Ekspansi Islamiyah

ekspansi-islamiyah

Orang Kristen tampak menahan amarah di wajahnya ketika suara adzan Zuhur berkumandang membelah langit siang. Pasti ia berkata di dalam hatinya mengapa kaum Muslim harus teriak-teriak sedemikian rupa untuk memanggil Muslim lainnya untuk salat. Apakah kaum Muslim itu pekak dan tuli sehingga harus memanggil mereka dengan cara yang amat ‘kasar’ tersebut?

Di lain tempat, seorang Kristen menulis bahwa kaum Muslim adalah sekelompok manusia yang mempunyai kontribusi signifikan di dalam hal global warming. Menurutnya, penggunaan air wudhu yang terus menerus oleh kaum Muslim ketika hendak salat telah memboroskan persediaan air bersih bumi, dan oleh karena itu berimbas pada menipisnya persediaan air tanah.

Benarkah demikian?

Air Dunia

Seorang Muslim hendak salat. Karena ia hendak salat, maka mutlak Muslim tersebut harus mengambil air wudhu. Artinya, sekian EMBER air harus ia gunakan, dan itu artinya sekian ember itu akan ‘terbuang’ karena habis dipakai oleh sang Muslim untuk berwudhu.

Air yang sehabis dipakai untuk berwudhu itu, akan jatuh ke tanah, menemui salurannya, dan akan terus mengalir ke sungai, kemudian sampai ke laut.

Mulai ketika air itu berjatuhan setelah digunakan untuk berwudhu, sampai air itu tumpah ke tanah, dan seterusnya hingga sampai ke laut, air itu akan terus bertasbih – bertahmid – bertahlil – bertakbir mengagungkan Allah tiada henti-hentinya. Selain itu pun sang air yang sehabis dipakai untuk berwudhu oleh sang Muslim tersebut, akan terus berdoa kepada Allah semoga sang Muslim tersebut mendapat ampunan dari Allah.

Itu sang Muslim berwudhunya untuk menyelenggarakan salat Subuh. Belum lagi nanti ia akan mengambil air wudhu lagi untuk salat Zuhur, kemudian salat Ashar, kemudian salat Maghrib dan kemudian salat Isya. Kalau dihitung-hitung, BERAPA EMBER yang tertumpah ke laut dari Muslim tersebut setelah ia menggunakannya untuk berwudhu untuk SATU HARI SAJA?

Itu pun si Muslim menggunakan air wudhu itu sudah sejak jaman jebot. Artinya, SUDAH SEJAK LAMA sang Muslim telah menumpahkan air ke tanah sebagai air wudhu. Belum lagi kenyataan bahwa Muslim tersebut akan terus melakukannya lagi untuk keesokan harinya,  minggu depan, bulan depan, tahun depan dan seterusnya. Nah berapa banyak air di laut yang merupakan ‘air bekas’ wudhu yang merupakan ‘kontribusi’ si Muslim tersebut?

Itu pun sang Muslim itu ambil air wudhunya untuk salat fardhu saja. Bagaimana lagi ketika ia hendak salat Dhuha di pagi hari? Juga sang Muslim akan mengambil air wudhu untuk salat Tahajud di tengah malam. Apalagi kalau si Muslim tersebut tertidur atau wudhunya batal. Pastilah si Muslim akan mengulang wudhunya. Berarti, LEBIH BANYAK AIR BER-EMBER EMBER yang digunakan dan kemudian ditumpahkan ke laut oleh sang Muslim hanya untuk berwudhu.

Apakah sudah cukup sampai di situ? Belum!

Nanti si Muslim tersebut akan melakukan MANDI WAJIB atau MANDI JUNUB, karena beberapa sebab yang dijelaskan oleh Islam. Mandi junub tentulah membutuhkan air jauh lebih banyak lagi, karena mandu junub itu sendiri memang membutuhkan air yang banyak.

Masalahnya, apakah seorang Muslim hanya sekali saja MANDI JUNUB? Tidak.

Di dalam seminggu bisa jadi seorang Muslim akan mandi junub 5 kali atau 6 kali. Bahkan bisa lebih.

Sungguh, akan banyak sekali air di Dunia ini yang digunakan seorang Muslim untuk bersuci. Dan kesemua itu akan tumpah dan mengalir ke laut.

Nah itu baru satu Muslim. Anggap saja Muslim itu adalah warga Jakarta, ibukota Indonesia. Bagaimana kalau ditambah dengan seluruh Muslim di Jakarta itu? Belum lagi ditambah Muslim lain di Jawa Barat. Kemudian ditambah dengan Muslim lain yang di seluruh Jawa. Kemudian ditambah lagi dengan Muslim dari seluruh Indonesia. Kemudian ditambah lagi dengan seluruh Muslim di benua Asia. Kemudian akhirnya ditambah lagi dengan seluruh Muslim dari seluruh Dunia ini. Belum lagi ditambah dengan Muslim lain yang sudah wafat yang selama hidupnya selalu menggunakan air Dunia untuk berwudhu. Nah kira-kira  berapa banyak air di Dunia ini yang DITUMPAHKAN sebagai air wudhu oleh kaum Muslim, dan kemudian mengalir ke laut???

Ingat, setiap tetes air wudhu yang tumpah ke tanah, maka tetes air itu akan terus bertasbih – bertahmid – bertahlil – bertakbir mengagungkan Allah tiada henti-hentinya. Dengan kata lain, satu tetes air digunakan untuk berwudhu, maka tetes air tersebut SUDAH DIBAPTIS untuk menjadi TETES AIR MUSLIM. Ketika seorang Muslim menggunakan air untuk berwudhu, maka sebenarnya si Muslim tersebut TENGAH MEMBAPTIS AIR TERSEBUT sebagai AIR MUSLIM.

Pada akhirnya, DAPAT DIKATAKAN bahwa 99.99% air yang ada di planet bumi ini, yang tersebar di seluruh laut Dunia, yang tersebar di seluruh danau yang ada di bumi ini, dan di seluruh sungai, adalah AIR MUSLIM – karena kesemua air itu sudah digunakan oleh kaum Muslim untuk berwudhu untuk salat.

Bandingkan dengan agama lain. Apakah agama lain SEBANYAK itu di dalam penggunaan air untuk tujuan ibadah keagamaan mereka? Rasanya tidak!

Tata ibadah Kristen Katholik maupun Protestan JUGA MENGGUNAKAN AIR untuk ritual mereka, yaitu PEMANDIAN atau yang lebih dikenal dengan AIR BAPTISAN. Namun bukankah mandi-baptis itu dilakukan hanya sekali seumur hidup saja? Artinya, HANYA BERAPA EMBER SAJA yang digunakan oleh Gereja untuk tujuan ibadah dan memuliakan nama Tuhan mereka. Dibandingkan dengan volume air yang digunakan untuk bersucinya kaum Muslim, maka air baptisan TIDAK LAH SEBERAPA di laut lepas!

Pendeta Hindu pun juga menggunakan air di dalam tata ibadah mereka. Namun hanya seberapa?  Se-‘kecret’ saja. Setelah air itu di-‘kecret’, air itu akan lepas ke langit, menguap. Dibanding dengan volume air yang digunakan untuk bersucinya kaum Muslim maka air suci nya umat Hindu AMATLAH TIDAK SEBERAPA di laut lepas.

Begitu juga dengan agama lainnya.

Maka total jenderal, 99,99% air yang ada di laut dan danau di planet bumi ini adalah air Muslim – mengingat betapa banyaknya volume air yang digunakan oleh umat Muslim untuk bersuci; yang mana bersucinya kaum Muslim itu bertujuan untuk memuliakan Allah, Tuhan Semesta Alam ini.

Ketika di Dunia, semua air yang ada di laut SUDAH DAPAT DIKATAKAN 99,99% nya adalah MILIK KAUM MUSLIM, atau dengan kata lain, AIR MUSLIM – karena kesemua air itu akan terus bertasbih – bertahmid – bertahlil – bertakbir mengagungkan Allah tiada henti-hentinya (karena air-air itu sudah digunakan untuk berwudhu-nya kaum Muslim), pun juga air tersebut akan terus berdoa kepada Allah supaya manusia Muslim yang telah menggunakan tetes air tersebut mendapat ampunan dan berkah dari Allah.

Plus, kelak di hari akhirat nani, kesemua tetes air itu AKAN BERSAKSI kepada Allah.

Ingatlah, setiap tetes air yang digunakan untuk berwudhu oleh seorang Muslim, maka kelak tetes air itu akan bersaksi di hari Akhirat di depan Allah dengan berkata WAHAI TUHANKU, SUNGGUH SI FULAN INI TELAH MENGGUNAKAN AKU KETIKA IA HENDAK MENYEMBAH ENGKAU…….

Artinya, SAKSI YANG MENGUNTUNGKAN.

Nah dapat diperkirakan, berapa banyak air yang ada di Dunia ini yang kelak akan bersaksi di depan Allah untuk menguntungkan kaum Muslim sebagai kaum yang telah menggunakan air tersebut sebagai elemen untuk memuliakan Tuhan?

Singkat kata, ketika di Dunia ini, 99,99% air di laut adalah MILIK KAUM MUSLIM, dan ketika di akhirat pun, kesemua air itu akan memberikan kesaksian yang menguntungkan untuk kaum Muslim SAJA di depan Tuhan pencipta Alam Semesta ini.

Maka janganlah menganggap remeh air wudhu tersebut. Hanya dari air wudhu ini saja, sudah dapat dijelaskan betapa semua air yang ada di laut itu adalah MILIK UMAT MUSLIM. Sementara umat agama lain TELAH JAUH TERTINGGAL …..

Langit / Udara Dunia

Ketika masuk waktu salat Zuhur, seorang muazin segera mengambil mikropon. Kemudian di depan mikropon tersebut sang muazin mengumandangkan adzan yang menggema ke seluruh belahan kota. Suara adzan itu menggema dan melintasi begitu banyak ‘hembusan angin’ di kota tersebut. Itu baru adzan untuk salat Zuhur. Belum lagi adzan untuk salat Ashar, kemudian Maghrib, kemudian Isya, kemudian Subuh dan seterusnya selama berabad-abad, di satu Masjid, dan di Masjid lainnya, di satu kota kemudian kota lainnya, dari satu mushalla dan mushalla lainnya, TIADA PUTUS-PUTUSNYA ….di seluruh Dunia ini.

Bukan itu saja. Di malam takbiran, ribuan Muslim mengumandangkan takbir semalam suntuk tiada putus-putusnya. Belum lagi seorang imam salat yang memimpin jemaah di dalam salat berjamaah, melantunkan ayat-ayat Allah dengan suara lantang dan nyaring. Suara bacaan ayat itu akan terus berkumandang menembus dan melintasi begitu banyak ‘hembusan angin’.

Coba kita hitung-hitung,

Berapa banyak ‘hembusan angin’ di Dunia ini yang telah dilintasi oleh suara adzan dan gema takbir yang dikumandangkan oleh umat Muslim di seluruh Dunia ini untuk memuliakan nama Allah? Belum lagi suara bacaan ayat-ayat Alquran yang dibacakan oleh seorang imam ketika memimpin salat. Belum lagi suara bacaan Alquran dari milyaran kaum Muslim ketika mereka mengaji Alquran di rumah masing-masing setiap hari dan setiap malam?

Maka dapat dikatakan bahwa LANGIT Dunia ini telah ‘ditahbis’ oleh umat Muslim di Dunia ini sebagai LANGIT MILIK MUSLIM melalui penyeruan adzan dan takbiran plus suara bacaan ayat-ayat Alquran yang tiada putus-putusnya ……

Setiap hembusan angin yang dilintasi oleh suara adzan – akan terus bertasbih – bertahmid – bertahlil – bertakbir mengagungkan Allah tiada henti-hentinya. Ketika seorang muadzin mengumandangkan adzan, sebenarnya muadzin tersebut TENGAH MEMBAPTIS / MENTAHBIS setiap hembusan angin itu untuk MENJADI MUSLIM. Maka dengan demikian dapat dikatakan bahwa dengan adzan (dan juga bacaan ayat Alquran plus takbiran) maka seluruh langit Dunia ini adalah milik umat Muslim, karena semua hembusan anginnya telah dilintasi oleh adzannya umat Muslim.

Ketika di Dunia ini, langit dengan semua hembusan anginnya adalah milik Islam (karena di’adzani’ oleh para muadzin, plus pada saat takbiran dan bacaan ayat Alquran). Pun ketika di hari akhirat kelak, langit dengan semua hembusan anginnya akan bersaksi kepada Allah dengan memberikan kesaksian yang menguntungkan bangsa Muslim. Ingatlah, setiap hembusan angin yang telah dilintasi suara adzan itu akan bersaksi di depan Allah dengan mengatakan WAHAI ALLAH SUNGGUH AKU TELAH DIGUNAKAN OLEH FULAN ITU UNTUK MEMULIAKAN NAMA ENGKAU…

Maka janganlah menganggap remeh suara adzan tersebut. Hanya dari adzan ini saja (dan juga suara takbiran dan suara bacaan ayat Alquran), sudah dapat dijelaskan betapa semua hembusan angin yang ada di langit itu adalah MILIK UMAT MUSLIM. Sementara umat agama lain TELAH JAUH TERTINGGAL …..

Daratan Dunia

Seorang Muslim tengah melakukan ibadah salat. Ketika ia selesai dengan salatnya, ia pun  berpindah tempat ke tempat lain dan kemudian ia salat lagi. Salat dengan cara berpindah-pindah tempat berkali-kali. Mengapa Muslim tersebut berbuat demikian?

Ketika seorang Muslim salat, maka JENGKAL TANAH tempat sang Muslim salat, akan BERSAKSI DI AKHIRAT DI DEPAN ALLAH dengan kesaksian yang menguntungkan Muslim tersebut. Jengkal tanah itu akan berkata YA ALLAH SUNGGUH AKU TELAH DIGUNAKAN FULAN ITU UNTUK SUJUD MENYEMBAH DAN MEMULIAKAN ENGKAU ……

Masalahnya adalah, ada berapa banyak Muslim di Dunia ini?

Kemudian, ada berapa banyak Masjid di Dunia ini?

Ketika umat Muslim menyelenggarakan salat Jumat misalnya, jemaahnya meluber sampai ke jalan-jalan. Itu artinya lebih banyak JENGKAL TANAH yang diklaim Muslim untuk menjadi JENGKAL TANAH MUSLIM. Belum lagi jika Muslim-Muslim tersebut BERPINDAH-PINDAH tempat salat, maka akan jauh lebih banyak lagi ‘jengkal tanah’ yang telah ditahbis oleh Muslim-Muslim tersebut untuk menjadi jengkal tanah Muslim.

Coba lihat pemandangan kota di sekitar sebuah Masjid ketika berlangsung salat Idul Fitri atau Idul Adha. Jemaahnya berjibun dan meluber hingga jauh dari dinding Masjid tersebut. Itu artinya, ribuan bahkan jutaan jengkal tanah yang digunakan umat Muslim di dalam salatnya akan segera berubah menjadi jengkal tanah Muslim. Setiap jengkal tanah itu akan terus bertasbih – bertahmid – bertahlil – bertakbir mengagungkan Allah tiada henti-hentinya.

Nah itu baru Masjidnya. Belum lagi mushallah-nya. Belum lagi dengan kenyataan, bahwa umat / individu Muslim SUKA SEKALI melakukan salat di sembarang tempat, seperti di terminal bis, di bawah tangga, di ruang kerja / kantornya sendiri, di bawah pohon, di tengah pasar, di gudang, di emperan toko …… dan lain lain. Dapatlah dibayangkan betapa banyak jengkal tanah yang telah DIMUSLIMKAN oleh individu Muslim tersebut melalui salatnya. Pun kelak di akhirat nanti, setiap jengkal tanah itu akan memberi kesaksiannya untuk bangsa Muslim, sementara bangsa lainnya sudah tertinggal jauh di belakang di dalam hal mengklaim space ini …..

Kesimpulan

Hasilnya, BUMI – LAUT DAN LANGIT Dunia ini adalah milik kaum Muslim karena kaum Muslim telah mentahbisnya menjadi milik Muslim melalui jalan peribadatan mereka. Pun kelak di hari akhirat, BUMI – LAUT DAN LANGIT Dunia ini akan bersaksi yang menguntungkan untuk umat Muslim saja, karena toh faktanya hanya bangsa Muslim sajalah YANG TELAH ‘MENGGARAP’ BUMI – LAUT DAN LANGIT itu melalui jalan peribadatan mereka.

Demikianlah, BUMI – LAUT DAN UDARA telah ditahbis oleh bangsa Muslim untuk menjadi Muslim DENGAN CARA YANG TIDAK MERUGIKAN pihak lain. Pengambilan air wudhu misalnya. Apakah pengambilan air wudhu dengan begitu massal – telah merugikan bangsa non Muslim lainnya di Dunia ini? Begitu juga dengan jengkal tanah yang digunakan bangsa Muslim untuk bersalat. Apakah salatnya  bangsa Muslim yang dilakukan secara massa telah merugikan bangsa non Muslim di Dunia ini? Adzan sama sekali tidak lah merugikan pihak lain, khususnya di dalam hal ini bangsa non Muslim. Memang ada laporan bahwa ada beberapa kaum non Muslim yang jengkel dan gusar karena umat Muslim selalu mengumandangkan adzan dengan suara yang memekakkan telinga. Namun bukan kah gusarnya mereka itu hanya lantaran sentimentil kebencian terhadap Islam?

Jangankan dengan suara adzan yang begitu nyaring yang disuarakan dari corong Masjid, bahkan suara adzan lamat-lamat yang terdengar dari hape seorang kawan pun TELAH MEMBUAT beberapa orang non Muslim gusar tidak karu-karuan. Kalau sudah sentimen, maka apa pun tetap saja akan menjadi salah. Kalau sudah begitu, HAL ITU TIDAK MASUH HITUNGAN.

Kalau si non-Muslim ini tidak gusar dan jengkel ketika mendengar manusia lain menyetel musik keras-keras setiap hari dan setiap malam, maka mengapa lantas si nonmuslim ini merasa jengkel dan gusar tidak karu-karuan ketika adzan dikumandangkan setiap hari dan setiap malam melalui pengeras suara dari Masjid Masjid? Apa bedanya antara suara musik yang hingar bingar setiap hari DENGAN suara adzan yang nyaring dari Masjid setiap hari? Sentimen tidak laku sama sekali!

Setiap agama memang mengklaim bahwa bumi laut dan udara di dunia ini adalah milik agama tersebut. Namun dengan cara apakah klaim itu dibuktikan??

Kalau hanya klaim, maka sebut saja klaim itu sebagai klaim buta. Ingatlah bahwa siapa pun dapat mengklaim apa pun sesuka hatinya. Dan jika sudah begitu, maka klaim nya tidak usah didengar karena tidak bermanfaat sama sekali.

Namun dalam hal ini Islam tentulah tidak hanya sebatas pada klaim. Memang benar bahwa Islam seperti agama lainnya telah mengklaim bahwa dunia dan seisinya ini adalah milik Islam. Namun setelah menyatakan klaim tersebut, Islam pun membuktikannya dengan metode-metode yang rasional dan faktual. Maka lihatlah lagi dengan cara-cara kaum Muslim itu berwudhu, shalat dan menggemakan adzan plus takbiran yang begitu luar biasa. Melalui metode itulah Islam mempunyai kelebihan di atas hanya sebatas klaim ….

Pada akhirnya, benarlah sudah kuasa Islam itu. Bumi laut dan udara dunia ini adalah milik Islam sejatinya ……

Alhamdulillah ……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s