Mengapa Ada Pembakaran Gereja

Burning tree stump

Sejak masuknya usaha kristenisasi di Parigi, maka dari sejak semula elit Islam senantiasa berusaha untuk mempertahankan tanah leluhurnya dari setiap usaha kristenisasi. Realisasi dari pembelaan elit Islam ini mulai dari unsur gerakan Paromang (DI/TII), ormas Muhammadiyah, Tokoh Pemuda/Mahasiswa serta masyarakat setempat.

Reaksi pertama yakni pembakaran gereja pada tanggal 15 Oktober 1961 oleh gerakan Paromang. Reaksi selanjutnya yakni pembangunan lembaga pendidikan Islam oleh Muhammadiyah pada tahun 1976 untuk menyaingi lembaga pendidikan Kristen yang ada di wilayah ini.

Letupan-letupan reaksi terhadap kristenisasi di Parigi semakin nyata dan bahkan ditandai dengan adanya gerakan-gerakan yang sedikit anarkis. SD Kristen  yang terletak di Laluasa, yang tadinya digusur atas kehadiran MIS Sicini kemudian dicoba dipindahkan ke kampung Lojong untuk dilanjutkan, akhirnya dibakar pada tahun 1989 dan siapa membakarnya tidak diketahui sampai saat ini.

Rumah kediaman Pimpinan Jemaat Kristen Sicini pada tanggal 15 Januari 1991 di ganyang (dilempari batu) oleh tokoh pemuda Sicini yang sudah sadar bahwa wilayahnya telah lama digerogoti usaha kristenisasi. Pemicu pengganyangan ini, karena waktu itu pimpinan Jemaat Kristen Sicini yang bernama Pendeta Daud Kovia mengambil tindakan yang dianggap menghina Islam. Ia menjadikan lap kaki di gerejanya selembar sujadah. Padahal sujadah bagi umat Islam dikenal sebagai tempat/alas untuk sujud (Shalat) kepada Allah SW.

Puncak dari reaksi elit Islam adalah Gereja yang terletak di kampung Benteng musnah dilalap api, seperti yang dikatakan Imam Desa Sicini, Muh. Nurdin.7:

Api itu bukan tampa disengaja. Pada hari Ahad pagi tanggal 7 Agustus 2000, dua buah mobil pete-pete melaju ke Sicini, penumpang mobil pete-pete ini adalah Mahasiswa yang berjumlah 48 orang. Tepat pukul 10.00 wita gereja yang berukuran 5 x 15 M2 ini dibakar oleh mereka. Waktu itu yang menjadi pimpinan Jemaat adalah Pendeta Atok Saramang. Gereja ini teryata di bakar oleh mahasiswa HMI Cabang Gowa.

Pembakaran gereja ini sempat heboh dan juga sempat ditangani oleh pihak kepolisian, namun polisi tidak dapat membuktikan siapa yang membakar gereja ini.

Gereja ini memang pantas dimusnahkan atau dibakar karena pendirian gereja  ini ilegal dari segi hukum, waktu dibangun dihalangi oleh dinding gamaccadibagfian depannya, setelah gamacca dibuka ternyata sudah ada bangunan gereja yang berdiri. Gereja ini terletak diantara rumah-rumah orang yang beragama Islam serta melanggar peraturan SKB tiga Menteri tentang pembangunan tempat ibadat harus memenuhi syarat yakni terdapat sekitar 40 tanda tangan dan copy KTP penganut agama tertentu yang mengusulkan pembangunan tempat ibadat mereka. Padahal saat ini penganut Kristen secara keseluruhan sekitar 30 jiwa, besar kecil.

Setelah gereja ini di bakar maka semakin menurunlah jumlah penganut agama Kristen di Parigi. Sampai saat ini pihak Kristen tetap memimpikan berdirinya sebuah Gereja di wilayah ini, namun pemerintah setempat mulai proaktif dalam menghadapi masalah ini, apalagi telah terbit Peraturan pemerintah provinsi yang menyebutkan bahwa untuk membangun tempat ibadat, harus disetujui 90 orang yang sudah dewasa serta dukungan dari masyarakat setempat paling sedikit 60 orang yang disahkan oleh Kepala Desa/Lurah. Dengan adanya peraturan baru ini, maka praktis Jemaat Kristen Sicini tidak akan pernah lagi bisa membangun sebuah Gereja yang selalu diimpi-impikan oleh mereka.

Usaha Pengembalian Ke Agama Semula

Sejak tahun 1967 sudah ada usaha untuk mengembalikan penganut Kristen ke agama semula, Islam. Tokoh Kristen pribumi utama Daeng Rodo akhirnya kembali ke Islam karena bertengkar dengan pengurus Sinode GKSS yang diikuti oleh sebagian besar pengikutnya, namun beberapa keluarganya termasuk Daeng Subu masih tetap memeluk Kristen. Yang menjabat Bupati Gowa waktu itu ialah KS. Mas’ud, sempat memberi perhatian terhadap kembalinya Daeng Rodo ke agama Islam. Ia memanggil Daeng Rodo ke kantornya, sepulangnya Daeng Rodo dari Kantor Bupati ia membawa banyak sekali pakain bekas sebagai hadiah dari Bupati, agar tidak masuk ke dalam Kristen lagi hanya karena Kaeng Robe (Pakaian Bekas).

Sekitar 70-an orang pengikut Kristen berhasil dikembalikan ke Islam berkat usaha Muhammadiyah, sebab gerakan ini memang lahir dengan salah satu tujuannya yakni membendung kegiatan misi Katolik dan Protestan. (Sairin 1995:24).

Ke-70 orang ini kemudian dimandikan sebagai tanda mereka telah kembali ke Islam dan yang memandikan mereka adalah Ustadz Qasim yang waktu itu menjabat Kepala Kantor Departemem Agama Kabupaten Gowa. Hal ini terjadi pada tahun 1970-an.

Tidak hanya dari kalangan ormas dan kalangan pemuda saja yang aktif melakukan usaha untuk mengembalikan mereka dari agama semula. Kalangan perguruan tinggi pun ikut ambil bagian. Pada tahun 1987, Sicini yang merupakan pusat kristenisasi di Parigi menjadi desa binaan dari IAIN Alauddin (sekarang UIN Alauddin).  Pada awal pembinaan dari IAIN Alauddin ini tercatat sekitar 30 orang lagi yang berhasil di Islamkan kembali.

Pemerintah khususnya pemerintah Desa Sicini pun berusaha memberikan penerangan kepada warganya yang belum mendapat hidayah untuk kembali keagamanya semula. Daeng Bani berhasil di Islamkan pada tahun 1987, Daeng Bani adalah salah satu tulang punggung Kristen. Terakhir pada bulan September 2006 salah satu pengikut kristen yang bernama Daeng Sibo akhirnya kembali memeluk agamanya semula, Islam.

Surutnya Penganut Kristen di Parigi

Puncak perkembangan Agama Kristen di Parigi pada tahun 1967, ditandai dengan adanya sekitar 302 penganutnya. Namun sepuluh tahun kemudian tepatnya tahun 1976, kehancuran usaha kristenisasi mulai nampak, sebab tokoh terpenting Kristen, Daeng Rodo kembali ke Islam. Dari tahun ketahun banyak pennganut Kristen yang mengikuti jejak Daeng Rodo, disamping banyaknya penganutnya yang kembali ke Islam juga ada dua faktor yang menyebabkan surutnya penganut Kristen di Parigi, yang pertama yakni banyak keluarga Kristen yang bermigrasi keluar Parigi serta faktor kedua sudah banyak juga yang telah meninggal dunia, setelah meninggal dunia maka keluarga mereka ramai-ramai menganut Islam kembali .

Saat ini tinggal 30-an jiwa penganut Kristen di Parigi, mereka ini bertahan menganut agama Kristen karena penganut ini memang sudah menerima Ajaran Kristen sebagai ajaran hidupnya, dan mereka adalah anak-cucu dari Daeng Subu, satu-satunya tokoh Kristen Pribumi yang masih hidup dan bertahan dalam ajaran Kristen. Saat ini yang menjadi ketua Majelis Jemat Kristen Sicini adalah Pendeta Drs. Marianus merangkap sebagai Pengantar Jemaat, Demianus sebagai Penetua merangkap Guru sukarela SD Kristen Lojong dan yang menjadi Syamas adalah Daeng Subu.

Setelah gereja mereka di bakar, maka anggota jemaat ini melaksanakan kebaktian setiap Ahad di rumah Daeng Subu yang semula menjadi tempat kediaman Daeng Subu. Tapi kini rumah Daeng Subu telah menjadi gereja yang tidak resmi. Yang setiap pekan ditempati kebaktian oleh jemaat Kristen.

SD Kristen yang sempat terbakar pada tahun 1989, di usahakan untuk beroperasi kembali. Adalah Demianus Guru Sukarela yang datang sejak tahun1989 berusaha membangun SD Kristen ini dengan menggunakan kolong rumahnya sebagai tempat belajar mengajar. Meskipun resminya SD Kristen ini telah ditutup oleh pemerintah, namun kenyatannya tetap eksis dan setiap tahun menelorkan siswa baik dari siswa kalangan Kristen maupun dari Islam. Pada bulan April 20006 dibangun lagi sarana Kristenisasi yakni pembangunan Saluran Air PAM ke rumah-rumah penduduk, sponsor pembangunan PAM ini dari Yayasan Mateppe salah satu yayasan yang resminya bergerak dibidang sosial namun dibalik itu, yayasan ini merupakan mitra dari GKSS (Gereja Kristen di Sulawesi Selatan) yang disinyalir akan melakukan usaha kristenisasi secara halus, namun agaknya usaha kristenisasi ini akan sia-sia. Tamat [ps].

_________________________

Access from,

http://pustakasekolah.com/dampak-kristenisasi-di-parigi-gowa.html

Access date | 8:48 AM 8/9/2011.

_________________________

Sophislam,

Secara permukaan, memang artikel ini menyajikan data bahwa (seolah) kaum Muslim –khususnya kaum Muslim Sulawesi- sama sekali tidak mempunyai toleransi terhadap kehadiran agama lain selain Islam, sehingga mereka melakukan pembakaran Gereja dan aksi pengrusakan lainnya, yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai kemanusiaan yang agung.

Namun semua kita harus mengambil posisi untuk berkata bahwa ADA ASAP – ADA API, yang mana itu artinya adalah bahwa segala sesuatu pasti ada penyebabnya. Yang dimaksud dengan penyebab adalah, penyebab YANG TIDAK PANTAS, YANG MERUGIKAN ORANG LAIN, penyebab pasti dikategorikan sebagai sesuatu yang melanggar nilai-nilai yang positif.

Artikel di atas memberi outline bahwa Muslim Sulawesi telah melakukan aksi pembakaran dan pengrusakan fasilitas publik, di dalam hal ini adalah Gereja kaum Kristen. Namun di luar itu, tentu ada hal lain yang bisa menjadi catatan untuk kita renungkan.

Telah disinggung di dalam artikel tersebut bahwa setelah terjadinya kristenisasi, elemen Muslim setempat segera berusaha untuk mengembalikan ‘para korban kristenisasi’ tersebut ke dalam Islam …………,

Sejak tahun 1967 sudah ada usaha untuk mengembalikan penganut Kristen ke agama semula, Islam. Tokoh Kristen pribumi utama Daeng Rodo akhirnya kembali ke Islam karena bertengkar dengan pengurus Sinode ……….dst.

Pusat perhatian dari artikel ini sebenarnya bukanlah pada aksi pembakaran Gereja yang dilakukan oleh pihak Muslim, namun justru pada fakta bahwa KAUM KRISTEN TELAH MELAKUKAN PENGKRISTENAN kepada individu-individu yang telah beragama lain, di dalam hal ini beragama Islam. Di sinilah letak dari kekejian kaum Kristen. Mereka tidak mempunyai RASA TOLERANSI sedikit pun atas pilihan individu lain untuk memilih agama lain selain dari agama Kristen. Kaum Kristen sama sekali tidak dapat menghormati keputusan individu lain untuk menganut agama lain selain Kristen. Hal itulah yang mendorong para penyebar Kristen mendatangi pribadi-pribadi Muslim untuk diajak pindah agama ke Kristen.  Ketika Muslim seutuhnya dapat memberikan toleransi untuk menghormati keputusan pribadi lain untuk menganut agama lain selain Islam, maka tidak lah demikian keadaannya dengan kaum Kristen. Adalah amat menjijikkan bahwa penyebar-penyebar Kristen itu sama sekali tidak merasa malu melakukan hal demikian rendah.

Bahkan di dalam banyak kasus, usaha terang-terangan para penyebar itu di dalam memindah-agamakan orang lain, mereka melakukannya dengan cara kekerasan, pemaksaan dan pembodohan, dan yang lebih menarik lagi adalah, dengan cara memberikan tekanan, khususnya tekanan ekonomi dan sosial kepada calon korban.

Kisah re-Islamisasi di Parigi ini sebenarnya menjadi SAKSI bahwa kebejatan dan kesesatan kaum Kristen TERBUKTI LAGI dengan terus menerus menyebarkan dan menganjurkan individu beragama Islam untuk pindah agama ke Kristen, bahkan di dalam banyak kasus, individu-individu tersebut di-iming-imingi dengan materi yang tidak seberapa ……,

Ia memanggil Daeng Rodo ke kantornya, sepulangnya Daeng Rodo dari Kantor Bupati ia membawa banyak sekali pakain bekas sebagai hadiah dari Bupati, agar tidak masuk ke dalam Kristen lagi hanya karena Kaeng Robe (Pakaian Bekas).

Di manakah kesediaan kaum Kristen untuk menunjukkan toleransi mereka kepada penganut agama lain? Mengapa Muslim harus selalu menghadapi kebejatan dan kebengalan kaum Kristen ini di dalam menyebarkan dakwah keagamaan mereka? Pertanyaannya adalah, apakah pernah kaum / individu Muslim menyebarkan Islam itu kepada individu lain yang telah menganut agama lain?? Tidak pernah!

Penutup

  1. Secara permukaan, artikel ini memang menyajikan data pengrusakan dan pembakaran Gereja yang dilakukan oleh pihak Muslim. Pada akhirnya, siapakah yang bersalah di dalam aksi pembakaran Gereja tersebut?
  2. Artikel ini menyajikan data yang lebih akurat bahwa KAUM Kristen ADALAH KAUM YANG ANTI TOLERANSI kepada agama lain. Hal ini –di dalam artikel ini- dibuktikan dengan memurtadkan pribadi-pribadi Muslim secara terang-terangan, yang mana itu berarti bahwa individu Kristen SAMA SEKALI TIDAK DAPAT MENERIMA FAKTA bahwa ada  individu lain yang beragama lain.
  3. Mengapa kaum Kristen SELALU SESUMBAR bahwa kaum Muslim lah yang anti toleransi? Dengan munculnya aksi pembakaran Gereja yang dilakukan oleh elemen Muslim, maka apakah itu berarti bahwa kaum Muslim sangat tidak toleran terhadap agama lain? Lantas fakta bahwa penyebar Kristen telah melakukan pengkristenan secara terang-terangan kepada kaum Muslim, bukankah itu berarti bahwa kaum Kristen tidak dapat menghormati keputusan orang lain untuk menganut agama lain??
  4. Apakah kaum Muslim harus menghormati orang lain yang beragama Kristen (dan turut menjamin kebebasan menjalankan ‘agama barunya’ tersebut), padahal Kristen-nya orang itu adalah hasil pengkristenan secara keji dan menjijikkan??
  5. Apakah toleransi beragama itu hanya ditempatkan pada level ‘biarkan orang lain menjadi Kristen’, dan tidak pada level ‘jangan menyebarkan agama kepada orang yang  telah beragama lain’??
  6. Begitu banyak pertanyaan lain yang menyesakkan dada kita kaum Muslim ……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s