anak, terjadi pembantaian terhadap sekitar 400 (empat ratus) jiwa. Menurut penuturan saksi mata, ada korban yang sempat jatuh dicincang dan dijejerkan kepala mereka di ruas jalan. Ada juga beberapa wanita yang dibawa ke Desa Tobe (sekitar 9 KM ) dari Desa Togoliwa, kemudian dikembalikan dalam keadaan telanjang. Modus operasi yang dilakukan oleh kelompok merah mula-mula melakukan pemboman kemudian dilanjutkan dengan pembakaran, sehingga tidak ada satu pun yang lolos dari sasaran mereka.

Menurut sebuah sumber, total korban di Tobelo dan Galela mencapai 3000 jiwa, 2800 di antaranya Muslim. Namun demikian, angka yang diakui Max Marcus Tamaela yang kala itu menjabat sebagai Pangdam Pattimura adalah 771 jiwa. Meski angka itu masih jauh dari kenyataan, namun masih jauh lebih banyak dibanding dengan angka yang diakui Gus Dur yaitu ‘hanya’ lima orang saja.

Ketika pembantaian Tobelo terjadi, Gus Dur menjabat sebagai Presiden RI. Bila menurut penglihatannya korban Tobelo-Galela hanya lima orang saja, kita harus maklum. Karena, pertama, Gus Dur itu pembela kaum minoritas. Kedua, penglihatannya memang terganggu. Kala itu, Menkopolkam dijabat oleh Wiranto, dan Panglima TNI dijabat oleh Widodo AS. Sayangnya, posisi mereka saat itu tidak bisa memperbaiki kualitas penglihatan Gus Dur terhadap kasus pembantaian umat Islam di sana. Padahal mereka juga beragama Islam.

oh-yesus-damaimu-telah-memelihara-muslim-ambon-haleluyah

Hajjah Aisyah Aminy, SH, yang kala itu menjabat sebagai anggota Komnas HAM, menyesalkan sikap aktivis LSM yang selama ini dikenal sebagai pejuang keadilan masyarakat, namun membisu ketika umat Islam yang jadi korban. Aisyah juga menyesalkan sikap media massa yang kurang antusias memberitakan peristiwa di Maluku itu. Tapi kalau yang mati adalah teman mereka sendiri, meski hanya satu orang seperti Munir, mereka heboh bukan main dengan membawa-bawa alasan pelanggaran HAM sampai ke hadapan Bush segala.

Bila kita mendasarkan pada angka yang diakui Tamaela, yaitu 771 jiwa, jumlah itu pun masih jauh lebih banyak dari korban Bom Bali Pertama dan Kedua. Apalagi bila ditambah dengan korban pembantaian yang dilakukan Tibo cs terhadap warga pesantren Walisongo, jumlah koran Bom Bali secara keseluruhan masih jauh lebih kecil. Namun perhatian dunia, kalangan LSM, kalangan pers, dan pemerintah Indonesia sendiri, kurang hirau bahkan cenderung mengabaikan korban Tobelo-Galela dan Poso (termasuk warga Pesantren Walisongo)

Kesaksian Korban Kerusuhan Maluku

Kebiadaban massa Kristen terhadap umat Islam di Maluku memang sungguh keterlaluan. “Ini merupakan peristiwa keji yang lebih sadis dari apa yang dilakukan PKI,” tegas Camat Galela, Drs. Ichwan Marzuki (Republika, 5/1). Dibawah ini hanyalah segelintir dari saksi hidup yang berani memberi kesaksian seputar kekejaman umat Kristen di Maluku.

Mufli M. Yusuf (15 th) SMP Al-Khairat Kelas III, Desa Popelo,Tobelo:

Rabu, (21/12/99) pk.09.00 WIT. Orang-orang Kristen dari Kampung Kusur Telaga Panca, dan Kao menyerang Desa Togolihua yang Muslim. Kami, ribuan umat Islam, berlindung ke Masjid al-Ikhlas. Masjid dikepung lalu di bom (bom pipa rakitan, menunjukkan bahwa pihak Kristen sudah mengadakan persiapan sebelumnya). Orang-orang kafir itu juga memanah ke dalam Masjid dengan panah yang telah dilumur darah babi. Sebagian dari mereka melempari Masjid dengan batu-batu besar hingga banyak tembok Masjid yang bolong. Kami yang ada di Masjid –kebanyakan anak kecil dan ibu-ibu– akhirnya menyerah setelah satu jam di gempur perusuh Kristen.

Orang-orang kafir itu lalu menyerbu ke dalam Masjid, lebih dari 500 orang Islam lari keluar Masjid. Ada yang masuk hutan, ada pula yang menyerah. Tubuh saya berlumur darah, mungkin sebab itu mereka mengira saya sudah mati. Di sekeliling saya ada banyak sekali, sekitar 600 orang, syahid dengan kondisi amat menyedihkan. Dalam penyerangan itu, saya lihat banyak muslimah yang ditelanjangi orang Kristen. Walau para muslimah itu berteriak-teriak minta ampun, tapi dengan biadab mereka diperkosa beramai-ramai di halaman Masjid dan di jalan-jalan. Setelah itu mereka di bawa ke atas truk, juga anak-anak kecilnya, katanya mau dipelihara oleh orang Kristen. Para muslimah yang tidak mau ikut langsung dicincang hidup-hidup. Orang kafir itu saling berebutan mencincang bagai orang berebutan mencincang ular.

Seorang muslimah digantung hidup-hidup lalu dibakar. Pukul 13.00 WIT, perusuh Kristen itu membakar habis Masjid dengan lebih 600 tubuh syuhada didalamnya. Saya yang penuh luka bakar dengan susah payah keluar dari Masjid lewat tembok yang bolong. Saya mencari orang Islam yang masih hidup, tapi tidak ada. Semua rumah penduduk Muslim juga sudah terbakar. Saya akhirnya bertemu dengan seorang Polisi Muslim dan dibawa ke Polsek. Saya dirawat selama tujuh hari bersama korban yang lain. Dan kini saya berada di suatu tempat di Ternate.

Ibu Musriah (40 th) Pengungsi asal Makian Talaga:

Saya juga berlindung di Masjid yang sama. Lebih dari 50 laki-laki Muslim dicincang termasuk suami saya. Bagian belakang kepala saya juga mereka tebas dengan golok, tapi alhamdulillah saya masih hidup. Telapak tangan saya ini ditembus panah. Saya dan tiga orang anak lainnya diselamatkan aparat Muslim.

Ibu Nurain (20 th):

Suami saya, Asnan Awal, telah syahid dibunuh orang kafir. Saya sendiri dalam peristiwa yang sama kena panah di panggul kiri. Di dalam Masjid, ibu-ibu dan anak-anak kecil banyak yang ketakutan. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, banyak anak-anak usia balita diambil oleh orang Kristen dengan paksa. Saya memohon dengan lemah agar saya dan anak saya yang masih kecil (3 th) jangan dibunuh. Akhirnya bersama enam Muslimah lainnya, saya diikatkan kain merah di kepala dan di masukkan ke atas truk. Kami melewati Desa Kupa-Kupa, di Desa Usosiat, anak saya diambil dan diserahkan ke rumah pendeta. Saya waktu di Masjid juga melihat ada seorang Muslimah yang masih gadis dibakar hidup-hidup gara-gara tidak mau melayani syahwat orang kafir itu.

Ibu Yani Latif (17 th):

Suami saya telah syahid. Anak saya, yang masih bayi, Nita (13 bulan) diambil orang Kristen. Dengan truk saya juga dibawa ke Desa Kupa-Kupa, tapi saya melarikan diri dan kembali ke Togolihua. Masjid al-Ikhlas telah jadi puing dengan tumpukan mayat yang telah hangus terbakar.

Syahnaim (25 th):

Dua anak saya yang berusia enam dan tujuh tahun diambil orang Kristen. Sedang adiknya, Awi (2 th) dicincang mereka hingga syahid. Saya melihat sendiri, bagaimana sadisnya Bahrul (32 th) dibunuh orang kafir. Mayatnya disalib, dan naudzubillah, kemaluannya dipotong. Lalu potongannya itu disumpalkan ke mulut mayatnya. Seorang anak balita, Saddam (5 th) digantung lalu dibelah dari atas ke bawah seperti ikan. Nenek Habibab (80 th) digantung di pohon jeruk yang diikat dengan rambutnya di pohon lalu dicincang.

Hamida Sambiki (18 th), muslimah ini diambil paksa oleh orang Kristen dari Masjid An-Nashr Desa Popelo. Ayahnya yang berusaha menahan dibantai. Para perusuh Kristen merencanakan mau mengawinkan Hamida dengan anak pendeta di Tobelo. Namun oleh seseorang yang mengaku keluarga Nasrani, Hamida berhasil diselamatkan ke Polsek Tobelo. Hamida saat di Masjid An-Nashr melihat pembantaian umat Islam oleh perusuh Kristen.

Munir (25 th) dibakar hidup-hidup dan mulutnya disumpal kotoran manusia, Haji Man (70 th) dipenggal lalu kepalanya yang sudah terpisah dengan tubuhnya itu ditusuk dengan panah dan dibuat mainan diputar-putar di dalam Masjid. Hamida juga melihat bagaimana seorang Muslim, Malang (50 th), dibunuh secara sadis. Kemudian jantungnya diambil. Orang kafir yang mengambil jantungnya berkata, “Ini buat hadiah lebaran”

ambon01

.

ambon02

.

ambon03

Ridwan Kiley (29 th) dan Ibu Rahmah Rukiah, Keduanya penduduk Desa Lamo, Kecamatan Galela. Menuturkan kesaksiannya, setelah selamat dari ‘neraka’ pembantaian orang Kristen di Galela (26/12), di Islamic Centre, Ambon, seperti dikutip dalam Republika (5/1). Pada Ahad sore (26/12/99), Kecamatan Galela yang didiami mayoritas Muslim diserang massa Kristen dari tiga Kecamatan mayoritas Kristen: Loloda, Ibu, dan Tobelo. Penyerangan di Galcia, juga menimpa Desa Lamo. Pukul 14.00 siang lebih dari 7.000 massa Kristen menyerang. Sekitar 200 warga Muslim Desa Lamo bertahan. Perlawanan itu dipimpin Imam Masjid Nurul Huda, Ds. Lamo, H. Djailani. Saat itu, massa Kristen memotong puluhan ekor babi disepanjang kampung dan darahnya dilumuri ke senjata-senjatanya. “Wanita-wanita mereka juga bertelanjang dan menari-nari di sepanjang kampung,” kata Ridwan dan Ibu Rukiah. Tak berapa lama, serangan serentak dilakukan dan Desa Lamo dikepung. Dalam pertempuran, Imam Djailani menemui syahid. Dengan sadis mayat Imam Djailani di salib dan ditempatkan di perbatasan Desa Lamo dan Kampung Duma. Setelah beberapa jam tergantung di tiang salib, baru pada malam harinya mayat Imam Djailani diturunkan dan dikuburkan oleh warga Muslim yang berhasil menyelamatkan diri.

oh-yesus-oh-bible-oh-gereja-aku-kesengsem-padamu

—————————————–

Access from,

bantah-sibutatuli [dot] blogspot [dot] com/2010/09/mengenang-pembantaian-muslim-di-ambon.html

Access date, 23 Pebruari 2011

Dead Sea Scroll

kertas-anu

Kapirit,


Malah Alkitab yang Anda hina masih ada aslinya. Cari dan temukanlah  ‘Dead Sea Scroll’.

Sophislam,

Dead Sea Scroll? Saya  sudah baca literature tentang  DEAD SEA SCROLL itu. Tahukah Anda apa kesimpulan saya?

Saya ingin bertanya kepada  Anda.

Tahukah Anda  siapa yang meletakkan Dead Sea Scroll itu di goa tersebut?

Tahukah Anda nama orang yang meletakkan Dead Sea Scroll itu di situ sampai akhirnya ditemukan?

Tahukah Anda  apa maksudnya orang itu meletakkan Dead Sea Scroll itu di goa itu?

Dalam rangka apa?

Tahukah Anda orang itu menaruh Dead Sea Scroll itu, untuk siapa?

Untuk musuhnya kah?

Untuk mengelabui umat manusia kah?

Untuk mengecoh opini umat manusia kah?

Mungkinkah  orang itu melakukan hal itu supaya kelak, Dead Sea Scroll itu menciptakan opini bahwa yang asli adalah palsu dan yang palsu adalah asli?

Nah bisakah Anda menjawabnya??

Atau mungkin anda akan berkilah, bahwa TUHAN lah yang meletakkan nya di sana supaya ditemukan oleh manusia?

Mengapa demikian? Mengapa Tuhan meletakkan perjanjianNya sendiri dengan cara rendah seperti itu?

Tidak kah itu aneh di mana orang Kristen merasa bangga dengan temuan tersebut – yang jelas-jelas tidak diketahui siapa pelakunya??

Harap Anda mengetahui. Kalau hal itu terjadi pada bab-bab Alquran, sudah pasti ummah akan menolak lembaran-lembaran tersebut, karena hal itu tidak dapat dipertanggung-jawabkan.

Sekarang saya ingin bertanya: apakah Dead Sea Scroll itu bisa dipertanggungjawabkan secara keagamaan dan secara keilmiahan? Mengapa orang Kristen tidak mempunyai rasa malu menganggap sesuatu sebagai miliknya yang sebenernya cuma “BOLEH NEMU”?

Sekarang tentang GLM (DEAD SEA SCROLL).

Apakah Anda tidak baca artikel saya yang saya sisipkan di postingan saya yang kemaren itu, yang dalam bahasa inggris? Atau memang bahasa inggris saya jelek? Saya kutip lagi.

In Christianity, there is The Dead Sea Scrolls -and all Christians are so proud about it. But, there is still a question: is it genuine?

In Islam, we have the men by the names Bukhari, Muslim, Nasai etc. They are the prominent scholars in Islam, and their works are remarkable for the centuries. These men are to validate what Hadith that can enter the Muslim world. So all Muslims can have the Hadith from the objective works.

Meanwhile, does Christianity have men like them to validate what biblical ayahs that can enter the Bible? It doesn’t.

Actually, the existence of these great men in Islam is all arranged by Lord which means the Plan of Lord makes these men appear. The question is, why the Lord of Christianity doesn’t make the plan like that to make the Bible more convincing? The answer is that there is no Lord in Christianity! Christianity is just an empty religion.

There are no Christian “Bukhari” and Christian “Muslim” or Christian “Nasai” to determine whether the Dead Sea Scrolls are genuine or not.

Bukhari, Muslim, Nasai etc are there to examine the bringer(s) of the Hadith. This is not the Hadith they are examining, but the bringer(s) of the Hadith instead. Is the bringer trustworthy, honest, a good man, a liar, a deceiver, a drinker, an alcoholic, and an adulterer whatsoever. This is about the honesty, not about what the Hadith says.

Maksudnya, ketika ada satu Alhadits, maka tugas Bukhari cs lah untuk memastikan apakah Alhadits itu divine. Yang diperiksa Bukhari ce-es bukan Alhadits nya itu sendiri, atau lembaran tempat Alhadits itu ditulis. namun yang diperiksa oleh Bukhari ce es adalah pembawa nya, perawinya, apakah mereka adalah nama-nama yang mempunyai cacad secara integritas dan moral. Bukhari ce es berkelana untuk mendapat informasi seluas-luasnya tentang nama-nama yang menjadi pembawa / perawi suatu Alhadits. Kalau didapat satu nama yang ternyata adalah orang tidak bener, maka MAU TIDAK MAU Alhadits itu direject. Makanya  Alhadits itu ada beberapa derajatnya. Jadi perbedaan derajat Alhadits itu bukan terletak pada mutu, namun berdasarkan kualitas tokoh yang ada di mata rantai pembawa nya.

Misalnya, Bukhari dapat Alhadits tentang dodol.

Dia dapat dari E.

E dapat dari D.

D dapat dari C.

C dapat dari B.

B dapat dari A.

A dapat dari Muhammad saw.

Nah, tugas Bukhari adalah menguji apakah si A B C D E adalah orang-orang yang mempunya moralitas yang agung. Bukan dodolnya yang diperiksa. Namun mata rantai nya dari E sampai Muhammad.

Kalau Bukhari ce es melihat bahwa ternyata C adalah pendusta, maka Alhadits itu turun derajatnya, mungkin maudhu, dhaif, dan lain lain.

Di dalam meneliti suatu Alhadits dapatan (Alhadits acquired), maka para ahli Alhadits (Barat menyebutnya Hadith Compiler / HC) akan menelitinya dari dua aspek, yaitu,

  1. Aspek Matan
  2. Aspek Sanad.

 

Matan, maksudnya suatu Alhadits ditinjau keabsahannya dilihat dari KANDUNGAN atau MESSAGE dari Alhadits tersebut, apakah ia bertentangan dengan misi Islam atau kerasulan Muhammad Saw. Terlebih lagi apakah suatu Alhadits bertentangan dengan Alquran. Aspek matan akan membantu kita mempersoalkan dan akhirnya mengetahui apakah informasi yang terkandung di dalamnya berasal dari Nabi atau tidak. Misalnya, apakah kandungan hadits bertentangan dengan dalil lain atau tidak

Aspek Sanad, maksudnya suatu Alhadits diteliti keabsahannya dilihat dari mana Alhadits itu dibawa dari satu orang ke orang berikutnya. Nah Bukhari ce-es umumnya meneliti keabsahan suatu Alhadits secara sanad nya. Ilmu yang berkaitan dengan sanad akan mengantar kita menelusuri apakah sebuah hadits itu bersambung sanadnya atau tidak, dan apakah para periwayat hadits yang dicantumkan di dalam sanad hadits itu orang-orang terpercaya atau tidak

Nah, bagaimana dengan Gulungan Laut Mati itu? Apakah para ahli mempertanyakan moralitas orang yang MELETAKAN Gulungan Laut Mati itu? Apakah para ahli mempertanyakan moralitas orang yang MENULIS Gulungan Laut Mati itu? Pun, apakah para ahli mengetahui, siapa yang meletakkan Gulungan Laut Mati itu di sana? Namanya  siapa? Dan kalau sudah tahu namanya, terus apakah para ahli menguji moralitas dari nama tersebut??

Singkatnya, apakah para ahli Alkitab meneliti keabsahan semua teks itu – termasuk Dead Sea Scroll – baik secara aspek matan dan aspek sanad?

Sama sekali, TIDAK, KAN??????

Lantas mengapa semua orang Kristen sangat membanggakan Gulungan Laut Mati itu?? Apakah semua orang Kristen berfikiran dangkal??? Sudah pun dangkal, juga mereka tidak mempunyai logika berfikir yang dapat diper-tanggungjawab kan. Jelaslah, apakah bisa diper tanggungjawab kan, bahwa objek yang namanya Gulungan Laut Mati itu dianggap suci??

Kalau orang Kristen mempunyai logika yang dapat diper tanggungjawab kan, pastilah semua orang Kristen akan mempunyai cara berfikir seperti cara kerja Bukhari dan Muslim ce-es itu …..

Yang diperiksa / diteliti oleh Bukhari Muslim ce-es itu bukan lah objeknya (Alhadits) itu sendiri, namun orang orang yang terlibat langsung pada perawian Alhadits tersebut. Logis kan?

Kalau lah seandainya Bukhari, Muslim, Nasai delele KITA PEKERJAKAN UNTUK MENELITI semua naskah Alkitab, baik ia Perjanjian Lama mau pun Perjanjian Baru, plus Gulungan Laut Mati, kira-kira apakah result yang diberikan oleh mereka? Pastilah mereka semua berkata,

…………..Kami tidak dapat memper-tanggungjawab-kan semua paket teks tersebut yang berada di dalam penelitian kami selama ini. Kami tidak dapat membuktikan siapa saja yang menjadi perawi atau sanad dari semua teks ini. Bahkan lebih menyedihkan lagi adalah, kami pun tidak dapat meneliti –apalagi mengetahui – moralitas dari para sanad semua teks tersebut. Kami anjurkan kepada semua orang Kristen untuk menjauh dari teks-teks tersebut………………

Jelaslah sudah, bahwa semua naskah suci (holy texts) berupa Alkitab mau pun Gulungan Laut Mati adalah suatu fenomena yang tidak dapat diper tanggungjawabkan secara ilmiah dan keagamaan.

Akhirnya, bagi semua orang yang berkhidmat pada kehati-hatian dan logika, harus lah berkata bahwa Kristen telah kehilangan semua rohnya. Singat kata, Kristen adalah sesat!

Kesaksian Para Theolog

pendapat-para-teolog

1. Pendeta Dr. R. Soedarmo

(pendeta di gereja kristen jawa Salatiga, dosen di sekolah Tinggi Teologi Jakarta, dosen Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, anggota Badan Pengurus Dewan Gereja Indonesia, ke…tua seksi Perjanjian Lama LAI, dan lain2): Alkitab mungkin sekali ada kesalahan

“Dengan pandangan bahwa KITAB SUCI … Lihat SelengkapnyaHANYA CATATAN SAJA DARI ORANG, maka diakui juga bahwa di dalam kitab suci mungkin sekali ada kesalahan. Oleh karena itu KITAB SUCI MUNGKIN SEKALI ADA KESALAHAN. Oleh karena itu Kitab Suci dengan bentuk sekarang MASIH DAPAT DIPERBAIKI” (Ikhtisar Dogmatika BPK Jakarta, 1965, hlm. 47). “Di dalam perjanjian Baru pun ada kitab2 yg DIRAGUKAN antara lain surat Wahyu dan Yakobus yg disebut surat Jeram” (Ikhtisar Dogmatika, hlm. 49).

2. Dr. G. C. Van Niftrik dan Dr. B. J. Bolland:

Alkitab khilaf:

“Kita tidak usah malu2, bahwa TERDAPAT BERBAGAI KEKHILAFAN DI DALAM ALKITAB; kekhilafan2 tentang angka2 perhitungan; tahun dan fakta. Dan tak perlu kita pertanggungkan kekhilafan2 itu pada caranya, isi Alkitab telah disampaikan kepada kita, sehingga kita akan dapat berkata: “Dalam naskah aslinya tentu tidak terdapat kesalahan2, tetapi kekhilafan itu barulah kemudian terjadi di dalam turunan naskah itu. Isi Alkitab juga dalam bentuknya yg asli, telah datang kepada kita dengan perantaraan manusia” (Dogmatika Masa Kini, BPK Jakarta, 1967, hal 298).

3. Dr. B.J. Bolland:

Kitab Daniel adalah Karangan Buta.

Bolland dalam bukunya Kunci Kitab Daniel halaman 5-12 mengatakan bahwa Kitab Daniel milik Protestan yg terdiri dari 12 pasal, pasal 1-6 adalah “Karangan Buta (Anonim), “ sedangkan pasal 7-12 disebut sebagai “karangan Samaran (Pseudinim).”

4. Drs. M. E. Duyverman:

Kesalahan pada Penyalinan Alkitab.

“Ada kalanya penyalin tersentuh pada kesalahan dalam naskah asli yg dipergunakannya, lalu kesalahan itu diperbaikinya, padahal perbaikan itu sering mengakibatkan perbedaan yg lebih besar dengan yg sungguh asli. Dan kira2 penyelidikan dan penyesuaian salinan2; agaknya terdorong oleh perbedaan yg sudah terlalu besar di antara salinan2 yg dipergunakan dengan resmi dalam gereja” (Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru, 1966, hal. 24-25).

5. Dr. A. Powel Davies.

“The first three, or Sypnoptic Gospels tell much same story. There are discrepancies; but it is impossible to a considerable extent to reconcile them. John’s Gospel, however, tells quit a different story from the other three. If John is right, then the other three are wrong; If the Synoptic are right, the John’s Gospel must surely be in error” (The meaning of the Dead Sea Scrolls The New American Library, 1961, hlm. 106).

(Tiga injil pertama, yaitu Injil Synoptic, membawakan cerita yg sama. Terdapat pertentangan2 di dalamnya, sehingga tidaklah mungkin sedemikian jauh untuk mendamaikan ayat2 ini. Namun Injil Yohanes menceritakan cerita2 yg amat berbeda dari ketiga Injil pertama itu. Bila Injil Yohanes yg betul, maka ketiga Injil yg lain itu salah; bila ketiga Injil itu betul, maka Injil Yohanes yg pasti salah).

6. Dr. Walter Lempp:

Pandangan Alkitab Kejadian 1 Sudah Ketinggalan Zaman.

“Susunan semesta alam yg diuraikan dalam Kitab Kejadian 1 tidak dapat dibenarkan lagi oleh ilmu pengetahuan modern” (Tafsiran Kejadian, hal. 58).

“Pandangan Kejadian 1 dan seluruh Alkitab tentang susunan semesta alam adalah berdasarkan ilmu kosmografi bangsa Babel. Pandangan itu sudah ketinggalan jaman” (Tafsiran Kejadian, hal. 65).

7. Robert W. Funk, Roy W. Hoover, and The Jesus Seminar:

82 Persen Injil Bukan Ucapan Yesus

“Eighty-two percent of the words ascribed to Yesus in the Gospels were not actually spoken by him” (Robert W. Funk, Roy W Hoover, and The Jesus Seminar, The Five Gospels, What did Jesus Really Say?, Harper San Francisco, 1997, hlm. 5).

(Delapan puluh dua persen kalimat yg katanya diucapkan Yesus di dalam kitab2 Injil sebenarnya tidak pernah diucapkan oleh Yesus).

8. Dr. M.r. D.C. Mulder:

a. Kitab Taurat dalam Alkitab bukan tulisan Nabi Musa:

“Sampai abad ke- 18 umum diterima oleh kalangan orang Yahudi dan orang Kristen bahwa Pentateuch (Taurat) itu dikarang oleh Nabi Musa sendiri. Hanya tentang Ulangan 34: 5-12 (wafat Musa) kadang2 diterangkan bahwa bagian itu dikarang oleh Yusak: tetapi terdapat juga … Lihat Selengkapnyaketerangan bahwa Musa sendiri menubuatkan hal wafatnya sendiri. Akan tetapi, sejak abad ke-18 tradisi mengenai Musa sebagai pengarang mulai diragukan” (Pembimbing ke Dalam Perjanjian Lama, BPK Jakarta, 1963 hal. 40-41).

b. Kitab Mazmur bukan tulisan Nabi Daud.

“Jadi benarlah Daud itu pengarang Mazmur yg 73 jumlahnya? Hal itu belum tentu. Sudah beberapa kali kita menjumpai gejala bahasa orang Israel suka menggolongkan karangan2 di bawah nama orang yg termasyhur…… Oleh karena itu tentu tidak mustahil pengumpulan2 mazmur2 itu (atau orang2 yg hidup lebih kemudian) memakai nama Daud, karena raja itu termasyhur sebagai pengarang mazmur2. Dengan lain perkataan, pemakaian nama Daud, Musa, Salomo itu merupakan tradisi kuno, yg patut diperhatikan, tetapi tradisi itu tidak mengikat” (Pembimbing ke Perjanjian Lama, BPK Jakarta, 1963 hal. 205).

 ‎9. Rev. David J. Fant, New York Bible Society:

Naskah Asli Alkitab Telah Hilang

“The question naturally arises, do any of the original manuscripts of the Bible still exist? The answer is No. The original manuscripts were on papyrus and othe…r perishable materials and have long since disappeared” (Rev. David J. Fant, Simple Helps and Visual Aids to Understanding The Bible, hlm. 6).

(Persoalan yg biasanya ditanya, adakah naskah2 asli Alkitab masih ada sehingga kini? Jawabannya tidak. Naskah2 asli di atas papirus dan bahan2 lain yg mudah rusak semuanya telah lama hilang)

10. M.E. Kemp:

Nama penulis Alkitab Sejarah Tidak Diketahui.

“Berapa kitabkah yg termasuk dalam Kitab Sejarah dan apakah nama kitab2 itu? Kitab2 sejarah ada 12 kitab, yaitu: Yosua, Hakim-hakim, Rut, 1 Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-raja, 2 Raja-raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra, Nehemia dan Ester.

Siapakah penulis kitab2 Sejarah itu? Nama penulis kitab2 sejarah itu tidak diketahui dengan pasti, kecuali kitab Nehemia yg ditulis oleh Nehemia sendiri” (M.E. Kemp, Bible Questions and Answers (edisi Indonesia: Tanya Jawab Alkitab), Yayasan Kalam Hidup, Bandung, cet. Ke-14, 1994, hal 23).

11. Dr David L Baker

(Teolog kelahiran Inggris, dosen bidang Perjanjian Lama di STT HKBP dan STT Jakarta), mengakui bahwa sebagian isi kitab Pengkhotbah itu negatif:

“Penulis Kitab Pengkhotbah merenungkan maksud kehidupan manusia di dunia yg fana ini dan mengungkapkan perasaannya bahwa segala sesuatu adalah sia2. Tidak ada gunanya! Seperti banyak manusia pada masa kini dia mengalami depresi dan frustasi. Boleh dikatakan dia seorang pesimis.

Kitab Pengkhotbah agak sulit ditafsirkan, karena sebagian isinya sangat negatif, demikian juga sikap penulisnya” (Dr David L Baker, Mari Mengenal Perjanjian Lama: Suatu Pengantar Ringkas, hlm. 94).

12. Stefan Leks, pakar bibliologi Katolik:

Teks asli Kitab Suci, Memang Tidak Ada.

“Salah satu pertanyaan dasariah yg sering kali dikemukakan para pembaca Kitab Suci (Alkitab) menyangkut teksnya sendiri adalah: sejauh manakah teks itu pasti? Jangan2 teks itu sudah diubah dan dimanipulasikan. Jangan2 ada teks2 yg disingkirkan oleh pihak tertentu, dan sebagainya.

Di seluruh dunia tidak usah dicari teks asli Kitab Suci, sebab teks itu memang tidak ada. Yg kita miliki sekarang ialah salinan dari salinan2 terdahulu, dan diantara bermacam-macam salinan yg kita miliki itu terdapat cukup banyak perbedaan. PL berisikan teks2 yg dibuat oleh bangsa Israel. Penyusunannya meliputi beberapa abad lamanya. Hampir semua teks itu dituliskan dalam bahasa Ibrani kuno, sedangkan beberapa bagiannya dituliskan dalam bahasa Aram, bahkan dalam bahasa Yunani. PB berisikan teks2 dalam bahasa Yunani (koine) yg pada abad pertama menjadi bahasa internasional Kristen. Proses penyusunannya meliputi beberapa puluh tahun” (Stefan Leks, Inspirasi dan Kanon Kitab Suci, Kanisius, Yogyakarta 1992, hal. 73-74).

Solusi Akhir.

Injil Yohanes mengakui dengan jujur bahwa ajaran Yesus masih belum ditulis semuanya dalam Alkitab (Yoh 21:25). Karena Alkitab tidak bisa dipertahankan keabsahannya. Maka seharusnya kita berpaling kepada Alkitab lain yg murni Kitab Ilahi dan sudah teruji keasliannya sepanjang zaman yaitu, Al-Qur’an The Real Last Testament.