Mendoktrin Anak Membenci Agama Lain

mendoktrin-anak-membenci-agama-lain

Ada tuduhan, bahwa keluarga Muslim selalu mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci agama lain, khususnya di dalam hal ini Kristen. Hal ini terlihat dari begitu banyaknya individu-individu Muslim yang membenci agama Kristen, dan juga terlihat dari munculnya pengakuan-pengakuan beberapa Muslim mengenai hal tersebut.

Namun di balik itu, juga terdapat tuduhan bahwa keluarga Kristen selalu mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci agama dan umat Islam. Gereja bahkan mempunyai peran yang amat signifkan di dalam hal ini. Terdapat begitu banyak page di internet khususnya yang mengekspresikan kegelisahan seorang manusia Kristen yang teramat membenci Islam karena sejak kecil manusia ini selalu diarahkan oleh keluarganya yang Kristen taat untuk membenci agama Islam tersebut.

Jika suatu saat Suatu hal disebut tuduhan, maka saat berikutnya harus ada pembuktian untuk mengukuhan tuduhan tersebut. Jadi, benarkah bahwa keluarga Muslim selalu mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci agama Kristen, dan benarkah bahwa keluarga Kristen plus Gereja selalu mendoktrin para yunior mereka untuk membenci agama Islam sedemikian rupa? Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah fair bila suatu keluarga atau suatu institusi berbasis keagaman menanamkan kebencian kepada agama lain atas anggota-anggota mereka yang yunior?
Kita harus melihat dengan teliti bahwa ‘buah’ dari indoktrinisasi kebencian terhadap para yunior tersebut adalah kandasnya semangat tolerasi antar umat beragama di tengah masyarakat dan kehidupan berbangsa. Kita, siapa pun kita, harus mencegah kandasnya toleransi tersebut, atau setidaknya berjuang supaya semangat toleransi tetap semarak di tanah air ini.

Melihat Kenyataan.
Pertama. Kasus Tanjung Priok.
Senin, 10 September 1984. Seorang oknum ABRI beragama Katholik, Sersan Satu Hermanu, mendatangi mushala As-Sa’adah untuk menyita pamflet berbau ‘SARA’. Namun tindakan Sersan Hermanu sangat menyinggung perasaan ummat Islam. Ia masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, menyiram dinding mushala dengan air got, bahkan menginjak Al-Qur’an. Warga marah dan motor motor Hermanu dibakar. Buntutnya, empat orang pengurus mushala diciduk Kodim. Upaya persuasif yang dilakukan ulama tidak mendapat respon dari aparat. Malah mereka memprovokasi dengan mempertontonkan salah seorang ikhwan yang ditahan itu, dengan tubuh penuh luka akibat siksaan.

Rabu. 12 September 1984. Mubaligh Abdul Qodir Djaelani membuat pernyataan yang menentang azas tunggal Pancasila. Malamnya, di Jalan Sindang, Tanjung Priok, diadakan tabligh. Ribuan orang berkumpul dengan semangat membara, disemangati khotbah dari Amir Biki, Syarifin Maloko, Yayan Hendrayana, dll. Tuntutan agar aparat melepas empat orang yang ditahan terdengar semakin keras. Amir Biki dalam khotbahnya berkata dengan suara bergetar, “Saya beritahu Kodim, bebaskan keempat orang yang ditahan itu sebelum jam sebelas malam. Jika tidak, saya takut akan terjadi banjir darah di Priok ini”. Mubaligh lain, Ustdaz Yayan, bertanya pada jamaah, “Man anshori ilallah? Siapa sanggup menolong agama Allah ?” Dijawab oleh massa, “Nahnu Anshorullah ! Kami siap menolong agama Allah !” Sampai jam sebelas malam tidak ada jawaban dari Kodim, malah tank dan pasukan didatangkan ke kawasan Priok. Akhirnya, lepas jam sebelas malam, massa mulai bergerak menuju markas Kodim. Ada yang membawa senjata tajam dan bahan bakar. Tetapi sebagian besar hanyalah berbekal asma’ Allah dan Al-Qur’an. Amir Biki berpesan, “Yang merusak bukan teman kita !”

Di Jalan Yos Sudarso massa dan tentara berhadapan. Tidak terlihat polisi satupun, padahal seharusnya mereka yang terlebih dahulu menangani (dikemudian hari diketahui, para polisi ternyata dilarang keluar dari markasnya oleh tentara). Massa sama sekali tidak beringas. Sebagian besar malah hanya duduk di jalan dan bertakbir. Tiba-tiba terdengar aba-aba mundur dari komandan tentara. Mereka mundur dua langkah, lalu … astaghfirullah! Tanpa peringatan terlebih dahulu, tentara mulai menembaki jamaah dan bergerak maju. Gelegar senapan terdengar bersahut-sahutan memecah kesunyian malam. Aliran listrik yang sudah dipadamkan sebelumnya membuat kilatan api dari moncong-moncong senjata terlihat mengerikan. Satu demi satu para syuhada tersungkur dengan darah membasahi bumi. Kemudian, datang konvoi truk militer dari arah pelabuhan, menerjang dan melindas massa yang tiarap di jalan. Dari atas truk, orang-orang berseragam hijau tanpa nurani gencar menembaki. Tentara bahkan masuk ke perkampungan dan menembak dengan membabi-buta. Tanjung Priok banjir darah.

Pemerintah dalam laporan resminya yang diwakili Panglima ABRI, Jenderal L. B. Moerdani, menyebutkan bahwa korban tewas ‘hanya’ 18 orang dan luka-luka 53 orang. Namun dari hasil investigasi tim pencari fakta, SONTAK (SOlidaritas Nasional untuk peristiwa TAnjung prioK), diperkirakan sekitar 400 orang tewas, belum terhirung yang luka-luka dan cacat. Sampai dua tahun setelah peristiwa pembantaian itu, suasana Tanjung Priok begitu mencekam. Siapapun yang menanyakan peristiwa 12 September, menanyakan anak atau kerabatnya yang hilang, akan berurusan dengan aparat.

Sebenarnya sejak beberapa bulan sebelum tragedi, suasana Tanjung Priok memang terasa panas. Tokoh-tokoh Islam menduga keras bahwa suasana panas itu memang sengaja direkayasa oleh oknum-oknum tertentu dipemerintahan yang memusuhi Islam. Terlebih lagi bila melihat yang menjadi Panglima ABRI saat itu, Jenderal Leonardus Benny Moerdani, adalah seorang Katholik yang sudah dikenal permusuhannya terhadap Islam. Suasana rekayasa ini terutama sekali dirasakan oleh ulama-ulama di luar tanjung Priok. Sebab, di kawasan lain kota Jakarta sensor bagi para mubaligh sangat ketat. Namun entah kenapa, di Tanjung Priok yang merupakan basis Islam itu para mubaligh dapat bebas berbicara bahkan mengkritik pemerintah, sampai menolak azas tunggal Pancasila. Adanya rekayasa dan provokasi untuk memancing ummat Islam dapat diketahui dari beberapa peristiwa lain sebelum itu, misalnya dari pembangunan bioskop Tugu yang banyak memutar film maksiat diseberang Masjid Al-Hidayah. Tokoh senior seperti M. Natsir dan Syafrudin Prawiranegara sebenarnya telah melarang ulama untuk datang ke Tanjung Priok agar tidak masuk ke dalam perangkap. Namun seruan ini rupanya tidak sampai kepada para mubaligh Priok. Dari cerita Syarifin Maloko, ketua SONTAK dan mubaligh yang terlibat langsung peristiwa 12 September, ia baru mendengar adanya larangan tersebut setelah berada di dalam penjara. Rekayasa dan pancingan ini tujuannya tak lain untuk memojokkan Islam dan ummatnya di Indonesia.

Access from,

http://gambang.wordpress.com/2008/02/28/tragedi-tanjung-priok-jakarta-1984/
Access date 14:29 27/01/2012

Kedua. Kasus Ambon.
Tragedi berdarah di Ambon dan sekitarnya bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebelum peristiwa Iedul Fithri 1419H berdarah, tercatat beberapa peristiwa penting yang dianggap sebagai pra-kondisi, bahkan jauh ke belakang pada tahun 1995. Beberapa peristiwa itu (sebagian) adalah sebagai berikut

  • 15 Juni 1995: Desa berpenduduk Islam, Kelang Asaude (Pulau Manipa), diserang warga Kristen Desa Tomalahu Timur, pada waktu Shubuh. Penyerangan dikoordinasikan oleh empat orang yang nama-namanya dicatat oleh MUI.
  • 21 Pebruari 1996 (Hari Raya Iedul Fithri) : Desa Kelang Asaude diserang lagi. Serangan dilakukan oleh warga Tomahalu Timur dengan menggunakan batu dan panah. Tiga hari sebelumnya, serombongan orang yang dipimpin oleh sersan (namanya tercatat) datang ke Desa Asaude, menangkap raja (kepala desa) berikut istri dan anak-anaknya. Mereka menggeledah isi rumah dan menginjak-injak peralatan keagamaan.
  • Dst.

Baca lebih lanjut di,

https://sophislam.wordpress.com/2017/10/01/kronologi-tragedi-ambon-maluku-berdarah/

Ketiga. Kasus Poso.
1. Penyebab / akar dari konflik sosial yang terjadi di Poso
Wapres menjelaskan bahwa kasus Poso terjadi bukan karena masalah agama namun adanya rasa ketidak adilan. Awal mula terjadinya konflik karena adanya demokrasi yang secara tiba-tiba terbuka dan membuat siapapun pemenangnya akan ambil semua kekuasaan. Padahal, pada masa sebelumnya melalui Muspida setempat selalu diusahakan adanya keseimbangan. Contohnya, jika Bupatinya berasal dari kalangan Kristen maka Wakilnya akan dicarikan dari Islam. Begitu pula sebaliknya. Dengan demikian terjadi harmonisasi, namun dengan demokrasi tiba-tiba the winner take it all,” kata Wapres. Karena pemenang mengambil alih semua kekuasaan, tambah Wapres, maka pihak yang kalah merasa telah terjadi ketidak-adilan.
Keluar dari pendapat Wapres, konflik sosial yang terjadi di Poso adalah bagian dari konflik individu yang dalam masyarakat yang secara dinamis tidak dapat dipisahkan dan bertalian satu sama lain. Pendapat mengenai akar dari masalah yang bertumpu pada subsistem budaya dalam hal ini menyangkut soal suku dan agama.
.

Argumen yang mengemuka bahwa adanya unsur suku dan agama yang mendasari konflik sosial itu adalah sesuai dengan fakta yaitu bahwa asal mula kerusuhan Poso I berawal dari :

  1. Pembacokan Ahmad Yahya oleh Roy Tuntuh Bisalembah di dalam Masjid  Pesantren Darusalam pada bulan Ramadhan.
  2. Pemusnahan dan pengusiran terhadap suku–suku pendatang seperti Bugis, Jawa, dan Gorontalo, serta Kaili pada kerusuhan ke III.
  3. Pemaksaan agama Kristen kepada masyarakat Muslim di daerah pedalaman kabupaten terutama di daerah Tentena dusun III Salena, Sangira, Toinase, Boe, dan Meko yang memperkuat dugaan bahwa kerusuhan ini merupakan gerakan Kristenisasi secara paksa yang mengindikasikan keterlibatan Sinode GKSD Tentena.
  4. Peneyerangan kelompok Merah dengan bersandikan simbol-simbol perjuangan keagamaan Kristiani pada kerusuhan ke III.
  5. Pembakaran rumah-rumah penduduk Muslim oleh kelompok Merah pada kerusuhan III. Pada kerusuhan ke I dan II terjadi aksi saling bakar rumah penduduk antara pihak Kristen dan Islam.
  6. Terjadi pembakaran rumah ibadah Gereja dan Masjid, sarana pendidikan kedua belah pihak, pembakaran rumah penduduk asli Poso di Lombogia, Sayo, Kasintuvu.
  7. Adanya pengerahAn anggota pasukan Merah yang berasal dari suku Flores, Toraja dan Manado.
  8.  Adanya pelatihan militer Kristen di desa Kelei yang berlangsung 1 tahun 6 bulan sebelum meledak kerusuhan III.

Terlepas dari setuju atau tidak terhadap pendapat mengenai akar masalah dari konflik Poso, secara sibernetik hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
Bahwa pada intinya budaya pada masyarakat Poso mempunyai fungsi untuk mempertahankan pola atas nilai-nilai Sintuvu Maroso yang selama ini menjadi anutan masyrakat Poso itu sendiri. Adanya Pembacokan Ahmad Yahya oleh Roy Tuntuh Bisalembah di dalam Masjid Pesantren Darusalam pada bulan Ramadhan merupakan bentuk pelanggaran terhadap nilai nilai yang selama ini menjadi landasan hidup bersama. Pada satu sisi Muslim terusik ketentramannya dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, kemudian menimbulkan reaksi balik untuk melakukan tindakan pembalasan terhadap pelaku pelanggaran nilai-nilai tersebut. Di sisi lain bagi masyarakat Kristiani hal ini menimbulkan masalah baru mengingat aksi massa tidak ditujukan terhadap pelaku melainkan pada pengrusakan hotel dan sarana maksiat serta operasi miras, yang di anggap telah menggangu kehidmatan masyrakat Kristiani merayakan Natal, karena harapan mereka operasi-opresi tersebut di laksanakan setelah hari Natal.

Pandangan kedua terhadap akar masalah konflik sosial yang terjadi di Poso adalah dalam hal ini adanya perkelahian antar pemuda yang di akibatkan oleh minuman keras. Tidak diterapkan hukum secara adil maka ada kelompok yang merasa tidak mendapat keadilan misalnya adanya keterpihakan, menginjak hak asasi manusia dan lain-lain.
Pendapat ketiga mengatakan bahwa akar dari konflik sosial yang terjadi di Poso terletak pada masalah politik. Bermula dari suksesi bupati, jabatan sekretaris wilayah daerah kabupaten dan terutama menyangkut soal keseimbangan jabatan-jabatan dalam pemerintahan.

Pendapat keempat mengatakan bahwa akar masalah dari kerusuhan Poso adalah justru terletak karena adanya kesenjangan sosial dan kesenjangan pendapatan antara panduduk asli Poso dan kaum pendatang seperti Bugis, Jawa, Gorontalo, dan Kaili. Kecemburuan sosial penduduk asli cukup beralasan di mana pendapatan mereka sebagai masyarakat asli malah tertinggal dari kaum pendatang.

2. Dampak dari konflik sosial yang terjadi di Poso
Kerusuhan yang terjadi di Poso menimbulkan dampak sosial yang cukup besar jika di lihat dari kerugian yang diakibatkan konflik tersebut. Selain kehilangan nyawa dan harta benda, secara psikologis berdampak besar bagi mereka yang mengalami kerusuhan itu. Dampak psikologis tidak akan hilang dalam waktu singkat. Jika dilihat dari keseluruhan, kerusuhan Poso bukan suatu kerusuhan biasa, melainkan merupakan suatu tragedi kemanusiaan sebagai buah perang sipil. Satu kerusuhan yang dilancarkan secara sepihak oleh kelompok Merah, terhadap penduduk Muslim kota Poso dan minoritas penduduk Muslim di pedalaman kabupaten Poso yang tidak mengerti sama sekali dengan permasalahan yang muncul di kota Poso.
.

Dampak kerusuhan Poso dapat di bedakan dalam beberapa segi :
1. Budaya; dampak sosial yang terjadi adalah :

  • dianut kembali budaya “pengayau” dari masyarakat pedalaman (suku Pamona dan suku Mori).
  • Dilanggarnya ajaran agama dari kedua kelompok yang bertikai dalam mencapai tujuan politiknya.
  • Runtuhnya nilai-nilai kesepakatan bersama Sintuwu Maroso yang menjadi bingkai dalam hubungan sosial masyarakat Poso yang pluralis.

2. Hukum; dampak sosial yang terjadi adalah :

  • Terjadinya disintegrasi dalam masyarakat Poso ke dalam dua kelompok yaitu kelompok Merah dan kelompok Putih.
  • Tidak dapat di pertahankan nilai-nilai kemanusiaan akibat terjadi kejahatan terhadap manusia seperti pembunuhan, pemerkosaan dan penganiayaan terhadap anak serta orang tua dan pelecehan seksual.
  • Runtuhnya stabilitas keamanan, ketertiban, dan kewibawaan hukum di masyarakat kabupaten Poso.
  • Munculnya perasaan dendam dari korban-korban kerusuhan terhadap pelaku.

Baca lebih lanjut di,
http://konflikposo.blogspot.com/2009/03/konflik-poso.html

(cuplikan ini sendiri diakses tanggal 30 Januari 2012).

KeempatKasus Perda Manokwari Kota Injili.
Perda Injil rugikan Gereja
Pada sesi lain, Binsar A. Hutabarat, MCS (peneliti pada Reformed for Religion and Society) menyoroti perda Injil di Manokwari, Papua. Menurut Binsar, perda Injil ini dimunculkan sebagai reaksi atas rencana pembangunan mesjid raya di Manokwari, yang selama ini dikenal sebagai “pintu gerbang” masuknya Injil ke Papua. Tokoh-tokoh Kristen di Papua umumnya sepakat bahwa kehadiran masjid raya di Manokwari telah melukai perasaan umat Kristen, dan menimbulkan perasaan terdiskriminasi.

Binsar berpendapat, kehadiran Perda Manokwari Kota Injil ternyata memosisikan gereja ketika menjadi mayoritas jadi cenderung mendiskriminasikan agama lain. Hal ini terbukti dari pasal-pasal diskriminatif dalam Perda Injil, semisal melarang agama lain   melakukan kegiatan publik pada hari Minggu, pelarangan jilbab, azan, dan keharusan memasang simbol-simbol Kristen di gedung-gedung pemerintah.
Menurut Binsar, apabila perda Manokwari Kota Injil dianggap sebagai strategi gereja membendung serbuan perda-perda syariah, maka strategi tersebut justru merugikan gereja sendiri. Sebab gereja terjebak dalam politisasi agama dan agamaisasi politik demi menuntut kekhususannya sebagai kelompok mayoritas. ? Hans P. Tan

Access from,

http://reformata.com/news/view/5959/antara-kepalsuan-dan-politisasi-agama
Access date, 30 Januari 2012.

KelimaArswendo Atmowiloyo,
Arswendo Atmowiloto (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 November 1948; umur 63 tahun) adalah penulis dan wartawan Indonesia yang aktif di berbagai majalah dan surat kabar seperti Hai dan KOMPAS. Mempunyai nama asli Sarwendo. Nama itu diubahnya menjadi Arswendo karena dianggapnya kurang komersial dan ngepop. Lalu di belakang namanya itu ditambahkannyalah nama ayahnya, Atmowiloto, sehingga namanya menjadi apa yang dikenal luas sekarang.
.

Access from,

http://id.wikipedia.org/wiki/Arswendo_Atmowiloto

Access date, 30 Januari 2012.

KeenamSudomo, Penggerak Kerusuhan Priok Yang Membantai umat Muslim.
Awal mula Sudomo berpindah agama pada tahun 1961, yakni ketika menikahi seorang wanita bernama Fransisca Play yang beragama Kristen. Perkenalan dengan Fransisca sendiri terjadi tiga bulan sebelumnya. Kala itu, kedua orang tua Sudomo sempat tidak menyetujui keputusannya. Namun, pada akhirnya mereka setuju karena keinginan Sudomo yang sangat kuat. Terlebih lagi, saat itu pernikahan beda agama masih memungkinkan terjadi di Indonesia. “Dulu belum ada UU No 1 tahun 1974 tentang pernikahan beda agama,” kenang Sudomo.
.

Alhasil, Sudomo pun melangsungkan pernikahan dengan Fransisca di sebuah Gereja di Jakarta. “Saya berpikir waktu itu kalau suami-istri agamanya sama maka akan lebih mudah menjalani kehidupan rumah tangganya,” ujar pria yang memiliki hobi diving ini. Sebelumnya, Sudomo pernah mengajak sang istri untuk berpindah keyakinan, tapi menolak. Tak ayal, Sudomo mengalah dan memutuskan dialah yang berpindah agama meski tanpa melalui pemikiran yang matang. Pernikahannya dengan Fransisca telah membuahkan empat anak, yakni Biakto Trikora Putra (46), Prihatina Dwikora Putri (42), Martini Yuanita Ampera Putri (41), dan Meidyawati Banjarina Pelita Putri (37). Kesemua anaknya menganut agama Kristen seperti halnya Sudomo kala itu.
.

Pernikahan pertamanya ternyata harus kandas di tengah jalan. Ia bercerai pada tahun 1980. “Saya sudah terbiasa memimpin di pemerintahan, itu saya bawa ke rumah tapi malah tidak berhasil pernikahannya,” tutur Sudomo.
.

Selang 10 tahun kemudian, Sudomo bertemu dengan seorang wanita kristiani yang berprofesi sebagai aktris film, bernama Fransiska Diah Widhowaty. Awal perkenalannya sendiri diakui Sudomo atas hasil perkenalan dari salah seorang temannya. Lagi-lagi, Sudomo tertarik hanya karena kecantikan dari perempuan tersebut. “Saya tidak memikirkan cocok atau tidak, yang saya lihat hanya kecantikannya saja,” aku Sudomo. Akibatnya, pernikahan kedua tersebut hanya bertahan selama 4 tahun saja. Tepat pada tahun 1994, keduanya memutuskan untuk bercerai. Berbeda halnya dengan pernikahan pertama yang menghadirkan empat buah hati, pada pernikahan keduanya Sudomo justru tidak mendapatkan anak.

Access from,

http://fajar-aryanto.blogspot.com/2009/03/laksamana-tni-purn-sudomo-mantan-ketua.html

Access date, 30 Januari 2012.

KetujuhKasus Pelecehan Agama Antonius Bawengan.
TEMPO Interaktif, Temanggung – Antonius Richmond Bawengan, terdakwa penistaan agama disidangkan di Pengadilan Negeri Temanggung karena menyebarkan sejumlah selebaran dan buku yang dianggap melecehkan keyakinan agama tertentu. Akibat perbuatannya itu, Pengadilan Negeri Temanggung pun kemarin telah memvonis pria asal Manado ini lima tahun penjara.

Menurut Kepala Hubungan Masyarakat PN Temanggung Agus Setiawan, Bawengan saat itu menyebarkan tiga selebaran dan dua buku.

Tiga selebaran itu berukuran kertas folio dan dibagi tiga kolom. Masing-masing berjudul “Bencana Malapetaka Kecelakaan (Selamatkan Diri Dari Dajjal), “Tiga Sponsor-Tiga Agenda-Tiga Hasil” dan “Putusan Hakim Bebas”.

Isi ketiga selebaran itu pada dasarnya merupakan kritik pada kondisi masyarakat saat ini. Tak hanya mengkritik ajaran Islam, dalam ketiga selebaran itu juga mengkritik agama Nasrani.

Dalam halaman muka selebaran berjudul “Tiga Sponsor-Tiga Agenda-Tiga Hasil” misalnya, terdapat tiga gambar tiga agama. Gambar bintang segi enam yang dikenal sebagai simbol agama Yahudi, gambar Yesus sebagai simbol Nasrani dan gambar bulan sabit dengan bintang di tengahnya sebagai simbol Islam.

Selebaran yang lain, berjudul “Bencana Malapetaka Kecelakaan (Selamatkan Diri Dari Dajjal), di halaman depannya tertulis malapetakan saat ini diantaranya adalah bencana tsunami, gempa, banjir dan lain sebagaianya. “Tiga selebaran itu satu set,” kata Agus Setiawan, Rabu (9/2) sore.

Adapun dua buku yang disebarkan terdakwa, masing-masing berjudul “Ya Tuhanku, Tertipu Aku!” yang terdiri dari 60 halaman dan “Saudaraku Perlukah Sponsor” yang terdiri dari 35 halaman. Keduanya merupakan buku saku dengan isi yang tak jauh berbeda dengan tiga selebaran sebelumnya.
.

Baik pada selebaran dan buku, banyak dikutip ayat-ayat al-Quran dan Injil, untuk menguatkan kritik terhadap agama-agama tertentu.

Terdakwa Antonius, merupakan warga Jakarta Timur asal Manado yang mampir ke rumah seorang rekannya di Desa Kranggan Kecamatan Kranggan Temanggung. Buku dan selebaran itu disebarkan terdakwa pada Oktober lalu di Temanggung. Ulahnya itu lantas memicu warga menangkap dan menyerahkannya ke kepolisian.

Selasa (8/2) kemarin, sebelum terjadi amuk massa di Temanggung, kasusnya disidangkan di Pengadilan Negeri Temanggung. Dengan agenda sidang pembacaan tuntutan, pada hari itu juga terdakwa langsung divonis 5 tahun penjara karena dianggap melanggar pasal 156 KUHP tentang penistaan agama. Vonis itu merupakan vonis maksimal sesuai dengan tuntutan jaksa penuntut umum.

Ketua PN Temanggung Dwi Dayanto mengatakan proses putusan itu telah sesuai dengan prosedur persidangan. Vonis dijatuhkan bersamaan dalam sidang pembacaan tuntutan. “Jadi tidak buru-buru, memang seperti itu,” kata dia.
.

Access from,

http://nusaantara.wordpress.com/2011/02/10/ini-isi-tiga-selebaran-dan-buku-antonius-richmond-bawengan/

Access date 3 Pebruari 2012.

KedelapanFaith Freedom International.
Faith Freedom International adalah gerakan untuk mengkritisi dan mendebat pemikiran-pemikiran mapan dalam Islam. Gerakan ini dipelopori oleh Ali Sina. Kebanyakan artikel dan diskusi di dalamnya berisi bantahan-bantahan terhadap Islam, yang diklaim berasal dari mantan penganutnya. Situs ini juga berisi ajakan untuk meninggalkan Islam.

Situs resmi organisasi ini, faithfreedom.org, bisa tertukar dengan gerakan yang justru menentang keberadaan Faith Freedom International, faithfreedom.com.
.

Tantangan 100 ribu dollar.
Ali Sina mengajukan tantangan 100 ribu dollar untuk siapa saja yang bisa secara objektif mematahkan pandangan-pandangannya mengenai Kesalahan terjemah Alquran dan bukan aturan-aturan yang berlaku di dalam Alquran semata, dengan syarat menghilangkan subjektivitas yang memandang Muhammad sebagai orang yang dimuliakan Tuhan. Hadiah yang sama juga diberikan kepada orang yang bisa mencarikan lawan debatnya dalam masalah ini. Ia juga menjanjikan menutup website FFI jika pandangannya tersebut terbukti salah.
Access from,

http://id.wikipedia.org/wiki/Faith_Freedom_International

Access date 3 Peb 2012.

Sophislam.
Di atas kita mempunyai beberapa artikel yang melukiskan kekerasan dan kekejian yang dilakukan oleh kelompok manusia Kristen yang membenci islam. Dan mengapa kisah kekerasan itu bisa begitu saja terjadi menimpa kaum muslim dari kalangan mereka yang menamakan diri mereka dengan umat Kristen?
.

Jawabannya adalah mudah: karena semua manusia Kristen itu telah kenyang di-INDOKTRINISASI oleh institusi keagamaan mereka untuk membenci islam. Maka resultnya mudah dilihat: begitu banyak artikel yang menggambarkan betapa kekerasan anti islam marak di mana-mana, yang mana kekerasan anti islam itu digerakan atau dicetuskan oleh manusia-manusia Kristen.
.

Kembali ke tuduhan awal. Benarkah bahwa keluarga-keluarga muslim selalu mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci agama Kristen dan umat Kristen?
.

Kalaulah memang benar bahwa keluarga muslim selalu mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci agama Kristen, maka mengapa aksi-aksi kebrutalan anti islam marak di mana-mana??? Baiklah kita katakan bahwa keluarga muslim selalu salah karena selalu mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci Kristen. Tapi satu hal harus terbukti di sini, bahwa ……….

  1. SEKERAS APA PUN keluarga muslim mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci Kristen, maka mengapa yang terjadi justru aksi kekerasan anti islam marak di mana-mana??
  2. Mungkin sekali keluarga Kristen tidak pernah mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci islam. Namun mengapa kekerasan dan kebrutalan anti islam marak di mana-mana?? Tidak usahlah keluarga mau pun gereja Kristen mendoktrin generasi muda mereka untuk membenci islam. Toh tanpa didoktrin pun, manusia Kristen sudah mempunyai bakat untuk membenci agama dan umat islam. Artikel dan fakta nyata sudah menjadi bukti yang tidak terbantahkan.

Sudomo, sebagai bukti kecil di sini. Dia murtad. Artinya pada awalnya dia adalah muslim. Namun ketika ia menjadi Kristen, SONTAK ia menjadi begitu benci islam sehingga ia terlibat pada kasus Priok yang amat memilukan tersebut. Arswendo, ia adalah manusia Kristen. Namun mengapa ia begitu teganya membuat angket yang resultnya merendahkan derajat nabi islam??
.

Semua manusia Kristen di portal faithfreedom. Tidak dapat disangkal lagi bahwa MAYORITAS netter yang meramaikan portal tersebut adalah manusia-manusia Kristen. Kalaulah manusia Kristen tidak mempunyai bakat alamiah untuk membenci islam, maka seharusnya faithfreedom itu sepi. Namun karena faktanya manusia Kristen mempunyai bakat alamiah untuk membenci islam, maka fakta berikutnya adalah bahwa hanya manusia Kristen lah yang paling banyak meramaikan faithfreedom.
.

Pada masa LB Moerdani menjadi petinggi ABRI, SONTAK Negara menjadi memusuhi islam. Mengapa bisa begitu??
.

Penutup.
Tidak usahlah manusia-manusia beragama menuduh umat agama lain telah mendoktrin anak-anak mereka untuk membenci agama lain. Namun di luar itu, Sekuat apa pun kaum Kristen menuduh kaum Muslim telah mendoktrin anak-anak Muslim mereka untuk membenci umat Kristen, toh faktanya justru berbanding terbalik dengan tuduhan tersebut. Fakta itu teramat menyayat perasaan manusia mana pun: kaum Kristen menjadi kaum pembenci kaum Muslim, baik kalau ada kesempatan, maupun kalau tidak ada kesempatan sama sekali.
.

Tapi perlu lah bagi kita untuk membahas, agama mana yang mempunyai kekuatan untuk menumbuhkan bakat alamiah kepada pengikutnya untuk membenci agama Islam. Jawaban untuk itu tersedia dengan mudah.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. QS. al-Baqarah, 2:120.

 

Wallahu alam bishawab!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s