Mengapa Muhammad Ragu Ke Surga

mengapa-muhammad-ragu-ke-surga

Kapirit cac, on July 26, 2011 at 12:30 pm said:

Ada misinterpretasi di sini:

“Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak (Yesus) pun tidak, hanya Bapa sendiri.” (Matius 24:36)”

Tidak ada kata “(Yesus)” dalam ayat itu, hanya tambahan si penulis blog ini. Hanya  meluruskan.. dan hanya memastikan bahwa sangat disayangkan bila ayat ini dapat dipahami dan diartikan oleh penulis sendiri bahwa kata ‘saya’ dimaksud adalah ‘Yesus’ oleh kalian yang bukan mengimani (bahkan bertolakbelakang) bahwa Yesus adalah anak Allah.

Doa Yesus pada saat ketakutan adalah luapan dirinya dari sisi manusiawinya yang berharap berikan dukungan untuk menghadapi penyaliban dan rasa sakit yang akan dideranya, bahwa ada kengerian akan hal yang akan terjadi / penyaliban, hal itu sudah diketahui, bahkan sudah sejak awal diberitahu bahwa dia akan diserahkan, disalibkan, wafat, dan akan bangkit dari antara orang mati, jauh hari sebelum ada niat Yudas menyerahkan Yesus.

Jangan disamakan halnya dengan Muhammad. Dan tidak ada korelasinya.

Kembali ke blog ini, yang ditulis oleh penulis:

“Kalau Allah sudah bilang di dalam alquranNya bahwa Muhammad dan sahabat2nya dijamin masuk Surga, walau pun di lain pihak Muhammad berkata bahwa AKU SENDIRI TIDAK TAHU APA YANG AKAN ALLÂH LAKUKAN TERHADAPKU, lantas mengapa semua orang Kristen di ffi ini masih teriak-teriak bahwa Muhammad tidak tahu mau akan diapakan oleh Allah…?? Bukankah Allah sendiri sudah bilang melalui AlquranNya bahwa Muhammad Saw dijamin masuk Surga, TIDAK PERDULI apa pun yang dikatakan Muhammad tentang dirinya??………….”

Loh, bukannya Muhammad tahu semua isi Quran, makanya disuruh penulis-penulisnya menuliskannya di kitab? Kata-2 Quran itu sebenarnya kata-kata siapa? Kata-kata  Allah atau Muhammad?

Lah, kok dia Nabi sudah diberitahu oleh Allah-nya kok masih belum tahu juga apakah dia masuk Surga atau tidak? Agak tidak singkron rupanya.

____________________________

Sophislam, on July 27, 2011 at 3:22 am said:

Kapirit cac, on July 26, 2011 at 12:30 pm said:

Ada misinterpretasi di sini:

“Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak (Yesus) pun tidak, hanya Bapa sendiri.” (Matius 24:36)”

Tidak ada kata “(Yesus)” dalam ayat itu, hanya tambahan si penulis blog ini. Hanya  meluruskan.. dan hanya memastikan bahwa sangat disayangkan bila ayat ini dapat dipahami dan diartikan oleh penulis sendiri bahwa kata ‘saya’ dimaksud adalah ‘Yesus’ oleh kalian yang bukan mengimani (bahkan bertolakbelakang) bahwa Yesus adalah anak Allah.

Misinterpretasi??

Tidak ada kata Jesus dalam ayat itu??

So kata ‘anak’ itu merujuk kepada siapa (kalau bukan Jesus)?

Di ayat2 lain di PB, yang namanya kata ANAK pasti merujuk kepada Jesus… Faham??

Pun, dalam ayat itu ditulis DAN ANAK (YESUS) PUN TIDAK, HANYA BAPA SENDIRI.

Artinya, ini adalah konteks BAPA – ANAK.

Dalam faham Gereja yang mengajarkan faham BAPA – ANAK, siapa yang menjadi anak?? Jesus, bukan??

Kalau bukan anak, maka buat apa ada KONTEKS BAPA – ANAK??

Apa mungkin, dalam konteks BAPA – ANAK, maka yang jadi anak itu JERAPAH, atau LADY GAGA??

Kalau lah memang benar bahwa kata anak itu merujuk kepada JERAPAH atau LADY GAGA, maka buat apa ada KONTEKS BAPA – ANAK Dalam faham Gereja???

Jangan berkelit lah, kawan!

Jadi benarlah di sini, bahwa Jesus pun tidak mengetahui kapan datangnya kiamat itu, karena kata ANAK dalam ayat itu PASTI MERUJUK KEPADA JESUS.

Nah kalau Jesus tidak mengetahui kapan kiamat itu datang, maka apalagi yang lainnya??

Maka sekaligus ini artinya Jesus pun tidak mengetahui MASA DEPANNYA: apakah dia akan masuk Surga atau Neraka.

Kemudian, tentang ………….

Doa Yesus pada saat ketakutan adalah luapan dirinya dari sisi manusiawinya yang berharap berikan dukungan untuk menghadapi penyaliban dan rasa sakit yang akan dideranya, bahwa ada kengerian akan hal yang akan terjadi / penyaliban, hal itu sudah diketahui, bahkan sudah sejak awal diberitahu bahwa dia akan diserahkan, disalibkan, wafat, dan akan bangkit dari antara orang mati, jauh hari sebelum ada niat Yudas menyerahkan Yesus.

Pertama tentang luapan dirinya dari sisi manusiawinya.

Sekarang tolong tunjukkan kepada saya ayat PB yang menjelaskan bahwa Jesus  mempunyai dua pribadi yaitu pribadi ilahiah dan pribadi insaniah.

Kalau ayat itu (memang) ada, maka barulah saya percaya bahwa Jesus memang mempunyai dua pribadi. Ok??

Kedua.

Kamu tulis hal itu sudah diketahui bahkan sudah sejak awal diberitahu bahwa ……

Sophislam:

Nonsense!

Kalau sudah TAHU maka mengapa ia berdoa dan ketakutan seperti itu??

Saya pernah menjalani operasi bedah. Sejak awal saya diberitahu. Toh SAYA TIDAK KETAKUTAN TUH!

Lha ini kok Jesus ketakutan sehingga ia berdoa??

Itu tidak lain menandakan bahwa Jesus tidak mengetahui keselamatan atau kecelakaankah yang akan datang menghampirinya..

Faham??

Akhirul kata,

Masalahnya kamu sangat percaya bahwa Jesus adalah Tuhan.

Kepercayaan kamu bahwa Jesus adalah Tuhan telah membuat kamu melakukan PRA- PERSEPSI atas semua ayat Alkitab sehingga yang ada di bayangan kamu adalah SEOLAH AYAT ALKITAB ITU HANYA BERTUTUR BAHWA JESUS ADALAH TUHAN.

Intinya, subjektif.

Hanya Paulus lah yang memulai teori bahwa Jesus adalah Tuhan. Selainnya tidak.

Renungkanlah.

Paulus  adalah RASUL PALSU.

Ini dibuktikan dengan fakta bahwa Paulus ini mati KARENA HUKUM DUNIA atau HUKUM KOTA ….

Sebagai nubuat ayat Perjanjian Lama:

Ulangan 18:20 Tetapi seorang Nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, Nabi itu harus mati oleh Hukum Dunia

Tanda bahwa Paulus adalah RASUL PALSU adalah bahwa dia MATI TIDAK NORMAL alias mati sebagai vonis dari pengadilan kota atau dunia – BUKAN KARENA SEBAB ALAMIAH. Memang itulah nubuat dari Perjanjian Lama kitab Ulangan.

Nah sekarang apakah kamu masih mau mengunyah-ngunyah perkataan seorang yang jelas-jelas adalah Nabi palsu, bahwa Jesus adalah Tuhan?

Baca lebih lengkap di ….

https://sophislam.wordpress.com/2017/09/23/apostle-biography-brief-death/

Lanjut. ……….

Kembali ke blog ini, yang ditulis oleh penulis:

Sophislam,

“Kalau Allah sudah bilang di dalam alquranNya bahwa Muhammad dan sahabat2nya dijamin masuk Surga, walau pun di lain pihak Muhammad berkata bahwa AKU SENDIRI TIDAK TAHU APA YANG AKAN ALLÂH LAKUKAN TERHADAPKU, lantas mengapa semua orang Kristen di ffi ini masih teriak-teriak bahwa Muhammad tidak tahu mau akan diapakan oleh Allah…?? Bukankah Allah sendiri sudah bilang melalui AlquranNya bahwa Muhammad Saw dijamin masuk Surga, TIDAK PERDULI apa pun yang dikatakan Muhammad tentang dirinya??”

.

Kapirit,

Loh bukannya Muhammad tahu semua isi Quran, makanya disuruh penulis-penulisnya menuliskannya di kitab? kata2 Quran itu sebenarnya kata-kata siapa? kata-kata Allah atau Muhammad?

Lah kok dia Nabi sudah diberitahu oleh Allah-nya kok masih belum tahu juga apakah dia masuk surga atau tidak? Agak tidak singkron rupanya.

Sophislam,

Begini ya fren ….

Semua Nabi – Rasul Allah, dari Adam hingga Muhammad saw, adalah individu2 suci yang ALLAH swt sudah jamin masuk surga – TIDAK MUNGKIN ADA SEORANG NABI / RASUL YANG MEMPUNYAI KEMUNGKINAN UTK MASUK NERAKA.

Kalaulah ada seorang Nabi yang masuk neraka (ah itu ga mungkn dan ga logis), maka yang salah bukanlah sang nabinya itu, MELAINKAN ALLAH NYA LAH YANG SALAH.

Nah masalahnya adalah APA MUNGKIN ALLAH ITU SALAH (SALAH DALAM MEMILIH ORANG)??

Tidak Mungkin bahwa Allah itu salah. Makanya itu artinya semua Nabi itu DIJAMIN MASUK SURGA…

Belum lagi kalau dihitung2 semua amal saleh para Nabi, plus perjuangan para Nabi tsb, daN juga ilmu dari sang Nabi yang diajarkan kepada umat manusia, ITU SEMUA ADALAH PAHALA YANG AMAT BESAR bagi Nabi yang bersangkutan.

Umpamanya, Nabi Yahya.

Nabi Yahya sudah dijamin masuk Surga.

Itu  adalah jaminan dari Allah; dengan kata lain itu adalah firman Allah atas Nabi Yahya… sehingga  Nabi Yahya WAJIB mengetahui jaminan Allah tersebut. …

Namun di lain pihak, bukankah para Nabi itu adalah individu yang paling tawadhu??

Bukti bahwa seorang (Nabi) tawadhu itu adalah, bahwa dia MERASA TIDAK PANTAS UTK MASUK SURGA. DIA MERASA BAHWA DIA BANYAK DOSA. DIA MERASA BAHWA DIA HARUS LEBIH BANYAK BERTOBAT DAN MERENDAHKAN DIRI…..

Dalam hal ini, Nabi Yahya akan merasa bahwa DIRINYA TIDAK MERASA PANTAS UNTUK MASUK SURGA, DIA MERASA HINA SEHINGGA DIA HARUS LEBIH BANYAK BERIBADAH DAN BERTOBAT (padahal dia tahu bahwa Allah sudah menjaminnya masuk Surga).

Itulah yang namanya tawadhu. Tawadhu itu TIDAK SOMBONG, TIDAK TINGGI HATI…..TIDAK GE-ER

Baca lebih lengkap tentang tawadhu di …

https://sophislam.wordpress.com/2017/09/23/tawadhu-rendah-hati/

Semua Nabi itu begitu, tidak ada pengecualian.

Sebenarnya Nabi Isa (Jesus) pun demikian.

Baca lebih lengkap di ….

https://sophislam.wordpress.com/2017/04/02/mari-bersalawat-secara-bible/

Seperti apa pun jaminan Surga dari Allah kepada para Nabi, TETAP SAJA para Nabi itu merasa HINA DAN BANYAK DOSA. Itulah yang namanya TAWADHU.

Kalau ada seorang Nabi yang koar-koar bahwa dia kalau mati nanti langsung masuk Surga – karena sudah ada jaminan dari Tuhan swt, maka Nabi itu adalah Nabi yang sombong alias TIDAK TAWADHU.

Masalahnya TIDAK MUNGKIN ADA NABI YANG SOMBONG DAN TIDAK TAWADHUK……

MASALAH

Masalahnya sekarang adalah, kamu yang Kristen MENGANGGAP BAHWA JESUS ADALAH TUHAN – BUKAN NABI.

Itulah sebabnya kamu merasa aneh ketika datang kepada kamu risalah Islamiyah yang menyatakan bahwa Muhammad itu berkata begini-begitu yang kesannya Nabi Muhammad tidak tahu apakah akan masuk Neraka atau Surga ….

Nabi Isa pun juga pernah berkata begini-begitu yang mengesankan bahwa DIRINYA TIDAK TAHU APAKAH DIA AKAN MASUK SURGA ATAU NERAKA…..

Sekarang pertanyannya adalah, MENGAPA KAMU PERCAYA BAHWA JESUS ADALAH TUHAN??

Bukankah yang mengajarkan kamu bahwa Jesus adalah Tuhan itu adalah Paulus yang sebenernya merupakan Nabi palsu???

PENUTUP

Memang banyak bertebaran Alhadis apalagi ayat Alquran yang mengesankan bahwa Muhammad saw tidak yakin  apakah dirinya akan masuk Surga. Dan sebenarnya ini adalah paradox. Mengapa bisa terjadi di mana Muhammad sendiri tidak yakin bahwa dirinya akan masuk surga – sementara di lain pihak, bukankah dia adalah seorang Nabi? Kalau dia memang seorang Nabi, maka seharusnya dia yakin bahwa dirinya akan masuk surga.

Yang benar adalah, Muhammad saw, dan Nabi-nabi lainnya, sudah dijamin masuk surga. Banyak bertebaran Alhadis mau pun ayat Alquran yang menegaskan bahwa Muhammad dan Nabi lainnya pasti masuk surga. Namun masalah berikutnya adalah, bahwa Muhammad dan nabi lainnya adalah INDIVIDU-INDIVIDU YANG TAWADHU.

Itulah kunci dari diskusi ini: tawadhu.

Muhammad saw dan Nabi-nabi lainnya, adalah pribadi-pribadi yang tawadhu. Yang mana itu berarti bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang tidak pongah. Mereka memandang diri mereka sebagai mahluk yang hina di mata Allah. Dan cara pandang seperti itu adalah cara pandang yang unggul, untuk kita tiru.

Kita adalah hamba yang banyak ibadah. Tapi apakah itu berarti membuat kita berfikir bahwa kita sudah mendapatkan jatah surga kalau kita sudah wafat? Itu salah.

Yang benar adalah, bahwa seharusnya kita semakin banyak beribadah dan istighfar, kendati BISA JADI di mata Allah, kita telah mengikis semua dosa kita dan memperbanyak tabungan pahala kita melalui serangkaian ibadah yang susul menyusul. Itulah yang dimaksud dengan Tawadhu.

WARA’ DAN ‘UJUB

Wara’ adalah sifat favorit para Nabi. Wara’ berarti WASPADA atau TAKUT-TAKUT. Waspada di sini berarti, bahwa kita takut bahwa dosa kita masih terlalu banyak ketimbang pahala kita. Dan kita pun takut bahwa semua ibadah kita tidak diterima di sisi Allah, kendati kita telah beribadah sebaik yang dapat kita lakukan.

Kebalikannya, Ujub, adalah sifat tercela yang dijauhi para Nabi.

Ujub, berarti takjub. Maksudnya, ada seorang hamba yang rajin shalat, puasa, mengaji, sedekah, kemudian dia merasa takjub akan dirinya sendiri, bahwa seolah dia telah membanggakan dirinya yang telah banyak ibadah, dan nanti kalau sudah wafat dia tinggal menikmati surga karena banyaknya pahala dari ibadah tersebut.

Sikap ini adalah salah. Manusia mana pun pasti banyak dosanya. Maka penempatan Ujub ini pada pribadi mana pun pasti akan salah.

Untuk para Nabi, yang telah mendapatkan keMAKSUMan dari Allah, sikap Ujub benar-benar dijauhi. Dan kebalikannya, para Nabi itu mengedepankan sifat Wara’. Mereka telah dijamin masuk surga, namun toh mereka tetap merasa ada yang salah dengan cara ibadah mereka. Itu semua karena mereka adalah jiwa-jiwa yang tawadhu, yaitu bahwa yang suci dan agung hanyalah Allah. Tidak ada yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s