Perbedaan Mendasar Sejarah Alkitab dan Alquran

perbedaan-mendasar-sejarah-alkitab-dan-alquran

Kaum Muslim tidak pernah menyangkal, bahwa sebelum Allah menurunkan Alquran, Allah telah menurunkan kitabsuci lain yang sekarang dikenal sebagai Alkitab. Yang dimaksud Alquran tentang Alkitab adalah dua kitabsuci pra-Islam yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama terdiri dari beberapa bagian, yang dapat dikatakan sebagai ajaran dari Nabi-Nabi pada masa Perjanjian Lama, masa-masa pra-Almasih. Secara umumnya Perjanjian Lama disebut sebagai Taurat, walau pun sebenarnya Taurat adalah bagian (pertama) dari Perjanjian Lama. Sementara itu, Perjanjian Baru adalah kitabsuci yang diturunkan kepada Almasih.

Orang Yahudi beriman hanya kepada Perjanjian Lama. Di dalam keyahudian, Perjanjian Lama ini disebut Alkitab Ibrani. Sementara orang Kristen mempercayai kedua Alkitab tersebut, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Untuk kedua umat tersebut, yaitu umat Yahudi dan umat Kristen, Alquran menamakan mereka Ahlul Kitab, yang berarti bahwa mereka (orang Yahudi dan Kristen) adalah umat yang memegang kitabsuci dari Allah.

Setelah masa Alkitab itulah, Allah menurunkan kitabNya yang terakhir yaitu Alquran. Maka di Dunia ini terdapat dua kitabsuci yaitu Alkitab dan Alquran, yang pada intinya mempunyai ajaran yang sama yaitu mengajarkan keesaan Allah, dan eksistensi Surga dan Neraka.

Namun sungguh pun demikian, terdapat perbedaan yang amat mendasar yang meliputi kedua kitabsuci ini. Perbedaan tersebut lah yang menjadi dasar Hukum bagi umat manusia di dalam memandang kitabsuci ini.

Intinya, Allah sejak awal memang benar-benar BERMAKSUD untuk menjadikan Alquran sebagai kitabsuci pamungkasNya, yang mana itu berarti bahwa Alquran akan menjadi kitabsuci-Nya yang sempurna, yang abadi, melebihi sifat Alkitab. Dan itulah kehendakNya.

Kesempurnaan Alquran atas Alkitab, diindikasikan dari LIMA PERLAKUAN Allah yang berbeda, yang mana perlakuan itu  tidak ada pada ALKITAB, namun ada pada ALQURAN.

Terhadap Alkitab, Allah TIDAK PERNAH MENURUNKAN PERINTAH kepada para NabiNya kala itu untuk menuliskan semua firmanNya. Baik Nabi Musa, Nabi Sulaiman, Nabi Daud, Nabi Yakub dan lain lain, adalah Nabi-Nabi yang tidak pernah menerima perintah dari Allah untuk menuliskan semua firman / pembicaraan antara Allah dengan mereka masing-masing. Firman Allah kepada para Nabi Alkitab adalah firman yang tidak pernah dimaksudkan oleh Allah untuk dijadikan sebuah buku lengkap. Memang benar bahwa firman / pembicaraan Allah kepada para Nabi Alkitab adalah ajaran agung untuk seluruh umat Israel kala itu. Namun bukan berarti bahwa semua pembicaraan tersebut harus dibukukan.

Faktanya, semua pembicaraan yang terjadi atas para Nabi Alkitab itu, telah pula diajarkan oleh Nabi yang bersangkutan kepada orang orang terdekatnya, karena sedikit banyak semua pembicaraan Tuhan itu berhubungan dengan Hukum dan tatacara beribadah. Oleh karena itu, setelah mendapat bacaan firman Tuhan dari sang Nabi tersebut, orang-orang terdekat itu mengajarkannya pula kepada mereka yang tidak hadir kala sang Nabi membacakan pembicaraaan Tuhan. Sambung menyambung. Dan akhirnya menjadi pengetahuan yang luas di kalangan masyarakat Israel kala itu.

Dan pada saat itulah, ENTAH SIAPA YANG MEMULAI, semua pengetahuan orang banyak kala itu mengenai bunyi pembicaraan Tuhan dengan seorang Nabi kala itu, DITULISKAN menjadi dokumen visual di dalam berbagai media. Dan yang terpenting adalah, bahwa penulisan / pendokumentasian pembicaraan Tuhan tersebut dilakukan ratusan tahun setelah wafatnya Nabi-Nabi yang terlibat di dalam pembicaraan Tuhan tersebut. Dengan kata lain, penulisan semua pembicaraan Tuhan itu ADALAH DI LUAR SEPENGETAHUAN para Nabi sendiri.

Singkat kata, Allah tidak pernah mempunyai MAKSUD untuk melihat pembicaraanNya dengan para Nabi Alkitab TERTULIS di dalam media mana pun. Sehingga yang terjadi adalah, seluruh pembicaraan itu MENJADI TERTULIS bukanlah karena kehendak dan rencana Allah, apalagi karena perintah Allah ……….

  1. Allah tidak pernah menurunkan perintah kepada para Nabi Alkitab untuk menulis hasil pembicaraan diriNya dengan para Nabi Alkitab (ayat Alkitab) di dalam media apapun.
  2. Oleh karena itu pun para Nabi (baik Nabi-Nabi Perjanjian Lama mau pun Perjanjian Baru) itu tidak pernah menulis ayat-ayat Alkitab.
  3. Maka dengan demikian, terjadi penulisan Alkitab dilakukan oleh orang-orang  yang sampai sekarang pun dunia tidak mengetahuinya. Sampai sekarang, Dunia tidak pernah mengetahui siapa yang menulis ayat-ayat Alkitab tersebut.
  4. Dan pada akhirnya, penulisan ayat-ayat Alkitab itu pun terjadinya ratusan tahun setelah wafatnya Nabi-Nabi Tuhan.
  5. Setelah menjadi TERTULIS dan berbentuk kitabsuci, Alkitab mendapat perlakuan yang amat keji, di mana mushaf Alkitab ini di-eksklusif-kan, yaitu bahwa hanya orang tertentu dan sedikit orang yang diijinkan untuk menyentuh mushaf Alkitab ini. Demikian juga, hanya orang-orang dengan ijin khusus saja yang diperbolehkan melantunkan ayat-ayat Alkitab ini. Manusia awam SUNGGUH TERLARANG untuk memegang dan melantunkan ayat-ayat dari Alkitab. Singkat kata, sirkulasi mushaf Alkitab terbatas di kalangan kuil saja. Kenyataan ini, tentunya membawa konsekwensi logis lainnya yaitu munculnya peluang besar untuk terjadinya korupsi atau pun pemelintiran ayat / ajaran. Sempitnya sirkulasi akan selalu berarti telah TERJADI KETIDAK-TRANSPARAN atas suatu objek yang nilainya hanya dilihat dari keotentikannya.

Kelima indikasi di atas adalah takdir Allah yang Allah khususkan untuk Alkitab, kitabsuci-Nya sebelum turunnya Alquran. Dan dari kelima indikasi ini, dapat dipastikan bahwa Alkitab bukanlah kitabsuci yang bermartabat dan ilahiah. Itu  berarti, bahwa Alkitab dengan keseluruhan ayatnya adalah tidak ilmiah dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, karena sejarah menunjukkan hal yang demikian.

Apakah dasarnya bagi umat manusia untuk mempercayai Alkitab sebagai kitabsuci, sementara Tuhan dari kitabsuci itu sendiri TIDAK PERNAH memerintahkan manusia mana pun untuk menuliskan kitabsuci tersebut untuk menjadi sebuah mushaf?

Sementara itu, Alquran …………….,

  1. Ketika Allah menurunkan firmanNya kepada Nabi Muhammad Saw, Allah juga menurunkan perintah kepada Nabi Muhammad untuk menuliskan ayat tersebut ke atas media mana saja. Allah sendirilah Yang perintahkan Nabi Muhammad saw untuk menuliskan ayat-ayat Alquran, disaksikan oleh para sahabat. Dunia pun mengakui hal itu.
  2. Oleh karena itu, Nabi Muhammad Saw sendirilah yang menulis ayat-ayat Alquran. Sejarah pun mengakuinya. Itulah sebabnya Muhammad mempunyai sekretaris untuk menuliskan ayat-ayat Alquran.
  3. Maka dengan demikian, yang menulis semua ayat Alquran, adalah orang-orang / nama-nama yang kita semua mengetahuinya. Mereka adalah Nabi  Muhammad sendiri, dan para sahabatnya.
  4. Terakhir, jelaslah, bahwa Alquran itu sendiri ditulis pada masa kenabian Muhammad sendiri, bukan ratusan tahun setelah wafatnya sang Nabi Muhammad saw ….
  5. Dan setelah Alquran menjadi suatu benda visual berbentuk mushaf, Alquran segera memiliki sirkulasi yang luas. Alquran tidak saja dikhususkan untuk satu kelompok sosial saja, melainkan dicairkan kepada semua lapisan masyarakat. Di luar itu, semua umat kala itu memang sudah di-desain untuk menghafal seluruh surah di dalam Alquran.Kenyataan ini, pada akhirnya membuat Alquran tidak dapat dikorupsi atau dipelintir oleh siapa pun, karena ayat demi ayat sudah dihafal oleh ribuan manusia. Artinya, setiap manusia penghafal ini secara alamiah akan bertindak sebagai PENGKOREKSI jika terdapat ayat yang tidak semestinya berada di sana.

Penutup.

Kelima indikasi yang terdapat di dalam Alquran BERBANDING TERBALIK terhadap kelima fakta sejarah yang meliputi Alkitab. Sungguh Allah telah memberlakukan pembedaan atas kedua kitabsuciNya. Hal itu dikarenakan Allah berkehendak bahwa Muhammad Saw adalah Nabi terakhir bagi seluruh umat manusia, yang mana itu berarti bahwa kitabsuci yang dibawa Muhammad harus mengungguli kitabsuci sebelumnya. Ini berarti, seluruh umat manusia mempunyai alasan moral yang kuat untuk dapat mempercayai Alquran sebagai firman Allah, karena toh Allah sendiri yang mensponsori kompilasi Alquran ini sejak awal.

Akhir kata, jika Alkitab mempunyai alasan dan hak UNTUK DIKESAMPINGKAN karena keberadaannya sama sekali TIDAK DI-SPONSORI oleh Allah, maka kebalikannya Alquran adalah kitabsuci yang berhubungan langsung dengan kemurahan dan sistematika Allah sendiri. Hal ini memang benar-benar dapat dipertanggung-jawabkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s