Mubahalah Dalam Hukum Islam

mubahalah-dalam-hukum-islam

Kasus:

 (1) Seorang Muslim menantang saya melakukan Mubahila (duel doa Muslim).

(2) Saya menerima tantangan tersebut walaupun saya tidak setuju dengan format tradisionalnya dimana masing-masing pihak saling mengutuk dan meminta Tuhan mengutuk yang berdusta. Sebaliknya masing-masing mengemukakan kepercayaannya dan berkata, “Semoga Tuhan mengutuk aku kalau kepercayaanku salah.”

(3) Tiga minggu kemudian, si Muslim mengundurkan diri. Dia mengalami dua kecelakaan mobil, kehilangan tanda arah kiblatnya, berulang kali terkunci dalam ruang sembahyangnya, dan mulai merasakan serangan kepanikan.

(4) Kemudian, seorang Islam Ahmadiah (Naser Shams) mengatakan bahwa tantangan Muslim yang pertama tidak benar karena yang menantang saya bukan Ahmadiah. Dia menanyakan apa yang saya bersedia pertaruhkan untuk kepercayaan saya. Dia menanyakan apakah saya bersedia untuk mempertaruhkan PhD saya atau keuangan saya (yaitu apakah saya setuju Tuhan memporak-porandakan keuangan saya kalau kepercayaan saya salah). Saya katakan kepada Naser bahwa saya akan mempertaruhkan hidup saya (tidak kurang tidak lebih).

(5) Lalu si Naser menulis sebuah kontrak. Dalam kontrak dia mengatakan bahwa apapun yang [buruk] terjadi pada siapapun dalam keluarga saya adalah tanda yang jelas bahwa saya berada dalam kutuk Tuhan.

(6) Saya menanggapi dan mengatakan bahwa itu konyol. Sudah ada banyak masalah kesehatan dalam keluarga besar saya, dan ayah saya sudah hampir meninggal. Jadi saya mengatakan kepada si Naser bahwa dia telah meminta saya mengemukakan apa yang saya bersedia pertaruhkan dan saya telah mengatakan bahwa saya bersedia membertaruhkan hidup saya (tidak lebih dan tidak kurang).

(7) Naser menolak mempertaruhkan apapun (yang mungkin membuat Muslim mempertanyakan apakah ini pantas disebut duel doa).

(8) Menurut persetujuan kami, kalau kepercayaan saya salah, maka Tuhan akan membunuh saya dalam jangka waktu satu tahun setelah penandatanganan kontrak. Sebagai bentuk belas kasihan, Tuhan akan membuat saya ketakutan sebagai peringatan sebelum Dia membunuh saya. Naser dan saya menandatangani kontrak tersebut. Naser setuju bahwa kalau saya bertahan hidup dalam waktu satu tahun, dia akan dengan tulus mempelajari Kekristenan.

(9) Kemudian Naser mengirim email yang mengatakan bahwa Tuhan dapat mengutuk keluarga saya juga.

(10) Setahun lewat dan saya masih hidup dan sehat-sehat saja.

(11) Walaupun ada persetujuan, Naser menolak untuk mempelajari Kekristenan dengan tulus.

(12) Sekitar tujuh bulan setelah kontrak berakhir, istri saya melahirkan Reid yang menderita Myotubular Myopathy, yaitu penyakit yang telah membunuh setengah dari laki-laki dalam keluarga istri saya. (Patut dicatat bahwa Reid adalah bayi pertama yang berpenyakit ini yang bertahan hidup dalam keluarga istri saya.)

(13) Naser menyatakan bahwa ini adalah tanda yang jelas dari Tuhan dan Tuhan telah memberikan kemenangan kepadanya! (Hal ini dilakukannya walaupun saya hanya setuju untuk mempertaruhkan hidup saya dan walaupun saya masih hidup dan sehat walafiat setelah kontrak berakhir serta walaupun Reid terlahir jauh setelah kontrak berakhir.)

(14) Jadi dengan demikian Naser percaya kepada sesosok Tuhan yang (a) membunuh bergenerasi-generasi bayi dalam keluarga istri saya hanya untuk membuktikan satu hal, namun (b) yang tidak bisa melakukan apapun dengan kontrak yang kami tanda tangani (walaupun saya sudah memberikan daftar panjang tentang hal-hal yang saya anggap sebagai kutuk).

(15) Nadir setuju bahwa Tuhan telah memberikan kemenangan Mubahila yang jelas kepada seorang Ahmadiah (yang mempercayai Swoon Theory dan adanya nabi setelah Muhammad) !

Selamat datang ke dunia pasangan Ahmadiah-Ahmed yang menakjubkan. Sembunyikan bayi kalian semua! Tuhan mereka cenderung untuk salah serang. Saya menanti artikelmu Nadir. Silahkan juga sertakan nama lengkap Naser Shams, salinan kontraknya dan tanggal-tanggal yang relevan.

Mubahalah Di dalam sejarah Muhammad Saw:

Mubahalah dilakukan ketika terjadi perbedaan dan pertentangan di antara dua orang atau lebih; masing-masing menolak dalil dan hujjah yang dikemukakan oleh pihak lain. Agar keduanya memperoleh kejelasan dalam pertentangan itu, maka kedua-dua pihak berdoa (bermubahalah) kepada Allah agar yang batil (salah) di antara keduanya menarik diri sehingga kebenaran menjadi jelas.

Waktu itu, Rasulullah (saw) telah menyebutkan di hadapan kaum Nasrani Najran bahawa Nabi Isa (as) adalah makhluk dan hamba Allah; sesungguhnya Nabi Isa (as)telah menyampaikan berita gembira tentang kenabian baginda (saw). Lalu baginda (saw) meminta mereka agar menghadapkan kepadanya sekelompok kaum Nasrani Najran ke Madinah supaya baginda dapat berdiskusi bersama mereka. Kemudian mereka datang dan menetap di Madinah selama beberapa hari. Meskipun demikian, mereka tidak sepakat atas ucapan baginda (saw). Kata mereka, “Bagaimana mungkin Isa itu seperti manusia lain sedangkan dia tidak mempunyai ayah? Oleh kerana itu, dia adalah anak Allah bahkan menyatu di dalamNya”. Nabi (saw) menjawab dakwaan palsu mereka dengan wahyu Ilahi :

Firman Allah :

“Sesungguhnya perbandingan (kejadian) Nabi Isa di sisi Allah adalah sama seperti (kejadian) Nabi Adam. Allah telah menciptakan Adam dari tanah lalu berfirman kepadanya ; “Jadilah engkau!”, maka jadilah ia (seorang manusia)”.

(Surah Ali ‘Imran : ayat 59)

Penciptaan Nabi Isa (as) tanpa ayah tidaklah lebih sukar untuk difahami berbanding Nabi Adam (as) yang melalui proses penciptaan tanpa ayah dan ibu. Bahkan penciptaan Nabi Adam (as) lebih membangkitkan rasa takjub. Andaikata keadaan itu dilihat sebagai dalil untuk meletakkan Nabi Isa (as) pada posisi “Ilahiyyah” (Ketuhanan), maka adalah lebih utama untuk memberikan posisi “Ilahiyyah” tersebut kepada Nabi Adam (as). Ketika kaum Nasrani Najran tidak meyakini kewujudan posisi tersebut pada Nabi Adam (as), bapa ummat manusia, maka sewajarnyalah mereka tidak mengajukan dakwaan seumpamaan itu pada Nabi Isa (as).

Kaum Nasrani Najran tidak menerima dalil Ilahi tersebut bahkan semakin keras menunjukkan penentangan mereka ke atas Nabi (saw). Baginda (saw) kemudian mengajak mereka berdasarkan perintah Allah (swt) untuk melakukan “Mubahalah”. Allah berfirman :

“Maka barang siapa yang membantahmu (wahai Muhammad) mengenainya (kisah Nabi Isa) sesudah engkau beroleh pengetahuan yang benar, maka katakanlah kepada mereka: “Marilah kita menyeru (memanggil) anak-anak kami serta anak-anak kamu dan wanita-wanita kami serta wanita-wanita kamu dan diri-diri kami serta diri-diri kamu kemudian kita bermubahalah (memohon kepada Allah dengan bersungguh-sungguh) dan kita meminta supaya laknat Allah ditimpakan ke atas orang-orang yang berdusta”.

(Surah Ali ‘Imran : ayat 61)

Dalam peristiwa tersebut, Nabi (saw) turut membawa bersamanya Imam Ali (as), Sayyidah az-Zahra (as), Imam Hasan (as) dan Imam Husain (as). Terdapat beberapa hikmah besar dan penting melalui kehadiran mereka dalam peristiwa “Mubahalah” tersebut :

  1. Penetapan dan pernyataan pasti tentang kebenaran dakwah dan kenabian baginda (saw). Baginda (saw) sanggup menyertakan dua orang belahan jiwanya iaitu Imam Hasan (as) dan Imam Husain (as), satu-satunya puteri kesayangan baginda iaitu Fatimah az-Zahra (as) dan Imam Ali (as). Baginda (saw) datang dengan komposisi seperti itu dalam melakukan “Mubahalah” supaya Allah mencabut benih kedustaan dan kebatilan sehingga ke akar umbinya. Ertinya, baginda (saw) ingin mengisytiharkan, “Sesungguhnya aku berada di atas keyakinan yang mutlak bahawa kebenaran sentiasa bersamaku sementara yang lain sentiasa berada di atas kebatilan. Keyakinan ini kumiliki hingga ke tahap aku berani membawa bersamaku orang-orang yang amat kucintai untuk melakukan “Mubahalah”.
  2. Pengisytiharan tentang tingginya kedudukan dan maqam orang-orang yang bersama dengan baginda (saw). Mereka adalah orang-orang yang memiliki kedudukan sebagai anak-anak, isteri-isteri dan diri baginda sendiri. Sesungguhnya perkataan “abnaa-anaa” (anak-anak kami) telah menunjukkan dengan jelas bahawa sesungguhnya al-Hasan dan al-Husain adalah merupakan putera Nabi (saw). Perkataan “anfusanaa” (diri-diri kami) pula menunjukkan bahawa Ali adalah diri Rasulullah (saw) itu sendiri sementara perkataan “nisaa-ana” (wanita-wanita kami) menunjukkan kepada ummat Islam bahawa sesungguhnya az-Zahra adalah satu-satunya orang yang memiliki keutamaan di atas seluruh para wanita di sekalian alam.
  3. Supaya manusia mengetahui bahawa penyertaan dan kebersamaan mereka dengan Rasulullah (saw) merupakan ajakan tepat daripada baginda (saw) iaitu penegakan kebenaran (al-haq) dan pembatalan atas kebatilan (al-batil).

Cara Mereka Bermubahalah :

Sebelum kaum Nasrani Najran mengusulkan untuk melakukan “Mubahalah”, Rasulullah (saw) datang di waktu pagi pada tanggal 24 Zulhijjah, 10 Hijriyyah. Baginda (saw) mengendong al-Husain di dadanya dan menuntun al-Hasan dengan tangannya sementara Fatimah dan Ali berjalan di belakangnya. Rasulullah (saw) berkata kepada mereka, “Ketika kalian mendengar aku melaknat, maka katakanlah ‘Amin’ “.

Ketika melihat Nabi (saw) dan orang-orang yang bersamanya berada dalam keadaan seperti itu, pemimpin Najran berkata,

“Ketahuilah, wahai kaum Nasrani, sesungguhnya wajah-wajah yang ku lihat, seandainya mereka bersumpah atas nama Allah agar melenyapkan gunung, nescaya Allah akan melenyapkan nya. Oleh kerana itu, berhati-hatilah kalian dengan ‘Mubahalah’ melawan mereka. Sesungguhnya kalian pasti akan binasa dan takkan ada lagi kaum Nasrani yang akan tersisa setelah itu di atas muka bumi ini “.

Lantas mereka berkata kepada Nabi (saw),

“Kami rasa, kami tidak perlu bermubahalah dengan anda. Anda tetap dengan agama anda dan kami tetap dengan agama kami “.

Nabi (saw) bersabda,

“Sekarang kalian telah menarik diri dari bermubahalah, maka menyerahlah kalian (masuklah Islam) untuk bersama-sama kaum Muslimin dalam keadaan bahagia dan susah”.

Namun mereka semua tetap menolak.

Baginda (saw) bertanya, “Apakah kalian menghendaki perang? “. Mereka menjawab, “Kami tidak memiliki kekuatan untuk berperang melawan kaum Muslimin. Kami ingin berdamai dengan anda agar anda tidak memerangi kami dan agar anda tidak menakut-nakutkan kami serta agar kami tidak keluar dari agama kami. Kami akan memberikan ribuan helai pakaian baru yang harga setiap helai pakaian tersebut ialah 40,000 dirham “. Lalu baginda (saw) setuju berdamai dengan mereka di atas ketentuan tersebut.

Sophislam,

Mubahalah di dalam Islam

Banyak Muslim yang berfikir bahwa mubahalah adalah hujjah terakhir dan sekaligus menjadi hujjah yang paling handal untuk mematahkan hujjah / argumentasi kaum yang menentang Islam. Mubhahalah itu sendiri berasal dari sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw yang ketika itu menerima tantangan kaum kafir Najran untuk membuktikan dengan cara instant agama mana yang benar .

[3:61] Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.

[3:62] Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana .

Mubahalah itu sendiri TIDAK PERNAH TERJADI karena kaum Kristen Najran sudah terlanjur kehilangan keberanian mereka demi melihat kesungguhan Muhammad yang membawa seluruh keluarga yang ia cintai.

Sekarang pertanyaannya adalah,

Bagaimana posisi dan fungsi mubahalah itu sendiri di dalam masyarakat Muslim di dalam usaha untuk meneladani kehidupan Rasulullah dan juga di dalam usaha untuk mendapatkan pembuktian bahwa Islam adalah agama yang paling benar di atas seluruh agama lainnya?

Ketahuilah, bahwa mubahalah itu ADALAH TERLARANG UNTUK DILAKUKAN / DIGUNAKAN oleh kaum Muslim atau kaum mana pun, walau pun mubahalah itu digunakan untuk dijadikan bukti bahwa Islam adalah benar; dan walau pun mubahalah itu berujung pada pemenangan Islam.

Landasan Teori.

  1. Dari semua ayat yang ada di dalam Alquran dan dari semua Alhadits yang sudah dibukukan secara luas, TIDAK DIJUMPAI adanya ayat mau pun Alhadits yang menjelaskan bahwa Muhammad Saw MEMERINTAHKAN umat Muslim untuk berMUBAHALAH  ini.  Kalau lah mubahalah itu adalah sesuatu yang HARUS dilakukan dan bermanfaat bagi kaum Muslim, TENTULAH harus ada referensi baik dari ayat Alquran mau pun Alhadits yang mendukung hal itu. TIDAK ADANYA ayat Alquran mau pun Alhadits yang memerintahkan kaum Muslim untuk bermubahalah, maka cukup kuatlah hal itu sebagai dasar untuk meyakini bahwa kaum Muslim HARAM untuk melakukan mubahalah.
  2. Muhammad Saw adalah seorang Nabi yang seluruh hal di dalam kehidupan nya disiapkah oleh Allah Swt untuk MENJADI SURI TAULADAN alias USWATUN HASANAH bagi seluruh kaum Muslim. Dengan kata lain, semua perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad Saw, ditakdirkan oleh Allah Swt untuk DITIRU DAN DIIKUTI oleh seluruh manusia yang beriman. Namun sebenarnya tidak lah demikian. Ada beberapa hal di dalam kehidupan sang Nabi yang TIDAK BOLEH ditiru dan diikuti oleh umat manusia. Bahwa Muhammad Saw menyatakan dirinya Nabi, maka seluruh kaum Muslim dilarang untuk melakukan hal yang sama, yaitu menyatakan bahwa diri mereka adalah Nabi. Bahwa janda-janda Muhammad dilarang untuk dinikahi, tidak boleh diikuti oleh kaum Muslim: semua janda di Dunia ini harus dinikahi (kembali), dan janda Muhammad Saw adalah pengecualian. Bahwa putri Muhammad Saw tercinta Siti Fatimah,  dilarang untuk dimadu – tidak boleh diikuti oleh seluruh kaum Muslim. Kesimpulannya, TIDAK SEMUA peri kehidupan Muhammad Saw itu adalah dapat ditiru atau diikuti. Nah termasuk juga hal MUBAHALAH ini. Mubahalah adalah HAK EKSKLUSIF atas diri Muhammad Saw saja, tidak untuk seluruh umat manusia.
  3. Sebenarnya mubahalah itu sendiri TIDAK PERNAH SAMPAI TERJADI antara pihak Muhammad Saw dengan lawannya yaitu pihak Kristen Najran. Ini sendiri sudah menjadi bukti dan alasan yang amat kuat untuk meyakini bahwa mubahalah  adalah terlarang untuk dilakukan. Jika Muhammad Saw saja tidak pernah melakukan mubahalah, maka apakah dasar bagi kaum Muslim untuk bermubahalah?

Landasan Fungsional.

  1. Kalau mubahalah adalah bagian dari ajaran Islam, maka buat apakah Allah menurunkan Alquran  dan Alhadits? Apakah Alquran mau pun Alhadits masih kurang MEYAKINKAN bagi kaum Muslim sebagai dasar kebenaran?
  2. Islam mendasarkan keyakinan dan kebenarannya pada kebebasan berfikir / berakal. Lebih dari itu, Allah Swt mengaruniakan akal untuk berfikir, untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Oleh karena itu, kalau lah mubahalah adalah bagian dari mekanisme untuk mengetahui kebenaran, maka apakah gunanya akal?
  3. Jika memang terjadi perselisihan antara kaum Muslim dengan mereka yang menentang kebenaran Islam, maka bukan kah Islam sudah mengajarkan untuk bertawakal saja kepada Allah Swt. Adanya ayat di dalam Alquran yang menjelaskan bahwa perselisihan antara kaum Muslim dengan kaum yang menentang kebenaran Allah harus diserahkan kepada Allah Swt saja pada akhirnya, maka mengapa mubahalah menjadi penting?
  4. Ketika terjadi mubahalah, dan salah satu pihak mendapat musibah yang menurut persangkaan musibah itu adalah buah dari mubahalah itu, maka bukan kah itu sebenarnya adalah takdir Allah Swt yang sudah Allah tetapkan sejak jaman azali, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mubahalah tersebut?
  5. Jika terjadi mubahalah, dan kemudian terjadi musibah yang menimpa salah satu pihak, yang menurut persangkaan adalah pihak itu yang TERBUKTI SALAH, maka apakah dapat dibuktikan bahwa pihak tersebut memang benar-benar salah menurut keyakinan Islam?
  6. Jika terjadi mubahalah, yang menurut keyakinan adalah sarana untuk mengetahui siapa yang salah dan siapa yang benar melalui ‘fakta’ kepada siapa musibah itu turun, maka mubahalah berarti PERINTAH kepada Allah Swt SUPAYA JANGAN MENURUNKAN MUSIBAH kepada yang benar dan supaya menurunkan musibah itu kepada yang salah. Apakah kita pantas mengeluarkan perintah kepada Allah Swt? Di dalam Alquran ada ayat yang berbunyi FA’ALULIMA YURID yang berarti DIA BERBUAT MENURUT YANG DIA KEHENDAKI. Sementara melalui perspektif mubahalah ini, Allah ‘dilarang’ untuk berbuat sekehendak hati-Nya, karena sedang terjadi mubahalah di tengah umat-Nya. Apakah itu mungkin?
  7. Kalau memang mubahalah itu adalah ajaran Islam dan melalui mubahalah itu Allah akan membinasakan mereka yang sesat, TENTU sudah punahlah kaum kafir di muka bumi ini. Untuk itu, maka mengapa Allah menurunkan Alquran dan IslamNya ke muka bumi ini?

Dan masih banyak lagi point, yang mengarah ke dasar pemikiran bahwa mubahalah tidaklah mempunyai posisi penting.

Bagaimana dengan mubahalah yang sudah  terlanjur terjadi?

Anulir! Apa pun yang terjadi setelah disepakatinya sebuah mubahalah, maka ingatlah bahwa hal itu bukanlah pekerjaan Allah yang mempunyai kaitan dengan mubahalah tersebut. Artinya, semua manusia wajib untuk kembali kepada dasar Islam yaitu menggunakan akal mereka sekuat mereka. Gunakanlah ijtihad kalau pun mereka terjebak dalam deadlock. Bermusyawarahlah. Justru kedua hal itu adalah ajaran Islam, sekaligus kedua hal itu adalah antitesis dari mubahalah itu sendiri.

Wallahu Alam Bishawab!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s