Kabah dan Ke-yahudi-an

kabah-dan-keyahudian

Antara Tubba’ dengan Penduduk Madinah

Ibnu Hisyam berkata, “Salah seorang dari Bani Adi bin An-Najjar yang bernama Ahmar berbuat jahat terhadap salah seorang sahabat Tubba’. Sahabat Tubba’ tersebut datang ke Madinah kemudian dibunuh oleh Ahmar. Penyebabnya, Ahmar melihat sahabat Tubba’ tersebut berada di tandan kurma dan sedang memotongnya, kemudian Ahmar membacoknya dengan sabit dan tewas seketika.

Ahmar berkata, ‘Kurma itu menjadi milik orang yang menyerbukinya.’ Peristiwa pembunuhan terhadap sahabatnya membuat Hassan semakin geram kepada penduduk Madinah. ia berkata, ‘Bunuh mereka semua !’

Orang-orang Anshar berpendapat, bahwa mereka berperang melawan Tubba’ pada siang hari saja, dan pada malam harinya mereka berperang melawan Tubba’ pada siang hari saja, dan pada malam harinya mereka menjamunya sebagai tamu. Karena sikap mereka seperti itu, Tubba’ kagum kepada mereka.

Ia berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya kaum kami pastilah orang-orang mulia.’ Ketika Tubba’ sedang memerangi penduduk Madinah, tiba-tiba dua orang rahib dari rahib-rahib Yahudi Bani Quraidzah datang kepadanya. -Quraidzah, An-Nadzir, An-Najjam, Amr yang tiada lain Hadal adalah anak-anak Al-Khazraj bin Ash-Sharih bin At-Tau’aman bin As-Sabt bin Al-Yasa’ bin Sa’ad bin Lawai bin Khair bin An-Najjam bin Tanhum bin Azir bin Azra bin Harwan bin Imran bin Yashur bin Qahits bin Lawai bin Ya’qub yang tidak lain adalah Israil bin Ishaq bin Ibrahim Khalilurrahman-.

Kedua rahib Yahudi tersebut orang alim dan ilmunya mendalam. Keduanya datang kepada Tubba’ karena mendengar rencana Tubba’ untuk membumihanguskan Madinah dan memberangus penduduknya. Keduanya berkata kepada Tubba’, ‘Wahai raja, jangan teruskan rencanamu itu. Jika engkau tetap memaksa diri melakukannya, maka hubunganmu dengan Madinah terputus, dan kami khawatir engkau mendapatkan hukuman dalam waktu dekat.’Tubba’ berkata kepada kedua rahib Yahudi tersebut, ‘Kenapa begitu?’ kedua rahib Yahudi berkata,’Karena Madinah kelak menjadi tempat hijrahnya seorang Nabi yang muncul dari tanah suci Makkah dari kalangan Quraisy pada akhir zaman. Kelak Madinah menjadi negeri Nabi tersebut dan tempat menetapnya.’ Mendengar penjelasan kedua rahib Yahudi tersebut, Tubba’ membatalkan rencananya. Ia melihat, bahwa kedua rahib Yahudi tersebut…benar-benar orang berilmu dan ia pun tertarik terhadap perkataan keduanya kepadanya.

Kemudian ia meninggalkan Madina dan beralih memeluk agama kedua rahib Yahudi tersebut. Khalid bin Abdul Uzza bin Ghaziyyah bin Amr bin Abd bin Auf bin Ghanm bin Malik bin An-Najjar berkata membangga-banggakan Amr bin Thllah,

Apakah ia telah bangun ataukah ia telah mengharamkan kemaluannya

Ataukah ia telah menunaikan kebutuhan biologisnya

Ataukah engkau ingat masa muda

Tidak ada nostagiamu tentang masa muda dan zaman itu

Melainkan tentang perang yang

Terhadap perang seperti ini, seorang pemuda menjadi ibrah

Tanyakan kepada Imran dan Asad

Ketika perang terjadi menjelang subuh

Pada perang tersebut, Abu karib mengenakan baju besi panjang

Kemudian orang-orang berkata, ‘Siapakah yang kita jadikan target sasaran dalam perang ini?

Apakah Bani Auf ataukah Bani An-Najjar?

Yang menjadi target sasaran kita adalah Bani An-Najjar

Karena orang-orang kami dibunuh mereka dan kami harus membalas dendam terhadap mereka.’

Kemudian mereka berperang dengan menghunus pedang masing-masing

Gerakan pedang-pedang tersebut seperti awan yang mendatangkan air hujan

Di antara mereka terdapat Amr bin Thallah

Semoga Tuhan memanjangkan umurnya untuk kaumnya

Ia pemimpin yang mengungguli semua pemimpin

Barangsiapa takut pada umurnya, ia tidak sampai pada tujuannya

Orang-orang Anshar berkeyakinan, bahwa Tubba’ geram kepada orang-orang Yahudi yang ada di tengah-tengah mereka. ketika Tubba’ datang untuk membunuh orang-orang Yahudi tersebut, orang-orang Al-Ashar melindungi orang-orang Yahudi dari serangan Tubba’ hingga Tubba’ meninggalkan mereka. Oleh karena itu, Tubba’ berkata dalam syairnya,

Aku sungguh geram kepada dua suku Yahudi yang ada di Yatsrib

Mereka pantas mendapatkan hukum pada hari yang naas

Ibnu Hisyam berkata, “Syair di atas sengaja dibuat-buat. Oleh karena itu, kami sengaja melarang menyakitinya.”

Kedatangan Tubba’ ke Makkah dan Menutupi Ka’bah dengan Kiswah

Ibnu Ishaq berkata, “Tubba’ dan kaumnya adalah penyembah berhala. Ia mampir ke Makkah dalam perjalanan pulang ke Yaman. Ketika ia berada di antara Usfan dan Amaja, ia didatangi sekelompok orang dari Hudzail Mudrikah bin Ilyas bin Mudzar bin Ma’ad. Mereka berkata kepadanya, ‘Paduka raja, maukah paduka raja kami beritahu tentang rumah penyimpanan harta melimpah yang disembunyikan raja-raja sebelum paduka raja? Di dalamnya terdapat mutiara, zabarjad, intan berlian, emas, dan perak?’

Tubba’ berkata, ‘Ya, saya mau.’ Mereka berkata, ‘Yaitu rumah di Makkah yang disembah pendudunya dan mereka shalat di sampingnya.’ Orang-orang Hudzail ingin mencelakakan Tubba’ dengan cara seperti itu, karena mereka tahu betul bahwa siapa saja yang ingin merusak Baitullah, pasti celaka.

Ketika Tubba’ telah bersiap diri untuk mengikuti arahan orang-orang Hudzail, Tubba’ mengutus seseorang untuk menemui dua rahib Yahudi guna menanyakan arahan orang-orang Hudzail tersebut. Kedua rahib Yahudi berkata kepada Tubba’, ‘Orang-orang Hudzail hanya ingin mencelakakan dirimu dan pasukanmu, karena kita tidak tahu ada rumah selain Baitullah di muka bumi ini yang khusus dijadikan Allah sebagai rumah-Nya. Jika engkau menuruti arahan mereka, engkau pasti mati dan orang-orang yang bersamamu.’

Tubba’ berkata kepada kedua rahib Yahudi, ‘Kalau begitu, apa yang kalian berdua perintahkan kepadaku, jika aku datang ke Makkah?’ Kedua rahib Yahudi berkata, ‘Engkau harus berbuat seperti yang dikerjakan penduduknya. Engkau thawaf di samping Ka’bah, mengagungkannya, memuliakannya, mencukur rambut di sampingnya, dan merendahkan diri di samping hingga engkau keluar daripadanya.’ Tubba’ berkata, ‘Apa yang membuat kalian berdua melarangku mengikuti arahan orang-orang Hudzail?’ Kedua rahib Yahudi berkata, ‘Sesungguhnya Ka’bah adalah rumah ayah kita Ibrahim, dan ia seperti yang telah kami jelaskan kepadamu. Namun penduduknya memisahkan kami daripadanya dengan cara mereka memasang berhala-berhala di dalamnya, dan dengan darah yang mereka tumpahkan di sampingnya. Mereka orang-orang kotor dan orang-orang syirik.’ Atau seperti dikatakan keduanya.

kabah-dan-keyahudian011

.

kabah-dan-keyahudian02

Tubba’ memahami nasihat kedua rahib tersebut dan kejujuran nasihat keduanya. Kemudian ia mendekat kepada sekelompok orang dari orang-orang Hudzail lalu ia memotong tangan dan kaki mereka. Setelah itu, ia meneruskan perjalanannya hingga tiba di Makkah. Tiba di Makkah, ia thawaf di sekeliling Ka’bah, menyembelih hewan qurban di sebelahnya, mencukur rambutnya, dan berada di sana selama enam hari. Menurut banyak orang, Tubba’ menyembelih hewan qurban kemudian membagi-bagikannya kepada orang-orang, ia memberi makan penduduk Makkah, dan memberi mereka minum madu. Tubba’ bermimpi dalam tidurnya mendapat perintah untuk menutup Ka’bah, kemudian ia menutupinya dengan kain……kasar. Ia bermimpi lagi agar ia menutupi Ka’bah dengan kain yang lebih bagus, kemudian ia menutupinya dengan kain ma’afir (jenis kain Yaman). Ia bermimpi lagi agar ia menutupinya dengan kain yang lebih bagus, kemudian ia menutupinya dengan kain mahal ketika itu yaitu kain Al-Mala’a dan Al-Washail.

Menurut orang-orang ketika itu, Tubba’ adalah orang yang pertama kali menutupi Ka’bah dan mewasiatkannya kepada para gubernurnya dari orang-orang Jurhum. Ia perintahkan mereka membersihkan Ka’bah; darah, bangkai, dan darah haid tidak boleh didekatkan kepadanya. Ia membuat pintu dan kunci untuk Ka’bah. Subai’ah binti Al-Ajabb bin Zabnah bin Jadzimah bin Auf bin Nashr bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin bin Mansur bin Ikrimah bin Khashafah bin Qairs bin Atlan, istri Abdu Manaf bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Laui bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah berkata kepada anaknya Khalid agar Khalid mengagungkan kesucian Makkah, melarangnya mengganggunya, dan mengingatkannya kerendahan diri Tubba’ kepada Makkah, dan apa yang ia kerjakan selam berada di Makkah,

Anakku, janganlah engkau mendzalimi anak kecil dari orang tua di Makkah

Anakku, jagalah kesucian Makkah dan jangan sekali-kali engkau terperdaya oleh tipuan

Anakku, barangsiapa berbuat kedzaliman di Makkah, ia mendapat balasan yang buruk

Anakku, barangsiapa berbuat kedzaliman di Makkah, ia mendapat balasan yang buruk

Anakku, wajahnya dipukul dan terbakar

Anakku, sungguh aku telah mencobanya

Kulihat orang yang mendzaliminya itu binasa

Allah memberi keamanan kepada Makkah

Dan istana-istana tidak dibangun di pelatarannya

Allah memberi keamanan kepada burung-burung Makkah

Dan kambing hutan merasa aman di gunung Tsabir (gunung di Makkah)

Sungguh Tubba’ telah datang kepadanya

Kemudian ia menutupi Ka’bah dengan kain Habir (kain dari Yaman)

Tuhanku merendahkan kekuasaan Tubba’ di dalamnya

Kemudian ia menunaikan nadzarnya di dalamnya

Ia berjalan kepadanya dengan telanjang kaki

Di halaman Ka’bah terdapat seribu unta

Ia tidak henti-hentinya memberi makan penduduk Makkah

Dengan daging unta kecil dan unta besar

Ia memberi mereka minum dengan madu asli dan air gandum

Gajah membinasakan pasukannya

Mereka melemparinya dengan batu-batu

Dengarkan jika engkau diajak bicara

Dan pahamilah akhir kesudahan segala sesuatu

Tubba’ Mengajak Rakyat Yaman kepada Agamanya

Setelah itu, Tubba’ pulang ke Yaman bersama pasukannya dan dua rahib Yahudi. Tiba di Yaman, ia mengajak penduduk Yaman masuk kepada agamanya, namun mereka menolak ajakan Tubba’. Mereka menyerahkan persoalan Tubbah’ kepada api di Yaman.

Rakyat Yaman Menyerahkan Persoalan Tubba’ kepada Api

Ibnu ishaq mengatakan Abu Malik bin Tsa’labah bin Abu Malik Al-Quradzi berkata bahwa aku mendengar Ibrahim bin Muhammad bin Thlhah bin Ubaidillah berkata, bahwa ketika Tubba’ mendekati Yaman, orang-orang Himyar melarangnya masuk Yaman. Mereka berkata, “Engkau jangan masuk ke Yaman, karena engkau telah meninggalkan agama kami.” Tubba’ mengajak orang-orang Himyar kepada agamanya dengan berkata kepada mereka, “Agamaku lebih baik daripada agama kalian.” Mereka berkata,”Kita selesaikan persoalan kita kepada api.” Tubba’ berkata, “Boleh.”

Ibnu ishaq menambahkan, “Menurut kepercayaan orang-orang Yaman, di Yaman terdapat api yang menjadi hakim dalam semua persoalan mereka; api tersebut melalap orang yang dzalim, dan tidak membahayakan orang yang didzalimi. Orang-orang Yaman pun keluar dari rumah masing-masing dengan membawa berhala-berhala mereka dan apa-apa yang dipakai ibadah dalam agama mereka, sedang dua rahib Yahudi membawa dua mushaf yang tergantung di leher keduanya. Mereka duduk di tempat keluarnya api, kemudian api keluar kepada mereka.

Ketika api keluar kepada mereka, mereka menghindar daripadanya, dan meniupnya. Para hadirin menguatkan semangat mereka dan menyuruh mereka bersabar. Mereka bersabar hingga api mengelilingi mereka kemudian memakan berhala-berhala mereka dan apa saja yang meereka pakai untuk beribadah, serta apa saja yang dibawa orang-orang Himyar. Di sisi lain, dua rahib Yahudi keluar dengan dua mushaf di lehernya. Dahinya berkeringat dan api sedikit pun tidak menjilat mereka. Seketika itu juga, orang-orang Himyar memeluk agama kedua rahib tersebut, dan sejak itu agama Yahudi berkembang di Yaman.

——————————–

…. cuplikan dari buku “SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq / Ibn Hisyam Jilid 1”

Access from,

http://indonesia.faithfreedom.org/forum/sirat-nabawiyah-ibn-ishaq-ibn-hisyam-jilid-1-txt-lengkap-t38450/.

Access date, Wednesday, June 16, 2010

———————————

Sophislam,

Apakah point yang dapat kita ambil dari artikel di atas?

Artikel di atas membuat kita berfikir dan kemudian yakin, bahwa umat Yahudi sendiri pada masa pra-Muhammad TELAH MENGAKUI DAN MENGAJARKAN bahwa Kabah adalah rumah Ibrahim. Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa umat Yahudi (dan juga Kristen)  tidak mengakui Kabah sebagai tempat suci mereka? Bukankah leluhur-leluhur mereka selalu mengajarkan bahwa Kabah adalah rumah dan tempat suci milik nabi besar mereka yaitu Ibrahim??

Artikel di atas ditulis oleh seorang author kenamaan yaitu Ibnu Hisyam yang sudah tidak diragukan lagi akan keotentikan karya-karyanya. Maka kemudian mengapa apa yang ditulis oleh penulis kharismatik ini tidak merefleksikan keaslian dan kejujuran Yahudi sama sekali pada masa sekarang ini terhadap Kabah??

Baiklah Yahudi (dan Kristen) kita tinggalkan dengan keyahudian mereka yang menyangkal Kabah sebagai tempat suci dan rumah ‘bapak mereka’ yaitu Ibrahim. Yang jelas kaum Muslim tidak bisa salah lagi dengan pendirian dan iman mereka yang menyatakan bahwa Kabah adalah rumah suci peninggalan Ibrahim dan Ishmail, yang mana keduanya adalah leluhur dari Nabi Besar Muhammad saw. Pendirian kaum Muslim yang demikian toh sudah didukung oleh data yang dipersembahkan oleh Ibnu Hisyam yang tidak diragukan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s