Menjawab Kegalauan Seorang Kawan

 

menjawab-kegalauan-seorang-kawan2

Salam kenal.

Saya seorang mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi Islam yang sedang menyelesaikan studi akhir saya. Saya terlahir dari kelurga Muslim (entah Muslim yang mana).

Sudah hampir setahun ini saya malas sekali untuk menyelesaikan skripsi saya di luar kesibukan saya yang juga bekerja. Kemudian saya berpikir untuk apa saya kuliah capek-capek, kan utamanya ibadah, bukan mencari ilmu seperti ini. Okelah kalau berbicara ibadah, banyak yang bilang bahwa ibadah tidak hanya sekedar shalat dll. Tapi banyak hal lain jika ditujukan kepada Allah juga termasuk ibadah. Namun setahu saya juga dalam Islam hal-hal lain tersebut pun ada yang boleh ada yang tidak. Walaupun ‘terlihat’ baik, tapi sebenarnya ada beberapa hadits / pandangan / aliran yang melarangnya: musik, fotografi, sepakbola, dsb.

Mulai dari situ saya berniat untuk semakin mendalami Islam. Mendalami yang mana yang boleh, yang mana yang tidak. Namun seperti kenyataannya, dan sebelumnya yang juga saya tahu, memang banyak sekali perbedaan-perbedaan dalam kalangan umat Muslim itu sendiri. Saya membaca situs-situs Islam / melihat video-video ceramah dll. Memang cukup sulit dan sangat-sangat membingungkan dari berbagai pandangan tersebut. Katanya, hidup harus memilih. Oke saya (paksakan) memilih yang banyak sepahamnya dengan saya. Secara garis besar saya memilih pandangan yang menyatakan bahwa musik / fotografi / dll itu dilarang. Mungkin kata ‘dilarang’ selaras dengan kata ‘haram’. Namun masalah yang lebih peliknya timbul: pecarian peningkatan iman saya membuahkan mata uang yang mempunyai dua sisi. Sisi yang pertama, seperti tersebut tadi di atas, saya memilih untuk sepaham yang melarang musik / fotografi dll. Namun juga menghasilkan sisi yang berlawanan. Kenapa batasan itu semakin ketat, semakin Islam memenjarakan saya.

Masalah yang satu menimbulkan masalah yang lain. Mungkin bisa dibilang masalah itu meningkat. Setelah ‘berhadapan’ dengan dua mata koin tersebut, saya berhadapan dengan pertanyaan baru. Mungkin sudah menjadi ‘hukum alam’ jika saya mempertanyakan batasan-batasan Islam berimplikasi dengan ‘mencari’ batasan dalam agama lain, Kristen dari berbagai sumber, sampai akhirnya bertemu dengan situs anda. Dari situ saya yakin bahwa, yang sebelumnya menurut saya ‘jalan alternatif’ yaitu Kristen, adalah salah. Terutama dalam hal orisinalitasnya.

Jawaban atas kesalahan Kristen belum bisa menjawab (memuaskan) pertanyaan saya atas batasan-batasan Islam yang mana yang benar. Kenapa Islam begitu membatasi manusia? Dan tidak dipungkiri lagi pemikiran saya membesar menjadi mempertanyakan Tuhan dan kebenaran agama Islam.

Jadilah saya sekarang dalam posisi yang sangat-sangat lebih membingungkan dari posisi awal bertanya. Posisi saya sekarang tidak lagi sebagai seorang Muslim yang mempertanyakan hal-hal biasa seperti di atas. Posisi saya yang sedang kebingungan ini menjadi posisi di antara tetap menjadi Muslim atau atheis. Mau ke atheis takut, mau ke Islam juga masih sangat bertanya.

Banyak pertanyaan lah pokoknya mengenai Islam, yang inilah, itulah, kalau kata anda “delele” (dan lain-lain). Saya sudah banyak membaca, melihat, ‘delele’. Sebelumnya saya sempat tertarik dan sepaham tentang video-video dari dr. Zaki Naik. Yang kata-katanya lebih mudah ditangkap. Entah apa itu namanya rasional-kah, logika-kah, ilmiah-kah, gatau lah apa pokoknya. Namun saya kembali jadi tidak sependapat dengan beliau dalam ceramahnya mengenai musik. Masih rasanya mempertanyakan ‘belenggu’ dalam Islam. Saya rasanya tetap seperti menyetir mobil yang entah mau kemana.

Dari situ saya coba ‘beralih’ ke anda. Karena menurut saya jawaban anda juga rasional, logic, delele. Hal tersebut selaras ketika saya menemukan dan membaca salah satu tulisan anda (walau pun sebelumnya saya sudah baca yang lain) tentang hidup adalah permainan. Mungkin bahasa halusnya, ujian kali ya? Saya sependapat walau pun sebelumnya saya juga tahu bahwa hidup adalah ujian. Mungkin jadi sependapat karena faktor tulisan anda yang lebih diubah walau pun maknanya sama menjadi permainan.

Namun saya balik lagi jadi ragu. Masa iya Tuhan mau main-main? Mau nguji? Macem-macem dll. Mungkin jika anda pernah lihat salah satu debatnya Zakir Naik dengan Atheis, pertanyaan Atheis-nya kaya yang saya sebutin itu. Ya intinya saya masih mempertanyakan saja. Ngapain juga Tuhan menguji, macem-macem, delele. Emang Tuhan pengen punya temen?

Kesimpulanya dari saya curhat ini yaitu mohon yakinkan saya mungkin dengan cara menjawab pertanyan di paragraph di atas ini. Mungkin kebingungan saya berakhir.

Mohon maaf banget nih, tulisannya acak-acakan. Namnya juga lagi dalam kebingungan, namanya juga lagi curhat. Terimakasih sebelumnya.

Mungkin dari tulisan saya yang acak-acakan di atas, saya mencoba merapihkan ulang dengan menyimpulkan pertanyaan-pertanyaan saya begini.

  1. Apakah dengan kesalahan Kristen otomatis kita harus percaya Islam dengan segala batasan2nya?
  2. Apakah Allah / Tuhan benar-benar ada?
  3. Dari teori-teori tentang pencahayaan kemudian dilanjutkan penginderaan mata berlanjut lagi ke otak yang saya baca, entahlah disebut teori apa itu, mengarahkan segala sesuatu itu bersumber dari otak kita sendri.
  4. Apakah Tuhan hasil pemikiran manusia sendiri?
  5. Apakah Islam hasil pemikiran Muhammad sendiri? Apakah hal-hal tentang Setan / jin / kesurupan / ruqyah salah terkait dengan penjelasan mengenai tersebut secara ilmiah yaitu karena delusi kita sendiri / otak kita sendiri?
  6. Apakah Borobudur menurut Fahmi Basya (dosen saya) benar? Benar mana teori Borobudur dari Fahmi Basya dengan sejarah umat Buddha sendiri?
  7. Apakah pembuktian-pembuktian ilmiah yang selaras dengan Islam membuktikan Islam benar datangya dari Tuhan bukan dari pemikiran yang secara kebetulan dari Muhammad?
  8. Dengan Bagaimana saya harus percaya Islam? Bagaimana saya harus percaya adanya Allah?

Bagaimana saya harus percaya Tuhan yang seakan menjadikan manusia menjasi ‘mainan’? Dalam hati yang paling dalam saya ingin memaksakan diri. Saya masih takut Neraka. Tapi saya tidak mau dipaksa

Saya ingin sekali menjadi Muslim yang taat, tidak seperti orang-orang zaman sekarang. Caranya dengan memahami Islam lebih dalam ….. namun justru timbul pertanyaan-pertanyaan seperti di atas. Dan kemungkinan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut justru mengarahkan saya kepada ketidakpercayaan.

Salam.

Sophislam,

Mari kita bahas isi hati Anda satu persatu, mudah-mudahan ada titik temu. Amin.

Saya seorang mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi Islam yang sedang menyelesaikan studi akhir saya. Saya terlahir dari kelurga Muslim (entah Muslim yang mana).

Sudah hampir setahun ini saya malas sekali untuk menyelesaikan skripsi saya di luar kesibukan saya yang juga bekerja. Kemudian saya berpikir untuk apa saya kuliah capek-capek, kan utamanya ibadah, bukan mencari ilmu seperti ini. Okelah kalau berbicara ibadah, banyak yang bilang bahwa ibadah tidak hanya sekedar shalat dll. Tapi banyak hal lain, jika ditujukan kepada Allah juga termasuk ibadah. Namun setahu saya juga dalam Islam hal-hal lain tersebut pun ada yang boleh ada yang tidak. Walaupun ‘terlihat’ baik, tapi sebenarnya ada beberapa hadits / pandangan / aliran yang melarangnya: musik, fotografi, sepakbola, dsb.

Sophislam:

memang benar, bahwa di dalam Islam, ada hal-hal yang dibolehkan, dan ada hal-hal yang dilarang. Hal larang-melarang ini sebenarnya juga bukan khas Islam: agama lain pun juga mempunyai larangan dan perintah yang keseluruhannya bersifat unik. Hindu misalnya, melarang umatnya mengkonsumsi daging sapi. Kristen, dikenal sebagai agama yang melarang umatnya bercerai. Budha termasuk agama yang melarang manusia makan segala mahluk yang berdarah, jadilah mereka umat yang vegetarian – karena buah dan sayur-sayuran tidak berdarah.

Nah sampai di sini, sebaiknya perhatian Sdr. jangan hanya tertuju kepada Islam – di dalam kaitannya dengan larang-melarang ini. Agama mana pun di muka bumi ini pasti punya batasan mana yang boleh dan mana yang haram.

Sebenarnya pertanyaannya bukan terletak pada: mengapa banyak hal di dalam suatu agama dilarang. Pertanyaannya sebaiknya Sdr. ubah: ridho-kah saya dengan peraturan dan ajaran agama saya (yaitu Islam)?

Saat saya kecil dan bersekolah di madrasah, setiap Senin pagi ada upacara bendera. Salah satu agendanya adalah pengucapan ikrar siswa madrasah secara bersama-sama. Begini bunyi ikrarnya:

Radhitu – billahi – robba. …. “aku ridho Allah menjadi Tuhanku”.

Wabil Islami – diina….. “dan aku ridha Islam menjadi agamaku”.

Wabil muhammadin nabiya – wa – rasulaa ….. “dan dengan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulku”.

Jadi kita harus ridha dengan Islam, karena kita adalah orang Islam; begitu juga orang Kristen dengan Hukum Kristen.

Mutlak, kita harus ridho dengan seluruh peraturan dari agama kita masing-masing. Kalau kita Muslim, maka taatlah pada aturan Islam; kalau kita Kristen, maka taatlah dengan Hukum Kristen, begitu seterusnya. Kalau kita beragama Islam, itu artinya kita ingin dikatakan Muslim oleh orang lain. Namun kemudian bagaimana orang lain mengatakan kita adalah Muslim, kalau perbuatan kita tidak merefleksikan Hukum Islam? Jadi, kalau kita ingin dikatakan Muslim, maka perbuatlah sesuai dengan Hukum Islam, yaitu taat pada larangan dan perintahnya. Bukankah itu logis?

Mulai dari situ saya berniat untuk semakin mendalami Islam. Mendalami yang mana yang boleh, yang mana yang tidak. Namun seperti kenyataannya, dan sebelumnya yang juga saya tahu, memang banyak sekali perbedaan-perbedaan dalam kalangan umat Muslim itu sendiri. Saya membaca situs-situs Islam / melihat video-video ceramah dll. Memang cukup sulit dan sangat-sangat membingungkan dari berbagai pandangan tersebut. Katanya, hidup harus memilih. Oke saya (paksakan) memilih yang banyak sepahamnya dengan saya. Secara garis besar saya memilih pandangan yang menyatakan bahwa musik / fotografi / dll itu dilarang. Mungkin kata ‘dilarang’ selaras dengan kata ‘haram’. Namun masalah yang lebih peliknya timbul: pecarian peningkatan iman saya membuahkan mata uang yang mempunyai dua sisi. Sisi yang pertama, seperti tersebut tadi di atas, saya memilih untuk sepaham yang melarang musik / fotografi dll. Namun juga menghasilkan sisi yang berlawanan. Kenapa batasan itu semakin ketat, semakin Islam memenjarakan saya.

Sophislam:

Islam tidak pernah memenjarakan Sdr. Yang kurang pada diri Sdr. adalah keridhaan atas Islam. Kalau orang lain – termasuk saya – ridha dan bisa ridha dengan Islam beserta seluruh ajarannya, mengapa Sdr. tidak? Bukan begitu?

Cobalah Sdr. perhatikan dengan baik. Banyak saudara-saudara kita yang begitu mencintai Islam, baik laki-laki mau pun perempuan. Mereka gemar menghadiri Majelis taklim, atau mendengarkan taushiyah, atau memperbanyak amalan saleh dsb. Bukankah mereka juga mengetahui bahwa di dalam Islam terdapat banyak perbedaan pandangan? Jelas mereka faham, namun bukankah mereka lebih mencintai Islam seolah tidak ada apa-apa di dalam Islam? Mereka hanya bergiat di dalam ibadah, dan itu saja sudah membuat Allah Swt ridha. Kalau mereka bisa, mengapa Sdr. tidak?

Masalah perbedaan pandangan, itu lumrah. Perbedaan pandangan justru di dalam Islam dianggap sebagai hadiah Allah untuk umatNya. Tertulis di dalam suatu Alhadis yaitu, “perbedaan di kalangan ulama merupakan hadiah (Tuhan) untuk umat”. Jadinya kalau ada perbedaan itu, kita harus malah bersyukur, bukan membenturkannya satu dengan yang lain.

Ada hal-hal yang tidak boleh dilanda perbedaan, dan ada juga hal-hal lain yang boleh dilanda perbedaan.

Hal yang tidak boleh ada perbedaan itu misalnya, di dalam hal shalat fardhu, jumlahnya, arah kiblatnya, puasa ramadhannya, naik haji ke Mekahnya, siapa Rasulnya, dsb.

Hal yang boleh dilanda perbedaan itu misalnya, jumlah rakaat shalat tarawih, hakekat puasa sunnah Rajab, shalat tarawih di rumah atau di Masjid, dsb. Point-point ini tidak masalah kalau dilanda perbedaan pandangan.

Islam berdiri di atas lima rukun, yaitu (1) mengucapkan dua kalimat syahadat, (2) shalat wajib lima kali sehari semalam, (3) puasa Ramadhan, (4) membayar zakat, dan terakhir (5) berhaji ke Mekah minimal sekali seumur hidup kalau mampu.

Kemudian iman Islam meliputi 6 rukun yaitu (1) percaya kepada Allah Swt, (2) percaya kepada MalaikatNya dn mahluk ghaib lainnya, (3) percaya kepada kitabsucinya, (4) percaya kepada NabiNya, (5) percaya kepada takdirNya, dan ke (6) percaya kepada kiamat.

Selama Sdr. tidak MELENCENG dari rukun Islam dan Iman tersebut di atas, Sdr. tetap mendapat ridha dari Allah Swt dan seluruh Muslim.

Di luar itu, ada kesalehan prima yang harus Anda perbuat yang menjamin Sdr. mudah masuk Surga, yaitu

  • banyak zikir dan salawat,
  • banyak memberi makan kaum dhuafa. Saya katakan ‘memberi makan’, bukan uang / modal, karena setepar-teparnya orang, bukan uang atau baju atau rumah yang hangat, atau jabatan yang menguatkan manusia, kecuali makan cukup dan layak, itu sudah lebih dari segala-galanya.
  • rajin mengaji karena mengaji akan menjadi cahaya kubur kita,
  • shalat tahajud dan terakhir
  • jangan lupa shalat fardhu. Hal pertama yang ditanya Allah di hari kebangkitan adalah shalat; kalau bagus shalatnya, maka Allah Swt akan mempermudah urusan kita (artinya masuk Surga); kalau buruk catatan shalat kita, maka Allah Swt akan mempersulit urusan kita.

Setelah itu kita tinggalkan tiga dosa prima, karena kalau dilakukan maka kita akan dilempar ke Neraka, TIDAK PERDULI sebanyak apa amal saleh kita, yaitu:

  • mati di dalam keadan atau karena bunuh diri,
  • mati di dalam keadaan durhaka kepada kedua orang-tua, dan terakhir,
  • mati di dalam keadaan murtad, kafir atau syirik / mempersekutukan Allah Swt dengan yang lain.

Dan terakhir, bergaullah dengan orang alim ulama, orang saleh, orang sidiq (orang benar). Jadi dengan kata lain, kita harus pandai-pandai pilih teman bergaul.

Kalau Sdr. komit untuk memantapkan:

  1. Rukun Islam,
  2. Rukum Iman,
  3. Kemudian berbuat kesalehan prima,
  4. Kemudian menjauhi dosa prima,
  5. Dan banyak bergaul di tengah orang alim dan saleh, ….

Maka cukuplah Allah Swt ridha kepada Sdr. Tidak perlu lagi Sdr. mencemaskan perbedaan-perbedaan ini dan itu, karena perbedaan itu pun lumrah, merupakan Hukum alam, kalau dibahas tidak akan ada habisnya sampai kiamat. Kalau kita terus mengkhawatirkan perbedaan-perbedaan itu, kapan kita ibadahnya? Bener kan-ya?

Dari sini mulai terlihat bahwa Islam tidak pernah memenjarakan umatnya sendiri.

Masalah yang satu menimbulkan masalah yang lain. Mungkin bisa dibilang masalah itu meningkat. Setelah ‘berhadapan’ dengan dua mata koin tersebut, saya berhadapan dengan pertanyaan baru. Mungkin sudah menjadi ‘hukum alam’ jika saya mempertanyakan batasan-batasan Islam berimplikasi dengan ‘mencari’ batasan dalam agama lain, Kristen dari berbagai sumber, sampai akhirnya bertemu dengan situs anda. Dari situ saya yakin bahwa, yang sebelumnya menurut saya ‘jalan alternatif’ yaitu Kristen, adalah salah. Terutama dalam hal orisinalitasnya.

Sophislam:

ya saya sependapat dengan Sdr. Kristen adalah agama sesat, bukan made-in-heaven. Kristen adalah agama produk Iblis. Dari seluruh aspek dan lini, Kristen adalah salah dan tidak matematis. Tidak mungkin agama Tuhan tidak benar dan tidak sistematis.

Jawaban atas kesalahan Kristen belum bisa menjawab (memuaskan) pertanyaan saya atas batasan-batasan Islam yang mana yang benar. Kenapa Islam begitu membatasi manusia? Dan tidak dipungkiri lagi pemikiran saya membesar menjadi mempertanyakan Tuhan dan kebenaran agama Islam.

Sophislam:

untuk pertanyaan Sdr. tadi, mengenai batasan-batasan Islam tentang mana yang benar, sudah saya bahas di atas, yaitu kita tidak perlu terlalu terjerumus pada perbedaan pandangan, karena beda pandangan itu justru lumrah, yang penting Sdr. komit untuk memantapkan rukun Islam, rukun iman, mengamalkan lima kesalehan prima, menjauhi tiga dosa prima, dan terakhir banyak bergaul dengan orang saleh dan alim ulama.

Kemudian pertanyaan Sdr., mengapa Islam begitu membatasi manusia? Sebenarnya Islam tidak pernah membatasi manusia. Mungkin masalahnya terletak pada diri Sdr. sendiri: sementara Muslim lainnya tidak menganggap Islam terlalu membatasi umat manusia, tiba-tiba sekarang Sdr. berkata bahwa Islam terlalu banyak membatasi manusia, bener kan ya?

Tampaknya yang kurang pada diri Sdr. adalah Sdr. TIDAK (TERLALU) MENCINTAI Islam, padahal Muslim lainnya mencintai Islam begitu besar. Kalau cinta kita terlalu kecil, atau bahkan tidak ada sama sekali kepada agama kita, ya tentu saja agama tersebut jadi terlihat mempunyai banyak tempat untuk dikritik, bener kan ya?

Islam sudah benar, Islam itu sudah mantap, baik dari segi logika, moralitas, filsafat mau pun originalitasnya. Setelah kita yakin bahwa Islam itu benar, maka selanjutnya adalah kita PATUT mencintai Islam, bukan mempertanyakan atau mengkritisi Islam.

Bicara mengenai mengkritisi atau mempertanyakan Islam, saya ingin mengatakan kepada Sdr., bahwa kalau saja Islam itu bisa bicara, pasti Islam lah yang akan mengkritisi Sdr., bukan begitu? Islam akan bertanya kepada Sdr., apa salah Islam? Apa kurangnya Islam? Di mana cacatnya Islam? Ketika banyak individu jempolan terkagum-kagum kepada Islam (dan Muhammad saw), Sdr. justru menghadirkan diri sebagai pengkritisi Islam. Islam sudah berumur ribuan tahun, sementara umur Sdr. belum seberapa. Islam sudah melewati ribuan tahun penuh goncangan dan hempasan, dan terbukti tetap survive. Padahal pada saat yang bersamaan agama lain – yang juga melewati banyak goncangan dan turbulensi- telah berubah bentuk bahkan berubah nama. Itu menandakan agama lain bukanlah agama made-in-heaven. Kristen itu sudah berubah bentuk, bahkan telah berubah visi-misi nya. Dulu Kristen melarang manusia awam pandai baca-tulis, namun sekarang Gereja berkoar-koar bahwa Kristen mengajarkan manusia untuk pandai baca-tulis. Bukankah itu tandanya Kristen adalah agama bunglon?

Jadi, seperti yang Sdr. katakan tadi, bahwa Sdr. ingin mempertanyakan Islam, maka yang pasti keadaannya berbalik: Islamlah yang seharusnya mempertanyakan Sdr. Dapatkan Sdr. bertahan ribuan tahun tanpa berubah sedikit pun baik di dalam hal bentuk, nama mau pun visi-misi? Sdr. harus lihat betapa banyak individu yang mencintai Islam tanpa mempertanyakan Islam sedikit pun, dan itu pun karena mereka melihat bahwa Islam pantas untuk dicintai karena tidak mempunyai kesalahan di dalam setiap aspek mau pun lininya.

Jadilah saya sekarang dalam posisi yang sangat-sangat lebih membingungkan dari posisi awal bertanya. Posisi saya sekarang tidak lagi sebagai seorang Muslim yang mempertanyakan hal-hal biasa seperti di atas. Posisi saya yang sedang kebingungan ini menjadi posisi di antara tetap menjadi Muslim atau atheis. Mau ke atheis takut, mau ke Islam juga masih sangat bertanya.

Sophislam:

atheisme? Mengapa atheisme menjadi nominasi di dalam alternatif Sdr?

Sejak sudah terbukti bahwa Islam merupakan agama yang benar, sebagai agama made-in-heaven, maka jelaslah bahwa apapun itu selain Islam – termasuk atheisme- tidak dapat lagi dipertimbangkan. Atheisme punya apa untuk mengatur kehidupan?

Muhammad Saw, adalah satu dari sekian Nabi Tuhan, yang keseluruhan Nabi tersebut datang dengan membawa mukjizat Tuhan, yang mana mukjizat itu membuktikan bahwa seluruh Nabi termasuk Muhammad sebagai Nabi terakhir, merupakan utusan Tuhan, dan pada akhirnya itu membuktikan bahwa Tuhan memang ada. Mukjizat-mukjizat itu sekarang masih ada bekasnya, jadi bukan dongeng atau isepanjempol! Maka bagaimana mungkin ada seorang manusia waras (seperti saya dan Sdr.) bisa sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan itu tidak ada?

Muhammad Saw contohnya, menyatakan banyak nubuat yang keseluruhan nubuat itu sekarang terbukti. Bukankah itu merupakan mukjizat? Dan bukankah yang membuat mukjizat hanya Tuhan? Apakah Muhammad secara an-sich dapat membuat nubuat yang gemilang? Tidak bisa! Jadi ada oknum maha dahsyat yang bekerja di belakang Nabi Muhammad Saw (dan Nabi lainnya), dan oknum itu adalah Tuhan, Allah Swt!

Banyak pertanyaan lah pokoknya mengenai Islam, yang inilah, itulah, kalau kata anda “delele” (dan lain-lain). Saya sudah banyak membaca, melihat, ‘delele’. Sebelumnya saya sempat tertarik dan sepaham tentang video-video dari dr. Zaki Naik. Yang kata-katanya lebih mudah ditangkap. Entah apa itu namanya rasional-kah, logika-kah, ilmiah-kah, gatau lah apa pokoknya. Namun saya kembali jadi tidak sependapat dengan beliau dalam ceramahnya mengenai musik. Masih rasanya mempertanyakan ‘belenggu’ dalam Islam. Saya rasanya tetap seperti menyetir mobil yang entah mau kemana.

Sophislam:

memangnya Zaki naik bilang apa soal musik?

Banyak orang, termasuk Muslim berkata bahwa Islam mengharamkan musik. Mereka melengkapi pendapat mereka dengan Alhadis yang menegaskan bahwa musik adalah haram. Benarkah demikian?

Keharaman musik harus dilihat dari levelnya.

Pertama, Islam TIDAK MENGHARAMKAN MUSIK selama musik itu merupakan musik ‘hidup’, bahkan kehadiran musik pada level ini dibutuhkan. Apa maksudnya musik hidup? Apakah artinya live music? Bukan yang itu.

Terdapat kisah di suatu hari idul fitri, Muhammad Saw masuk ke rumah sayidina Umar. Di dalam rumah itu terdapat beberapa gadis yang sedang memainkan terbang (sejenis rebana) sambil bernyanyi. Itu namanya musik, bro. Para gadis tersebut bermain musik dan bernyanyi dengan gembiranya.

Sejurus kemudian Muhammad memandangi para gadis tersebut dengan tatapan beku, seolah marah. Melihat gelagat itu, sahabat Umar langsung berkata HENTIKAN BERMUSIK! – kepada para gadis yang sedang bergembira itu.

Menyadari situasi tersebut, Muhammad Saw menjadi gelagapan, dan akhirnya berkata JANGAN LARANG MEREKA BERMUSIK. SUNGGUH SETIAP UMAT MEMPUNYAI HARIRAYA-NYA MASING-MASING. DAN HARIRAYA KITA ADALAH HARI INI. Ini menandakan apa? Ini mengajarkan apa?

Insiden ini mengajarkan, bahwa pada hariraya (seperti Idul Fitri) bermusik merupakan kebutuhan, bukan sebaliknya: dilarang. Kalau musik memang dilarang, mengapa Muhammad Saw membiarkan para gadis itu bernyanyi bergembira menggunakan terbang?

Ada lagi. Pada saat sahabat mendirikan Masjid Nabawi, Muhammad Saw turut membantu berpeluh mengangkat batu-batu untuk dinding. Pada saat itulah, Muhammad Saw melantunkan nyanyian untuk mengusir penat. Ini menandakan bahwa Islam tidak melarang musik mau pun bernyanyi. Ingat juga ketika kaum Anshar menyambut kedatangan rombongan hijrahnya Muhammad Saw dari Mekah, apa yang mereka lakukan? Mereka menyanyikan pujian dan sanjungan kepada Muhammad Saw, melalui nyanyian yang sekarang masih kita ingat: TOLA-AL BADRUL ALAINA – – MIN TSANIATIL WADA – – dst.

Ini menandakan apa? Ini menandakan bahwa Islam tidak mengharamkan musik.

Pada saat walimatul ursyi, atau yang lebih dikenal dengan resepsi pernikahan, Muhammad Saw juga menganjurkan untuk mengadakan musik, dengan tujuan supaya resepsi kawinan dibuat sesemarak mungkin supaya kaum muda lainnya yang masih bujang TERGUGAH juga untuk menikah.

Jadi musik justru dibutuhkan, selama musik itu hidup. Artinya hidup adalah, bahwa musik itu memang muncul spontan, dan untuk memeriahkan suasana, untuk syiar dsb.

Kalau eksistensi musik itu sudah melebihi dosis, barulah musik diharamkan. Yang seperti apa yang dikatakan melebihi dosis? Intinya, kalau musik itu muncul di luar Idul Fitri, di luar walimatul ursyi, di luar penyambutan tamu Agung, di luar niat untuk mengusir penat saat bekerja, maka musik adalah haram.

Musik seperti yang kita kenal sekarang ini merupakan “musik mati”. Musik itu muncul begitu saja, melalui komputer, rekaman, televisi, radio, dsb. Kita tidak sedang ngepain-ngepain, ada musik. Tidur, ada musik. Makan, ada musik. Kita tidak sedang di dalam resepsi pernikahan, tidak sedang di hariraya, tidak sedang menyambut tamu Agung, mengapa ada musik?

Kalau musik itu dihasilkan oleh mega-industri, maka pastilah itu haram, karena musik di dalam konteks ini tidak muncul secara spontan.

Hal lain yang harus kita ingat mengenai keharaman musik ini: coba tengok masa lalu ketika listrik belum ditemukan. Apakah pada masa itu ada musik seperti yang kita kenal melalui mega-industri musik? Tidak ada. Kala itu kehidupan senyap dan simple. Karenanya tidak ada musik, dan musik tidak dibutuhkan. Tidak ada orang yang mati (tewas) kala itu karena ketiadaan musik: mereka sehat-sehat saja walau pun tidak ada musik. Lantas sekarang ketika musik dihasilkan oleh megaindustri, kita bermuram-durja ketika dikatakan musik adalah haram di dalam Islam? Mengapa bisa begitu?

Apakah mungkin, keharaman suatu hal ditentukan dari kadar availabilitasnya? Dulu ketika musik “masih susah” karena tidak ada listrik dan oleh karenanya tidak ada industri musiknya, seluruh umat sepakat bahwa musik adalah haram dan tidak dibutuhkan. Namun sekarang ketika sudah ada listrik dan bermunculan industri musik, tiba-tiba umat memprotes ajaran Islam bahwa musik adalah haram?

Terakhir adalah, apakah kita akan mati kalau tidak ada musik? Apakah kita akan tidak bisa bekerja kalau tidak mendengar musik? Faktanya, kita dan kehidupan tetap aman sejahtera tanpa musik. Dan kalau Islam mengajarkan bahwa musik adalah haram, apakah pantas kita memprotes? Islam tidak melarang kita makan nasi, karena nasi itu penting buat hidup dan bekerja; Islam tidak melarang kita tidur karena ia-nya penting untuk kesehatan. Islam hanya melarang musik yang tidak mempunyai efek ilmiah apapun terhadap tubuh: bukankah sudah tepat pendirian Islam bahwa musik adalah haram?

Dari sini jelas bahwa Islam tidak salah: Islam selalu benar, karena dinyatakan oleh Allah Swt, Pemilik kehidupan, yang disampaikan oleh RasulNya yang terakhir yaitu Muhammad Saw.

Namun juga patut Sdr. ingat, seperti yang saya uraikan di atas, selama kita komit memantapkan rukun Islam, rukun iman, berbuat amal saleh yang prima, meninggalkan dosa prima, dan banyak bergaul dengan kaum saleh dan alim ulama, shalat fardhu tidak pernah alpa, maka kita berani jamin bahwa Allah Swt akan tetap ridha kepada kita semua.

Dari situ saya coba ‘beralih’ ke anda. Karena menurut saya jawaban anda juga rasional, logic, delele. Hal tersebut selaras ketika saya menemukan dan membaca salah satu tulisan anda (walau pun sebelumnya saya sudah baca yang lain) tentang hidup adalah permainan. Mungkin bahasa halusnya, ujian kali ya? Saya sependapat walau pun sebelumnya saya juga tahu bahwa hidup adalah ujian. Mungkin jadi sependapat karena faktor tulisan anda yang lebih diubah walau pun maknanya sama menjadi permainan.

Namun saya balik lagi jadi ragu. Masa iya Tuhan mau main-main? Mau nguji? Macem-macem dll. Mungkin jika anda pernah lihat salah satu debatnya Zakir Naik dengan Atheis, pertanyaan Atheis-nya kaya yang saya sebutin itu. Ya intinya saya masih mempertanyakan saja. Ngapain juga Tuhan menguji, macem-macem, delele. Emang Tuhan pengen punya temen?

Sophislam:

saya faham apa yang Sdr. maksudkan.

Islam adalah satu-satunya agama yang benar, dan kemudian Islam adalah satu-satunya agama yang rasional. Kemudian, Islam adalah satu-satunya agama yang mempunyai jawaban untuk seluruh pertanyaan manusia. Ingatlah, bahwa seluruh pertanyaan mempunyai jawabannya, dan jawabannya ada di dalam Islam, kecuali untuk satu pertanyaan yang tidak pernah ada jawabannya, pertanyaan itu adalah: TUHAN ITU TERBUAT DARI APA? TUHAN ITU KAPAN LAHIRNYA? TUHAN ITU BAGAIMANA MENDAPATKAN KEKUASAAN-NYA? TUHAN ITU DAPAT ILMU DARI MANA?

Itulah satu-satunya pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Dan untuk pertanyaan itu, Allah mengajarkan kita untuk cukup menjawab: jangan PERTANYAKAN Tuhan, namun pertanyakan saja dirimu sendiri, apakah sudah menjadi manusia yang baik.

Begitu juga dengan ayat Alquran bahwa hidup ini adalah permainan. Ayat ini adalah untuk memberi jawaban, KALAU-KALAU ada manusia yang bertanya mengenai kehidupan ini. Kalau ada manusia yang bertanya, maka Alquran sudah mempunyai jawaban. Pertanyaan itu adalah:

  • Mengapa ada kematian? Bukankah Allah Kuasa menumpas kematian?
  • Mengapa ada perang? Bukankah Allah Kuasa menumpas perang?
  • Mengapa ada kekafiran? Bukankah Allah Kuasa menumpas kekafiran?
  • Mengapa ada penyakit dan kemiskinan? Bukankah Allah Kuasa menumpas penyakit dan kemiskinan?
  • Mengapa ada Iblis dan Setan? Bukankah Allah Kuasa untuk menumpas Iblis dan Setan?
  • Mengapa ada Neraka? Bukankah Allah Kuasa untuk menumpas Neraka?

Di satu pihak, bukankah Allah mahasayang? Bukankah Allah mahakasih? Dan di lain pihak, bukankah Allah mahakuasa?

Kalau Allah mahasayang-mahakasih, dan kemudian juga mahakuasa, lantas mengapa Allah tidak tumpas seluruh kepedihan itu dari umatNya sendiri? Tidakkah ini menjadi pertanyaan buat Sdr?

Jawabannya mudah: karena hidup di muka bumi ini adalah pemainan, seperti yang dikatakan di dalam Alquran. Karena permainan-lah, maka Allah BIARKAN ADA kemiskinan, perang, kekafiran, Setan, Iblis, penyakit, kematian dsb.

Kalau Alquran tidak mempunyai ayat seperti itu, maka dengan apa pertanyaan itu akan dijawab? Di satu pihak kita diajarkan bahwa Allah mahakasih-mahasayang, kemudian di lain pihak kita diajarkan bahwa Allah mahakuasa. Lantas mengapa Tuhan membiarkan ada kemiskinan dan seluruh kepedihan tersebut? Bukankah Allah berkuasa menumpas itu semua? Apakah Allah yang mahakuasa tidak Kuasa menumpas kemiskinan, kematian, Setan, dan seluruh kepedihan tersebut? Pada akhirnya seluruh umat manusia akan meragukan kemahakuasaan Allah. Itulah sebabnya ada ayat tersebut di dalam Alquran, yaitu hidup ini adalah permainan.

Coba bayangkan kalau hidup ini tidak ada kemiskinan, tidak ada kematian, tidak ada penyakit, tidak ada perang, tidak ada Setan, Iblis, dsb. Maka buat apa ada akal? Buat apa ada fikiran? Buat apa ada kitabsuci? Buat apa ada Nabi dan Rasul?

Jadi, penempatan ayat ini bukan dengan mengatakan, buat apa Tuhan menguji? Apakah Tuhan ingin punya temen? Apakah Tuhan ingin main-main? Bukan begitu penempatannya. Penempatannya adalah, bahwa Alquran mempunyai seluruh jawaban, dan kalau ada yang bertanya mengapa Allah yang mahakuasa tidak menumpas seluruh kepedihan, maka jawablah dengan ayat permainan ini.

Ingatlah, bahwa tidak ada kitabsuci yang mempunyai statement ini: jadi tidak ada satu agama yang mempunyai jawaban untuk pertanyaan ini, KECUALI ISLAM – dengan adanya ayat ini.

Terlepas dari itu, ada hal lain yang harus Sdr. ingat. Di dalam Alquran ada ayat FA-ALU-LI-MAA-YURIID – – yang artinya ALLAH BERBUAT APA SAJA YANG DIA KEHENDAKI.

Ayat ini mengandung arti, bahwa Allah akan berbuat apa saja yang Dia kehendaki terhadap seluruh mahlukNya, karena Dialah Yang Mahakuasa dan Maha-berkehendak; tidak ada satu pun yang dapat menghalang-halangi Dia. Namun ada satu hal: apapun yang Allah Swt lakukan terhadap seluruh mahlukNya, maka hal itu TIDAK AKAN MENGANIAYA ATAU MERUGIKAN para mahluk, sedikit pun TIDAK!!!

Jadi kalau pun Allah ingin menurunkan cobaan atau ujian, maka tetap itu tidak akan menganiaya atau merugikan mahluk mana pun. Allah Swt hanya memerintahkan yang bersangkutan untuk bersabar, berserah diri dan bertawakal, karena memang seharusnya-lah seluruh mahluk berserah-diri kepadaNya. Seperti sabda Nabi Muhammad Saw: AJAIB SEKALI URUSAN ORANG BERIMAN ITU. KALAU IA DITIMPA MUSIBAH, IA AKAN BERKATA “INNALILLAHI WA INNA-ILAIHI RAJIUUN”. ITU BAIK BUATNYA. DAN KALAU IA MENDAPAT KARUNIA, IA AKAN BERKATA “ALHAMDULILLAH”. ITU JUGA BAIK BUAT DIRINYA. Artinya orang ini total berserah diri kepada Allah Swt, dan apapun yang terjadi atas dirinya, hal itu tidak merugikan dirinya, bahkan malah beruntung.

Kesimpulanya dari saya curhat ini yaitu mohon yakinkan saya mungkin dengan cara menjawab pertanyan di paragraph di atas ini. Mungkin kebingungan saya berakhir.

Apakah dengan kesalahan Kristen otomatis kita harus percaya Islam dengan segala batasan2nya?

Sophislam:

ya benar, Kristen sudah terbukti salah, sehingga tidak layak dijadikan sebagai THE LAST STOP TO REACH THE PARADISE.

Kemudian, dengan demikian kita harus percaya dengan Islam.

Mengenai batasan, sudah saya uraikan di atas, bahwa seluruh agama juga mempunyai batasan; negara pun juga mempunyai batasan, negara mana saja.

Supaya Sdr. dapat menerima batasan yang diajarkan Islam, maka caranya adalah PERDALAMLAH CINTA SAUDARA KEPADA ISLAM. Itulah satu-satunya cara supaya Sdr. tidak lagi mengkhawatirkan perbedaan pandangan di dalam Islam. Dan ingatlah, bahwa perbedaan di dalam Islam TIDAK MENGENA POKOK AJARAN ISLAM, melainkan hal-hal yang tidak prinsipil, seperti puasa sunnah, shalat sunnah, tatacara wudhu, status kehalalan musik dsb.

Sdr. hanya diminta untuk memantapkan komitmen Sdr. pada rukun Islam, rukun iman, menjauhi tiga dosa prima, mengamalkan lima kesalehan prima, dan kemudian banyak-banyak bergaul dengan kaum saleh dan alim ulama. Dan terakhir, pupuklah cinta Sdr. kepada Islam, karena hanya itu masalah yang mengganggu Sdr. selama ini.

2. Apakah Allah / Tuhan benar-benar ada

Sophislam:

ya, Allah Swt, Tuhan semesta alam, benar-benar ada, dan berkuasa.

Mau bukti? Tidak usah jauh-jauh, cukup Alquran saja sebagai bukti.

Pertama dari segi nubuat yang terkandung baik di dalam Alquran mau pun Alhadis, seluruhnya terbukti. Kalau Allah Swt / Tuhan tidak ada, mengapa nubuat itu ada, dan mengapa kemudian terbukti? Terlalu hina kalau kita berani menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, sementara nubuat Alquran mau pun Alhadis satu per satu terbukti di depan mata kita.

Kedua, Alquran merupakan karya ilmiah intelektual yang paling mencengangkan. Satu contohnya, Alquran dirancang dengan design 19 (miraculous 19) – silahkan Sdr. cari referensinya di google. Jelas bahwa Alquran bukan buatan Muhammad. Bayangkan, seluruh jumlah ayat di dalam Alquran habis dibagi 19, seluruh jumlah huruf Alquran habis dibagi 19, jumlah basmalah habis dibagi 19, jumlah ayat pendek habis dibagi 19, jumlah ayat panjang habis dibagi 19, seluruh surah yang dimulai dengan huruf hijaiyah, jumlahnya habis dibagi 19, DAN SETERUSNYA ……

Bagaimana mungkin kita bisa bisa menyatakan bahwa Tuhan / Allah Swt tidak ada, sementara Muhammad sendiri tidak mungkin membuat Alquran itu? Kalau bukan Tuhan, lantas siapa yang berada di belakang keajaiban Alquran?

3. Dari teori-teori tentang pencahayaan kemudian dilanjutkan penginderaan mata berlanjut lagi ke otak yang saya baca, entahlah disebut teori apa itu, mengarahkan segala sesuatu itu bersumber dari otak kita sendri.

Sophislam:

logika Sdr. terbalik. Bukan begitu cara melihatnya.

Memang adalah benar bahwa segala sesuatu bersumber dari otak kita. Namun, pernahkah Sdr. mendengar istilah BUILT-IN? Dan Sdr. pasti tahu apa maksudnya BUILT-IN itu kan?

Seorang bayi yang baru keluar dari rahim, langsung ingin menyusu ke ibunya. Dari mana dia tahu bahwa di Dunia ini ada organ susu dari seorang ibu? Itu namanya BUILT-IN. Sang bayi tidak butuh citra apapun dari Dunia ini untuk masuk dulu ke otaknya hanya untuk bisa menyusu!!! Memang benar instink itu datang dari otak (ya dari mana lagi kalau bukan dari otak?). Namun bukankah sang bayi tidak perlu menunggu masukan ke otaknya, bukan?

Contoh lain: menangis. Apakah manusia mau pun bayi butuh suatu citra terlebih dulu untuk masuk ke otaknya, kemudian akan diproses oleh otak, dan produknya adalah MENANGIS? Oh tidak! Kemampuan menangis adalah BUILT-IN di dalam diri seorang manusia.

Begitulah hubungan antara Tuhan dengan manusia. Sejak jaman dahulu kala manusia sudah mempunyai wacana mengenai Tuhan, sense mereka sudah mengenal dan membutuhkan Tuhan. Itu namanya BUILT-IN. Jadi agama bukan bikinan manusia, melainkan sudah BUILT-IN di dalam fikiran manusia!!! Belum lagi manusia mampu membuat karya apapun, maka agama itu TERLEBIH DULU sudah BUILT-IN di dalam kemanusiaan. Jadi bagaimana Sdr. mau pun siapa pun dapat menyatakan bahwa agama merupakan bikinan otak manusia?

Kaum atheis berpendapat bahwa agama adalah karya otak manusia. Teori mereka ada kurangnya, yaitu bahwa mereka belum mengenai apa itu BUILT-IN.

4. Apakah Tuhan hasil pemikiran manusia sendiri?

Sophislam:

seperti yang sudah saya uraikan di atas, Tuhan bukanlah hasil pemikiran manusia, melainkan sesuatu yang keberadaannya sudah BUILT-IN di dalam kemanusiaan. Belum sempat manusia menghasilkan (merekayasa) Tuhan melalui fikiran mereka, Tuhan tersebut sudah terlebih dulu ada, begitu.

Coba Sdr. fikirkan baik-baik apa yang akan saya sampaikan ini. Dapatkah Sdr. atau siapa pun mengajukan bukti mau pun teori bahwa atheisme (faham yang menolak keberadaan Tuhan) sudah muncul di tengah manusia pada tahun 1700an? Atau 1600an? Atau bahkan 900an Masehi? Atau lebih awal lagi, apakah sudah ada masyarakat yang atheis yang tidak mengakui Tuhan?

Dapatkah Sdr. fahami bahwa atheisme muncul HANYA di tahun 1800an? Tidak pernah lebih awal lagi dari tahun itu. Tahukah Sdr. itu apa artinya?

Pertama, kebenaran pastilah setua peradaban. 1 + 1 = 2 adalah suatu kebenaran, dan itu munculnya seiring kemunculan manusia. Dan itu pun universal, artinya 1 + 1 = 2 berlaku di seluruh muka bumi, bukan di Jawa saja, atau di Inggris saja.

Itulah sebabnya, agama, yang merupakan kebenaran akan Tuhan, sudah setua umur manusia di bumi (walau pun agama-agama tersebut masih primitif, belum sesempurna Islam, karena Islam disempurnakan pada saat Haji Wada’).

Cinta seorang anak kepada ibu, merupakan suatu kebenaran: tidak ada satu peradaban yang mengharamkan cintakasih seorang anak kepada ibunya. Maka dari itu cintakasih anak-anak kepada ibu mereka sudah eksis setua manusia: itulah kebenaran. Dan itu universal. Kemudian bagaimana dengan atheisme? Kalau atheisme merupakan kebenaran maka mengapa hadirnya HANYA DIMULAI TAHUN 1800AN?

Sdr. atau siapa pun juga TIDAK AKAN DAPAT mengajukan bukti bahwa atheisme telah muncul di bumi ini jauh di jaman purba. Pun atheisme itu tidak universal, karena dikatakan bahwa atheisme muncul hanya di Eropa – kala itu. Bagaimana kemudian atheisme dapat dikatakan kebenaran?

Kita langsung ke bagian inti mengenai atheisme ini. Ada pertanyaan: mengapa atheisme munculnya dimulai tahun 1800an?

Di tahun 1700an ada peristiwa penting yang mengubah wajah Dunia secara fundamental, yaitu revolusi industri (rendust) dengan pemicu ditemukannya mesin uap oleh james watt. Dengan ditemukannya mesin uap ini, manusia mulai mempunyai alat yang dapat bergerak sendiri sesuai dengan mekanisme yang diinginkan selama ada penggeraknya yaitu kayu bakar, api dan air untuk dididihkan (kemudian kayu bakar ini akan diganti dengan listrik) supaya menghasilkan uap yang mempunyai daya dorong yang kuat.

Tahap pertama: Mesin uap ini digunakan di banyak aplikasi (sesuai design yang diinginkan), maka muncullah industri untuk menghasilkan banyak barang kebutuhan seperti sepatu, tas, pelana kuda, baju, pemintal benang, perajut kain, kuali, kompor, kertas, pemotong kayu, pencetak adonan batu dsb.

Tahap kedua: muncul dan mudah dihasilkannya barang kebutuhan hidup, akibatnya adalah, muncul dinamika ekonomi: arus uang mengalir deras dari satu orang ke lainnya. Selain uang melimpah, manusia eropa kala itu pun juga melimpah harta kebutuhan, karena mudah dibuat.

Tahap ketiga: karena industri / pabrik menjamur di mana-mana, maka banyak pulalah orang kaya baru, yang ring pertamanya adalah para pemodal. Ring kedua adalah buruh pabrik. Ring ketiga adalah para pelaku pasar. Ring keempat adalah masyarakat biasa yang mempunyai banyak barang karena tersedia di pasar.

Orang kaya baru ini, menjadi fenomena sosial yang paling menggila yang berkait dengan rendust. Kita ingat bahwa sebelumnya, harta kekayaan Dunia hanya berputar di kalangan bangsawan, sementara kalangan jelata jangan bermimpi mempunyai harta dunia yang melimpah, karena kalau pun melimpah pasti sudah dikenakan pajak berlipat dari para Raja. Yang semula orang kaya hanya para bangsawan, kini orang kaya telah meluber definisinya.

Tahap keempat: kekayaan (duit) yang didapat oleh lebih banyak manusia (karena bukan lagi monopoli bangsawan) tentu saja tidak dianggurkan begitu saja. Uang banyak yang mereka miliki – mereka kelola untuk manfaat yang lebih besar lagi. Maka muncullah penemuan-penemuan dan terobosan yang tujuan keseluruhannya adalah untuk (1) mempermudah hidup manusia, dan juga untuk (2) memperkaya manusia.

Tahap kelima: akhirnya kehidupan manusia mulai diwarnai dengan kelapangan hidup, baik dari segi (1) uang, banyaknya (2) barang kebutuhan, dan juga (3) peralatan yang mempermudah hidup, seperti mobil, penghangat ruang, mesin cuci, kereta api, lampu dsb.

Tahap keenam: Pada tahap kelima inilah, manusia mulai lupa seluruh kesulitan hidup, lupa seluruh kepapaan di dalam hidup. Manusia mulai menikmati Dunia lebih dari sebelumnya. Tidak ada lagi rakyat jelata, karena mereka telah mempunyai akses setara dengan para bangsawan untuk menjadi orang kaya. Hidup mulai ringan, karena sudah ada kereta, mobil, penghangat ruang, lampu penerang berbahan gas, dsb. Musim dingin / salju yang tadinya menakutkan, kini sudah berganti menjadi menyenangkan, karena mobil yang mereka miliki bisa menahan hempasan salju, pun juga tersedia penghangat ruang yang bisa mengusir dinginnya salju. Tadinya musim salju dianggap penebar maut, kini musim salju dianggap sebagai musim rekreasi keluarga. Itulah hebatnya rendust!!!!

Tahap ketujuh: manusia sudah jauh dari kepapaan hidup, hidup sudah tidak lagi menyengsarakan, pun itu merata ke seluruh Negeri eropa. Sekarang sudah banyak manusia yang hidup BERLEHA-LEHA, yang tadinya hanya monopoli kaum bangsawan. Uang banyak, pekerjaan ringan karena mesinisasi, barang pun banyak, kurang apalagi?

Saat itulah manusia mulai mengarahkan perhatian mereka kepada filsafat, memikirkan segala hal khususnya tentang kehidupan dan Tuhan. Itu semua karena mereka telah mempunyai banyak waktu luang.

Tahap ketujuh inilah manusia mulai merasakan bahwa Tuhan tidak lagi mempunyai peran signifikan. Mudah dan nikmatnya hidup telah membuat manusia MEREMEHKAN Tuhan, mereka tidak lagi butuh Tuhan, karena seluruh kebutuhan mereka telah dipenuhi oleh rendust seperti barang yang banyak, uang yang banyak, dan perkakas yang mudah digunakan. Mereka mulai merasa setara dan sehebat Tuhan. Mereka mempunyai banyak pelayan, mempunyai banyak kebun, mempunyai banyak persediaan makanan, mempunyai banyak tentara! Buat apalagi ada Tuhan?

Inilah saat lahirnya ATHEISME di muka bumi!!!

Jadi dari sini Sdr. dapat memahami bahwa atheisme lahir sebagai ekses negatif dari rendust, di saat manusia mulai merasa sudah tidak lagi butuh Tuhan karena seluruh kebutuhan hidup sudah dipenuhi oleh kemajuan jaman. Atheisme bukanlah kebenaran, namun ATHEISME ADALAH TAIK-NYA RENDUST!!!

Revolusi industri mempunyai banyak ekses negatif, satu di antaranya adalah melahirkan kelompok manusia yang mabuk kepayang oleh keajaiban yang dibawa oleh rendust. Kelompok manusia inilah yang menamai diri mereka sebagai ATHEISME.

Apakah mungkin kebenaran adalah tidak lebih dari ekses negatif dari suatu hal? Apakah mungkin kebenaran adalah TAIK dari proses jaman? Seharusnya kebenaran adalah tujuan dari suatu proses, bukannya ampas dari proses, bukan begitu?

Kembali kepada pertanyaa Sdr. Apakah Tuhan merupakan hasil fikiran manusia? Jawabannya: BUKAN. Sebaliknya, atheisme yang menolak keberadaan Tuhan ternyata adalah teori sempalan, teori ekses negatif dari keangkuhan manusia yang sudah merasa setara dengan Tuhan, dan itu semua GARA-GARA revolusi industri SIALAN yang mengakibatkan manusia menjadi lebih powerful. Kalau atheisme memang kebenaran, maka mengapa tidak muncul sebelum pecahnya rendust???

Apakah Tuhan merupakan hasil fikiran manusia sendiri? Kita jawab: bukan. Kebalikannya, atheisme –lah yang merupakan hasil fikiran manusia-manusia yang mabuk kepayang oleh kemudahan jaman yang diakibatkan oleh rendust.

5. Apakah Islam hasil pemikiran Muhammad sendiri? Apakah hal-hal tentang Setan / jin / kesurupan / ruqyah salah terkait dengan penjelasan mengenai tersebut secara ilmiah yaitu karena delusi kita sendiri / otak kita sendiri?

Sophislam:

Islam bukanlah hasil fikiran Muhammad Saw. Islam adalah hidayah Allah Swt untuk semesta alam.

Pemahaman tentang Setan, jin, kesurupan, tentunya tergantung dari konteks. Tidak bisa difahami secara gamblang. Namun intinya, keberadaan mahluk tersebut adalah objektif, artinya benar ada, dan kita tahu mereka ada, karena keberadaan mereka DIWARTAKAN oleh Allah Swt melalui AlquranNya. Ingat bahwa kita harus berteguh kepada rukun iman yang sudah saya urai di atas. Salah satu point dari rukun iman adalah bahwa kita harus percaya kepada mahluk ghaib seperti Setan, jin dsb.

Mengenai kesurupan, saya berpendapat bahwa tidak ada kasusnya tubuh seorang manusia kemasukan Setan / jin. Jadi kalau ada kasus orang kesurupan, pasti itu sebenarnya adalah kasus psikologi tingkat tinggi. Dongeng dan tahayul semata kalau kita percaya bahwa Setan / jin / mahluk halus merasuki tubuh seorang manusia, untungnya apa buat jin tersebut?

6. Apakah Borobudur menurut Fahmi Basya (dosen saya) benar? Benar mana teori Borobudur dari Fahmi Basya dengan sejarah umat Buddha sendiri?

Sophislam:

tentu tidak demikian adanya. Fakta sejarah yang merupakan jurnal para ilmuwan / sejarawan menyebutkan bahwa candi borobudur TIDAK ADA HUBUNGANNYA dengan kisah Nabi Sulaiman. Borobudur dibangun oleh umat Buddha di Tahun 800an masehi, tidak lebih dan tidak kurang. Sebaiknya kita hanya berpegang pada yang ilmiah, bukan spekulasi. Islam itu ilmiah, dan ingin umatnya juga ilmiah. Ilmiah di sini adalah, bahwa borobudur dibangun oleh umat Buddha, bukan yang lainnya.

7. Apakah pembuktian-pembuktian ilmiah yang selaras dengan Islam membuktikan Islam benar datangnya dari Tuhan bukan dari pemikiran yang secara kebetulan dari Muhammad?

Sophislam:

pembuktian ilmiah yang selaras dengan Islam, memang benar membuktikan bahwa Islam datang dari Tuhan.

Kalau Sdr. berpendirian bahwa pembuktian ilmiah yang selaras dengan Islam merupakan pemikiran secara kebetulan milik Muhammad, maka statement saya hanya satu: MAKA APALAGI YANG DAPAT MEMBUAT SDR YAKIN BAHWA ISLAM BENAR DARI TUHAN?

Analogi: saya bilang bahwa saya adalah turunan Raja majapahit. Sdr. tidak percaya. Kemudian Sdr. minta saya test DNA di laboratorium. Hasil tes DNA adalah, bahwa SAYA BENAR MERUPAKAN KETURUNAN RAJA MAJAPAHIT. Melihat hasil test tersebut, Sdr. bukannya jadi percaya pada omongan saya, malah berkata: DNA KAMU “KE-BE-TU-LAN” SAJA SAMA DENGAN DNA RAJA MAJAPAHIT!!!

Wah kalau sudah begitu, saatnya Sdr. dipersilahkan bicara saja apa yang Sdr. inginkan, itu toh hak asasi Sdr., bukan? Bukti apa lagi yang Sdr. minta supaya percaya bahwa saya memang keturunan Raja majapahit?

8. Dengan Bagaimana saya harus percaya Islam? Bagaimana saya harus percaya adanya Allah?

Sophislam:

tumbuhkan cinta Sdr. kepada Islam. Islam sudah aman untuk dipercaya karena terbukti benar dari segala aspek. Ingatlah, Allah mencintai Sdr. mengapa Sdr. tidak mencintai Allah dan Islam-Nya?

Tidak ada bukti bahwa seluruh manusia mati karena Islam. Tidak ada bukti bahwa seluruh manusia bangkrut, miskin, kelaparan, bodoh karena Islam. Jadi tunggu apalagi?

Bagaimana saya harus percaya Tuhan yang seakan menjadikan manusia menjasi ‘mainan’? Dalam hati yang paling dalam saya ingin memaksakan diri. Saya masih takut Neraka. Tapi saya tidak mau dipaksa

Saya ingin sekali menjadi Muslim yang taat, tidak seperti orang-orang zaman sekarang. Caranya dengan memahami Islam lebih dalam ….. namun justru timbul pertanyaan-pertanyaan seperti di atas. Dan kemungkinan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut justru mengarahkan saya kepada ketidakpercayaan. Salam.

Sekarang seluruh gundah-gulana Sdr. sudah saya uraikan satu persatu, amin. Sekarang saatnya Sdr. bangkit sebagai Muslim yang mencintai dan dicintai Allah Swt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s