Kristen Masih Berdasarkan Perjanjian Lama

fcrt

Stage 01.

Sikristen berkata kepada simuslim, bahwa Islam mengajarkan kekerasan, Alhadis dan khususnya Alquran juga mengandung banyak ayat kekerasan, seperti ayat peperangan. Hal tersebut merupakan bukti bahwa Islam mengajarkan kekerasan kepada umat manusia.

Stage 02.

Simuslim berkilah, bahwa Islam TIDAK PERNAH mengajarkan kekerasan kepada umat manusia. Kalau ada ayat kekerasan di dalam Alquran, maka ayat tersebut konteksnya adalah di dalam peperangan; jelaslah di dalam peperangan memang berisi kekerasan.

Kebalikannya, simuslim berkata bahwa justru Alkitab mengajarkan kekerasan, karena Alkitab khususnya Perjanjian Lama bertabur ribuan ayat kekerasan (termasuk pornografi). Dan itulah sebabnya sejarah Kristen dipenuhi kisah kekerasan dan pembantaian dan anyir darah di segala penjuru yang dikuasai Kristen.

Maka dari sini terbukti bahwa Kristen bukanlah ajaran yang datang dari Tuhan Semesta alam, melainkan kesesatan belaka.

Stage 03.

Sikristen menangkis perkataan simuslim. Sikristen berkata, bahwa memang benar Alkitab Perjanjian Lama mengandung banyak ayat kekerasan (hal tersebut tidak bisa dipungkiri lagi). Namun harus diingat bahwa Kristen tidak lagi berdasar kepada Alkitab Perjanjian Lama, mengingat kedatangan Jesus telah menjadi penggenapan atas semua ayat Perjanjian Lama. Jadi, kalau Perjanjian Lama sudah digenapi oleh kedatangan Jesus, maka itu berarti Perjanjian Lama tidak berlaku lagi. Itulah sebabnya, Kristen tidak pernah mengamalkan semua ayat Alkitab Perjanjian Lama. Kristen hanya berdasar Alkitab Perjanjian Baru, yang penuh ayat kasih karunia dan sukacita. Di bawah ini ayat Perjanjian Baru yang menerangkan bahwa Jesus merupakan penggenapan Perjanjian Lama, oleh karena itu Kristen tidak lagi berdasar pada Perjanjian Lama,

Matius,

5:17. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Roma

10:4 Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.

Roma,

13:10 Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih (kasih = Jesus) adalah kegenapan hukum Taurat.

Keterangan,

Menurut ayat Perjanjian Baru ini, Jesus adalah penggenapan dari semua ayat Perjanjian Lama. Di dalam logika orang Kristen, buat apa Perjanjian Lama masih juga diamalkan dan dijadikan dasar hukum, sementara Perjanjian Lama itu sendiri sudah digenapi oleh kedatangan Jesus. Maka bukankah itu berarti untuk seterusnya Jesus itulah dasar dari Kristenitas? Demikianlah logika orang Kristen.

Jadi artinya, Kristen tidak pernah mengajarkan umatnya kekerasan seperti yang ada di dalam Perjanjian Lama, dan perihal Alkitab Perjanjian Lama penuh ayat kekerasan, maka Perjanjian Lama itu tidak lagi mendasari ajaran Kristen.

Demikianlah kilah dan excuse orang Kristen mengenai ayat kekerasan yang bertaburan di dalam Perjanjian Lama, dan banyaknya tindak kekerasan yang dilakukan umat Kristen pada jaman sejarah, sama sekali tidak ada hubungannya dengan orang Kristen dan Gereja, karena Kristen dan Gereja hanya mengajarkan apa yang diajarkan Kristus, yaitu kasih karunia dan sukacita.

Benarkah demikian?

Paparan di bawah ini akan berkata lain. Paragraf di bawah ini diambil dari  wikipedia.

Penumpangan tangan dalam Alkitab

Alkitab juga menunjukkan beberapa peristiwa penumpangan tangan. Di dalam Perjanjian Lama dapat kita lihat saat Musa menumpangkan tangannya kepada Yosua untuk membe-rikan kuasa dan hikmat kepadanya sebagai pemimpin baru atas umat Allah. Tuhan meme-rintahkan agar Musa meletakkan tangannya di atas kepala Yosua. Hal ini berarti Yosua diberikan amanat baru untuk menggantikan Musa dan dengan penumpangan tangan yang dilakukan oleh Musa kuasa Tuhan tercurah atas diri Yosua (Bilangan 27: 15-23). Sama halnya dengan penahbisan pendeta, penumpangan juga melambangkan pencurahan Roh Kudus atas orang yang hendak ditahbiskan menjadi pendeta atau pemimpin jemaat melalui perantaraan para pendeta-pendeta lainnya.

Sumber, https://id.m.wikipedia.org/wiki/Penumpangan_tangan

Keterangan,

Paragraf di atas menunjukkan, bahwa kehidupan liturgi di dalam peribadatan orang Kristen, terang-terangan berdasar pada tradisi dan nash Perjanjian Lama. Maka bukankah ini berarti bahwa Kristen masih mengambil Perjanjian Lama sebagai dasar ajaran Kristen?

Sementara itu, di bawah ini terdapat paparan mengenai tradisi Perjanjian Lama yang dijadikan dasar di dalam Kristenitas,

Tradisi Pakaian Litrugi merupakan warisan Perjanjian Lama. Harun dan keluarga yang diangkat Tuhan untuk menjadi Imam-Nya, diperintahkan untuk mengenakan pakaian yang berbeda dengan umat Israel lainnya. Kepada Musa, Yahweh berfirman:

Haruslah engkau membuat pakaian kudus untuk Harun, saudaramu, sebagai perhiasan kemuliaan. Haruslah engkau mengatakan kepada semua orang yang ahli, yang telah Kupenuhi dengan roh keahlian, membuat pakaian Harun, untuk menguduskan dia, supaya dipegangnya jabatan imam bagi-Ku.” (Kel 28:2-3)

Sumber, http://matias-guru-pakat.blogspot.com/2013/04/mengenal-pakaian-liturgi-dalam-gereja.html?m=1

Masih berkilah? Jelas sekali bahwa liturgi Gerejawi yang megah ternyata keseluruhannya berdasar ayat-ayat Perjanjian Lama. Dan kalau Kristen tidak pernah mendasarkan kehidupannya pada Perjanjian Lama maka tidak akan pernah ada tradisi liturgis di dalam Gereja dengan semua tetek bengeknya.

Pointnya adalah, semua kekerasan di dalam sejarah Kristen pada masa lalu, memang benar-benar berdasarkan Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, karena pada intinya fikiran dan ajaran yang dibawa Kristen bersumber dari kedua kitab tersebut. Dan adalah nonsense untuk melihat bahwa ajaran Kristen tidak berdasar Perjanjian Lama, karena toh tradisi yang ada di dalam Kristenitas justru bersumber dari Perjanjian Lama.

Atau orang Kristen punya logika begini: masalah liturgi dan tata ibadat Gerejawi memang berdasar ayat dan tradisi Perjanjian Lama, tapi selebihnya, orang Kristen tidak lagi mengambil Perjanjian Lama sebagai dasar ajarannya, karena Perjanjian Lama sudah digenapi oleh Jesus. Ketahuilah, dalih tersebut sangat tidak fair, dan terkesan dipaksakan. Tidak akan ada satu Muslim pun yang percaya begitu saja dengan dalih ini.

Maka pada akhirnya, dapat disimpulkan, bahwa ketika Paus Urbanus mengumumkan Perang Salib melawan umat Muslim di Tanah Suci, maka keputusan Sripaus itu berdasar pada ayat-ayat kekerasan yang ada pada Perjanjian Lama, karena pada dasarnya Kristenitas itu bersumber pada dua kitab, yaitu Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama.

Pamungkasnya adalah, benarlah bahwa Kristen memang mengajarkan kekerasan pada umatnya, karena Perjanjian Lama penuh ayat kekerasan, ayat-ayat itulah yang menginspirasi semua orang Kristen untuk berbuat kekerasan terhadap umat Muslim.

Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s