Lagi, Maklumat Tesalonika

penindas-ditindas

Maklumat Tesalonika, juga dikenal sebagai ‘Cunctos populos’, dikeluarkan tanggal 27 Februari 380 Masehi. Maklumat ini berisi perintah agar semua penduduk Kekaisaran Romawi mengakukan iman dari uskup Roma dan Aleksandria, menjadikan Kekristenan Nicea sebagai agama negara Kekaisaran Romawi.

Latar belakang

Kaisar Konstantinus I menjadi penganut Kristiani tahun 312. Tahun 325 Arianisme, salah satu jenis kristologi yang berpendapat bahwa Kristus diciptakan dan merupakan entitas di bawah Allah Bapa, menjadi cukup populer dan kontroversial di dalam Kekristenan Awal sehingga Konstantinus menghimpun Konsili Nicea dalam upayanya untuk mengakhiri kontroversi melalui penetapan ortodoksi di seluruh kekaisaran. Konsili tersebut menghasilkan Kredo Nicea asli, yang menolak Arianisme dan mengukuhkan bahwa Kristus adalah “Allah benar” dan “sehakikat dengan Bapa”.

Namun perselisihan di dalam Gereja belum berakhir dengan Nicea. Konstantinus, sambil mendesak diwujudkannya toleransi, mulai berpikir bahwa ia telah berada di sisi yang salah, dan bahwa kaum Nicea—dengan PENGANIAYAAN gencar terhadap kaum Arian—sebenarnya melanggengkan perselisihan di dalam Gereja. Konstantinus baru dibaptis saat ia menjelang wafat (337) dan memilih seorang uskup Arian, yaitu Eusebius dari Nikomedia, untuk membaptisnya.

Putra Konstantinus dan pewaris takhtanya di Timur, yakni Konstantius II, bersimpati dengan kaum Arian dan bahkan dengan para uskup Nicea yang diasingkan. Yulianus, penerus Konstantius, adalah satu-satunya kaisar yang—setelah peristiwa konversi Konstantinus—menolak Kekristenan dan mengupayakan suatu kebangunan keragaman religius, menyebut dirinya seorang “Hellene” dan mendukung bentuk-bentuk agama Helenistik, kultus keagamaan tradisional Roma, dan Yudaisme, sekaligus menyatakan toleransi bagi semua aliran Kristen yang beragam. Yovianus, penerus Yulianus, adalah seorang Kristiani dan hanya memerintah selama 8 bulan tanpa pernah memasuki Konstantinopel. Posisinya di Timur digantikan oleh Valens, seorang Arian.

Pada tahun 379, ketika Valens digantikan oleh Teodosius I, Arianisme tersebar luas di bagian timur dari Kekaisaran, sementara di bagian barat tetap kukuh dengan Kekristenan Nicea. Teodosius sendiri, yang dilahirkan di Hispania, adalah seorang Kristen Nicea dan sangat taat pada iman yang dianutnya. Pada bulan Agustus, Gratianus yang menjadi kaisar di Barat melakukan PENINDASAN terhadap bidah di Barat.

Maklumat

Maklumat Tesalonika dikeluarkan bersama-sama oleh Teodosius I, Gratianus, dan Valentinianus II pada tanggal 27 Februari 380.

Arti penting

Maklumat Tesalonika dikeluarkan di bawah pengaruh Akholius, dan karenanya Paus Damasus I yang telah menunjuknya. Maklumat ini menegaskan kembali ekspresi tunggal Iman Apostolik yang sah di dalam Kekaisaran Romawi, yaitu “katolik” (universal) dan “ortodoks” (benar dalam pengajarannya). Setelah dikeluarkannya maklumat ini, Teodosius menghabiskan banyak waktunya untuk MENEKAN segala bentuk Kekristenan non-Nicea, khususnya Arianisme, dan dalam membangun ortodoksi Kekristenan Nicea di seluruh wilayah kekuasaannya.

Maklumat ini ditindaklanjuti pada tahun 381 oleh Konsili Konstantinopel I, yang menegaskan Symbolum Nicaenum (Kredo Nicea) dan memberikan bentuk akhirnya menjadi Kredo Nicea-Konstantinopel. Pada tahun 383, sang Kaisar memerintahkan berbagai penganut aliran non-Nicea (kaum Arian, Anomoeanis, Makedonian, dan Novatian) untuk menyerahkan kredo (pengakuan iman) tertulis kepadanya untuk ia tinjau sambil berdoa dan kemudian dibakarnya, kecuali yang dari kaum Novatian. Aliran-aliran lainnya KEHILANGAN hak untuk mengadakan pertemuan, menahbiskan imam, dan menyebarkan keyakinan mereka. Teodosius MELARANG kaum bidah untuk bermukim di Konstantinopel, serta pada tahun 392 dan 394 MENYITA tempat-tempat ibadah mereka.

Sumber, https://id.wikipedia.org/wiki/Maklumat_Tesalonika

Diakses: 19 Pebruari 2021

Catatan:

Kata dengan huruf kapital pada artikel di atas berasal dari sophislam dot wordpress. Terima kasih.

Sophislam,

Artikel yang berasal dari wikipedia ini, melukiskan satu babak berkembangnya agama Kristen. Pada babak ini, banyak didapati perilaku kekerasan yang berimplikasi pada pemaksaan, BUKAN nya kasih yang sekarang ini selalu disyiarkan oleh kalangan Kristen.

Artikel yang berjudul Maklumat Tesalonika ini, beberapa katanya sengaja disajikan dengan huruf kapital, sebagai bentuk penekanan dari pihak Sophislam, mengenai adanya perilaku kekerasan dan intoleransi dari beberapa kalangan Kristen terhadap orang Kristen lain yang tidak sepaham.

Artikel di atas memberi sedikit gambaran bahwa terdapat intoleransi pada babak berkembangnya agama Kristen sejak awal. Dan yang terpenting adalah, bahwa banyak kalangan dalam umat Kristen sekarang yang mensyiarkan bahwa Kristen adalah agama yang bersumber pada Kasih. Titik. Selesai.

Wallahu a’lam bishawab.

Bacaan lebih lanjut mengenai artikel ini, silahkan baca >> Maklumat Kristen Yang Intoleran

Maklumat Kristen Yang Intoleran

maklumat

Teodosius I, Kaisar Romawi dari tahun 379 sampai tahun 395, menetapkan agama Kristen “Katolik” sebagai agama resmi Kekaisaran Romawi, dalam Maklumat Tesalonika tanggal 27 Februari 380, yang berbunyi:

Bahwa sesungguhnya kami menghendaki agar segala bangsa,

yang tunduk di bawah kerahiman dan daulat kami,

senantiasa menganut agama yang diwartakan kepada bangsa Romawi

oleh Petrus Sang Rasul suci, yakni agama yang dengan tekun dikekalkan turun-temurun,

dan yang kini dianut oleh Sri Begawan Damasus serta Petrus,

Uskup Aleksandria, pribadi yang suci lagi rasuli.

Selaras dengan taklimat rasul-rasul, dan ajaran Kitab Injil,

marilah kita sekalian berimankan Allah Yang Maha Esa:

Bapa, Putra, dan Roh Kudus, yang setara keagungannya,

dalam Ketritunggalan Maha Kudus.

Kami benarkan pemeluk-pemeluk agama ini untuk menyandang gelar Kristen Katolik.

Sedangkan pihak-pihak lain, yang menurut hemat kami,

adalah orang-orang kurang waras yang bebal,

kami perintahkan untuk ditandai dengan sebutan nista sebagai ahli-ahli bidah,

dan kami ingatkan agar jangan sampai berani

menyebut tempat-tempat berhimpun mereka sebagai gereja.

Mereka diancam pertama-tama dengan siksa laknat ilahi,

dan yang kedua, dengan pidana yang akan kami jatuhkan seturut kewenangan kami,

berpadankan kehendak surga.[23]

— Undang-Undang Teodosius XVI.i.2

Sumber https://id.m.wikipedia.org/wiki/Katolik …..

Diakses: 5 Agustus 2020.

Sophislam,

Di atas kita jumpai sebuah artikel dari wikipedia, yang mengetengahkan maklumat dari penguasa Romawi kala itu, berkenaan keputusannya menjadikan Katholik sebagai agama resmi kekaisaran Romawi.

Penting untuk diungkapkan di sini adalah, bahwa alangkah keji dan kasarnya, alangkah intolerannya maklumat tersebut, ketika menyebut kalangan yang tidak berkenan menerima Katholik sebagai agamanya. Demikian susunan kalimat pada maklumat tersebut, yang terbaca begitu bengis, kasar dan intoleran, sebagai berikut ……,

Sedangkan pihak-pihak lain, yang menurut hemat kami, adalah orang-orang kurang waras yang bebal, kami perintahkan untuk ditandai dengan sebutan nista sebagai ahli-ahli bidah, dan kami ingatkan agar jangan sampai berani menyebut tempat-tempat berhimpun mereka sebagai gereja. Mereka diancam pertama-tama dengan siksa laknat ilahi, dan yang kedua, dengan pidana yang akan kami jatuhkan seturut kewenangan kami, berpadankan kehendak surga

Dalam maklumat tersebut, kaisar menggunakan kata:

  1. orang-orang kurang waras …..
  2. yang bebal …..
  3. ditandai dengan sebutan nista ……
  4. sebagai ahli-ahli bidah …..
  5. Mereka diancam …..
  6. siksa laknat ilahi ……
  7. dengan pidana yang akan kami jatuhkan …..

Orang Kristen jaman sekarang mensyiarkan kalimat indah, yaitu bahwa inti ajaran Kristen adalah kasih, bahwa Allah adalah Kasih, bahwa Jesus itu penuh Kasih, karena Kasih Allah maka Dia korban putra tunggalnya untuk penebusan dosa manusia ….. dan seterusnya.

Dan ketika kita melihat pada masa awal Gereja, yang tercermin pada maklumat Tesalonika ini, benar-benar tercermin bahwa Katholik mengedepankan intoleransi terhadap kalangan yang tidak sepaham dengan ajaran Gereja. Maklumat ini tidak segan menggunakan 7 ungkapan yang keji dan kasar, yang jauh dari kasih, melainkan penuh kebencian, permusuhan, paksaan, penghukuman dan pengutukan.

Pada abad pertengahan, Gereja memasuki babak Inkuisisi Gereja, di mana Gereja memberlakukan azab yang keji dan ganas kepada siapa saja yang menentang ajaran Gereja Katholik -banyak manusia yang mati di dalam keadaan tersiksa kala itu. Terkhusus lagi ketika kebangkitan Gereja Protestan, banyak manusia yang harus mati di tangan Inkuisisi Gereja dengan kengenasan yang tiada tara, hanya karena manusia-manusia tersebut keluar dari katolisme. Kisahnya, baca di sini >> Inkuisisi Roma Katholik: Penganiayaan Oleh Paus Inkuisisi

Pada abad penemuan dunia baru, rakyat dan Raja Attahualpa, habis musnah dibantai oleh tentara Spanyol, yang mana pembantaian tersebut berlangsung di bawah komando sang padre Spanyol sendiri. Pembantaian dipicu karena Raja Attahualpa membanting kitabsuci Katholik kala itu, di depan para padre Katholik. Bangkitlah amarah para padre, maka dikeluarkanlah perintah bantai terhadap rakyat dan Raja Attahualpa. Kisahnya, baca di sini >> The Inca Massacre In Atahualpa’s Time

Betapa banyak rakyat Aborigin yang harus mati sia-sia di tangan kolonial Inggris di benua Austalia. Dan bagaimana dengan Perang Salib, yang menewaskan ribuan manusia di sepanjang jalan yang dilintasi tentara Salib dari Eropa menuju Timur Tengah.

Bagian yang mengasyikkan adalah, bahwa jaman sekarang semua orang Kristen, apalagi kalangan Gereja, semarak mensyiarkan Kristen sebagai agama Kasih kepada seluruh umat manusia ….., bahwa Allah itu adalah kasih, bahwa inti ajaran Kristen adalah kasih …. sementara Maklumat Tesalonika yang mereka simpan di Gereja masih mengusung 7 ungkapan kasar dan bengis itu terhadap mereka yang menolak Jesus sebagai Tuhan.

Penutup.

Akan hal ini, hanya ada satu ayat di dalam Alkitab, yang merupakan titah Jesus, yang patut untuk diusung di dalam paparan ini. Ayat tersebut adalah …..

Tuluslah kamu seperti merpati ….., dan liciklah kamu seperti ular …..

Entah ayat ini berada di pada pasal dan ayat berapa di dalam Alkitab Kristen. Orang Kristen lah yang paling faham …..

Wallahu a’lam bishawab.

Bacaan lebih lanjut mengenai ini, silahkan baca Lagi, Maklumat Tesalonika

Membandingkan Ritus Ka’bah Dan Ritus Roma Vatican

banding

Umat Muslim mempunyai ritus ibadah yang berpusat di Ka’bah, yang terletak di kota Mekkah. Ritus tersebut berupa ……

  • shalat yang menghadap ke Ka’bah,
  • kemudian thawaf, yaitu kegiatan berupa berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali,
  • dan juga sa’i, yaitu kegiatan berupa berlari kecil antara Shafa dan Marwah, dua lokasi yang masih berada di dalam kompleks Ka’bah.

Di lain pihak, umat Kristen mempunyai ritus ibadah yang berpusat di Basilika Santo Petrus, khususnya untuk umat Kristen Katholik Roma. Ritus tersebut terdiri dari berbagai sakramen, banyak sekali untuk diungkapkan di sini satu persatu. Dan umumnya setiap ritus tersebut dipimpin langsung oleh Sripaus.

Apakah yang mendasari perbedaan antara ritus dari kedua agama berbeda tersebut?

Pertama, patut diakui bahwa ritus yang diselenggarakan di Basilika Santo Petrus, yang dipimpin Sripaus, terlihat agung dan megah, bin mentereng. Bisa dilukiskan, ritus tersebut diawali dengan perarakan suci yang memasuki atau menuju altar. Perarakan suci tersebut terdiri dari berbagai pendeta, berbagai padre, lengkap dengan perkakas gerejawi, seperti tongkat salib, buku ceremonial, perdupaan, lilin-lilin yang tinggi dan menyala, dsb. Setiap pendeta dan padre mengenakan busana yang wah, jubah yang wah, dan apalagi para uskup maupun kardinal di mana mereka mengenakan mitra yaitu busana kepala yang terlihat megah dan mewah.

Dari dalam Gereja juga biasanya dikumandangkan kidung rohani, yang dibawakan oleh paduan suara, terdengar begitu merdu, menggugah jiwa, dan bercitarasa tinggi.

Lalu bagaimana dengan ritus umat Muslim di Ka’bah? Pertama tidak ada perarakan suci, pun tidak ada iringan pendeta yang berbusana wah. Satu-satunya hal yang terlihat di pelataran Ka’bah adalah ribuan jemaah umrah, maupun haji, maupun warga lokal, yang masing-masing mereka khusyuk beribadah shalat, maupun berjalan thawaf mengelilingi Ka’bah. Tidak terdengar lagu rohani seperti halnya pada ritus yang diselenggarakan di Basilika Santo Petrus ……. Yang terdengar hanya lantunan ayat suci Alquran yang tiada hentinya, kecuali saat diselenggarakan shalat fardu berjamaah.

Ritus yang diselenggarakan di Basilika Santo Petrus, singkat kata, adalah megah dan agung. Satu hal yang harus ditegaskan di sini adalah, bahwa berbagai bentuk ritus di Basilika Santo Petrus tersebut (maupun di Gereja di seluruh dunia), adalah hasil reka-reka para pujangga Gereja pada masa awal. Dan yang namanya reka-reka, tentunya tujuannya adalah untuk memenuhi selera manusia. Memenuhi selera manusia, artinya serangkaian kegiatan untuk sampai pada bentuk indah tertinggi. Singkat kata: keindahan tertinggi, yang mencerminkan citarasa manusia-nya.

Jadi dengan kata lain, semua bentuk kemegahan dan keagungan ritus yang diselenggarakan di Basilika Santo Petrus, murni mencerminkan citarasa manusia, karena semua bentuk ritus tersebut direka-reka oleh pujangga Gereja pada masa awal. Mana yang indah, diambil dan dikembangkan, dan mana yang tidak indah, mana yang tidak sesuai selera, dihilangkan. Itulah yang dinamakan reka-reka. Maka jadilah bentuk ritus Gerejawi yang agung dan megah, yang sesuai dengan citarasa manusia.

Di lain pihak, semua bentuk ritus yang diselenggarakan umat Muslim di Ka’bah (maupun di seluruh Masjid di dunia), murni merupakan kehendak Tuhan Surgawi, yang disampaikan oleh NabiNya, yaitu Nabi Muhammad Saw. Jadi tidak ada kegiatan reka-reka manusia Muslim sejak masa awal mengenai bentuk ritus mana yang sesuai dengan citarasa manusia.

Dan terlebih, semua ritus Muslim di Ka’bah (maupun Masjid di seluruh dunia), sebenarnya merupakan ritus para leluhur umat Tuhan jauh sebelum kedatangan Nabi Muhammad Saw. Jadi dengan kata lain, Islam hanya meneruskan, mempertahankan, dan menyempurnakan bentuk ritus ibadah di Ka’bah.

Perbedaan signifikan.

Ada satu perbedaan yang sangat mencolok antara ritus gerejawi di Basilika Santo Petrus, dengan ritus ibadah di Ka’bah.

Perbedaan tersebut tentunya berdasar pada ajaran dari kedua agama tersebut yang memang bertolak belakang satu dengan yang lainnya. Apakah perbedaan tersebut?

Basilika Santo Petrus mempunyai begitu banyak patung dan arca, suatu bentuk kemungkaran yang paling menjijikkan yang dilakukan seorang manusia terhadap Allah. Padahal kitabsuci mereka sendiri, yaitu Alkitab, dengan jelas melarang umat untuk membuat dan memajang patung, patung apa saja, termasuk patung hewan, apalagi patung orang yang sudah mati. Namun di dalam hal ini Gereja Basilika Santo Petrus terang-terangan membangkangi pesan kitabsuci mereka sendiri.

Ka’bah, dan seluruh Masjid di dunia, sama sekali tidak mempunyai patung maupun arca, karena hal tersebut memang dikutuk oleh Allah. Di sini sangat terlihat ada konsistensi antara ajaran Alquran dengan perilaku umat Muslim, yaitu pantang membuat dan memajang patung.

Kemudian, umat yang berpartisipasi di dalam berbagai ritus di Gereja Basilika Santo Petrus, merupakan umat yang bertradisi ….

  • Bebas nenggak miras,
  • Bebas mabuk-mabukan, bebas teler-teleran,
  • Bebas makan daging segala hewan,
  • Bebas makan daging bangkai segala hewan,
  • Bebas cara mematikan / membunuh hewan yang hendak dimakan,
  • Bebas pamer aurat,
  • Bebas bugil massal di  tengah kota,
  • Bebas membuat dan / maupun memajang benda ketelanjangan manusia, seperti patung maupun lukisan.
  • Bebas khalwat,
  • Bebas pacaran,
  • Bebas makan riba,
  • Bebas main judi,
  • Bebas berzina dan kumpulkebo,
  • Bebas menikah di Gereja di dalam keadaan sudah hamil duluan,
  • Bebas hidup sekuler (karena sekuler sendiri merupakan ajaran Jesus).
  • Bebas meminta berkat / tolong / rejeki kepada arwah para santo (orang alim yang sudah wafat)
  • Bebas meminta berkat / tolong / rejeki kepada para Malaikat.
  • Dsb.

Kebalikannya, umat Muslim yang berpartisipasi di dalam ritus ibadah di Ka’bah, maupun Masjid di seluruh dunia, mempunyai  tradisi yang Islami, yaitu  …….

  • Haram hukumnya nenggak miras,
  • Haram hukumnya mabuk-mabukan, haram hukumnya teler-teleran,
  • Haram hukumnya makan daging segala hewan,
  • Haram hukumnya makan daging bangkai segala hewan,
  • Haram hukumnya mematikan / membunuh hewan yang hendak dimakan, dengan cara bermacam-macam,
  • Haram hukumnya pamer aurat,
  • Haram hukumnya bugil massal di  tengah kota,
  • Haram hukumnya membuat dan / maupun memajang benda ketelanjangan manusia, seperti patung maupun lukisan,
  • Haram hukumnya berkhalwat,
  • Haram hukumnya pacaran,
  • Haram hukumnya makan riba,
  • Haram hukumnya main judi,
  • Haram hukumnya berzina dan kumpulkebo,
  • Haram hukumnya menikah di dalam keadaan sudah hamil duluan,
  • Haram hukumnya hidup sekuler.
  • Haram hukumnya meminta berkat / tolong / rejeki kepada arwah orang alim yang sudah wafat,
  • Haram hukumnya meminta berkat / tolong / rejeki kepada para Malaikat.

Tanpa banyak kata, ritus gerejawi yang terlihat agung dan megah, sungguh memukau dan menggugah jiwa. Namun di balik kemegahan dan keagungannya, terdapat kebebasan hidup yang  sama sekali tidak bermoral, hidup bebas bagaikan layangan putus yang kehilangan tali kekang.

Itulah perbedaan paling mencolok antara ritus umat Muslim dengan ritus umat Kristen.

Wallahu a’lam bishawab.

Membahas Definisi Moral Kristen

moraaaal

Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan

Pertanyaan

Pernahkah anda bertanya dalam hati, jika Tuhan menginginkan sebanyak mungkin orang masuk ke surga, bagaimanakah Dia menyampaikan kebenaran tersebut, supaya orang-orang dapat mengerti? Berikut ini adalah pengajaran Gereja yang mencerminkan kebaikan dan kebijaksanaan Allah.

Allah adalah Kasih, maka Ia menghendaki semua manusia selamat

Allah adalah Kasih (1Yoh 4:8), maka Allah menghendaki semua manusia diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1Tim 2:4) yang diperoleh dengan mengenal Jesus Kristus, yang menjadi kepenuhan wahyu Allah itu sendiri.

Untuk memenuhi kehendak Allah ini, Kristus kemudian memerintahkan para rasul supaya Injil yang telah dijanjikan melalui para nabi, yang digenapi olehNya dan disah-kanNya, dapat diwartakan kepada semua orang dan dengan demikian dapat dibagikan karunia-karunia ilahi kepada mereka semua. Injil adalah sumber kebenaran yang menyelamatkan dan sumber ajaran moral. Injil yang memuat kebenaran kasih Allah ini diturunkan kepada GerejaNya.

Sumber ….

Sophislam,

Artikel di atas berasal dari portal Kristen bernama katolisitas, yang misinya mengkomunikasikan keagungan dan kebenaran Kristen.

Di dalam artikel tersebut, punggawa Kristen membangga-banggakan kasih Allah kepada seluruh umat manusia, dan pada akhirnya, menyebut adanya ajaran moral Kristen. Demikian susunan kata-katanya ….

Injil adalah sumber kebenaran yang menyelamatkan -dan sumber ajaran moral”.

Khususnya di dalam paragraf ini, disebutkan kata /moral/, atau /ajaran moral/.

Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan moral? Di dalam bahasa Indonesia, moral dapat disamakan dengan /budi pekerti/, suatu kata yang berarti perilaku yang baik dan benar, yang terpuji, dan menguntungkan. Tidak mungkin suatu sikap dianggap bermoral kalau sikap tersebut merugikan dirinya sendiri maupun orang lain, dan juga kalau sikap tersebut tidak mendukung logika.

Dan sekarang akan dipertanyakan, moral macam apakah yang diajarkan Kristen? Dan ada baiknya kita memperhatikan beberapa hal di bawah ini.

Orang Kristen mempunyai tradisi …

  • Bebas nenggak miras,
  • Bebas mabuk-mabukan, bebas teler-teleran,
  • Bebas makan daging segala hewan,
  • Bebas makan daging bangkai segala hewan,
  • Bebas cara mematikan / membunuh hewan yang hendak dimakan,
  • Bebas pamer aurat,
  • Bebas bugil massal di  tengah kota,
  • Bebas membuat dan / maupun memajang benda ketelanjangan manusia, seperti patung maupun lukisan.
  • Bebas khalwat,
  • Bebas pacaran,
  • Bebas makan riba,
  • Bebas main judi,
  • Bebas berzina dan kumpulkebo,
  • Bebas menikah di Gereja di dalam keadaan sudah hamil duluan,
  • Bebas hidup sekuler (karena sekuler sendiri merupakan ajaran Jesus).
  • Bebas meminta berkat / tolong / rejeki kepada arwah para santo (orang alim yang sudah wafat)
  • Bebas meminta berkat / tolong / rejeki kepada para Malaikat.
  • Dsb.

Inikah yang dinamakan bermoral? Inikah yang dinamakan moral Kristen? Inikah yang dinamakan ajaran Allah?

Umat Muslim tentu terheran-heran ketika mendengar orang Kristen berbicara mengenai moral Kristen, karena yang dimaksud moral Kristen tersebut adalah bebas berzina, bebas mabukmabukan, bebas makan bangkai, bebas buka aurat, bebas makan riba dsb …. Umat Muslim tentu sangat heran ketika melihat, bahwa bebas berzina, bebas pamer aurat, bebas mabukmabukan, bebas makan bangkai, dianggap sebagai suatu kebajikan dan benar di dalam pandangan Kristen. Bagaimana Muslim tidak geleng-geleng kepala? Sementara Muslim sendiri sejak dini diajarkan, bahwa pamer aurat adalah haram, makan riba adalah haram, bahwa mabukmabukan adalah haram, dsb.

Muslim bertanya-tanya, bagaimana mungkin bebas mabukmabukan, bebas nenggak miras, bebas buka aurat, bebas berzina, bebas makan bangkai, dsb ….. dianggap sebagai kebenaran? Dan kalau keseluruhan hal tersebut dianggap sebagai kebenaran di dalam Kristen, maka lantas apa yang dianggap dosa? Kalau keseluruhan hal tersebut dianggap benar dan kebenaran di dalam Kristen, maka tentunya tidak ada lagi yang dianggap dosa di dalam Kristen. Maka apakah ini yang dinamakan moral?

Artikel  tersebut mempunyai barisan kalimat sebagai berikut,

jika Tuhan menginginkan sebanyak mungkin orang masuk ke surga, bagaimanakah Dia menyampaikan kebenaran tersebut, supaya orang-orang dapat mengerti?”.

Jadi menurut paragraf ini, Tuhan Kristen ingin sebanyak mungkin Muslim masuk dan menjadi Kristen agar bisa masuk Surganya Jesus. Bukankah ini berarti, seorang Muslim yang asalnya

  • pantang mabukmabukan,
  • pantang nenggak miras,
  • pantang makan bangkai,
  • pantang buka aurat,
  • pantang makan riba,

….. lalu ketika telah menjadi Kristen maka orang ini …..

  • harus mau mabukmabukan,
  • harus mau nenggak miras,
  • harus mau makan bangkai,
  • harus mau bukabuka aurat,
  • harus mau makan riba …..????

Maka inikah yang dinamakan bermoral? Dan inikah yang dinamakan moral Kristen?

Sudah bagus orang Muslim ini sejak dini diajarkan untuk menjauhi mabukmabukan, menjauhi miras, menjauhi makan bangkai segala hewan, menjauhi gemar buka aurat, menjauhi riba, menjauhi khalwat ….. nah lantas ketika orang ini menjadi orang Kristen, tiba-tiba orang ini diajarkan harus suka mabukmabukan, harus suka nenggak miras, harus suka makan bangkai segala hewan, harus suka bukabuka aurat, harus suka makan uang riba, harus suka khalwat di kamar-kamar hotel ….

Inikah yang dinamakan moral Kristen? Dan inikah yang dikatakan sebagai perbuatan yang membawa keselamatan dan masuk Surga?

Artikel di atas mempunyai paragraf yang berbunyi bahwa Allah adalah Kasih, dan menghendaki semua manusia diselamatkan. Jadi, apa yang dinamakan dengan ‘diselamatkan’ adalah bahwa banyak manusia harus mau mabukmabukan, nenggak miras, pamer aurat, makan riba dsb?? Beginikah cara kasih Allah dijabarkan, yaitu menggiring manusia untuk bebas nenggak miras hingga mabukmabukan, lalu bebas pamer aurat dan bebas bugil massal di tengah kota, lalu bebas makan uang riba, sambil bebas berkhalwat di kamar-kamar hotel?

Oh buyuuuuuuung ……… mau dihalau kemana moral umat manusia ini oleh nafas Gereja???

Wallahu a’lam bishawab!!!!

Awal Mula Agama Kristen

jalansesat

Assaalamu alaikum …..

Saya merupakan mualaf, yang ingin saya tanyakan adalah sejak kapan ajaran nasrani nabi Isa a.s berubah menjadi ajaran kristen seperti sekarang ini. Siapa penggagasnya sehingga menyesatkan banyak orang.

Dan pada saat ini masih adakah injil yang asli? kalau ada dimana?apakah pada saat zaman Rasullulah agama Kristen telah ada? Jika telah ada apakah pada saat itu Rasullulah pernah memeranginya atau berusaha mengembalikan umat Kristen ke jalan yang lurus untuk bersyahadat? Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih untuk dijadikan pencerahan bagi saya.

Jawaban

Alaykumsalam wr. wb.

Alhamdulillah jika saudara Ferdinando telah menemukan cahaya Islam dan menyadari atas kekeliruan agama sebelumnya yang pernah dianut. Semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahanNya atas pilihan saudara dalam memeluk Islam. Semoga jua tetap istiqomah di jalan Dienul Haqq ini. Allahuma amin.

Saudaraku, Jesus alias Nabi Isa as. merupakan nabi yang diturunkan Allah kepada Bani Israil. Tugasnya adalah untuk menyelamatkan Bani Israil dari kesesatan yang telah lama dilakukan kaum tersebut. Allah SWT masih menyayangi kaum Musa as. ini dan menurunkan satu nabi lagi khusus untuk mereka. Nabi Isa as. mengaku bahwa dirinya diutus Allah hanya untuk kaumnya saja, Bani Israil, dan bukan untuk umat manusia seluruh dunia.

Di dalam Injil ada peristiwa di mana Jesus menolak seorang wanita Kanaan (Palestina) yang meminta anaknya disembuhkan dari kemasukan setan, Jesus menolak dan mengatakan, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 15 :24). Jesus sendiri menolong perempuan itu juga, namun tidak menyuruh perempuan itu untuk ‘pindah keyakinan’. Penegasan itu juga nampak dari pesan Jesus kepada para muridnya yang mewanti-wanti mereka untuk tidak menyebarkan ajarannya kepada orang selain dari Bani Israil.

Kedua belas murid itu diutus Jesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Matius 10: 5-6).

Telah jelas bahwa Jesus menegaskan dirinya hanya untuk Bani Israil. Namun para misionaris mengklaim bahwa hal itu hanya berlaku sebelum kebangkitan. Setelah dibangkitkan maka misinya untuk umat manusia seluruh dunia. Perubahan mendasar ini berangkat dari ajaran Paulus, seorang Yahudi dari Tarsus yang mengaku-aku sebagai murid Jesus.

Ajaran Paulus yaitu Galatia (ditulis pada tahun 49 M) mempengaruhi Injil-injil yang ditulis sesudahnya yakni ….

  • Injil Markus (55 M),
  • Injil Matius (60-an M),
  • Injil Yohanes (80 M),
  • Injil Lukas (60 M).

Paulus, Yahudi dari Tarsus, di dalam banyak ayat Injil digambarkan sebagai murid yang banyak tidak patuh pada Jesus, bahkan Jesus dalam banyak ayat memarahi dia hingga menendangnya.

Paulus inilah yang kemudian mengubah ajaran Nabi Isa as. yang berhaluan paganisme Yahudi. Namun hal ini terjadi tidak terlepas dari kondisi sosial budaya bangsa Yahudi sebelum masa Nabi Isa. Minimal ada tiga kondisi yang bisa kita telaah.

  • Pertama, Aqidah orang-orang Yahudi telah terkontaminasi kepercayaan Paganisme Babilonia. Sekitar 50 tahun (586-535 SM) bangsa Yahudi berada di pengasingan di Babilonia yang masyarakatnya menyembah berhala.
  • Kedua, pada tahun 334 SM, Alexander Raja Yunani menguasai bangsa Yahudi dan menyebar faham Filsafat yang kemudian mempengaruhi pemikiran orang-orang Yahudi.
  • Ketiga, bangsa-bangsa yang menaklukan orang-orang Yahudi adalah penganut politeisme. Ini pun berpengaruh kepada aqidah bangsa Yahudi.

Ketika Nabi Isa as, menyampaikan ajaran Allah SWT, pengaruh kepercayaan paganisme memang sudah mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat, maka terjadilah penyimpangan pemahaman oleh Paulus terhadap ajaran yang dibawa Nabi Isa as. Paulus pun mengklaim bahwa telah bertemu Jesus (Isa) dan diangkat sebagai rasul. Ia kemudian mengajarkan ajaran Isa yang dicampur adukkan dengan filsafat Yunani dan Paganisme.

Allah SWT sudah mengingatkan hal ini dalam Surah Al Baqarah ayat 87,

“…… Dan Sesungguhnya Kami telah mendatangkan Alkitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah Setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?”.

Tiga abad setelah penyaliban, pengikut ajaran Nabi Isa as. berkembang dengan beragam pemahaman. Terjadi bentrokan di antara mereka antara kalangan yang pro ajaran Tauhid dari Nabi Isa as. dengan yang kontra. Mereka yang kontra notabene adalah kelompok pro ajaran Paulus yang paganis. Peperangan ini sampai mengancam keutuhan kerajaan Roma.

Karenanya, atas usulan Konstantin diadakan Muktamar di Nicea tahun 325 M yang dihadiri sekitar 2048 orang dengan pendiriannya masing-masing. Terjadi perdebatan yang sengit dan tak ada titik temu. Akhirnya Konstantin yang cenderung pada paganis memanggil 318 orang yang berfaham Paulus dan menyatakan dukungannya. Setelah itu muktamar dilanjutkan, sementara itu peserta lainnya melakukan walk out.

Di dalam muktamar ini banyak dipilih doktrin dan syiar ibadah secara voting (seperti tanggal paskah, peran uskup, dan tentu saja tentang ketuhanan Jesus). Setelah itu diadakanlah revisi Injil. Sementara injil-injil lain yang bertentangan dimusnahkan. Dan orang yang berani membaca Injil terlarang akan dicap sebagai heretis (berlaku bid’ah).

Perihal apakah Injil yang asli masih adakah sampai saat ini? Allahua’lam. Namun hemat saya, permasalahannya bukan pada masih ada yang asli atau tidak, namun Injil hanya berlaku bagi kaum Nabi Isa as., sedangkan sekarang kita sebagai umat muslim telah memiliki kitab Suci Alquran sebagai kitab yang dijaga keasliannya oleh Allah Swt hingga akhir zaman.

Kristen Pada Masa Rasulullah SAW

Tentu pada zaman Rasulullah SAW ada golongan yang beragama Nashrani. Menurut Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi, dalam Hidayatu Al-Hayara fi Ajwibati Al-Yahud wa An-Nashara, umat Nasrani pada masa Rasulullah sudah tersebar di sebagian belahan dunia. Di Syam, (hampir) semua penduduknya adalah Nasrani. Adapun di Maghrib, Mesir, Habasyah, Naubah, Jazirah, Maushil, Najran, dan lain-lain, meski tidak semuanya, namun mayoritas penduduknya adalah Nasrani.

Terhadap mereka, Rasulullah SAW senantiasa melakukan Dakwah, seperti yang pernah beliau lakukan kepada Raja Najasyi, seorang Raja Nashrani yang tinggal di Ethiopia. Rasulullah SAW mengirimi surat kepada Najasyi untuk bertauhid kepada Allah SWT. Berikut adalah pesan surat tersebut,

Dari Muhammad utusan Islam untuk An-Najasyi, penguasa Abyssinia (Ethiopia). Salam bagimu, sesungguhnya aku bersyukur kepada Allah yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, dan aku bersaksi bahwa Isa putra Maryam adalah ruh dari Allah yang diciptakan dengan kalimat Nya yang disampaikan Nya kepada Maryam yang terpilih, baik dan terpelihara. Maka ia hamil kemudian diciptakan Isa dengan tiupan ruh dari-Nya sebagaimana diciptakan Adam dari tanah dengan tangan Nya. Sesungguhnya aku mengajakmu ke jalan Allah. Dan aku telah sampaikan dan menasihatimu maka terimalah nasihatku. Dan salam bagi yang mengikuti petunjuk.”

Ketika Rasulullah SAW menulis surat kepada Raja Najasyi untuk menjadi muslim, maka Raja Najasyi mengambil surat itu, lalu meletakkan ke wajahnya dan turun dari singgasana. Beliaupun masuk Islam melalui Ja’far bin Abi Tholib ra.

Namun Rasulullah SAW juga pernah melakukan peperangan terhadap kaum Nashrani. Hal ini bermula ketika salah satu surat beliau telah dibawa oleh Harits bin Umair ra. yang akan diberikan kepada Raja Bushra yang Nashrani. Ketika sampai di Mu’tah, maka Syarahbil Ghassani yang ketika itu menjadi salah seorang hakim kaisar telah membunuh utusan Rasulullah SAW. Membunuh utusan, menurut aturan siapa saja, adalah kesalahan besar. Rasulullah SAW sangat marah atas kejadian itu.

Maka Rasulullah SAW menyiapkan pasukan sebanyak tiga ribu orang. Zaid bin Haritsah ra. dipilih menjadi pemimpin pasukan. Rasulullah SAW bersabda, “Jika ia mati syahid dalam peperangan, maka Ja’far bin Abi Thalib ra. menggantinya sebagai pemimpin pasukan. Jika ia juga mati syahid, maka penlimpin pasukan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah ra. Jika ia juga mati syahid, maka terserah kaum muslim untuk memilih siapa pemimpinnya”. Allahua’lam. (Pz) [][][][]

Sumber, https://m.eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/awal-mula-agama-kristen-2.htm

Diakses, 30 September 2020.

Kenapa Kristen Mendukung Yahudi?

bantal

Kenapa Kristen Saat Ini Mendukung Yahudi?

Tanya,

Assalamualaikum Pak,

Pak, saya ada pertanyaan yg mengganjal nih,

Sebenarnya apa hubungan antara agama kristen dengan yahudi? karena ada beberapa family maupun teman2 saya yg beragama Kristen / katolik, sangat2 membangga2kan yahudi (israel), pdhl setahu saya yang membunuh Tuhan mereka kan kaum Israel (maaf kalo saya salah). Dan mereka sangat mendukung apapun yg dilakukan Yahudi (termasuk menyerang Palestina) malahan dalam doa mereka, selalu memuliakan Yahudi? Saya jadi bingung, sebenarnya agama mereka apa, kristen ato yahudi?. Mohon penjelasan ya Pak, karena saya sering berdebat soal ini dengan mereka.

Wa’alaykumusalam warahmatullahi wabarakatuh,

Jawab,

Saudari Wulan yang dirahmati Allah SWT, kita hendaknya jangan kesal atau marah karena saudara-saudara kita yang mengaku sebagai pengikut ajaran Nabi Isa a.s. ternyata menjadi pendukung setia segala tingkah-laku Zionis-Yahudi. Kita malah harusnya kasihan terhadap mereka, karena cahaya kebenaran masih saja belum masuk ke dalam relung hati mereka. Jika mereka dengan bangga mengatakan sebagai orang Kristen yang mendukung atau memuliakan Yahudi, coba Anda suruh mereka membuka kitab suci Zionis-Yahudi sendiri yakni Talmud. Dan bacalah apa kata Talmud tentang Yesus? Inilah beberapa ayat Talmud mengenai Yesus:

“Pada malam kematiannya, Yesus digantung dan empatpuluh hari sebelumnya diumumkan bahwa Yesus akan dirajam (dilempari batu) hingga mati karena ia telah melakukan sihir dan telah membujuk orang untuk melakukan kemusyrikan (pemujaan terhadap berhala)… Dia adalah seorang pemikat, dan oleh karena itu janganlah kalian  mengasihaninya atau pun memaafkan kelakuannya” (Sanhedrin 43a)

“Yesus ada di dalam neraka, direbus dalam kotoran (tinja) panas” (Gittin 57a)

“Ummat Kristiani (yang disebut ‘minnim’) dan siapa pun yang menolak Talmud akan dimasukkan ke dalam neraka dan akan dihukum di sana bersama seluruh keturunannya” (Rosh Hashanah 17a).

“Barangsiapa yang membaca Perjanjian Baru tidak akan mendapatkan bagian ‘hari kemudian’ (akhirat), dan Yahudi harus menghancurkan kitab suci umat Kristiani yaitu Perjanjian Baru “ (Shabbath 116a)

Inilah ungkapan hati Talmud yang sesungguhnya tentang Yesus dan umat Kristen. Siapa pun yang mengaku sebagai seorang Kristen, setelah mengetahui ayat-ayat pelecehan dari Talmud kepada Yesus dan agamanya, tetapi masih saja mendukung Zionis-Yahudi, masih saja membantu Israel, masih saja setuju dengan sikap politik Zionis-Israel, maka ia sebenarnya telah ikut-ikutan melecehkan agamanya sendiri, telah ikut-ikutan menghina Yesus sendiri. Jika tidak percaya, silakan ambil Talmud dan baca sendiri.

Allah SWT telah banyak berfirman dalam Qur’an betapa Yahudi merupakan kaum yang sombong, angkuh, memusuhi kaum beriman, dan sebagainya. Bahkan fakta sejarah memaparkan bahwa kaum Yahudi dikenal sebagai kaum pembunuh para nabi utusan Allah SWT. Nabi Isa a.s. pun dibunuh oleh kaum Yahudi. Seorang sutradara Hollywood dengan jujur telah membuat film tentang ini dalam karyanya “The Passion of Christ”. Di dalam film tersebut kita melihat bagaimana iblis selalu berada di tengah-tengah para pendeta Yahudi yang melaknati Yesus.

Ajaran Yesus atau Nabi Isa a.s. sesungguhnya hanya diperuntukan bagi kaumnya sendiri, bukan untuk disebarkan keseluruh dunia. Namun Yahudi menyusupkan seorang agennya bernama Paulus—seorang Yahudi dari Tarsus—ke dalam ajaran Nabi Isa a.s. dan mengubah agama yang tadinya hanya untuk kaumnya sendiri menjadi agama yang ekspansif. Siapa sebenarnya Paulus dari Tarsus itu? Inilah data dari Injil sendiri:

BIODATA PAULUS

Nama                          :                       Paulus / Saulus (Gal.5: 2; Kis.13: 9)

Tempat lahir              :                       Tarsus, Kilikia (Kis.22: 3)

Pekerjaan                   :                       Tuna Karya (Rm.15: 23)

Jabatan                       :                      

  • Mengaku Rasul buat bangsa bukan Yahudi (Rm. 11: 13; Ef. 3: 8; I Tim. 2: 7; Gal. 2: 7),
  • Allah Bapa bagi umat Kristen (I Kor. 4: 15),
  • Pendiri agama Kristen (Kis. 11: 26; I Kor. 9: 1-2).

Disunat                       :                       pada hari kedelapan (Flp. 3: 5)

Asal                             :                       Yahudi dari Tarsus (Kis. 21: 39; Kls. 22: 3)

Keturunan                  :                       Orang Israel (Rm. 11: 1), Ibrani asli (Flp. 3: 5)

Suku bangsa              :                       Benjamin (Flp. 3: 5; Rm. 11: 1)

Kewarganegaraan     :                       Romawi (Kis. 22: 25-29).

Dididik oleh               :                       Gamalael (Kis. 22: 3)

Agama                        :                       Yahudi tidak bercacat (Flp. 3: 6; Kis. 24: 14)

Status                          :                       Tidak beristeri (I Kor. 7: 8)

Pendirian                   :                       Orang Farisi (Flp. 3: 5)

Kegiatan                     :                      

Penganiaya pengikut Jalan Tuhan sampai mati, ganas tanpa batas dan penghujat  (Flp. 3: 6; Kls. 8: 1-3; 22: 4-5; 26: 10-11; Gal. 1: 13; I Tim. 1: 13; I Kor. 15: 8-9; Kis. 9: 1-2).

Ciri khusus                 :                      

  • Bersifat bunglon (I Kor. 9: 20-22; Kis. 23: 6),
  • Punya kelainan (Rm. 7:15-26), Munafik (Kis. 21: 20-26; Flp. 3; 8-9; Gal. 5: 18; Rm. 6: 14; 7: 6; I Kor. 15: 55-56),
  • Memberitakan kebenaran Allah dengan dusta (Rm. 3: 5-7),
  • bergembira memberitakan Yesus walau dengan kabar palsu (Fil. 1: 18).

Mengalami                 :                      

  • Berbicara dengan Tuhan (I Kor.12: 8-9),
  • kemaluan (Paulus)
  • ditinju dan ditendang oleh Yesus (Kis. 9: 5).

Akhir hayat                :                      

  • Mulutnya ditampar atas perintah Imam Besar (Kis. 23: 2),
  • dijatuhi hukuman pancung oleh penguasa Romawi (Martyrs Mirror).

Kekristenan yang bersekutu dengan Zionisme dikenal sebagai Judeo-Christianity. Injilnya adalah Injil Scofield (Dibuat oleh Cyrrus Ingerson Scofield, lahir 19 Agustus 1843). Dia veteran perang saudara Amerika dan sama sekali bukan ahli agama, pastor, atau pun sarjana. Scofield tak lebih dari seorang petualang yang pintar berbicara dan mudah meyakinkan orang. Tipikal orang seperti inilah yang kemudian dirasa cocok oleh Konspirasi Zionis untuk menjalankan misinya mengubah penafsiran umat Kristen terhadap Alkitab, yang akan membuat dunia Kristen menjadi domba-domba yang patuh terhadap apa pun yang dilakukan Zionis-Israel. Latar belakang Scofield sendiri berasal dari keluarga yang berantakan, punya catatan kejahatan, dan sering menipu orang.

Dalam Injilnya, Scofield sebenarnya meneruskan pandangan John N. Darby yang secara umum telah diterima oleh evangelikalisme arus utama dan fundamentalisme Protestan Amerika. Scofield Reference Bible kemudian menjadi Alkitab kaum fundamentalis Kristen di AS dan dunia. Seorang murid Scofield yang paling berpengaruh, Lewis Sperry Chafer, di tahun 1924 mendirikan Dallas Theological Seminary, Sekolah Theologi Amerika yang begitu bersemangat membela pandangan dispensasionalisme pra-millenialis Darby dan Injil Scofield, dan yang jelas juga, mereka membela habis-habisan kepentingan Zionisme. Penafsiran Injil jenis inilah yang diproduksi di AS, yang sekarang menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia, sehingga menjadikan orang Kristen menjadi pendukung Israel.

Apakah kita perlu mendebat mereka? Saya pikir tidak perlu. Kita hanya perlu mendoakan agar Allah SWT menurunkan hidayah kepada mereka. Kecuali jika kualitas kita sudah menyamai kualitas seorang Ahmed Deedad yang mampu menundukkan para pendeta mereka dengan Injil itu sendiri.

Walahu’alam bishawab.

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Rizki Ridyasmara

….

Dikutip dari,

https://m.eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/kenapa-kristen-saat-ini-mendukung-yahudi.htm diakses tanggal 30 Sept 2020.

Jadilah Kristen Lalu Makanlah Daging Buaya

buhaya

Peternakan aligator Florida menghasilkan 136.000 kilogram daging setiap tahunnya, menurut Institut Ilmu Pangan dan Pertanian di Universitas Florida. Hasil tersebut dijual sepanjang tahun untuk dikonsumsi dengan harga 2 – 8 dolar Amerika serikat per kilogram.

Sumber,

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Aligator_Amerika

Diakses tanggal 8 Nopember 2020.

Sophislam,

Paparan di atas, yang berasal dari portal wikipedia, memberi informasi bahwa bagi manusia yang beragama Kristen, memakan daging buaya / aligator adalah lumrah. Ini jelaslah berarti bahwa di dalam Kristen, makan daging segala hewan hukumnya adalah halal, mengingat toh bangsa Amerika memang mayoritas Kristen.

Ini artinya, daging tikus, buaya, monyet, anjing, kadal, cecurut, ular, biawak, orangutan, gorila, kucing, dsb adalah halal untuk dimakan menurut ajaran Kristen. Itu pun, termasuk halal juga makan bangkainya.

Artinya, menjadi Kristen adalah menjadi manusia yang dihalalkan untuk makan daging segala binatang, dan termasuk bangkainya. Hal ini berdasar ajaran Jesus sendiri di dalam Injilnya, ketika Jesus berkata: bukan apa yang masuk ke mulutmu yang menajiskan kamu, melainkan apa yang keluar dari kamu itulah yang menajiskan kamu.

Ini artinya, semua makanan yang bisa masuk ke mulut orang Kristen, TIDAKLAH DAN BUKANLAH najis, melainkan halal. Luarbiasa, bukan?

Berkebalikan dengan Islam, agama yang agung dan mulia, melarang umatnya untuk memakan daging segala hewan; yang dihalalkan adalah sebatas ayam, ikan, sapi, domba, kambing dsb. Itu pun harus melalui penyembelihan yang syari, tidak boleh sembarangan saat mematikannya. Dan terlebih, daging bangkainya adalah haram untuk dimakan umat Muslim.

Akhir kata, apakah manusia Muslim masih berminat untuk murtad dan menjadi Kristen, yang ujung-ujungnya dihalalkan untuk memakan daging segala binatang tanpa tedeng aling-aling, dan begitu juga dengan daging bangkainya yang juga halal untuk dimakan?

Wallahu a’lam bishawab.

Secara Batin Umat Kristen Dunia Pasti Mendoakan Israel

Hidayatullah.com—

Namanya tak terlalu populer dibanding Pendeta Abraham Alex Tanuseputra, pendiri Gereja Bethany Family. Atau Pdt. Dr. Stephen Tong, Ketua Sinode GRII. Tapi pernyataanya kali ini akan membuatnya terkenal dan dikenang. Namanya Pendeta Hans Jefferson. Di tengah kecaman dunia atas aksi melawan kemanusian yang dilakukan Israel kepada warga Gaza, pengkhotbah yang juga Pimpinan Yayasan Kasih Untuk Bangsa ini justru memberikan pernyataan tak simpatik. Dalam sebuah wawancara dengan Radio Nederland Wereldomroep, (5/1) ia mengatakan, apa yang dilakukan Israel bukanlah penjajahan. 

“Jadi kalau orang bilang Israel mencaplok tanah Arab, tanah Palestina 14 Mei 1948, orang itu tidak tahu sejarah,” ujarnya. “Israel bukan merdeka -karena Israel tidak pernah dijajah. Israel kembali ke tanahnya 14 Mei 1948 untuk memberikan negara Israel dalam konteks pemerintahan dunia hari ini,” demikian katanya. Ada juga yang tak kalah menarik dalam pernyataannya. “Secara batin, umat Kristen di seluruh dunia pasti berdoa buat Israel,” ujarnya. Tapi, ini bukanlah suara mayoritas kaum Kristiani Indonesia. Berikut petikan wawancaranya dengan Radio Nederland Wereldomroep (RNW) dan diedit oleh www.hidayatullah.com.

Muhammadiyah juga mendesak Perserikatan Bangsa Bangsa untuk memberlakukan sanksi terhadap Israel karena telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan?

Ini perang. Kita tidak membenarkan suatu bangsa dibunuh oleh bangsa yang lain. Tetapi kalau bangsa saling menyerang, ini kan perang namanya.

Lalu kalau melihat umat Kristen di Indonesia, mereka pada umumnya bagaimana posisinya? Mengapa mereka tidak berdemonstrasi menentang kekerasan Israel?

Ya, prinsipnya begini. Kita harus bertindak cerdas di tengah situasi yang seperti ini. Karena sudah terjadi demonstrasi di mana-mana. Lalu kalau umat Kristen itu melakukan demonstrasi, maka itu kan namanya counter demonstration.

Itu kita akan menimbulkan masalah sendiri dalam negeri. Sedangkan kita melihat gelombang anti Israel, anti Amerika, anti dunia Barat itu luar biasa sekarang. Jadi kalau kita melakukan demonstrasi, itu berarti kita akan memindahkan Jalur Gaza ke Indonesia jadinya.

Lalu yang kedua, cara Kristen bukan seperti itu. Lebih baik kita menyikapi perang ini dengan cara yang lain. Kita mobilisasi gereja untuk berdoa, mobilisasi umat untuk melihat masalah ini secara sejarah tetapi juga secara fakta yang sebenarnya terjadi. Lalu kita melakukan apa yang bisa kita lakukan, yaitu meredam.

Sebenarnya juga banyak yang mau demo, yang membuat statement garis keras Kristen juga ada. Karena secara ‘akar Iman’ dapat dipastikan bahwa iman Kristen tidak bisa dipisahkan dari bangsa Yahudi.

Jadi secara batin, umat Kristen di seluruh dunia pasti berdoa buat Israel. Tapi di pihak lain juga tidak menghendaki Israel “membantai bangsa lain”. Ini perang sebenarnya.

Sekarang juga banyak pendeta yang memimpin perjalanan ke Israel. Dan juga ada pendeta-pendeta yang secara terbuka mendukung pemulihan Israel. Bukankah ini secara politik, mereka mendukung keberadaan Israel?

Tidak secara politik. Tapi secara iman. Saya sendiri baru dari Israel. Jadi bukan secara politis. Pernyataan bahwa berdoa buat Israel, berdoa untuk pemulihan Israel, itu secara iman. Karena kita punya akar iman yang sama.

Kita mempercayai separuh Alkitab itu sama. Kita punya Taurat yang sama. Tauratnya Israel Tauratnya kita juga. Perjanjian lama maksud saya. Jadi secara iman itu kita punya akar yang sama.

Yesus Kristus lahir dari bangsa Yahudi. Semua tempat suci Kristen, itu di Yerusalem, di Israel. Jadi dari sisi iman, dari sisi rohani, kita harus berdoa untuk Israel, karena ini secara internal Kristen bahwa Mazmur 122, yang berdoa bagi kesejahteraan Israel dan Yerusalem, maka diberkati. Siapa yang memberkati Israel diberkati. Itu Firman Tuhan.

Selama ini Israel dipandang sebagai Tanah Perjanjian bagi umat Kristen di Indonesia. Apakah sudah saatnya itu diubah pandangan seperti itu?

Tidak ada satu kekuatan pun di dunia ini, apalagi dari pihak internal Kristen yang mengubah pandangan bahwa Kanaan atau Israel sekarang bukan Tanah Perjanjian. Yang disebut Tanah Perjanjian karena Kejadian pasal 12, Tuhan, Jahweh Elohim berjanji kepada Abraham untuk memberikan tanah itu kepada keturunannya. Dan tanah itu digenapi oleh Tuhan, Jahweh Elohim, disembah oleh Abraham, Ishak dan Yakob pada jaman Musa keluar dari Mesir dengan umat Israel sampai di gunung Nebo dan Yosua melanjutkan kepemimpinan dan menguasai tanah itu.

Jadi Israel bukan memiliki tanah itu baru 14 Mei 1948. Bukan. Tanah perjanjian itu sudah dimiliki Israel dari jaman Nabi Musa. Bukan baru sekarang. Jadi kalau orang bilang Israel mencaplok tanah Arab, tanah Palestina 14 Mei 1948, orang itu tidak tahu sejarah. Kalau dia tahu sejarah, tanah itu sudah menjadi milik Israel dari zaman Musa. Tidak ada yang bisa mengubah itu. Sampai kapan pun juga.

Hanya Tuhan pakai Amerika, pakai Inggris, pakai PBB untuk mengembalikan Israel ke Tanah Perjanjian 14 Mei 1948. Dan ingat, Israel bukan merdeka -karena Israel tidak pernah dijajah. Israel kembali ke tanahnya 14 Mei 1948 untuk memberikan negara Israel dalam konteks pemerintahan dunia hari ini. Kalau dulu kan kerajaan.

Jadi Israel kembali ke kampungnya, bukan mengambil tanahnya orang Palestina. Bukan. [rnw/hid/www.hidayatullah.com]

-o0o-

< ==== https://m.hidayatullah.com/berita/wawancara/read/2009/01/06/4802/secara-batin-umat-kristen-di-seluruh-dunia-pasti-berdoa-buat-israel.html <==== 10 Okt 2020.

Sophislam,

Kaum Zionist berpendapat, bahwa tanah Kanaan adalah alami milik bangsa Israel, dan klaim ini mereka dasarkan pada kitabsuci mereka, yaitu Tanakh.

(Tanakh singkatan dari tiga kitab, yaitu TA-urat, NA-viim dan KH-etuvim. Tanakh dalam Kristen disebut Perjanjian Lama).

Kalau kita lihat kitab Tanakh ini, maka jelaslah bahwa tanah Kanaan atau tanah Palestina selamanya alami milik bangsa Israel. Oleh karena itu siapa yang dapat dan berani membantah fakta ini?

Dengan klaim kitabsuci ini, maka mau tidak mau, eksistensi Arab Islam di Palestina merupakan kekejian dan kekeliruan, atau dengan kata lain, Arab Islam telah lancang berbuat tidak sopan membangun kampung dan beranak pinak di tanah orang.

Benarkah demikian?

Pertama.

Orang Israel, atau orang Yahudi mempunyai kitabsuci bernama Tanakh. Tanakh ini di dalam agama Kristen disebut Perjanjian-lama. Di dalam Tanakh terdapat ayat maupun statement yang menyatakan bahwa tanah Kanaan adalah tanah yang diberikan Tuhan untuk dipusakai / diwarisi oleh bangsa Israel untuk selama-lamanya.

Oleh karena itu, seluruh dunia harus taat dan manut kepada kitab Tanakh ini, ketika Tanakh ini bertitah bahwa tanah Palestina adalah alami milik bangsa Israel turun temurun. Jadi, menurut sudut pandang orang Israel, semua bangsa di dunia ini, seperti bangsa Indonesia, bangsa Malaysia, India, China, Mongol, bangsa Afrika, bangsa Maori, bangsa Viking, bangsa Eropa, bangsa Arab, orang Hispanik, dsb, harus manut dan patuh kepada titah Tanakh ini, yang bertitah bahwa tanah Palestina adalah hanya untuk bangsa Israel.

Masalahnya adalah, kitab Tanakh ini adalah kitab yang dikandung / diusung bangsa Israel selama berabad-abad. Ya jelaslah isi dan ayatnya hanya selalu menguntungkan orang Israel. Kalau Tanakh ini adalah kitab yang selama berabad-abad diusung oleh bangsa Jepang, maka tentu isinya hanya menguntungkan bangsa Jepang. Pasti nanti isinya ada ayat yang berbunyi bahwa tanah Kanaan adalah tanah warisan turun temurun untuk bangsa Jepang selama-lamanya. Begitu logikanya.

Orang Israel itu bodoh, dan kemudian mengajak manusia di seluruh dunia untuk ikut bodoh bersama Israel, yaitu supaya manut dan patuh saja kepada kitab orang Israel yaitu Tanakh.

Letak bodohnya di mana? Letaknya bodohnya di sini: kitab Tanakh isinya hanya menguntungkan orang Israel saja, karena kitab Tanakh ini adalah kitabnya orang Israel.

Kedua.

Kemudian, pada bagian pertama tadi ada statement, bahwa semua bangsa di dunia harus manut kepada Tanakh yang bertitah bahwa tanah Palestina adalah milik Israel buat selama-lamanya.

Ohyaaaa? Jadi seluruh bangsa di dunia ini, apa pun agama dan budayanya, harus manut dan patuh kepada kitabnya orang Israel ini yaitu Tanakh, yaitu bahwa tanah Palestina adalah milik Israel? Jadi orang Islam harus manut dan patuh kepada Tanakh nya Israel? Orang Hindu harus manut dan patuh kepada Tanakh Israel? Orang Buddha harus manut dan patuh kepada Tanakh Israel? Orang Konghucu harus manut dan patuh kepada Tanakh Israel? Orang Jainisme, orang Sikh, orang Bahaist, orang Tao, orang Zoroaster, dsb semuanya harus manut dan patuh kepada Tanakh Israel?

Yang benar saja!

Ketiga.

Bahkan di dalam kitab Tanakh,  terdapat ayat yang bertitah,

Kejadian 12:3 – – Aku (Tuhannya Israel) akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Ayat ini ditujukan kepada orang Israel.

Jadi, menurut Tanakh, semua orang di dunia harus memberkati orang Israel, yang artinya semua orang di dunia harus menghormati dan segan kepada orang Israel, kalau mau selamat dan untung. Kebalikannya, kalau ada manusia maupun bangsa yang mengutuk maupun antipati kepada Israel, maka Tuhan dunia akan mengutuk bangsa tersebut. Wahhhhhh!!

Ya jelaslah ada ayat seperti itu di dalam Tanakh, karena Tanakh ini adalah kitab yang diusung oleh orang Israel …… maka tidak aneh kalau isi dan ayatnya hanya selalu menguntungkan orang Israel saja.

Keempat.

Orang Israel bilang, bahwa Palestina adalah milik bangsa Israel, karena itu semua dikatakan oleh ajaran Tanakh.

Kalau begitu, maka bolehkah kalau Palestina dijadikan milik bangsa Muslim, karena Alquran berkata demikian? Tentu orang Israel akan berkata, tidak boleh.

Kemudian, mengapa tidak boleh? Pasti orang Israel akan berkata, karena itu adalah kata Alquran.

Jadi, maksudnya apa? Maksudnya, kalau Tanakh mengajarkan bahwa Kanaan adalah milik Israel, maka harus dipatuhi. Namun kalau Alquran yang mengajari bahwa Kanaan adalah milik Arab Muslim, maka jangan dipatuhi. Begitukah?

Lantas apa istimewanya Tanakh dibanding Alquran, sehingga ajaran Tanakh harus diwujudkan, sementara ajaran Alquran tidak boleh diwujudkan?

Yang benar saja, orang Israel ini!!!!

Note, apakah Alquran juga mempunyai ayat yang mengajarkan bahwa tanah Kanaan adalah milik Arab Muslim? Jawabannya, tentu saja tidak ada. Mengapa? Karena Alquran itu merupakan kitab yang suci dan rasional, yang diturunkan oleh Allah Swt untuk seluruh umat manusia.

Kelima.

Pada semua paparan sejarah yang tersedia di internet tertulis, bahwa jauh sebelum bangsa Israel, tanah Kanaan telah diduduki dan diperintah oleh bangsa lain. Jadi bisa dikatakan, bahwa Israel bukanlah bangsa pertama yang memerintah di tanah Kanaan.

Lalu kemudian, datanglah bangsa Israel ke tanah Kanaan ini dengan kitabsuci mereka. Dan tiba-tiba, kitabsuci mereka berkata bahwa tanah Kanaan adalah milik abadi bangsa Israel. Wah ……. Tuhan jenis apa yang berada di balik Tanakh ini?

Inilah salah satu kebodohan bangsa Israel, salah satu keserakahan bangsa Israel, dan salah satu kesombongan bangsa Israel.

Ingatlah, Tuhan alam Semesta pasti tidak akan berbuat demikian, yaitu mengklaim bahwa satu dua jengkal tanah di bumi ini milik bangsa tertentu. Ingatlah, Tuhan itu adil, tidak seperti  Tuhannya Tanakh.

Keenam.

Jadi, menurut ego dan kebodohan-nya orang Israel, peruntukan sebidang dua bidang tanah di bumi ini adalah berdasar kitabsuci, dan kitabsuci itu haruslah Tanakh saja, kitabsuci lainnya tidak.

Kewarasan berkata, bahwa peruntukan sebidang dua bidang tanah, haruslah berdasar hukum dan kesepakatan berbagai pihak skala lokal, nasional maupun internasional, bukan berdasar kitabsuci Tanakh. Namun karena saking bodohnya, orang Israel lancar saja berkata bahwa peruntukan tanah di bumi ini adalah berdasar Tanakh. Tujuannya? Yaaa untuk keuntungan bangsa Israel saja, …….. dan bangsa lain biarkan saja rugi, toh bangsa lain bukan bangsa pilihan Tuhan. Begitu kata Tanakh.

Ketujuh.

Peruntukan sebidang dua bidang tanah di bumi ini, tentunya harus berdasar kesepakatan berbagai pihak pada skala lokal, nasional maupun internasional (bukan berdasar kitabsuci agama mana pun). Dan komponen utama yang menjadi pertimbangan pada kesepakatan itu, adalah batas tanah atau wilayah yang berlaku atau eksis pada “Perkembangan Dunia Modern”.    

Nah, apakah yang dimaksud dengan Perkembangan Dunia Modern? Perkembangan Dunia Modern adalah berpatokan pada saat terjadinya Perang Dunia Pertama. Jadi, segala perbatasan wilayah, maupun pihak mana yang menghuni atas suatu bidang tanah, sebelum terjadinya Perang Dunia Pertama, tidak dianggap ada, atau dianggap tidak berlaku.

Aplikasinya adalah, pada saat terjadinya Perang Dunia Pertama, tanah Kanaan atau kawasan Palestina milik bangsa siapa? Bangsa mana pun yang menjadi penghuni maupun pemilik atas tanah Palestina pada saat terjadinya Perang Dunia Pertama, maka bangsa atau pihak itulah yang berhak atas tanah tersebut. Jawabannya adalah, tentu saja Arab Muslim, karena pihak inilah yang menjadi penguasa atau menghuni kawasan Palestina –termasuk Jerusalem di dalamnya.

Bagaimana dengan Israel? Apakah Israel merupakan penguasa maupun penghuni Palestina pada saat Perkembangan Dunia Modern, alias Perang Dunia Pertama? Jawabannya, tidak.

Maka oleh karena itu, harus disepakati, bahwa Palestina dengan Jerusalem-nya adalah milik sah bangsa Arab Muslim, karena bangsa Arab Muslim telah berdiam dan menghuni tanah Kanaan ini pada saat terjadinya Perang Dunia Pertama.

Hal ini sangat serius untuk dimengerti. Benua Amerika Utara contohnya, sebelum kedatangan bangsa Eropa, merupakan kawasan yang dihuni dan dimiliki suku Indian, yang beberapa sumber menyatakan bahwa suku Indian adalah umat Muslim, umatnya Nabi Muhammad Saw. Kalau TIDAK BERDASARKAN perkembangan dunia modern, yang berpatokan pada Perang Dunia Pertama, maka seharusnya dunia menyerahkan dan mengembalikan benua Amerika Utara itu kepada umat Muslim.

Pada tahun 1200an, suku Mongol menyerang dan menguasai kawasan Timur Tengah. Maka seharusnya dunia menyerahkan dan mengembalikan kawasan Timur Tengah kepada suku Mongol. Begitu juga, seluruh kawasan Asia Tenggara pada masanya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Maka bukankah itu berarti seluruh negara di kawasan Asia Tenggara harus menjadi bagian Indonesia, tempat berpusatnya Kerajaan Majapahit?

Namun, ketiga hal tersebut (benua Amerika Utara milik umat Muslim, kawasan Timur Tengah milik bangsa Mongol, dan kawasan Asia Tenggara milik Majapahit) tidak bisa dijadikan dasar, karena keseluruhan penguasaan tanah tersebut terjadinya jaaaaaaaauh sebelum  Perang Dunia Pertama.

Begitu juga dengan hubungan antara tanah Kanaan dengan bangsa Israel. Memang benar bangsa Israel pernah berkuasa dan menghuni tanah Kanaan. Namun saat kejadiannya itu kapan? Bukankah jaaaaaaauuh sebelum terjadinya Perang Dunia Pertama? Maka hal tersebut tidak bisa dijadikan dasar untuk mengklaim bahwa tanah Kanaan adalah milik Israel.

Intinya, kalau tidak berdasar pada keadaan peta perbatasan yang eksis pada masa Perang Dunia Pertama, maka kepemilikan tanah atau wilayah di seluruh dunia bisa kacau, masing-masing pihak bisa mengajukan klaim wilayah berdasarkan rentetan sejarah masa lalu jauh sebelum terjadinya Perang Dunia Pertama: bangsa Muslim berhak mengklaim Amerika Utara, bangsa Mongol berhak mengklaim Timur Tengah, dan Indonesia berhak mengklaim seluruh kawasan Asean.

Kedelapan.

Logika sederhana saja. Kisah Nabi Ibrahim di dalam Alkitab, Ibrahim sendiri-kah yang menulis? Pasti bukan. Lantas siapa yang menulis kisah Nabi Ibrahim? Siapakah namanya? Apakah sukunya? Untuk siapakah ia menulis kisahnya? Atas perintah siapakah ia menulis kisahnya?

Kemudian kisah Nabi Musa, kisah Nabi Daud, kisah Nabi Yusuf …. kisah Nabi Nuh ….. pasti bukan Nabi ybs yang menulis, melainkan orang lain yang menulisnya. Lantas siapakah namanya? Apakah sukunya? Apakah agamanya? Untuk siapakah mereka menulis kisah-kisah tersebut? Atas perintah siapakah kisah-kisah tersebut mereka tulis?

Sampai sekarang tidak ada satu pun ilmuwan yang dapat memberi jawaban yang pasti, pdh hal tersebut sangat krusial, karena hal ini menyangkut kredibilitas kitabsuci, yang dianggap Firman Tuhan. Toh intinya para ahli sepakat, bahwa kitab Musa TIDAK MUNGKIN ditulis oleh Musa sendiri, kitab Daud TIDAK MUNGKIN ditulis oleh Daud sendiri, kitab Ibrahim TIDAK MUNGKIN ditulis oleh Ibrahim sendiri.

Namun tiba-tiba saja Alkitab wujud di atas meja, atau di laci, atau di toko buku, dsb ….tanpa diketahui siapa yang menulisnya ….. bahkan salinan aslinya pun tidak dijumpai di mana pun …. Tidakkah hal tersebut mengerikan?

Dan di tengah kegalauan tersebut, tiba-tiba kita mendengar, bahwa di dalam Alkitab / Tanakh terdapat ayat yang menyatakan bahwa Tuhan memberikan tanah Kanaan untuk bangsa Israel, sementara di lain pihak kita faham bahwa kitab Tanakh itu merupakan kitab yang diusung oleh bangsa Israel sendiri. Bukankah ayat ini sebenarnya ayat bikinan orang Israel untuk keuntungan bangsa Israel sendiri? Atau, apakah mungkin Tuhan berlaku picik, dengan merampas fakta bahwa jauh sebelum Israel, tanah Kanaan telah dihuni suku lain selama ribuan tahun?

Minimal, sebelum semua warga dunia sepakat bahwa tanah Kanaan adalah milik alami bangsa Israel, maka tolong sebutkan saja dulu, siapa yang menulis mula-mula kitab Ibrahim, kitab Musa, Kitab Daud dsb? Mereka pasti punya nama, kan? Jadi, tolong sebutkan.

Dan masih adakah salinan mula-mula nya? Sekarang disimpan di mana? Di dalam bahasa apa? Berumur berapa ribuan tahun?

Kesembilan.

Blogsite senjatarohani dot wordpress dot com, mempunyai artikel yang berjudul “Tanah Kanaan / Israel / Palestina dan kota Yerusalem milik siapa sebenarnya?”. Pada artikel tersebut, penulisnya menulis, bahwa …..

……. YAHWEH mengembalikan tanah Israel sepenuhnya kepada umatNya pada 15 May 1948, setelah  terbuang dan tidak memiliki negara selama 1878 tahun lamanya. Sehingga genaplah nubuatan nabi-nabi …… dst.

1878 tahun lamanya bangsa Israel terbuang dan terserak-serak di muka bumi? Bukankah itu berarti hampir DUA MILENIUM bangsa Israel terkatung-katung tanpa hargadiri?

Coba renungkan. Kalau memang benar bahwa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan, lantas mengapa Tuhan membiarkan Israel terkatung-katung di padang pasir selama dua ribuan tahun? Kalau memang benar bahwa Israel bangsa pilihan Tuhan, maka seharusnya SETAHUN PUN  tidak akan dibiarkan Tuhan terkatung-katung di padang pasir tanpa hargadiri …. Lha ini? 1878 tahun? Dan masih juga dibilang bangsa pilihan Tuhan? Ah yang benar saja!!!!!

Apalah maknanya, apalah artinya, apalah gunanya, Tuhan berseru-seru bahwa Israel merupakan bangsa pilihan Tuhan, kalau Tuhan membiarkan bangsa ini berserakan dan terkatung-katung di muka bumi tanpa tentu arah? Dua ribu tahun?

Kemudian, artikel tersebut juga menulis, bahwa penguasa tanah Israel berganti-ganti tangan …..

Ini maksudnya apa? Kalau disebutkan bahwa Israel merupakan bangsa pilihan Tuhan, maka seharusnya Tuhan tidak membiarkan Raja dan bangsa mana pun untuk menjajah Israel …. Namun bukankah faktanya bangsa Israel selalu menjadi korban hegemoni bangsa lain?

Jadi jelaslah, bahwa ayat Tanakh yang menyatakan bahwa Israel merupakan bangsa pilihan Tuhan, merupakan ayat karangan atau buatan tangan jahil orang Israel, karena TIDAK ADA WUJUD DAN BUKTI EMPIRISNYA ….

Dan begitu juga dengan ayat Tanakh yang menyatakan bahwa Tuhan Yahweh menjadikan tanah Kanaan sebagai kampung bangsa Israel untuk selama-lamanya, sebenarnya merupakan ayat karangan atau ayat bikinan tangan jahil orang Israel demi keuntungan sepihak mereka …..

Karena kalaulah benar bahwa Tuhan menjadikan Kanaan sebagai kampung bangsa Israel, lantas mengapa Israel harus berserakan dan terkatung-katung di muka bumi hampir dua ribu tahun? 1878 tahun? Lelucon mana ini?

Bahkan, ayat lain di dalam Tanakh menulis,

Kejadian 12:3 – – Aku (Tuhannya Israel) akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Mana buktinya? Adakah buktinya?

Bangsa jerman membantai ribuan Yahudi, toh sampai sekarang bangsa jerman aman-aman saja ….. bangsa mesir memperbudak ribuan Yahudi, toh sampai sekarang negara mesir aman-aman saja …… romawi pernah menjajah Yahudi,  toh sampai sekarang negara romawi aman-aman saja …. Kenapa bisa begitu?

Lantas di mana wujud dari Firman Tuhan pada Kejadian 12:3 tersebut? Bangsa Indonesia saja, yang selalu mengutuk aksi kekejian Israel, sampai sekarang masih aman-aman saja, bahkan senantiasa diberi kelimpahan rejeki ……

Kalau memang benar bahwa Tuhan berfirman bahwa Tuhan akan mengutuk siapa saja yang mengutuk Israel, maka seharusnya jerman sudah melarat kutukan, bangsa mesir dan bangsa romawi sudah menderita kutukan dari Tuhan Yahweh. Namun mana buktinya?

Jadi jelaslah, bahwa ayat Kejadian 12:3 merupakan ayat karangan atau bikinan tangan jahil Yahudi, untuk keuntungan dan egoisme bangsa Israel sendiri. Wah pantas saja Allah Swt mengutuk bangsa Israel, karena dari sini saja sudah terbukti kebengalan dan ketengilan bangsa ini …

Penutup.

Allah Swt berfirman di dalam Alquran surah Almaidah ayat 18,

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu ” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya; Dia mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).

Ayat Alquran ini menegaskan dan sinkron dengan fakta dunia, bahwa frase “Israel adalah anak Tuhan dan bangsa pilihan Tuhan”, adalah karangan dan bikinan tangan jahil orang Israel semata; frase tersebut bukanlah ayat Tuhan Semesta alam.

Alkitab, memang tidak bisa dipercaya ….. maka celakalah siapa saja yang percaya kepada Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru ……

Qorban Dan Mengorbankan Putra TunggalNya

qorban-dan-mengorbankan-putra-tunggalnya

Islam mempunyai rangkaian ibadah yang dinamakan dengan ‘kurban’ yaitu ibadah yang mengisyaratkan umatnya  untuk memulai memotong hewan korban –biasanya kambing, domba, kerbau dan lain lain- untuk dihadiahkan kepada mereka yang kekurangan. Sementara Kristen mempercayai adanya suatu Pengorbanan, yaitu peristiwa di mana Tuhan mengurbankan Putra tunggalNya, Almasih, untuk disalibkan sebagai penebus dosa semua umat manusia yang percaya pada penyaliban tersebut. Pengurbanan ini pada saat selanjutnya menjadi inti dari ajaran Kristen itu sendiri.

A. Kristen.

Permulaan kelahiran agama Kristen justru berawal dari suatu pengorbanan yang agung –dan kemudian semua umat Kristen mengindentikkan keyakinan mereka dengan kerelaan berkorban yang tulus untuk  seluruh dunia.

Secara keagamaan mereka menggariskan, bahwa untuk suatu alasan yang ajaib, Tuhan dilukiskan telah melahirkan putraNya sendiri ke dunia untuk mengambil tempat hidup terdekat dengan semua umat manusia itu sendiri. ‘Orang’ yang diyakini sebagai ‘Putra Tuhan’ ini dalam pandangan semua umat Kristen mempunyai semua sifat-sifat suci sang Tuhan –mereka menyebutNya Tuhan Ayah atau Tuhan Bapa (biar bagaimana pun memanggil Tuhan dengan sebutan ‘Tuhan Bapa’ ini tetap merupakan warisan dari tradisi Yahudi)- seperti dapat membangkitkan orang dari kematian, dapat menyembuhkan penyakit yang parah dan dapat mengetahui makanan seorang umat yang disimpan di rumahnya. Semasa hidupnya, orang ini, yang dikenal sebagai Yesus, mengajarkan kepada semua umat manusia itu, umat sang Bapa-nya, akan nilai-nilai yang diajarkan oleh Tuhan semesta alam. Pada akhirnya penentangan yang hebat muncul dari tengah kerumunan manusia mengingat mereka semua adalah anak-anak Yahudi yang anti dengan semua apa pun yang bersifat anti-Yahudi. Puncak dari penentangan ini adalah vonis mati atas tubuh dan darah Yesus: tidak bisa tidak Yesus harus mati dengan cara disalib.

Selanjutnya kepercayaan Kristen menjelaskan bahwa kematian (atau pun kekalahan dan ketakberdayaan terhadap kaum Yahudi) Yesus di kayu salib adalah tak lebih dari takdirnya sendiri yang telah ditentukan oleh Tuhan. Untuk pemahaman ini Kristen menjabarkannya sebagai rencana Tuhan untuk mengorbankan nyawa putraNya sendiri untuk menebus semua dosa umat manusia.

Tuhan melalui kisah penyaliban Yesus ini sebenarnya hendak menekankan bahwa biar bagaimana pun tak ada satu cara pun bagi semua umat manusia untuk keluar dari cengkraman dosa melainkan cara-cara yang justru datangnya dari Tuhan sendiri. Tuhan merasa perlu untuk mengambil tindakan yang revolusioner dan sepihak untuk menentukan langkah-langkah penghapusan dosa semua umat manusia secara instant dengan menyatakan pada saat yang bersamaan bahwa tidak mungkin bagi siapa pun dari kalangan umat manusia itu yang pantas untuk masuk ke dalam Neraka.

Dengan demikian Kristen secara normative telah mengadopsi suatu pemahaman bahwa adalah suatu yang mutlak untuk menciptakan konsep dosa yang khas: dosa dengan semua pengampunannya hanya berasal dari Tuhan dan harus merupakan inisiatif Tuhan itu sendiri; manusia mana pun tak  mempunyai inisiatif yang merdeka dalam usaha-usaha dalam penghapusan dan pengampunan dosa tersebut. Manusia tak dapat berkorban dan berinisiatif apa-apa untuk dan tentang dosa mereka di depan Tuhan mereka, dan Tuhan dapat. Oleh karena itu nilai dasar (orang-orang) Kristen tentang dosa bukanlah terletak pada usaha-usaha mereka untuk keluar dari Kuasa Dosa dan kemudian agama itu (dalam hal ini adalah Gereja) mengajarkan pengikutnya beberapa hal yang dapat mengeluarkan mereka dari cengkraman dosa tersebut, namun justru hanya terletak pada keputusan dari seseorang untuk percaya pada Yesus dan penyalibannya karena dalam Yesus dan penyalibannya tersebut semua penebusan dosa dan semua usaha untuk keluar dari dosa tersebut telah ditanggung (dijamin). Surga adalah jaminan yang paling tepat atas pemilihan kepercayaan untuk Yesus.

Secara sederhananya dapat dijelaskan, jika Kristen mempercayai bahwa Tuhan telah melakukan suatu tindakan ‘pengorbanan’ untuk semua umat manusia, maka Yesus adalah apa yang dikorbankan Tuhan untuk maksud tersebut. Adalah jelas bagi semua orang Kristen bahwa tidak ada apa-apa lagi yang dapat diperbuat Tuhan kecuali mengorbankan apa pun jika Tuhan ingin mendapatkan sesuatu atau jika ingin semua umat manusia terbebas dari kejaran dosa dan Neraka. Jika Tuhan tidak mengambil langkah-langkah pengorbanan tersebut (tertentu) dapat dipastikan bahwa suatu hal, maksud, tujuan, atau apa pun tak akan pernah terjadi. Biar bagaimana pun Tuhan dengan pengorbananNya adalah dua hal berbeda yang saling identik. Secara fatalistic Kristen mempercayai, bahwa pengorbanan Tuhan untuk mencapai tujuanNya di satu tempat, adalah identik dengan ketidakberdayaanNya di tempat lain.

B. Islam.

Rangkaian ibadah Qurban sebenarnya  dimulai dari kisah Nabi Ibrahim as ketika ia mendapatkan perintah dari Tuhan untuk menyembelih putra satu-satunya yang masih kecil yaitu Ishmail as. Biar bagaimana pun perintah yang berasal dari Tuhan ini seutuhnya adalah hanya untuk menguji keimanan dan ketabahan hati Ibrahim as dalam menjalankan tugas dari Tuhan Yang Maha Esa.  Ibrahim as. sejurus kemudian segera melaksanakan perintah tersebut dengan penuh keimanan dan kekuatan jiwa untuk menyembelih putra yang sebenarnya ia dambakan selama hidupnya. Penggantian yang diberikan Tuhan berupa seekor domba atas tubuh Ishmail as  tepat ketika ujung pisau telah mengenai batang leher Ishmail, benar-benar meyakinkan Ibrahim beserta putranya bahwa Tuhan kasih dan lebih dari itu, penggantian Tuhan sebenarnya ingin menyatakan bahwa Ibrahim dan putranya telah berhasil melalui ujian yang maha berat.

Penyerahan diri dan ketaqwaan yang dinyatakan oleh  Ibrahim as dan putranya Ishmail as kepada Tuhan menjadi moment yang penting dalam perayaan Idul Qurban (atau biasa juga disebut dengan Idul Adha) yang dirayakan oleh setiap Muslim di seluruh dunia setiap tahun.

Idul Qurban mempunyai keterkaitan dengan mental yang ingin dimiliki oleh setiap Muslimmengingat makna yang terdapat dalam perayaan itu benar-benar menggambarkan tujuan yang jelas dari kehidupan beragama.

Lebih dari itu, perayaan Idul Qurban berada pada pemikiran yang mempengaruhi dan ‘membuktikan’ eksistensi dari kemanusiaan itu sendiri. Arti dari dua kata tersebut (Idul Qurban) ke dalam semua bahasa manusia dapat menjelaskan tujuan apa sebenarnya yang dapat diuraikan kembali oleh semua umat Muslim. “Idul”, “pengembalian”, “re”, “cyclus” atau “recycle”,  langkah pertama yang melukiskan kesinambungan, suatu agenda yang tak akan habis selama-lamanya. Kata “Qurban” dalam bahasa Arab teruraikan menjadi kata dasar yang berarti “dekat” atau “mendekatkan”; menjadikan Qurban berarti suatu langkah, kesempatan yang dapat diambil untuk mendekatkan seseorang pada tujuan-tujuan tertentu. “Sacrifice”, “Qurban” ingin dipahami sebagai objek yang menjadi pilihan untuk dijadikan alasan yang tepat atas tercapainya suatu tujuan yang telah ditentukan tersebut secara mudah dan yang paling memungkinkan.

Idul Qurban, tak pelak lagi selalu menjadi refleksi dan kesadaran dari keadaan yang sebenarnya dari suatu ‘takdir’ yang terus melekat pada apa pun yang disebut dengan ‘makhluk’: biar bagaimana pun makhluk (termasuk di dalamnya manusia) adalah suatu keadaan, suatu kesadaran yang dalam pencapaian semua tujuannya akan selalu menggunakan dan membutuhkan ‘objek-antara’ yang mendekatkan dia dengan tujuan semula. Sebenarnya, ini merupakan spesifikasi yang paling dasar dari apa pun yang dikatakan sebagai makhluk: makhluk adalah suatu objek yang selalu mempunyai tujuan yang pencapaiannya tidak bisa tidak akan menggunakan objek lain sebagai alat untuk memungkinkannya. Ia membutuhkan harga, energi, yang akan ia gunakan (habiskan) untuk maksud tersebut. Namun jika ada satu oknum yang dalam pencapaian semua tujuannya tidak membutuhkan objek lain untuk mendekatkan dan memungkinkannya berhasil dengan tujuan-tujuan tersebut, maka harus dipastikan bahwa oknum tersebut adalah Tuhan. Dengan demikian, sifat dasar yang melekat erat pada takdir kemakhlukan adalah adanya keinginan dan inisiatif yang mutlak untuk menjadikan objek lain di luar dirinya sebagai alasan dia berhasil dengan ide-idenya.

Terdapat suatu paradox, suatu permasalahan yang akan saling bersinerji dalam takdir kemakhlukan: di  satu pihak ia mempunyai tujuan, dan di pihak lain ia selalu diliputi oleh ketidakmampuannya (kecacadan, ketercelaan, hambatan, kekurangan, kepapaan, ketakberdayaan, kelumpuhan, ketergantungan, ketidakmerdekaan, kepeng-hambaan) untuk mencapai tujuan tersebut. Mau tak mau harus ada satu pembicaraan lagi yang akan membahas adanya satu hal yang akan ditempatkan tepat di tengah paradox tersebut: apa pun (objek) itu yang diputuskan (dipilihkan) maka itu harus dapat secara efektif menghilangkan permasalahan dalam paradox tersebut.  Ini berarti objek tersebut adalah yang akan memungkinkan makhluk tersebut  (yang papa dan selalu terhambat) untuk berhasil dengan rencananya  tersebut. Dalam Islam objek  tersebut disebut dengan Qurban, sesuatu yang mendekatkan suatu makhluk (yang tidak berdaya) dengan tujuannya. Hasil dari sinerji antara kekurangan di satu pihak dan tujuan di pihak lain yang ada pada suatu makhluk mau tak mau akan melahirkan konsep berqurban; Islam menganggapnya demikian.

Sungguh, semua hal yang disebut dengan oknum, baik ia sebagai Khalik (Sang Pencipta) mau pun sebagai makhluk (yang diciptakan) tetap akan mempunyai tujuan, apa pun itu. Tuhan, biar bagaimana pun tak pernah bebas dari rencana, kehendak dan ide. Tuhan dengan keagunganNya adalah Oknum yang selalu dapat memastikan bahwa apa pun yang Ia kehendaki, maka hal itu akan terjadi tanpa ada satu pun yang dapat menghalangiNya.  Ia Yang Maha Berkehendak dan Ia pula Yang Maha Kuasa atas semua kehendakNya tersebut. Ia adalah Yang Maha Agung dan Maha Sempurna: Ia bebas dari kecacadan, kepenghambaan, keterbelakangan, pengharapan dan ketidakberdayaan.  Selalu dapat dipastikan bahwa Ia tak membutuhkan apa pun untuk Ia korbankan supaya semua ideNya dapat terwujud secara utuh. Ia, adalah Oknum Yang segalanya adalah mudah di tanganNya. Untuk itu Ia tidak merasa perlu untuk berterima kasih kepada apa pun yang telah meluluskan semua kehendakNya. Ia Yang Maha Sempurna dan Maha Kuasa mandiri dengan semua kehendak, rencana dan ide-ideNya. Dengan demikian Islam memandang bahwa Tuhan adalah satu-satunya Oknum Yang atas dasar  dan karena Kesempurnaan dan KekuasaanNya tidak akan pernah mengadopsi konsep ber-Qurban untuk rencana apa pun yang Ia miliki.

Ini berarti dan berlaku secara kebalikan bagi makhluk, terlebih manusia. Makhluk apa pun akan selalu dibahas sebagai oknum yang mempunyai segala kekurangan dan ketakberdayaan. Jika ia mutlak mempunyai tujuan, kehendak, maka ini harus berarti bahwa ia mutlak pula akan membutuhkan objek lain yang akan dijadikan qurban sebagai respon  bahwa dirinya selalu diliputi oleh kekurangan yang mendasar dan parah.  Peristiwa saling ‘mengkurbankan’ adalah ciri mutlak yang akan diterapkan kepada semua makhluk dalam mencapai tujuan.

Perayaan Idul Qurban (kembali kepada komitmen untuk siap berkorban demi Tuhan) adalah pernyataan kehambaan dan ketakberdayaan di depan tujuan yang maha agung dan berat (ingin mendapatkan Tuhan dan SurgaNya) yang akan selalu diulang dan diperbaharui setiap tahun.  Satu hari dalam satu tahun akan selalu disiapkan untuk mengingatkan semua warga Tuhan bahwa ia akan menjadikan kegiatan berkorban sebagai pandangan hidupnya yang paling mendasar: ia akan berkorban dan mengorbankan apa pun yang ia cintai demi mendapatkan tempat terbaik di mata Tuhan; hanya berkorban yang akan dapat mendekatkan seorang umat kepada Tuhan.

_.:oOo:._

Iman Kristen selalu menempatkan bahwa Yesus adalah objek yang menjadi pilihan Tuhan untuk dikorbankan bagi dunia untuk mendapatkan kesuciannya kembali. Sementara Islam memandang bahwa berkorban hanya akan menunjukkan bahwa apa pun selama ia adalah makhluk maka ia akan dipenuhi oleh kekurangan yang  memilukan.

Ini berarti, Islam dan logika akan memandang bahwa berkorban tak akan dilakukan oleh Tuhan atas dasar kesempurnaan dan keagunganNya. Bagi Islam, dikorbankannya Yesus oleh Tuhan Semesta Alam hanya membuktikan pada suatu tempat yang salah bahwa Tuhan akhirnya telah sampai pada satu kekurangan dan ketakberdayaanNya. Kebajikan akal yang memerintah akan segera menyatakan bahwa jika Islam melembagakan Idul Qurban sebagai moment yang akan selalu mengingatkan bahwa makhluk apa pun akan selalu diliputi oleh kekurangan, maka Kristen dengan Iman Penyalibannya akan menyatakan bahwa Tuhan adalah setakberdaya makhlukNya sendiri. Jika Islam tidak menegaskan  bahwa Tuhan memerlukan untuk berkorban bagi tujuanNya apa pun sehingga itu akan bermakna bahwa Tuhan amat Kuasa, maka itu jelas. Dan jika berkorban berarti membutuhkan,  maka itu akan lebih menegaskan bahwa kisah Tuhan Surga telah memutuskan untuk mengorbankan Yesus adalah bentuk lain dari betapa Tuhan membutuhkan hal lain yang tanpa hal lain tersebut Tuhan tak akan pernah berhasil dengan buah pemikiranNya sendiri, apa pun itu.

Kristen dalam hal ini berpendirian bahwa perbuatan Tuhan yang mengorbankan putraNya sendiri untuk dijadikan penebus dosa dunia adalah pernyataan dari padaNya bahwa Ia Kasih kepada seluruh umat dunia: Tuhan adalah Kasih dan Ia akan mengorbankan apa pun untuk menyatakan KasihNya walau pun itu adalah putraNya sendiri. Namun di pihak lain justru hal itu akan memperkaya kenyataan bahwa sebenarnya Tuhan telah dan akan gagal dalam memastikan bahwa semua tujuanNya akan berhasil secara mandiri, tanpa mengorbankan apa pun.

Selayaknya Kasih Tuhan itu tak akan pernah membuat ada pihak lain yang terluka dan sengsara karenanya. Kasih Tuhan justru akan membuat semuanya merasa aman dari marabahaya sekecil apa pun. Kasih Tuhan akan membuat semua ancaman tetap akan berada pada jarak yang aman dari semua umatNya, termasuk Yesus: tidak perlu ada yang harus merasa sakit, menanggung penderitaan, dan berdarah-darah untuk apa pun. Kasih Tuhan akan selalu menjadi ‘penghiburan’ atas semua yang diciptakanNya. Lebih dari itu, untuk tujuan yang besar, memberikan penghiburan yang agung kepada semua umatNya tersebut, maka Tuhan akan melakukan dan memberikannya tanpa ada satu pun yang harus menjadi korban: Ia Maha Kuasa dan Maha Luas KaruniaNya.

Adalah jelas biar bagaimana pun, bahwa Kasih Tuhan akan selalu dapat memerdekakan siapa pun dari kesakitan dan kesengsaraan. Kasih Tuhan tak akan pernah bernilai marabahaya bagi siapa pun…..

Dengan demikian, sementara Islam selalu memperhatikan akan adanya kecenderungan untuk selalu berkorban (kenyataan kedua setelah ketidakmampuan, kenyataan yang pertama) sebagai takdir  yang akan selalu melekat pada kemakhlukan yang selalu diperbaharui pada perayaan Idul Qurban,  maka Kristen justru telah menciptakan tradisi pemikiran yang berbahaya bagi eksistensi Tuhan.

Kasih dan Kuasa Tuhan: KasihNya selalu menjadi penghiburan dan tak akan mengakibatkan siapa pun terluka, dan KuasaNya, memastikan bahwa Tuhan selalu mendapatkan apa pun yang Ia inginkan tanpa hambatan. Islam telah selesai dengan permasalahan tersebut. Secara fatal, Kristen tidak.

Penamaan Islam vs Penamaan Kristen

penamaan-islam-vs-penamaan-kristen

Secara dunia, agama yang dibawakan oleh Almasih disebut Kristen (Christianity) sementara agama yang dibawa oleh Muhammad Saw dinamakan Islam. Di luar itu pula, sebenarnya nama agama yang dibawa oleh Almasih, secara Arab dinamakan  Nasrani. Menarik untuk dibahas, bahwa pada masa awal persinggungan Islam dengan dunia Barat, Islam dinamakan oleh sarjana Barat sebagai Muhammadisme, mengingat agama tersebut dibawakan oleh seseorang dengan nama Muhammad. Pada saat selanjutnya dunia Muslim menolak penamaan tersebut karena sebenarnya ada perbedaan yang mendasar antara Muhammadisme dengan Islam. Dunia Islam beruntung dengan penolakan ini: Barat segera melupakan penamaan Muhammadisme dan selalu menggunakan nama Islam sebagai gantinya; memang itu adalah nama yang diajarkan oleh Muhammad Saw dan Tuhan Semesta Alam, Swt.

A. Kristen.

Agama ini untuk pertama kalinya diperkenalkan dengan nama Kristen di Barat, dan Nasrani di kawasan yang berbahasa Arab dan untuk selanjutnya memang agama tersebut dinamakan dengan sebutan demikian. Bisa ditelusuri bahwa kata /Kristen/ berasal dari nama pendiri agama tersebut yaitu Almasih: Yesus Kristus. Sementara dalam literature Arab agama ini disebut Nasrani yang sebenarnya penamaan tersebut berasal dari kata /nasirah/, Arabisasi dari kata /Nazareth/, nama daerah tempat kelahiran Almasih.

Sebenarnya trend penamaan agama dengan cara tersebut berlaku secara universal, kecuali untuk Islam. Agama Yahudi terambil dari kata /Yudea/, tempat di mana anak-anak Israel hidup dalam petunjuk Tuhan, kala itu. Pun secara Barat agama ini dinamakan Jews, penginggrisan dari kata /Yudea/ .  Untuk Kong Hu Chu, nama agama ini terambil dari nama pendirinya, yaitu Kong Hu Chu sendiri, begitu juga dengan Buddha dan Zoroaster untuk Zara Tustra. Sementara cara penamaan agama Hindu, lebih mirip agama Yahudi: kata Hindu berasal dari bangsa yang berbahasa dan berbangsa Hindi, di tanah Hindustan.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa nama agama hanya menyiratkan nama pendiri dari agama tersebut mau pun nama daerah asal dari agama tersebut. Ini berarti suatu kultus individu mau pun ‘personal-sentris’ dilibatkan dalam penamaan agama (kecuali Islam).  Dalam kasus ini, semua orang Kristen percaya bahwa semua kebajikan hidup seutuhnya terperikan dalam peri kehidupan Yesus Kristus, seorang warga perkampungan manusia yang hidup pada masa Herodes memerintah Romawi Timur.

Bagi Kristen sendiri ini merupakan satu-satunya jalan untuk menamai faham  dan Iman mereka walau pun ini pada akhirnya cara penamaan tersebut tak akan menimbulkan perbedaan sedikit pun dengan agama lainnya di dunia ini –kecuali  Islam.

B. Islam.

Menurut cara-cara yang biasa digunakan umat manusia dalam penamaan Iman mereka, bisa dipastikan pasti semua umat Muslim di dunia akan menamai faham kebajikan mereka dengan sebutan Muhammadisme (karena agama ini ‘dibawa’ oleh seorang Arab yang bernama Muhammad) atau pun agama Mekkis, yang terambil dari kata Mekkah, tempat lahir dan berjuangnya Muhammad Saw. Namun justru kenyataannya agama tersebut dinamakan /Islam/ yang sama sekali tak berarti ‘Muhammad’ Saw mau pun ‘Mekkah’, terlebih ‘Arab’. Lebih dari itu, Islam sama sekali tak akan pernah berarti ‘Allah Swt’, Tuhan Yang disembah oleh penganut agama ini.

/Islam/ menurut bahasa Arab, berasal dari tiga kata yang berbeda artinya namun saling mempengaruhi satu sama lainnya: satu kata berarti kesempurnaan, kemudian yang lain berarti penyerahan diri, dan yang terakhir berarti keselamatan. Ini berarti adanya  penekanan dalam agama Islam, yang berarti Islam selalu diarahkan untuk membawa pada kesempurnaan hidup, kesempurnaan ajaran, yang mengajarkan umatNya untuk selalu berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui segala Hal, dan kemudian berdasarkan namanya, Islam membawa umatNya kepada keselamatan lahiriah dan bathiniah bagi individual, kemasyarakatan, kenegaraan, baik di dunia mau pun di akhirat. Ketiga kata tersebut menjadi tiga pilar utama dari kesempurnaan agama: kesempurnaan hidup dan kesempurnaan ajaran, penyerahan diri kepada suatu agama yang memang terbukti sempurna, dan kemudian keselamatan sebagai konsekwensi dari penyerahan diri kepada ajaran yang sempuran tersebut.

Berdasarkan arti yang terkandung dalam nama /Islam/ tersebut, dapat dipahami betapa nama agama ini telah disiapkan secara konseptual dan bernilai argumentative yang amat tinggi. Tidak dapat tidak bahwa penamaan agama ini memang telah direncanakan sejak awal mengingat betapa rumit dan konseptualnya penamaan tersebut. Tak dapat dihindari untuk menyimpulkan bahwa penamaan agama tersebut (Islam) tak pernah dilakukan oleh Muhammad Saw mau pun manusia mana pun setelah masa Muhammad Saw. Bahkan secara internal sendiri, Muhammad Saw menyatakan bahwa penamaan tersebut memang datang dari Tuhan melalui beberapa ayat suci yang diturunkan Allah Swt kepadanya.

_.:oOo:._

Sungguh, konsekwensi yang paling logis dari kasus penamaan agama yang dibawa oleh Muhammad Saw ini adalah adanya jalan untuk menyimpulkan bahwa penamaan agama tersebut memang hanya dilakukan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa Yang telah menurunkan Islam tersebut. Jika Tuhan (dalam hal ini Dia adalah Allah Swt) sama sekali tak pernah turun tangan dalam penamaan agama tersebut, pastilah umat dunia akan mengenal agama ini dengan nama Muhammadisme mau pun Mekkis mau pun agama Arabis (atau apa pun!), demi untuk mengikuti trend penamaan agama yang berlaku secara universal. Namun kenyataannya justru Islam menjadi satu-satunya agama yang penamaannya benar-benar ‘distinguished’, bermartabat dan konseptual.

Bisa dipastikan bahwa konsep kesempurnaan hidup dan kesempurnaan ajaran, penyerahan diri kepada Tuhan dan kemudian jalan keselamatan, menjadi monopoli Islam semata mengingat ketiga unsur tersebut menjadi nama dari Islam, sejatinya, sejak awal jauh sebelum semua agama mengadopsi konsep-konsep tersebut.

Di luar itu, jika memang Nasrani adalah jalan rohani yang memang berasal dari Tuhan, maka penamaan yang semata mengikuti trend sosiologis anthropologis akan mengakibatkan klaim bahwa Nasrani berasal dari Surga, tetap berada dalam keraguan. Bukanlah suatu kebajikan berfikir yang paripurna di mana Tuhan yang membina suatu agama membiarkan agama tersebut diberi nama oleh sesuatu yang bukan diriNya.  Tuhan yang meninggalkan agamaNya untuk diberi nama oleh manusia penganutnya (bukan diriNya sendiri) dipastikan Tuhan yang tidak sempurna dalam pekerjaanNya dan ini fatal untuk dijadikan argument. Logikanya, tidak pernah seorang penemu meninggalkan hasil temuannya begitu saja dan membiarkan orang lain memberi nama dari temuannya. Ketidak-sempurnaan dari pekerjaanNya jelas terdeteksi dalam kasus penamaan Nasrani tersebut sementara tidak mungkin umat manusia akan mengenal adanya Tuhan Yang tidak sempurna.

Secara parallel, penamaan Nasrani yang mengikuti modus operandi yang umum terjadi pada semua agama (kecuali Islam) mengindikasikan bahwa agama tersebut bukanlah datang dari Tuhan. Ada kesalahan yang fatal di mana penamaan agama tersebut mengikuti nama pendiri dari agama tersebut (yaitu Yesus Kristus) jika ingin dikatakan bahwa agama tersebut memang datang dari Tuhan –sefatal agama lain (selain Islam) yang penamaannya memang berdasarkan trend sosiologis anthropologis. Ini tidak bisa dihindari untuk diakui.

Penting untuk ditegaskan jika memang Nasrani berasal dari Tuhan dan memang merupakan Karya Tuhan, maka sungguh, kelak agama ini akan mempunyai nama yang amat konseptual dan non-kultuisme, non-person-sentris. Kata /Islam/ (yang berarti perfection,  devotion, dan salvation) adalah kata yang tepat untuk nama agama tersebut karena tidak ada lagi kata yang lebih baik dari /Islam/.

Secara mendasar akhirnya digariskan, bahwa penamaan Kristen mau pun Nasrani untuk agama yang dibawa oleh Almasih (yang tidak dilakukan oleh Tuhan melainkan oleh peri-akal manusia belaka) sedikit pun tak akan dapat menolong agama Kristen dari kemungkinannya untuk ditolak akal:  agama ini biar bagaimana pun gagal dalam menerima penamaan dari Tuhan –seperti agama lain kecuali Islam. Campur-tangan Tuhan yang sempurna dan menyeluruh dalam penamaan agama (total naming) yang dibawa oleh Muhammad Saw amat jelas: Islam.  Oleh karena itu terdapat konsekwensi dari adanya penamaan ini atas Islam:  di dalam Islam benar-benar terdapat campur-tangan Tuhan, dan ini berarti bahwa Islam  benar merupakan karya Tuhan. Kristen sama sekali tak dapat menyangkal kenyataan logika ini.