Kuasa Pengampunan Jesus Adalah Nonsense Bagian 2

TTO

Purgatorium (kutipan dari wikipedia)

Dalam teologi Kristen, dan khususnya dalam teologi Katolik, Purgatorium (bahasa Inggris: Purgatory) adalah suatu keadaan antara atau peralihan setelah kematian jasmani yang melaluinya mereka yang ditentukan ke Surga “menjalani pemurnian, sehingga mencapai kekudusan yang diperlukan untuk memasuki kegembiraan surga”. Hanya mereka yang meninggal dunia dalam keadaan rahmat, namun belum menjalani hukuman sementara akibat dosa-dosa mereka, yang dapat berada dalam Purgatorium, dan dengan demikian tidak ada seorang pun dalam Purgatorium yang akan berada selamanya dalam keadaan tersebut ataupun pergi ke neraka. Asal mula konsep ini memiliki akar-akar sejak dahulu.

Kata Purgatorium juga digunakan untuk mengacu pada berbagai konsepsi historis dan modern tentang penderitaan pasca kematian fisik menjelang hukuman kekal, dan digunakan, dalam pengertian non-spesifik, dengan arti setiap tempat ataupun kondisi dalam penderitaan atau siksaan, terutama yang bersifat sementara.

Sejarah keyakinan

Keyakinan akan adanya hukuman sementara yang sepadan dalam kehidupan setelah kematian, atas semua sikap dan perilaku masing-masing orang selama hidupnya di dunia ini, diungkapkan dalam karya tulis Kristen awal berbahasa Yunani yang dikenal sebagai Diskursus Yosefus untuk Orang Yunani mengenai Hades, yang pernah diatribusikan pada Yosefus (37 – kr. 100) namun sekarang diyakini sebagai karya Hippolitus dari Roma (170–235).

Sesaat sebelum ia berpindah keyakinan menjadi Katolik Roma, akademisi Inggris John Henry Newman berpendapat bahwa esensi doktrin ini terletak dalam tradisi kuno, dan bahwa konsistensi inti keyakinan-keyakinan semacam ini merupakan bukti bahwa Kekristenan “pada dasarnya diberikan kepada kita dari surga”. Umat Katolik Roma tidak menganggap ajaran tentang Purgatorium sebagai penambahan-penambahan imajinatif, memandangnya sebagai bagian dari iman yang berasal dari penyataan Yesus Kristus yang diwartakan oleh Para Rasul. Dari antara para Bapa Gereja awal, Origenes mengatakan bahwa “ia yang diselamatkan, karena itu diselamatkan melalui api” yang membakar dosa-dosa dan keduniawian sama seperti pemurnian emas dalam api dari logam-logam lain seperti timah hitam. St. Ambrosius dari Milan berbicara mengenai semacam “baptisan api” yang terletak di pintu masuk menuju Surga, dan semua orang musti melewatinya, pada akhir dunia ini. St. Gregorius Agung mengatakan bahwa keyakinan akan Purgatorium adalah “jelas” (constat), dan “diyakini” (credendum), serta menegaskan bahwa ………

‘api’ Purgatorial hanya dapat memurnikan pelanggaran-pelanggaran kecil, bukan “besi, perunggu, atau timah hitam,” ataupun dosa-dosa “keras” (duriora) lainnya. Dengan ini ia menyampaikan bahwa keterikatan pada dosa, kebiasaan berdosa, dan bahkan dosa-dosa ringan dapat dilepaskan dalam Purgatorium, tetapi tidak dosa berat, yang menurut doktrin Katolik mengakibatkan HUKUMAN KEKAL. :::Point 01:::

Selama berabad-abad, para teolog dan kalangan Kristen lainnya mengembangkan doktrin mengenai Purgatorium, yang kemudian menyebabkan penetapan doktrin secara resmi (berbeda dari deskripsi-deskripsi legendaris yang ditemukan dalam literatur puitis) pada Konsili Lyon I (1245), Konsili Lyon II (1274), Konsili Florence (1438–1445), dan Konsili Trente (1545–63).

Kekristenan

Sejumlah gereja, khususnya Katolik Roma, mengakui doktrin Purgatorium. Banyak gereja Protestan dan Ortodoks Timur tidak menggunakan terminologi yang sama, yang pertama disebutkan mendasari pada doktrin sola scriptura mereka, dikombinasikan dengan pengecualian mereka atas Kitab 2Makabe dari Alkitab; sementara Gereja Ortodoks menganggap Purgatorium sebagai suatu doktrin yang non-esensial.

Katolisisme

Gereja Katolik memberi nama Purgatorium atas pemurnian akhir semua orang yang wafat dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah, tetapi masih belum dimurnikan secara sempurna. Purgatorium lebih sering digambarkan sebagai tempat suatu proses pemurnian, namun gagasan purgatorium sebagai suatu tempat secara fisik bukan merupakan bagian dari doktrin Gereja.

Surga dan Neraka

Menurut keyakinan Katolik, seketika setelah kematian jasmaninya, seseorang menjalani penghakiman khusus yang menentukan nasib jiwanya dalam kekekalan. Beberapa jiwa dapat langsung bersatu dengan Allah dalam Surga, dibayangkan sebagai suatu firdaus sukacita abadi, Theosis terselesaikan dan jiwa mengalami visiun beatifis Allah. Sebaliknya, sebagian jiwa lainnya (mereka yang mati dalam kebencian kepada Allah dan Kristus) mencapai suatu keadaan yang disebut Neraka, yaitu KETERPISAHAN SELAMANYA dari Allah yang sering dibayangkan sebagi suatu kediaman yang tanpa akhir dalam SIKSAAN NYALA API, suatu api yang terkadang dianggap metaforis. :::Point 02:::

Peranan terkait dosa

Selain menerima keadaan surga dan neraka, Katolisisme juga memandang adanya keadaan ketiga bagi jiwa sebelum diterima dalam surga. Menurut doktrin Katolik, sebagian jiwa belum bebas sepenuhnya dari efek temporal dosa dan konsekuensinya untuk dapat langsung memasuki keadaan surga, ………..

sementara sebagian lainnya sedemikian berdosa dan penuh kebencian kepada Kristus sehingga langsung memasuki keadaan neraka. :::Point 03:::

Jiwa-jiwa tersebut, yang ditentukan berakhir dalam persatuan dengan Allah dalam surga,

pertama-tama perlu dibersihkan terlebih dahulu melalui purgatorium – :::Point 04:::

-suatu keadaan pemurnian atau penyucian. Melalui purgatorium, jiwa-jiwa “meraih kekudusan yang diperlukan untuk memasuki kegembiraan surga”.

Dosa berat mengakibatkan hukuman sementara sekaligus hukuman kekal, sementara dosa ringan hanya mengakibatkan hukuman sementara. :::Point 05:::

Gereja Katolik membuat perbedaan antara kedua jenis dosa tersebut. Dosa berat adalah “dosa yang objeknya adalah hal berat serta yang juga dilakukan dengan pengetahuan penuh dan persetujuan yang telah dipertimbangkan”, sehingga “kalau tidak ditebus melalui penyesalan dan pengampunan Allah mengakibatkan ……………..

pengecualian dari kerajaan Kristus dan kematian abadi dalam neraka, sebab kebebasan kita mempunyai kuasa untuk membuat pilihan untuk selama-lamanya tanpa dapat ditarik kembali“.:::Point 06:::

Sebaliknya, dosa ringan “tidak menjadikan kita bertentangan secara langsung terhadap kehendak dan persahabatan Allah” dan, kendati masih “merupakan suatu gangguan moral”, tidak melepaskan persahabatan dengan Allah dalam diri orang yang berdosa, dan konsekuensinya kebahagiaan kekal dalam surga. Namun, karena dosa ringan memperlemah kasih, memanifestasikan afeksi yang tidak semestinya pada barang-barang ciptaan, dan menghambat kemajuan jiwa dalam melakukan kebajikan-kebajikan serta kebaikan moral, ……………

maka dosa ringan mengakibatkan hukuman sementara (temporal). :::Point 07:::

Santa Katarina dari Genoa menuliskan: “Adapun surga, Allah tidak menempatkan pintu di sana. Siapapun yang ingin masuk, [dapat] melakukannya. Allah yang penuh belas kasih berdiri di sana dengan tangan-Nya terbuka, menanti untuk menerima kita ke dalam kemuliaan-Nya. Tetapi, saya juga melihat bahwa hadirat ilahi begitu murni dan penuh cahaya – jauh melebihi yang dapat kita bayangkan – bahwa jiwa yang pantas namun …….

memiliki sedikit ketidaksempurnaan lebih memilih melemparkan dirinya ke dalam seribu neraka :::Point 08:::

daripada tampil di hadapan hadirat ilahi. Lidah tidak dapat mengungkapkan dan hati juga tidak memahami sepenuhnya arti purgatorium, yang rela diterima jiwa sebagai suatu belas kasih atas kesadaran bahwa penderitaan itu tidak penting dibandingkan dengan pelepasan hambatan dosa”.

Rasa sakit dan api

Purgatorium umumnya dipandang sebagai suatu penyucian dengan cara ……

hukuman sementara yang menyakitkan, yang—sama seperti hukuman kekal Neraka  :::Point 09:::

—dihubungkan dengan gagasan mengenai api.  Kendati “rasa sakit indra-indra” (berbeda dengan “rasa sakit kerinduan” akan Visiun Beatifis) secara doktrinal tidak didefinisikan sebagai bagian dari Purgatorium, para teolog memiliki konsensus yang sangat kuat bahwa kesakitan indrawi juga termasuk. Beberapa Bapa Gereja memandang 1 Korintus 3:10–15 sebagai bukti adanya suatu keadaan peralihan yang membakar habis sisa-sisa pelanggaran ringan, dan jiwa yang telah dimurnikan akan diselamatkan.

Api merupakan penggambaran yang diilhami Alkitab (“Kami telah menempuh api dan air”) yang digunakan umat Kristen untuk konsep pemurnian dalam kehidupan setelah kematian. St. Agustinus mendeskripsikan api-api dalam penyucian sebagai sesuatu yang LEBIH MENYAKITKAN dari apa pun yang dapat diderita seseorang dalam kehidupan ini, dan Paus Gregorius I menuliskan bahwa HARUS ADA SUATU API PENYUCIAN UNTUK BEBERAPA KESALAHAN KECIL yang mungkin masih perlu disingkirkan. Origenes menuliskan tentang api yang diperlukan untuk memurnikan jiwa, dan St. Gregorius dari Nyssa juga menulis tentang api pembersihan.

Kebanyakan teolog dari masa lampau menyatakan bahwa api tersebut dalam arti tertentu adalah suatu api materiil, meski sifatnya berbeda dari api biasa, namun pendapat teolog-teolog lainnya yang menafsirkan istilah biblis “api” secara metaforis tidak dikecam oleh Gereja dan mungkin sekarang menjadi pandangan yang lebih umum di antara para teolog. Katekismus Gereja Katholik (KGK) berbicara tentang suatu “api penyucian” dan mengutip ungkapan “purgatorius ignis” (api pemurnian) yang digunakan Paus Gregorius Agung. KGK berbicara tentang hukuman sementara karena dosa, bahkan dalam kehidupan ini, sebagai salah satu dari “segala macam penderitaan dan cobaan”. KGK mendeskripsikan purgatorium sebagai pemurnian yang diperlukan karena “suatu keterikatan yang tidak sehat dengan makhluk-makhluk”, suatu pemurnian yang “membebaskan seseorang dari apa yang dinamakan ‘siksa dosa sementara'”, suatu hukuman yang “tidak boleh dipandang sebagai semacam balas dendam yang ditimpakan Allah dari luar, TETAPI SEBAGAI SESUATU YANG TIMBUL DARI HAKIKAT DOSA ITU SENDIRI.”

Doa untuk arwah dan indulgensi

Gereja Katolik mengajarkan bahwa nasib mereka yang berada dalam purgatorium dapat dipengaruhi oleh tindakan mereka yang masih hidup di dunia ini. Ajaran itu juga didasarkan pada praktik berdoa bagi arwah sejak zaman dahulu sebagaimana disebutkan pada 2 Makabe 12:42–46, yang dipandang oleh umat Katolik dan Ortodoks sebagai bagian dari Kitab Suci.

Dalam konteks yang sama ada disebutkan praktik indulgensi. Suatu indulgensi merupakan remisi di hadapan Allah, melalui perantaraan Gereja, atas hukuman sementara akibat dosa-dosa yang telah mendapat pengampunan. Indulgensi dapat diperoleh bagi diri sendiri, ataupun dipersembahkan bagi orang yang telah meninggal dunia. Terlepas dari persepsi populer di kalangan non-Katolik, Gereja Katolik TIDAK PERNAH mengajarkan bahwa INDULGENSI MEMILIKI KUASA PENGAMPUNAN DOSA KARENA HAL ITU DIPANDANG SEBAGAI YURISDIKSI ALLAH SAJA. Siapa pun yang mengajarkan bahwa dengan melakukan tindakan-tindakan kasih seperti indulgensi saja dapat mengampuni dosa -telah dikecam sebagai bidah (sesat) oleh Gereja Katolik.

Mengatakan bahwa indulgensi dapat berlaku tanpa peduli seberapa besar kadar keimanan seseorang, tanpa memenuhi persyaratan yang ditetapkan, juga dipandang sesat. Suatu indulgensi bergantung (atau tindakan kasih apa pun untuk hal itu) pada kadar keimanan seorang individu Kristen pada saat tersebut (lihat kasus Johann Tetzel). :::Point 10:::

Indulgensi dan doa untuk arwah telah secara umum dibayangkan sebagai pengurang “durasi” waktu yang dihabiskan oleh arwah dalam purgatorium. Gagasan itu terkait dengan kenyataan bahwa, pada masa lampau, indulgensi diterapkan dalam ukuran jumlah hari, periode 40 hari sebagaimana masa Prapaskah, ataupun tahun, yang sesungguhnya berarti bahwa bukan purgatorium yang dipersingkat dengan jumlah waktu tetapi indulgensi dilakukan sepanjang penitensi kanonik pada sisi orang Kristen yang masih hidup di dunia ini.

Pernyataan Katolik

Kompendium Katekismus Gereja Katolik, pertama kali diterbitkan pada tahun 2005, memuat ringkasan Katekismus Gereja Katolik (KGK) dalam bentuk dialog. Kompendium KGK membahas tentang purgatorium[b] dalam rupa tanya jawab berikut:

210. Apa itu purgatorium?

Purgatorium ialah keadaan mereka yang wafat dalam persahabatan dengan Allah, ada kepastian akan keselamatan kekal mereka, tetapi masih membutuhkan pemurnian untuk masuk ke dalam kebahagiaan surga.

  1. Bagaimana kita bisa membantu jiwa-jiwa yang sedang dimurnikan di purgatorium?

Karena persekutuan para kudus, umat beriman yang masih berjuang di dunia ini dapat membantu jiwa-jiwa di purgatorium dengan mempersembahkan doa-doa untuk mereka, khususnya kurban Ekaristi. Umat beriman juga dapat membantu mereka dengan beramal, indulgensi, dan karya penitensi. :::Point 11:::

Kedua tanya jawab di atas merangkum penjelasan yang terdapat dalam KGK 1020–1032 dan 1054, yang dipublikasikan pada tahun 1992, yang juga berbicara tentang purgatorium pada bagian 1472 dan 1473.

Katolisisme Timur

Beberapa kalangan Ortodoks percaya pada suatu ajaran tentang adanya “rumah tol aerial” bagi jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dunia. Menurut teori tersebut, yang ditolak oleh kalangan Ortodoks lainnya tetapi terdapat dalam himnologi Gereja Ortodoks, “setelah kematian seseorang jiwanya meninggalkan tubuhnya dan dihantar kepada Allah oleh malaikat-malaikat. Selama perjalanan ini, jiwa melintasi suatu dunia aerial (“udara”) yang dikuasai oleh roh-roh jahat.

Jiwa menjumpai roh-roh jahat itu di berbagai titik yang disebut sebagai ‘rumah-rumah tol’ tempat roh-roh jahat kemudian berusaha untuk menuduhnya karena dosa dan, bila memungkinkan, menarik jiwa ke dalam Neraka”. :::Point 12:::

Sumber, https://id.m.wikipedia.org/wiki/Purgatorium …….. Di-akses 24 September 2019.

Note. Beberapa paragraf telah dihapus karena tidak mempunyai relevansi.

Bold and capital emphasize mine.

-o0o-

Sophislam.

Artikel di atas membahas purgatori yang berasal dari wikipedia yang mengutip berbagai sumber, dan apa yang dibahas adalah adanya api Neraka buat umat Kristen, yaitu umat / individu yang percaya kepada Jesus sebagai putra Allah dan Juru Penebus Dosa yang mempunyai KUASA PENEBUSAN DOSA (KPD) melalui darah penyaliban yang menyengsarakan sang Jesus di tiang salib.

Jadi intinya, siapa saja orang yang percaya kepada Jesus sebagai putra Allah dan sebagai penebus dosa, maka semua dosanya akan ditebus Jesus kelak di hari kiamat, yang akan membuatnya bebas masuk Surga.  Itu semua berkat besarnya kasih Tuhan Bapa kepada umat dunia, …………

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3: 16).

Namun berkebalikan dengan janji / ayat di atas, justru artikel mengenai purgatori ini membahas adanya siksa Neraka buat para Kristen pendosa, baik itu Neraka sementara (purgatori) maupun Neraka kekal, seolah percaya kepada Jesus sebagai putra Allah dan Juru Penebus Dosa tidak pernah ada di dalam Alkitab; atau seolah percaya kepada Jesus sebagai putra Allah dan Juru Penebus Dosa tidak ada gunanya dan tidak ada efeknya sama sekali. Lantas buat apa ada ayat Yohanes 3: 16 tersebut?

Artikel purgatori ini, sedikit pun tidak menyinggung penebusan dosa Jesus untuk umatnya, baik dosa kecil maupun dosa besar. Justru artikel ini membahas bahwa orang Kristen yang dosanya kecil, akan dimasukkan ke Neraka purgatori, sementara yang mempunyai dosa (sedemikian) besar akan dilempar ke Neraka abadi nan kekal. Lantas di mana letak kepenebusan dosa Jesus, seperti yang  tertera pada ayat Yohanes di atas?

Apakah penulis artikel purgatori ini, saking serius dan bangganya membahas purgatori, membuatnya lupa bahwa ada penebusan dosa dari Jesus bagi siapa saja yang percaya kepadanya sebagai putra Allah dan penebus dosa? Atau, apakah memang sebenarnya jabatan Jesus sebagai penebus dosa hanya hoax semata?

Atau ingin membuat umat Kristen bingung? Di satu pihak, di Gereja mereka dijanjikan penebusan dosa dari Jesus –sehingga umatnya kelak tidak merasakan kesengsaraan hukuman, sementara di pihak lain adanya artikel purgatori ini menegaskan TETAP ADANYA hukuman Neraka bagi orang Kristen di hari kiamat, baik dosa kecil maupun dosa besar; jadinya artikel wikipedia ini hanya menegaskan bahwa jabatan Jesus sebagai penebus dosa hanya nonsense yang tidak lucu? Mana yang benar?

Kalau memang benar Jesus menjabat sebagai penebus dosa, maka seharusnya tidak ada Neraka sementara alias purgatori, dan juga tidak ada Neraka kekal bagi para pendosa besar. Jadi seharusnya Neraka itu hanya untuk mereka yang menolak Jesus sebagai putra Allah dan penebus dosa (Muslim contohnya).  Namun mana faktanya? Mana pasalnya?

Maka pada akhirnya dapat disimpulkan, bahwa ajaran yang menyatakan bahwa Jesus merupakan penebus dosa umatnya, merupakan nonsense, tidak berdasar dan tidak ada logikanya: menjadi orang Kristen sama sekali tidak menjamin masuk Surga; justru Neraka abadi dan Neraka purgatori sudah menunggu setiap orang Kristen, kendati selalu diajarkan bahwa Jesus mempunyai Kuasa Penebusan Dosa bagi orang percaya. Lantas buat apa terus menjadi orang Kristen?

Apa bedanya dari Islam? Di dalam Islam jelas diajarkan bahwa Muslim saleh akan masuk Surga, sementara Muslim pendosa akan masuk Neraka kekal di dalamnya, dan begitu juga dengan orang-orang yang menolak menjadi Muslim alias menolak percaya kepada ajaran Nabi Muhammad Saw (yaitu kaum kafir), mereka semua akan masuk Neraka kekal di dalamnya ….. jadi apa bedanya antara Islam dan Kristen? Buat apa ada Jesus sebagai penebus dosa, kalau Neraka masih juga dibahas buat para Kristen pendosa? Ternyata Jesus tidak bisa menebus dosa secuil pun!!!

Berikut di bawah ini merupakan cuplikan-cuplikan dari artikel di atas, supaya dapat semakin jelas bahwa KPD yang disandang Jesus tidak pengaruh sedikit pun.

:::Point 01:::

‘api’ Purgatorial hanya dapat memurnikan pelanggaran-pelanggaran kecil, bukan “besi, perunggu, atau timah hitam,” ataupun dosa-dosa “keras” (duriora) lainnya. Dengan ini ia menyampaikan bahwa keterikatan pada dosa, kebiasaan berdosa, dan bahkan dosa-dosa ringan dapat dilepaskan dalam Purgatorium, tetapi tidak dosa berat, yang menurut doktrin Katolik mengakibatkan HUKUMAN KEKAL.

Keterangan.

Paragraf ini jelas menunjukkan bahwa orang Kristen yang mempunyai dosa kecil, akan dimasukkan ke Neraka purgatori, sementara orang Kristen yang mempunyai dosa besar akan mengakibatkannya menerima HUKUMAN KEKAL. Lantas di mana kepenebusan dosa yang dijabat Jesus?

:::Point 02:::

Menurut keyakinan Katolik, seketika setelah kematian jasmaninya, seseorang menjalani penghakiman khusus yang menentukan nasib jiwanya dalam kekekalan. Beberapa jiwa dapat langsung bersatu dengan Allah dalam Surga, dibayangkan sebagai suatu firdaus sukacita abadi, Theosis terselesaikan dan jiwa mengalami visiun beatifis Allah. Sebaliknya, sebagian jiwa lainnya (mereka yang mati dalam kebencian kepada Allah dan Kristus) mencapai suatu keadaan yang disebut Neraka, yaitu KETERPISAHAN SELAMANYA dari Allah yang sering dibayangkan sebagi suatu kediaman yang tanpa akhir dalam SIKSAAN NYALA API, suatu api yang terkadang dianggap metaforis.

Keterangan.

Paragraf ini juga menyiratkan bahwa orang Kristen pendosa akan mengalami keterpisahan selamanya dari Allah yang dibayangkan sebagai kediaman tanpa akhir di dalam siksan nyala api. TEGAS SEKALI paragraf ini MENAFIKAN jabatan Jesus sebagai pemilik KPD.

:::Point 03:::

sementara sebagian lainnya sedemikian berdosa dan penuh kebencian kepada Kristus sehingga langsung memasuki keadaan neraka.

Keterangan.

Apalagi paragraf ini, disebutkan dia yang sedemikian berdosa dan penuh kebencian kepada Jesus langsung masuk Neraka. Berarti kuasa penebusan dosa Jesus tidak ada sama sekali, dan berarti kasih Bapa seperti yang tertulis dalam Yohanes 3: 26 tidak mempunyai dasar sama sekali.

:::Point 04:::

pertama-tama perlu dibersihkan terlebih dahulu melalui purgatorium –

keterangan.

Apa? Harus terlebih dahulu dibersihkan melalui Neraka purgatori? Lantas buat apa Jesus didapuk sebagai penebus dosa umatnya, kalau umatnya yang berdosa harus menjalani hukuman juga? Mana penebusan dosanya?

:::Point 05:::

Dosa berat mengakibatkan hukuman sementara sekaligus hukuman kekal, sementara dosa ringan hanya mengakibatkan hukuman sementara.

Keterangan.

Parah sekali paragraf ini, benar-benar mengindikasikan bahwa TIDAK PERNAH ADA YANG NAMANYA KUASA PENEBUSAN DOSA dari Jesus yang dibangga-banggakan umat Kristen, karena toh hukuman kekal maupun hukuman sementara tetap harus diderita umatnya di hari kiamat!!!!

:::Point 06:::

pengecualian dari kerajaan Kristus dan kematian abadi dalam neraka, sebab kebebasan kita mempunyai kuasa untuk membuat pilihan untuk selama-lamanya tanpa dapat ditarik kembali”.

Keterangan.

Nah, pada paragraf ini, susunan kata-katanya benar-benar menunjukkan KETIADAAN penebusan dosa Jesus, karena jelas disebut adanya KEMATIAN ABADI DALAM NERAKA ….. lantas apa gunanya Jesus sebagai penebus dosa?

:::Point 07:::

maka dosa ringan mengakibatkan hukuman sementara (temporal).

Keterangan.

Dosa ringan saja tetap harus menjalani hukuman di Neraka, maka apalagi dosa besar? Jadi buat apa selalu dijerit-jeritkan bahwa Jesus adalah putra Allah yang mempunyai kuasa penebusan dosa bagi umatnya yang percaya kepadanya sebagai putra Allah dan penebus dosa?

:::Point 08:::

memiliki sedikit ketidaksempurnaan lebih memilih melemparkan dirinya ke dalam seribu neraka

Keterangan.

Paragraf ini jelas sekali mentiadakan fungsi Jesus sebagai penebus dosa, sehingga umatnya yang berdosa lebih memilih melemparkan dirinya ke dalam 1000 Neraka. Maka di mana kasih Jesus itu yang dikatakan demikian besar?

:::Point 09:::

hukuman sementara yang menyakitkan, yang—sama seperti hukuman kekal Neraka

Keterangan.

Katanya sengsara Jesus di tiang salib sudah cukup untuk menebus dosa seluruh umatnya sehingga umatnya tidak perlu lagi merasakan sakitnya api Neraka? Namun mengapa paragraf ini ingin membuat kita faham bahwa para pendosa Kristen harus merasakan sakitnya hukuman kekal Neraka? Benar-benar nonsense!!

:::Point 10:::

Mengatakan bahwa indulgensi dapat berlaku tanpa peduli seberapa besar kadar keimanan seseorang, tanpa memenuhi persyaratan yang ditetapkan, juga dipandang sesat. Suatu indulgensi bergantung (atau tindakan kasih apa pun untuk hal itu) pada kadar keimanan seorang individu Kristen pada saat tersebut (lihat kasus Johann Tetzel).

Keterangan.

Memalukan! Doa arwah masih diperlukan untuk membebaskan saudara-saudara mereka yang berada di dalam siksa Neraka? Lantas mengapa mereka yang sudah wafat masih harus menjalani hukuman api Neraka, kalau diajarkan di dalam Gereja bahwa Jesus merupakan penebus dosa seluruh orang percaya?

Kalau memang benar bahwa Jesus mempunyai KPD, maka seharusnya setiap orang Kristen yang wafat langsung masuk Surga (karena semua dosanya langsung ditebus Jesus seketika itu juga), tidak perduli sebesar dan sebanyak apa dosanya, sehingga di dunia orang Kristen tidak perlu lagi melantunkan doa bagi keselamatan arwah Kristen. Lantas mengapa di paragraf ini doa arwah masih diperlukan bagi keselamatan para arwah dari Neraka? Dikemanakan KPD Jesus itu?

Sementara fakta menunjukkan orang Kristen dianjurkan untuk melantunkan doa arwah bagi saudara Kristen mereka yang sudah wafat dan sedang berada di dalam Neraka  …….., maka itu berarti Jesus TIDAK MEMPUNYAI KUASA PENEBUSAN DOSA seciul pun!

:::Point 11:::

  1. Apa itu purgatorium?

Purgatorium ialah keadaan mereka yang wafat dalam persahabatan dengan Allah, ada kepastian akan keselamatan kekal mereka, tetapi masih membutuhkan pemurnian untuk masuk ke dalam kebahagiaan surga.

  1. Bagaimana kita bisa membantu jiwa-jiwa yang sedang dimurnikan di purgatorium?

Karena persekutuan para kudus, umat beriman yang masih berjuang di dunia ini dapat membantu jiwa-jiwa di purgatorium dengan mempersembahkan doa-doa untuk mereka, khususnya kurban Ekaristi. Umat beriman juga dapat membantu mereka dengan beramal, indulgensi, dan karya penitensi.

Keterangan untuk 210.

Dikatakan, “tetapi masih membutuhkan pemurnian untuk masuk ke dalam kebahagiaan Surga” ……. Masih butuh pemurnian? Jadi persahabatan dengan Allah (dan tentu juga dengan putraNya yaitu Jesus) sama sekali tidak membuatnya mendapatkan penebusan dosa dari Jesus, sehingga tetap harus dimurnikan dulu melalui api Neraka purgatori? Fantastis!! Jadi ini benar-benar membuktikan bahwa KPD yang disandang Jesus tidak ada efeknya sama sekali, untuk mereka yang bersahabat dengan Allah sekali pun!

Keterangan untuk 211.

Dikatakan bahwa umat yang masih di dunia dapat membantu jiwa-jiwa di purgatori dengan melantunkan doa-doa. Waow! Pertanyaannya adalah, mengapa jiwa-jiwa berdosa itu berada di siksa Neraka purgatori, sementara di Gereja selalu diajarkan bahwa Jesus merupakan penebus dosa? Bukankah itu berarti para jiwa tersebut tidak melihat adanya penebusan dosa yang disandang Jesus? Dan bukankah ini berarti Jesus tidak mempunyai KPD?

:::Point 12:::

Jiwa menjumpai roh-roh jahat itu di berbagai titik yang disebut sebagai ‘rumah-rumah tol’ tempat roh-roh jahat kemudian berusaha untuk menuduhnya karena dosa dan, bila memungkinkan, menarik jiwa ke dalam Neraka”.

Keterangan.

Ya! Itu semua terjadi karena KPD yang disandang Jesus tidak pernah ada, karena KPD merupakan hoax yang diajarkan Gereja selama ini, itulah sebabnya jiwa-jiwa yang berdosa akan ditarik ke Neraka oleh roh jahat -dan mereka akan kekal di sana, sementara Jesus tidak berbuat apa-apa melihat jiwa-jiwa orang Kristen ditarik roh jahat ke Neraka: bukannya ditarik Tuhan Jesus yang mempunyai KPD ke di dalam Surga, malah ditarik roh jahat ke Neraka.

Percuma jadi orang Kristen yang percaya bahwa Jesus adalah anak Tuhan, karena justru mereka malah ditarik roh jahat ke Neraka lantaran dosa mereka tidak ditebus Jesus, padahal penebusan dosa Jesus itulah yang selalu dijerit-jeritkan di dalam Gereja setiap peribadatan.

-o0o-

Roma 6:18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.

Roma 6:22 Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal

Roma 6:23 Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Pasal-pasal Roma ini, 100% berkebalikan dari artikel wikipedia mengenai adanya Neraka sementara (alias purgatori) dan juga Neraka kekal buat para Kristen pendosa. Roma 6: 23 saja menjelaskan bahwa karena karunia Allah (pasti di sini di dalam bentuk Jesus yang mempunyai KPD), membuat orang Kristen hidup di dalam Kerajaan Jesus, sementara pada penjelasan artikel wikipedia disebutkan adanya keterpisahan untuk selamanya dari Kerajaan Jesus (Point 02) dan Neraka yang kekal bagi para Kristen yang percaya kepada Jesus. Jadi mana yang benar?

Yang benar adalah bahwa kuasa penebusan dosa dari Jesus tidak pernah ada dan tidak pernah dijanjikan di dalam Alkitab, tepat seperti apa yang dipaparkan oleh artikel wikipedia ini. Baiklah dikutip lagi di bawah ini,

“ Umat Katolik Roma tidak menganggap ajaran tentang Purgatorium sebagai penambahan-penambahan imajinatif, memandangnya sebagai bagian dari iman yang berasal dari penyataan Yesus Kristus yang diwartakan oleh Para Rasul. Dari antara para Bapa Gereja awal, Origenes mengatakan bahwa “ia yang diselamatkan, karena itu diselamatkan melalui api” yang membakar dosa-dosa dan keduniawian sama seperti pemurnian emas dalam api dari logam-logam lain seperti timah hitam. St. Ambrosius dari Milan berbicara mengenai semacam “baptisan api” yang terletak di pintu masuk menuju Surga, dan semua orang musti melewatinya, pada akhir dunia ini. St. Gregorius Agung mengatakan bahwa keyakinan akan Purgatorium adalah “jelas” (constat), dan “diyakini” (credendum), serta menegaskan bahwa ………

‘api’ Purgatorial hanya dapat memurnikan pelanggaran-pelanggaran kecil, bukan “besi, perunggu, atau timah hitam,” ataupun dosa-dosa “keras” (duriora) lainnya. Dengan ini ia menyampaikan bahwa keterikatan pada dosa, kebiasaan berdosa, dan bahkan dosa-dosa ringan dapat dilepaskan dalam Purgatorium, tetapi tidak dosa berat, yang menurut doktrin Katolik mengakibatkan HUKUMAN KEKAL.

Wallahu a’lam bishawab.

Silahkan lanjut baca artikel terkait: Kuasa Pengampunan Jesus Adalah Nonsense Bagian 1

Kristen Masih Berkhotbah Berdasar Perjanjian Lama

mimbar

Umat Kristen di berbagai kesempatan, selalu berkata bahwa agama Kristen tidak berdasar Perjanjian Lama, karena kehadiran Jesus telah otomatis menjadi penggenapan dari Perjanjian Lama. Lalu kemudian dari itu, Kristen hanya berdasar Perjanjian Baru, karena Perjanjian Baru merupakan kitab yang berisi kehidupan Jesus, dari a sampai z.

Terkhusus lagi, Perjanjian Lama banyak mengandung ayat kekerasan dan kekejian, cabul dan brutal. Kalau sudah sampai pada bagian ini yang menunjukkan bahwa Perjanjian Lama merupakan kitab keji, maka spontan orang Kristen berujar bahwa agama Kristen tidak lagi  berdasar pada Perjanjian Lama, jadi semua ayat brutal dan cabul di dalam Perjanjian Lama jangan lagi dihubungkan dengan agama Kristen.

Dalih orang Kristen yang menyatakan bahwa Kristen tidak lagi berdasar pada Perjanjian Lama, apakah benar demikian? Apakah memang benar bahwa Kristen tidak  lagi berdasar Perjanjian Lama?

Jawabannya adalah tidak benar. Kehidupan umat Kristen, tidak pernah jauh dari ayat Perjanjian Lama. Begitu juga, khotbah para pendeta Kristen masih saja mensitir ayat Perjanjian Lama, yang hal demikian membuktikan bahwa Kristen memang masih berdasar pada Perjanjian Lama.

Jadi kalau publik menemukan ayat cabul atau brutal di dalam Perjanjian Lama, lalu menghubungkannya dengan agama Kristen, maka orang Kristen pasti akan berdalih bahwa Perjanjian Lama tidak lagi menjadi kitab Kristen, karena Kristen hanya berdasar pada Perjanjian Baru. Namun kemudian di lain kesempatan, masih saja pemuka Kristen berkhotbah menggunakan ayat Perjanjian Lama, yang mana itu berarti bahwa Kristen merupakan agama yang berdasar pada Perjanjian Lama, di samping Perjanjian Baru.

Artinya ada ke-tidakkonsisten-an orang Kristen di dalam membela agama mereka. Mereka hanya berdalih dengan menggunakan statement mana yang menguntungkan mereka saja, dan tidak perduli pada konsistensi.

Berikut, di bawah ini disajikan khotbah Kristen yang berasal dari situs Kristen, yang menunjukkan bahwa Perjanjian Lama masih dipakai sebagai dalih dan dasar dari semua peri kehidupan umat Kristen. Artikel itu sendiri mengajari umat Kristen, bahwa judi tidaklah terlarang di dalam agama Kristen. Jadi dengan kata lain, judi adalah halal menurut syariah Kristen, karena tidak ada ayat di dalam Alkitab yang mengharamkan judi. Pantaslah, umat Kristen banyak yang bermain judi. Pun negara Kristen tampaknya mempunyai rumah judi yang dibangun dengan megah dan mewah, yang mana itu menjelaskan bahwa Kristen sama sekali tidak mengharamkan judi, justru menghalalkannya.

Silahkan membaca, semoga bermanfaat.

-o0o-

Pertanyaan: Apa kata Alkitab mengenai judi? Apakah judi itu dosa?

Jawaban: Judi dapat didefinisikan sebagai “upaya mempertaruhkan uang dalam usaha untuk melipatgandakan uang untuk sesuatu yang kemungkinannya kecil.” Alkitab tidak secara khusus mencela perjudian, pertaruhan atau lotto itu sendiri.

Tapi secara jelas, Alkitab memperingatkan kita untuk menjauhkan diri dari mencintai uang (1 Timotius 6:10; Ibrani 13:5). Alkitab juga menasehati kita untuk menjauhkan diri dari usaha “mendapat kekayaan dengan cepat” (Amsal 13:11; 23:5; Pengkhotbah 5:10).

Judi, sangat jelas, berfokus pada usaha mencintai uang dan menggoda orang dengan janji untuk mendapatkan kekayaan secara cepat dan mudah.

Apa masalahnya dengan judi? Judi adalah isu yang sulit karena jika dilakukan dengan tidak berlebihan dan hanya sesekali, ia cuma sekedar menghamburkan uangnya, namun tidak berarti menjadi sesuatu yang “jahat.”

Orang menghamburkan uang dalam berbagai macam aktivitas. Judi tidak menghamburkan uang lebih banyak atau lebih sedikit dibanding dengan berbelanja, bersantap yang mewah / mahal, ataupun membeli barang yang tidak perlu.

Fakta bahwa uang juga bisa dihamburkan dalam hal-hal lain tidak lantas membenarkan judi.

Uang tidak seharusnya dihambur-hamburkan. Kelebihan uang seharusnya ditabung supaya bisa diberikan untuk pekerjaan Allah, bukan dihabiskan untuk berjudi.

Walaupun Alkitab tidak secara eksplisit mencantumkan judi, Alkitab menyebut permainan “untung-untungan.” Contohnya, melempar undi digunakan dalam kitab Imamat untuk memilih domba yang akan dikorbankan dan domba yang akan dilepaskan. Yosua membuang undi untuk membagi tanah kepada berbagai suku. Nehemia membuang undi untuk menentukan siapa yang akan tinggal di Yerusalem dan siapa yang tidak. Para rasul membuang undi untuk menentukan pengganti Yudas. Amsal 16:33 mengatakan, “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN.”

Dalam Alkitab, judi atau “untung-untungan,” tidak pernah digunakan sebagai hiburan atau kebiasaan yang pantas bagi para pengikut Allah.

Kasino menggunakan segala bentuk pemasaran untuk menarik penjudi mempertaruh uang mereka sebanyak mungkin. Kasino sering menawarkan minuman beralkohol secara murah, bahkan gratis, yang kemudian mengakibatkan para penjudi mabuk dan menurunnya kemampuan mereka membuat keputusan secara bijaksana.

Segala sesuatu dalam kasino ditata sedemikian rupa untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dan tidak mengembalikan apa-apa, kecuali kesenangan yang singkat dan kosong.

Lotto berusaha melukiskan dirinya sebagai solusi untuk mendanai pendidikan dan / atau program-program sosial. Namun riset memperlihatkan bahwa orang yang bermain lotto biasanya adalah orang-orang yang justru tidak mampu secara finansial untuk memasang lotto. Bagi mereka yang sudah kehabisan akal, daya tarik untuk “cepat kaya” sering merupakan godaan yang terlalu sulit untuk ditahan.

Kesempatan untuk menang begitu kecilnya sehingga akibatnya: banyak yang hidupnya hancur.

Mengapa keuntungan dari lotto tidak menyenangkan Allah? Banyak orang mengklaim bahwa mereka memasang lotto atau berjudi supaya dapat memberi uang kepada gereja, atau untuk pekerjaan amal lainnya. Walaupun ini adalah motif yang baik, kenyataannya hanya sedikit yang menggunakan keuntungan dari judi untuk hal yang rohani.

Studi memperlihatkan bahwa mayoritas dari mereka yang menang lotto justru berada dalam situasi keuangan yang lebih parah, beberapa tahun setelah menang jackpot dibanding sebelumnya.

Hanya sedikit, kalaupun ada, yang memberi untuk pekerjaan amal. Lebih dari itu, Allah tidak membutuhkan uang kita untuk mendanai pekerjaanNya dalam dunia ini. Amsal 13:11 mengatakan, “Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya.”

Allah berdaulat dan akan menyediakan segala kebutuhan gereja melalui cara-cara yang jujur dan pantas. Apakah nama Allah akan dipermuliakan melalui uang hasil penjualan narkoba, atau uang yang dirampok dari bank?

Demikian pula, Allah tidak menghendaki uang yang “dicuri” dari orang-orang miskin, melalui godaan untuk cepat kaya, untuk dipersembahkan kepadaNya.

1 Timotius 6:10 memberitahu kita “karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

Ibrani 13:5 menyerukan, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’”

Matius 6:24 mengatakan, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Sumber, https://www.gotquestions.org/Indonesia/dosa-judi.html

-o0o-

Penutup.

Berkali-kali mereka menggunakan ayat Amsal dan Pengkhotbah, yang merupakan bagian dari Perjanjian Lama. Lain kali, jangan lagi mau mendengar dalih dan argumentasi  orang Kristen, karena apa pun yang mereka dalilkan, merupakan dalil akal-akalan saja untuk cari selamat ….. padahal tidak ada kebenaran secuil pun dalam agama Kristen.

Artikel ini sendiri merupakan indikasi bahwa Kristen tidak mengharamkan judi, dengan kata lain, di dalam Kristen judi adalah halal dan sesuai dengan syariah-nya.

Wallahu a’lam bishawab.

Hollywood Dan Rivalitas Islam Kristen

Film-Hollywood

Siapa yang Tidak tahu Hollywood? Industri film terbesar di dunia yang seutuhnya berada di Amerika Serikat, atau mudahnya kita katakan bahwa Hollywood adalah milik America Serikat. Di samping Hollywood, tentu juga ada industri film lainnya di dunia ini, sebut saja Bollywood yang milik India, juga jangan lupa bahwa China dan Korea juga mempunyai industri film yang munpuni. Tapi tetap saja, semua yakin bahwa Holywood-lah yang terbesar.

Holywood telah merilis banyak film dengan berbagai tema dan setting, dan kesemuanya sedikit banyak mengandung unsur sejarah yang patut difahami oleh para penonton. Namun ada satu hal yang mendesak utk diketahui. Seberapa banyak jenis film yang telah diproduksi, tidak ada satu pun film Hollywood yang mengangkat dan atau mengetengahkan kebesaran Islam atau mengetengahkan kehidupan umat Muslim secara positif dan bersahabat.

Ya, memang ada beberapa film Hollywood, tidak banyak, yang mengangkat eksistensi Islam, namun itu pun Islam (atau umatnya) digambarkan secara negatif …. entah keter-belakangannya, kekolotannya, kebodo-hannya, kemiskinannya, terorisme-nya, mendeskreditkan perempuannya, poligami-nya, keterpurukan perempuannya, dsb.

Jadi dengan kata lain, sebegitu banyak film yang telah diproduksi Hollywood, tidak ada satu pun dari film tersebut yang menyuguhkan Islam. Dan bahwa film Hollywood juga ada sedikit mengangkat Islam dlm film nya, toh tetap saja Islam yang disuguhkan mengenai Islam adalah keterbelakangan dan kesadisannya.

Sebagai pengecualian tentunya, film The Messenger yang dibintangi Antony Queen, Irene Papas dsb. Film ini menyajikan Islam secara simpatik dan bermartabat. Namun sungguh pun demikian, film ini sama sekali tidak dapat dianggap sebagai bukti bahwa Hollywood menghormati dan beritikad baik terhadap Islam, karena sebenarnya film ini hanya sebagai bentuk hutang moral Hollywood terhadap dunia Islam.

Bahkan dari film The Messenger ini, semua dunia pun jadi bisa berkata,  bahwa film The Messenger lah satu-satunya film Hollywood yang “menyajikan” Islam dengan baik dan bermartabat. Selebihnya?? Selebihnya tidak sama sekali.

Kalau diperbuat bagan logikanya adalah sbb,

  • Hollywood pantang membuat film yang mengangkat Islam.
  • Hollywood hanya sedikit saja (sekali lagi, sedikit saja) yang menyajikan atau menampilkan Islam.
  • Itu pun dari yang sedikit, Hollywood hanya mengangkat citra Islam yang rendah dan menjijikkan, seperti kesadisan, cambuk, kebodohan, poligami yang brutal, perang saudara dsb.
  • Satu-satunya film Hollywood yang mengangkat / mengisahkan Islam secara simpatik, adalah The Messenger. Sungguh pun demikian, memproduksi film tersebut sebenarnya adalah cara Hollywood ‘membayar hutang moral’ terhadap umat Muslim dunia. Bukan karena adanya penghargaan terhadap umat Muslim.

Sebagai versus dari list di atas:

  • Hollywood “banyak sekali” membuat film yang mengangkat citra positif dan simpatik berbagai agama, secara bermartabat dan menawan. Sungguh, Islam tidak termasuk di sini.

Sebagai perbandingan, tidak sedikit Hollywood memproduksi film yang mengangkat Buddhisme. Dan kebuddhaan  yang diangkat selalu bernuansa positif, menyanjung agama dan umat buddha. Sebagai contoh, film 2012, yang berkisah tentang kiamat dunia.  Begitu juga, tidak sedikit Hollywood memproduksi film yang mengangkat Hinduisme, dan yang diketengahkan adalah positivitas nya. Begitu juga Yahudi, Konghuchu dsb. Kesemua agama tersebut disajikan oleh Hollywood secara positif dan bermartabat. Namun bagaimana dengan Islam?

Islam selalu disajikan secara sinis, negatif dan menjijikkan. Tidak pernah Hollywood menyajikan Islam secara simpatik dan bermartabat, seperti yang diperbuat Hollywood terhadap Kristen, Hindu, Buddha, Yahudi dsb.

Contoh kasus.

Beberapa tahun yang lalu, penulis menyaksikan tayangan film Hollywood, entah lupa judulnya. Film tersebut bertutur tg sebuah rumahtangga kulit putih yang hidup rukun.  Lama kelamaan sang istri merasakan keanehan. Pertama, sang suami tiba-tiba saja melarang istri bekerja supaya menjadi wanita rumahan saja. Kedua, sang suami suka bersendirian di garasi mobil. Ketiga, sang suami berkonflik dengan staff perempuan di kantor nya. Kesemua hal tersebut menjadi pertanyaan bagi sang istri.

Akhir nya sang istri menyelidik ke dalam garasi. Ternyata sang istri menemukan mushaf Alquran dan juga sajadah. Ini berarti sang suami telah mualaf secara total, dan itulah yang menyebabkan sang suami selalu mendorong sang istri untuk berhenti bekerja dan membenci staff perempuan di tempat kerja.

Demikianlah cara Hollywood memaparkan Islam kepada publik, yaitu Islam yang selalu mengekang kebebasan kaum perempuan.

Latar Belakang.

Apa yang mendasari Hollywood atas sikap nya yang tidak adil terhadap eksistensi Islam tersebut?? Hollywood seujung kuku pun tdk akan pernah mau mengakui sikap licik nya terhadap Islam. Oleh karena itu pihak Hollywood tidak akan menjelaskan sikapnya yang demikian, atau sekedar membela diri.

Dikarenakan Hollywood tidak akan memberikan penjelasanapa pun mengenai isu ini, sementara di lain pihak Hollywood tidak pernah membuat film bertemakan Islam secara positif dan simpatik, atau kalau pun membuat film yang berkaitan Islam, jumlahnya sangat sedikit –namun islamnya disajikan secara jahil, maka mungkin point-point di bawah ini dapat dijadikan acuan.

  • Rivalitas agama antara Islam dan Kristen. Tidak dapat dipungkiri, mentalitas Kristen  org bule sangat dominan di sini: ada kecemburuan agama. Bayangkan saja, kalau Hollywood “banyak membuat film yang menyajikan Islam secara positif”, maka besar kemungkinan akan banyak terjadi mualafisasi kelas dunia. Akan banyak warga inggris, amerika, kanada, dsb yang masuk Islam. Kristen bule mana yang gembira atas mualafisasi ini?? Intinya, Hollywood tidak akan memaparkan keagungan Islam melalui film-film nya, karena hal tersebut sama saja membuka fikiran banyak penonton utk berpaling kepada Islam, dan meninggalkan Kristen.
  • Unsur Zionisme. Zionisme mendapat perlawanan sengit dari umat Muslim. Untuk itulah, pihak Zionisme berkepentingan utk membuat populasi Muslim tetap sedikit khususnya di kalangan ras kulit putih. Apa jadi nya, kalau Hollywood banyak membuat film yang mengangkat Islam secara positif dan simpatik? Yang akan terjadi adalah akan banyak bule yang mualaf. Dan kalau sudah mualaf (secara massif) pastilah mereka (yang sudah menjadi Muslim)akan berbondong2 melawanZionisme. Tentu Zionisme tidak inginkan hal tersebut. Bahkan kebalikannya, Zionisme “titip pesan” kepada Hollywood, agar kalau Hollywood mengangkat Islam ke dalam film nya, maka sajikanlah Islam yang negatif dan retarded, agar dengan demikian publik penonton di seluruh dunia akan mempunyai pandangan yang negatif terhadap Islam, dan akibatnya tidak ada penonton ypopulasi Muslim tetap sedikit …….

Pada akhirnya, tetaplah pelaku utama dalam hal minimnya Hollywood membuat film yang mengangkat citra Islam adalah umat / individu beragama Kristen  . Umat Kristen   berada pada barisan terdepan dalam memastikan bahwa nilai2 luhur Islam tidak akan pernah diekspose ke tengah para penonton Hollywood setia. Yang ada justru kebalikan nya, yaitu Hollywood akan mengangkat unsur Islam, namun yang disajikan adalah Islam yang bengis, terbelakang, poligami, miskin, pertikaian internal, kejam terhadap kaum perempuan, dsb. Kristen   lah yang paling berkepentingan dalam hal ini, dan imbasnya ada pada konsep perfilman Hollywood.

Nb.

[1] Bollywood sebagai industri film milik bangsa india, tidak segan membuat film yang menyuguhkan Islam dan kehidupan umat Muslim secara positif dan simpatik. Mungkin sudah tidak terhitung berapa film Bollywood yang menyuguhkan eksistensi Islam dan umatnya, yang disajikan secara simpatik dan bermartabat.

Ada satu catatan mengenai Bollywood. Bollywood adalah industri film milik bangsa India, dan bangsa India tidak pernah mempunyai dendam perang salib terhadap umat Muslim. Itulah sebabnya Bollywood tidak segan mengangkat Islam dan umatnya dalam film-film mereka.

[2] Fakta dan fenomena ini, di mana Hollywood BERPANTANG dalam membuat film dengan mengangkat, atau mengenai Islam, pun kalau ada mengangkat Islam dalam produksi filmnya, jumlahnya sangat sedikit, itu pun bagian Islam yang diangkat selalu bagian yang keji, jahat, kasar, mesum, tidak manusiawi, dsb, sehingga publik penonton praktis jadi membenci Islam. Maka semua orang tentunya akan menilai, bahwa inilah salah satu mental umat Kristen terhadap dunia, khususnya terhadap umat Islam, yaitu  mental picik dan jiwa kerdil, dan takut akan kebenaran. Hollywood, yang keseluruhan pekerjanya beragama Kristen (tentunya ada juga Yahudinya, dsb), tentulah tidak  ingin masyarakat bule mereka banyak yang convert ke Islam, lantaran Hollywood BANYAK MEMBUAT FILM YANG MENGANGKAT CITRA ISLAM SECARA POSITIF DAN SIMPATIK.

Apakah ada jiwa kasih di dalam dada setiap orang Kristen yang bekerja di Hollywood? Apakah ada jiwa kasih di dalam dada setiap orang Kristen terhadap saudara mereka umat Muslim? Tidak. Tidak pernah ada jiwa kasih dan darah penebusan Jesus di dalam dada setiap orang Kristen khususnya mereka yang bekerja di Hollywood. Yang ada adalah angkara murka terhadap umat Muslim.

[3] Bertahun-tahun sejak eksistensi Hollywood, yang mana urusan Hollywood ini tidak pernah membuat atau mengangkat film yang berkaitan dengan Islam, dan kalau pun ada Hollywood membuat film mengenai Islam, jumlahnya hanya sedikit, dan tentulah bagian gelapnya saja yang disajikan, namun toh umat Islam tetap bersabar, dan tidak ada perasaan dendam terhadap Hollywood ini. Dan bagian terpenting pun sudah difahami oleh seluruh umat Muslim, bahwa TIDAK ADA JIWA KASIH bagi orang Kristen. Orang Kristen tetap pada dendam perang salib mereka.

Wallahu a’lam bishawab!

Jika NKRI Mayoritas Kristen…

Banyak sekali individu individu Muslim yang pindah agama ke Kristen alias murtad, dengan keyakinan / latar belakang pemikiran bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan keterbelakangan, mempunyai Nabi yang (dituduh) pedofile, tidak menghormati kaum wanita dan lain lain.

Pun banyak individu individu Kristen yang menggunakan banyak cara untuk memurtadkan kaum Muslim, di antara nya dengan menjelaskan bahwa kalau Indonesia sudah menjadi mayoritas Kristen, maka Indonesia akan menjadi Negara yang modern dan maju …., tidak seperti ketika Indonesia masih mayoritas Muslim, Indonesia selalu menjadi Negara miskin dan terbelakang ….

Banyak juga kaum Muslim yang berhasil digelincirkan oleh cara-cara keji kaum Kristen tersebut.

Namun di luar itu semua, sungguh banyak individu Muslim yang tidak mengetahui darah iblis yang mengalir di dalam agama Kristen (dan agama kafir lainnya – selain Islam). Kristen adalah agama yang mengijinkan umatnya untuk melakukan semua hal yang keji … Di antara nya adalah kemesuman massal…..

Kita sebagai bangsa Indonesia yang sangat memegang adat ketimuran, sangat menjaga kesopanan dan kesusilaan yang agung, karena memang di sanalah letak keagungan menjadi manusia…. Namun masih banyak yang tidak mengetahui, bahwa nilai ketimuran yang masih hidup di Indonesia ini, sebenarnya adalah karena dijaga oleh Islam yang merupakan mayoritas di Indonesia ini…

Kalau saja yang menjadi mayoritas di Indonesia ini bukan lah Islam, maka sudah pasti sejak jaman bahela Indonesia akan selalu diliputi oleh kemesuman dan kebobrokan moral yang menjijikkan.  Karena hanya Islamlah yang membuat manusia akan selalu berada di dalam adat dan kesusilaannya sebagai manusia yang agung ..

Coba lihat Negara Filiphina. Filiphina adalah Negara yang mayoritas Kristen (bukan Islam). Coba kita lihat, apakah Negeri itu masih memegang adat ketimuran yang anggun? Kebugilan sudah menjadi trend di sana sejak jaman lampau. Kaum laki-laki terbiasa berpawai tanpa berbusana dan ditonton oleh segenap warga tanpa ada rasa malu sedikit pun.

Bagaimana dengan Thailand? Negeri ini yang notabene adalah mayoritas non Muslim, sudah mempunyai tradisi kemesuman yang mengurat-daging di dalam budaya mereka. Melihat manusia-manusia berjalan-jalan dengan busana yang amat minim di tengah keramaian sudah menjadi pemandangan yang biasa. Sebenarnya bukan kah Thailand adalah Negeri yang amat ketimuran? Lantas mengapa mereka sangat menggemari kebugilan dan kemesuman? Apakah sudah sejak lama mereka mempunyai tradisi kebugilan tersebut?

Tidak! Sebenarnya pada masa lampau mereka amat memegang tradisi ketimuran yang agung dan anggun. Namun lama kelamaan, karena mereka bukan lah mayoritas Muslim, modernitas telah membuat mereka kehilangan sumbu berfikir yang ketimuran tersebut.

Hanya tinggallah Malaysia, Brunei dan Indonesia yang sampai sekarang masih memegang adat ketimuran yang sangat sangat sangat anti pada kebugilan dan kemesuman.

Oleh karena itu, apakah kita sebagai bangsa Indonesia, ingin suatu saat Negara ini menjadi sarang kebugilan dan kemesuman yang menjamur di mana-mana, seolah manusia adalah hewan dan hewan adalah manusia? Harus dicatat, kalau lah suatu Indonesia ini adalah suatu Negara dengan mayoritas non Muslim, maka sudah pasti Indonesia akan segera meluncur menjadi Negara yang penuh dengan kemesuman di mana-mana …. Kesusilaan tidak akan lagi mempunyai tempat di tanah ibu pertiwi ini …

Sekali lagi, hanya Islam lah yang membuat Indonesia dan seluruh semua umat manusia tetap berada pada keagungan dan keanggunannya sebagai manusia yang jelas-jelas amat memperhatikan kesusilaan, etika dan estetika.

Dengan kata lain, kekafiranlah yang membuat mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka yang keji tersebut ….