Secara Batin Umat Kristen Dunia Pasti Mendoakan Israel

Hidayatullah.com—

Namanya tak terlalu populer dibanding Pendeta Abraham Alex Tanuseputra, pendiri Gereja Bethany Family. Atau Pdt. Dr. Stephen Tong, Ketua Sinode GRII. Tapi pernyataanya kali ini akan membuatnya terkenal dan dikenang. Namanya Pendeta Hans Jefferson. Di tengah kecaman dunia atas aksi melawan kemanusian yang dilakukan Israel kepada warga Gaza, pengkhotbah yang juga Pimpinan Yayasan Kasih Untuk Bangsa ini justru memberikan pernyataan tak simpatik. Dalam sebuah wawancara dengan Radio Nederland Wereldomroep, (5/1) ia mengatakan, apa yang dilakukan Israel bukanlah penjajahan. 

“Jadi kalau orang bilang Israel mencaplok tanah Arab, tanah Palestina 14 Mei 1948, orang itu tidak tahu sejarah,” ujarnya. “Israel bukan merdeka -karena Israel tidak pernah dijajah. Israel kembali ke tanahnya 14 Mei 1948 untuk memberikan negara Israel dalam konteks pemerintahan dunia hari ini,” demikian katanya. Ada juga yang tak kalah menarik dalam pernyataannya. “Secara batin, umat Kristen di seluruh dunia pasti berdoa buat Israel,” ujarnya. Tapi, ini bukanlah suara mayoritas kaum Kristiani Indonesia. Berikut petikan wawancaranya dengan Radio Nederland Wereldomroep (RNW) dan diedit oleh www.hidayatullah.com.

Muhammadiyah juga mendesak Perserikatan Bangsa Bangsa untuk memberlakukan sanksi terhadap Israel karena telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan?

Ini perang. Kita tidak membenarkan suatu bangsa dibunuh oleh bangsa yang lain. Tetapi kalau bangsa saling menyerang, ini kan perang namanya.

Lalu kalau melihat umat Kristen di Indonesia, mereka pada umumnya bagaimana posisinya? Mengapa mereka tidak berdemonstrasi menentang kekerasan Israel?

Ya, prinsipnya begini. Kita harus bertindak cerdas di tengah situasi yang seperti ini. Karena sudah terjadi demonstrasi di mana-mana. Lalu kalau umat Kristen itu melakukan demonstrasi, maka itu kan namanya counter demonstration.

Itu kita akan menimbulkan masalah sendiri dalam negeri. Sedangkan kita melihat gelombang anti Israel, anti Amerika, anti dunia Barat itu luar biasa sekarang. Jadi kalau kita melakukan demonstrasi, itu berarti kita akan memindahkan Jalur Gaza ke Indonesia jadinya.

Lalu yang kedua, cara Kristen bukan seperti itu. Lebih baik kita menyikapi perang ini dengan cara yang lain. Kita mobilisasi gereja untuk berdoa, mobilisasi umat untuk melihat masalah ini secara sejarah tetapi juga secara fakta yang sebenarnya terjadi. Lalu kita melakukan apa yang bisa kita lakukan, yaitu meredam.

Sebenarnya juga banyak yang mau demo, yang membuat statement garis keras Kristen juga ada. Karena secara ‘akar Iman’ dapat dipastikan bahwa iman Kristen tidak bisa dipisahkan dari bangsa Yahudi.

Jadi secara batin, umat Kristen di seluruh dunia pasti berdoa buat Israel. Tapi di pihak lain juga tidak menghendaki Israel “membantai bangsa lain”. Ini perang sebenarnya.

Sekarang juga banyak pendeta yang memimpin perjalanan ke Israel. Dan juga ada pendeta-pendeta yang secara terbuka mendukung pemulihan Israel. Bukankah ini secara politik, mereka mendukung keberadaan Israel?

Tidak secara politik. Tapi secara iman. Saya sendiri baru dari Israel. Jadi bukan secara politis. Pernyataan bahwa berdoa buat Israel, berdoa untuk pemulihan Israel, itu secara iman. Karena kita punya akar iman yang sama.

Kita mempercayai separuh Alkitab itu sama. Kita punya Taurat yang sama. Tauratnya Israel Tauratnya kita juga. Perjanjian lama maksud saya. Jadi secara iman itu kita punya akar yang sama.

Yesus Kristus lahir dari bangsa Yahudi. Semua tempat suci Kristen, itu di Yerusalem, di Israel. Jadi dari sisi iman, dari sisi rohani, kita harus berdoa untuk Israel, karena ini secara internal Kristen bahwa Mazmur 122, yang berdoa bagi kesejahteraan Israel dan Yerusalem, maka diberkati. Siapa yang memberkati Israel diberkati. Itu Firman Tuhan.

Selama ini Israel dipandang sebagai Tanah Perjanjian bagi umat Kristen di Indonesia. Apakah sudah saatnya itu diubah pandangan seperti itu?

Tidak ada satu kekuatan pun di dunia ini, apalagi dari pihak internal Kristen yang mengubah pandangan bahwa Kanaan atau Israel sekarang bukan Tanah Perjanjian. Yang disebut Tanah Perjanjian karena Kejadian pasal 12, Tuhan, Jahweh Elohim berjanji kepada Abraham untuk memberikan tanah itu kepada keturunannya. Dan tanah itu digenapi oleh Tuhan, Jahweh Elohim, disembah oleh Abraham, Ishak dan Yakob pada jaman Musa keluar dari Mesir dengan umat Israel sampai di gunung Nebo dan Yosua melanjutkan kepemimpinan dan menguasai tanah itu.

Jadi Israel bukan memiliki tanah itu baru 14 Mei 1948. Bukan. Tanah perjanjian itu sudah dimiliki Israel dari jaman Nabi Musa. Bukan baru sekarang. Jadi kalau orang bilang Israel mencaplok tanah Arab, tanah Palestina 14 Mei 1948, orang itu tidak tahu sejarah. Kalau dia tahu sejarah, tanah itu sudah menjadi milik Israel dari zaman Musa. Tidak ada yang bisa mengubah itu. Sampai kapan pun juga.

Hanya Tuhan pakai Amerika, pakai Inggris, pakai PBB untuk mengembalikan Israel ke Tanah Perjanjian 14 Mei 1948. Dan ingat, Israel bukan merdeka -karena Israel tidak pernah dijajah. Israel kembali ke tanahnya 14 Mei 1948 untuk memberikan negara Israel dalam konteks pemerintahan dunia hari ini. Kalau dulu kan kerajaan.

Jadi Israel kembali ke kampungnya, bukan mengambil tanahnya orang Palestina. Bukan. [rnw/hid/www.hidayatullah.com]

-o0o-

< ==== https://m.hidayatullah.com/berita/wawancara/read/2009/01/06/4802/secara-batin-umat-kristen-di-seluruh-dunia-pasti-berdoa-buat-israel.html <==== 10 Okt 2020.

Sophislam,

Kaum Zionist berpendapat, bahwa tanah Kanaan adalah alami milik bangsa Israel, dan klaim ini mereka dasarkan pada kitabsuci mereka, yaitu Tanakh.

(Tanakh singkatan dari tiga kitab, yaitu TA-urat, NA-viim dan KH-etuvim. Tanakh dalam Kristen disebut Perjanjian Lama).

Kalau kita lihat kitab Tanakh ini, maka jelaslah bahwa tanah Kanaan atau tanah Palestina selamanya alami milik bangsa Israel. Oleh karena itu siapa yang dapat dan berani membantah fakta ini?

Dengan klaim kitabsuci ini, maka mau tidak mau, eksistensi Arab Islam di Palestina merupakan kekejian dan kekeliruan, atau dengan kata lain, Arab Islam telah lancang berbuat tidak sopan membangun kampung dan beranak pinak di tanah orang.

Benarkah demikian?

Pertama.

Orang Israel, atau orang Yahudi mempunyai kitabsuci bernama Tanakh. Tanakh ini di dalam agama Kristen disebut Perjanjian-lama. Di dalam Tanakh terdapat ayat maupun statement yang menyatakan bahwa tanah Kanaan adalah tanah yang diberikan Tuhan untuk dipusakai / diwarisi oleh bangsa Israel untuk selama-lamanya.

Oleh karena itu, seluruh dunia harus taat dan manut kepada kitab Tanakh ini, ketika Tanakh ini bertitah bahwa tanah Palestina adalah alami milik bangsa Israel turun temurun. Jadi, menurut sudut pandang orang Israel, semua bangsa di dunia ini, seperti bangsa Indonesia, bangsa Malaysia, India, China, Mongol, bangsa Afrika, bangsa Maori, bangsa Viking, bangsa Eropa, bangsa Arab, orang Hispanik, dsb, harus manut dan patuh kepada titah Tanakh ini, yang bertitah bahwa tanah Palestina adalah hanya untuk bangsa Israel.

Masalahnya adalah, kitab Tanakh ini adalah kitab yang dikandung / diusung bangsa Israel selama berabad-abad. Ya jelaslah isi dan ayatnya hanya selalu menguntungkan orang Israel. Kalau Tanakh ini adalah kitab yang selama berabad-abad diusung oleh bangsa Jepang, maka tentu isinya hanya menguntungkan bangsa Jepang. Pasti nanti isinya ada ayat yang berbunyi bahwa tanah Kanaan adalah tanah warisan turun temurun untuk bangsa Jepang selama-lamanya. Begitu logikanya.

Orang Israel itu bodoh, dan kemudian mengajak manusia di seluruh dunia untuk ikut bodoh bersama Israel, yaitu supaya manut dan patuh saja kepada kitab orang Israel yaitu Tanakh.

Letak bodohnya di mana? Letaknya bodohnya di sini: kitab Tanakh isinya hanya menguntungkan orang Israel saja, karena kitab Tanakh ini adalah kitabnya orang Israel.

Kedua.

Kemudian, pada bagian pertama tadi ada statement, bahwa semua bangsa di dunia harus manut kepada Tanakh yang bertitah bahwa tanah Palestina adalah milik Israel buat selama-lamanya.

Ohyaaaa? Jadi seluruh bangsa di dunia ini, apa pun agama dan budayanya, harus manut dan patuh kepada kitabnya orang Israel ini yaitu Tanakh, yaitu bahwa tanah Palestina adalah milik Israel? Jadi orang Islam harus manut dan patuh kepada Tanakh nya Israel? Orang Hindu harus manut dan patuh kepada Tanakh Israel? Orang Buddha harus manut dan patuh kepada Tanakh Israel? Orang Konghucu harus manut dan patuh kepada Tanakh Israel? Orang Jainisme, orang Sikh, orang Bahaist, orang Tao, orang Zoroaster, dsb semuanya harus manut dan patuh kepada Tanakh Israel?

Yang benar saja!

Ketiga.

Bahkan di dalam kitab Tanakh,  terdapat ayat yang bertitah,

Kejadian 12:3 – – Aku (Tuhannya Israel) akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Ayat ini ditujukan kepada orang Israel.

Jadi, menurut Tanakh, semua orang di dunia harus memberkati orang Israel, yang artinya semua orang di dunia harus menghormati dan segan kepada orang Israel, kalau mau selamat dan untung. Kebalikannya, kalau ada manusia maupun bangsa yang mengutuk maupun antipati kepada Israel, maka Tuhan dunia akan mengutuk bangsa tersebut. Wahhhhhh!!

Ya jelaslah ada ayat seperti itu di dalam Tanakh, karena Tanakh ini adalah kitab yang diusung oleh orang Israel …… maka tidak aneh kalau isi dan ayatnya hanya selalu menguntungkan orang Israel saja.

Keempat.

Orang Israel bilang, bahwa Palestina adalah milik bangsa Israel, karena itu semua dikatakan oleh ajaran Tanakh.

Kalau begitu, maka bolehkah kalau Palestina dijadikan milik bangsa Muslim, karena Alquran berkata demikian? Tentu orang Israel akan berkata, tidak boleh.

Kemudian, mengapa tidak boleh? Pasti orang Israel akan berkata, karena itu adalah kata Alquran.

Jadi, maksudnya apa? Maksudnya, kalau Tanakh mengajarkan bahwa Kanaan adalah milik Israel, maka harus dipatuhi. Namun kalau Alquran yang mengajari bahwa Kanaan adalah milik Arab Muslim, maka jangan dipatuhi. Begitukah?

Lantas apa istimewanya Tanakh dibanding Alquran, sehingga ajaran Tanakh harus diwujudkan, sementara ajaran Alquran tidak boleh diwujudkan?

Yang benar saja, orang Israel ini!!!!

Note, apakah Alquran juga mempunyai ayat yang mengajarkan bahwa tanah Kanaan adalah milik Arab Muslim? Jawabannya, tentu saja tidak ada. Mengapa? Karena Alquran itu merupakan kitab yang suci dan rasional, yang diturunkan oleh Allah Swt untuk seluruh umat manusia.

Kelima.

Pada semua paparan sejarah yang tersedia di internet tertulis, bahwa jauh sebelum bangsa Israel, tanah Kanaan telah diduduki dan diperintah oleh bangsa lain. Jadi bisa dikatakan, bahwa Israel bukanlah bangsa pertama yang memerintah di tanah Kanaan.

Lalu kemudian, datanglah bangsa Israel ke tanah Kanaan ini dengan kitabsuci mereka. Dan tiba-tiba, kitabsuci mereka berkata bahwa tanah Kanaan adalah milik abadi bangsa Israel. Wah ……. Tuhan jenis apa yang berada di balik Tanakh ini?

Inilah salah satu kebodohan bangsa Israel, salah satu keserakahan bangsa Israel, dan salah satu kesombongan bangsa Israel.

Ingatlah, Tuhan alam Semesta pasti tidak akan berbuat demikian, yaitu mengklaim bahwa satu dua jengkal tanah di bumi ini milik bangsa tertentu. Ingatlah, Tuhan itu adil, tidak seperti  Tuhannya Tanakh.

Keenam.

Jadi, menurut ego dan kebodohan-nya orang Israel, peruntukan sebidang dua bidang tanah di bumi ini adalah berdasar kitabsuci, dan kitabsuci itu haruslah Tanakh saja, kitabsuci lainnya tidak.

Kewarasan berkata, bahwa peruntukan sebidang dua bidang tanah, haruslah berdasar hukum dan kesepakatan berbagai pihak skala lokal, nasional maupun internasional, bukan berdasar kitabsuci Tanakh. Namun karena saking bodohnya, orang Israel lancar saja berkata bahwa peruntukan tanah di bumi ini adalah berdasar Tanakh. Tujuannya? Yaaa untuk keuntungan bangsa Israel saja, …….. dan bangsa lain biarkan saja rugi, toh bangsa lain bukan bangsa pilihan Tuhan. Begitu kata Tanakh.

Ketujuh.

Peruntukan sebidang dua bidang tanah di bumi ini, tentunya harus berdasar kesepakatan berbagai pihak pada skala lokal, nasional maupun internasional (bukan berdasar kitabsuci agama mana pun). Dan komponen utama yang menjadi pertimbangan pada kesepakatan itu, adalah batas tanah atau wilayah yang berlaku atau eksis pada “Perkembangan Dunia Modern”.    

Nah, apakah yang dimaksud dengan Perkembangan Dunia Modern? Perkembangan Dunia Modern adalah berpatokan pada saat terjadinya Perang Dunia Pertama. Jadi, segala perbatasan wilayah, maupun pihak mana yang menghuni atas suatu bidang tanah, sebelum terjadinya Perang Dunia Pertama, tidak dianggap ada, atau dianggap tidak berlaku.

Aplikasinya adalah, pada saat terjadinya Perang Dunia Pertama, tanah Kanaan atau kawasan Palestina milik bangsa siapa? Bangsa mana pun yang menjadi penghuni maupun pemilik atas tanah Palestina pada saat terjadinya Perang Dunia Pertama, maka bangsa atau pihak itulah yang berhak atas tanah tersebut. Jawabannya adalah, tentu saja Arab Muslim, karena pihak inilah yang menjadi penguasa atau menghuni kawasan Palestina –termasuk Jerusalem di dalamnya.

Bagaimana dengan Israel? Apakah Israel merupakan penguasa maupun penghuni Palestina pada saat Perkembangan Dunia Modern, alias Perang Dunia Pertama? Jawabannya, tidak.

Maka oleh karena itu, harus disepakati, bahwa Palestina dengan Jerusalem-nya adalah milik sah bangsa Arab Muslim, karena bangsa Arab Muslim telah berdiam dan menghuni tanah Kanaan ini pada saat terjadinya Perang Dunia Pertama.

Hal ini sangat serius untuk dimengerti. Benua Amerika Utara contohnya, sebelum kedatangan bangsa Eropa, merupakan kawasan yang dihuni dan dimiliki suku Indian, yang beberapa sumber menyatakan bahwa suku Indian adalah umat Muslim, umatnya Nabi Muhammad Saw. Kalau TIDAK BERDASARKAN perkembangan dunia modern, yang berpatokan pada Perang Dunia Pertama, maka seharusnya dunia menyerahkan dan mengembalikan benua Amerika Utara itu kepada umat Muslim.

Pada tahun 1200an, suku Mongol menyerang dan menguasai kawasan Timur Tengah. Maka seharusnya dunia menyerahkan dan mengembalikan kawasan Timur Tengah kepada suku Mongol. Begitu juga, seluruh kawasan Asia Tenggara pada masanya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Maka bukankah itu berarti seluruh negara di kawasan Asia Tenggara harus menjadi bagian Indonesia, tempat berpusatnya Kerajaan Majapahit?

Namun, ketiga hal tersebut (benua Amerika Utara milik umat Muslim, kawasan Timur Tengah milik bangsa Mongol, dan kawasan Asia Tenggara milik Majapahit) tidak bisa dijadikan dasar, karena keseluruhan penguasaan tanah tersebut terjadinya jaaaaaaaauh sebelum  Perang Dunia Pertama.

Begitu juga dengan hubungan antara tanah Kanaan dengan bangsa Israel. Memang benar bangsa Israel pernah berkuasa dan menghuni tanah Kanaan. Namun saat kejadiannya itu kapan? Bukankah jaaaaaaauuh sebelum terjadinya Perang Dunia Pertama? Maka hal tersebut tidak bisa dijadikan dasar untuk mengklaim bahwa tanah Kanaan adalah milik Israel.

Intinya, kalau tidak berdasar pada keadaan peta perbatasan yang eksis pada masa Perang Dunia Pertama, maka kepemilikan tanah atau wilayah di seluruh dunia bisa kacau, masing-masing pihak bisa mengajukan klaim wilayah berdasarkan rentetan sejarah masa lalu jauh sebelum terjadinya Perang Dunia Pertama: bangsa Muslim berhak mengklaim Amerika Utara, bangsa Mongol berhak mengklaim Timur Tengah, dan Indonesia berhak mengklaim seluruh kawasan Asean.

Kedelapan.

Logika sederhana saja. Kisah Nabi Ibrahim di dalam Alkitab, Ibrahim sendiri-kah yang menulis? Pasti bukan. Lantas siapa yang menulis kisah Nabi Ibrahim? Siapakah namanya? Apakah sukunya? Untuk siapakah ia menulis kisahnya? Atas perintah siapakah ia menulis kisahnya?

Kemudian kisah Nabi Musa, kisah Nabi Daud, kisah Nabi Yusuf …. kisah Nabi Nuh ….. pasti bukan Nabi ybs yang menulis, melainkan orang lain yang menulisnya. Lantas siapakah namanya? Apakah sukunya? Apakah agamanya? Untuk siapakah mereka menulis kisah-kisah tersebut? Atas perintah siapakah kisah-kisah tersebut mereka tulis?

Sampai sekarang tidak ada satu pun ilmuwan yang dapat memberi jawaban yang pasti, pdh hal tersebut sangat krusial, karena hal ini menyangkut kredibilitas kitabsuci, yang dianggap Firman Tuhan. Toh intinya para ahli sepakat, bahwa kitab Musa TIDAK MUNGKIN ditulis oleh Musa sendiri, kitab Daud TIDAK MUNGKIN ditulis oleh Daud sendiri, kitab Ibrahim TIDAK MUNGKIN ditulis oleh Ibrahim sendiri.

Namun tiba-tiba saja Alkitab wujud di atas meja, atau di laci, atau di toko buku, dsb ….tanpa diketahui siapa yang menulisnya ….. bahkan salinan aslinya pun tidak dijumpai di mana pun …. Tidakkah hal tersebut mengerikan?

Dan di tengah kegalauan tersebut, tiba-tiba kita mendengar, bahwa di dalam Alkitab / Tanakh terdapat ayat yang menyatakan bahwa Tuhan memberikan tanah Kanaan untuk bangsa Israel, sementara di lain pihak kita faham bahwa kitab Tanakh itu merupakan kitab yang diusung oleh bangsa Israel sendiri. Bukankah ayat ini sebenarnya ayat bikinan orang Israel untuk keuntungan bangsa Israel sendiri? Atau, apakah mungkin Tuhan berlaku picik, dengan merampas fakta bahwa jauh sebelum Israel, tanah Kanaan telah dihuni suku lain selama ribuan tahun?

Minimal, sebelum semua warga dunia sepakat bahwa tanah Kanaan adalah milik alami bangsa Israel, maka tolong sebutkan saja dulu, siapa yang menulis mula-mula kitab Ibrahim, kitab Musa, Kitab Daud dsb? Mereka pasti punya nama, kan? Jadi, tolong sebutkan.

Dan masih adakah salinan mula-mula nya? Sekarang disimpan di mana? Di dalam bahasa apa? Berumur berapa ribuan tahun?

Kesembilan.

Blogsite senjatarohani dot wordpress dot com, mempunyai artikel yang berjudul “Tanah Kanaan / Israel / Palestina dan kota Yerusalem milik siapa sebenarnya?”. Pada artikel tersebut, penulisnya menulis, bahwa …..

……. YAHWEH mengembalikan tanah Israel sepenuhnya kepada umatNya pada 15 May 1948, setelah  terbuang dan tidak memiliki negara selama 1878 tahun lamanya. Sehingga genaplah nubuatan nabi-nabi …… dst.

1878 tahun lamanya bangsa Israel terbuang dan terserak-serak di muka bumi? Bukankah itu berarti hampir DUA MILENIUM bangsa Israel terkatung-katung tanpa hargadiri?

Coba renungkan. Kalau memang benar bahwa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan, lantas mengapa Tuhan membiarkan Israel terkatung-katung di padang pasir selama dua ribuan tahun? Kalau memang benar bahwa Israel bangsa pilihan Tuhan, maka seharusnya SETAHUN PUN  tidak akan dibiarkan Tuhan terkatung-katung di padang pasir tanpa hargadiri …. Lha ini? 1878 tahun? Dan masih juga dibilang bangsa pilihan Tuhan? Ah yang benar saja!!!!!

Apalah maknanya, apalah artinya, apalah gunanya, Tuhan berseru-seru bahwa Israel merupakan bangsa pilihan Tuhan, kalau Tuhan membiarkan bangsa ini berserakan dan terkatung-katung di muka bumi tanpa tentu arah? Dua ribu tahun?

Kemudian, artikel tersebut juga menulis, bahwa penguasa tanah Israel berganti-ganti tangan …..

Ini maksudnya apa? Kalau disebutkan bahwa Israel merupakan bangsa pilihan Tuhan, maka seharusnya Tuhan tidak membiarkan Raja dan bangsa mana pun untuk menjajah Israel …. Namun bukankah faktanya bangsa Israel selalu menjadi korban hegemoni bangsa lain?

Jadi jelaslah, bahwa ayat Tanakh yang menyatakan bahwa Israel merupakan bangsa pilihan Tuhan, merupakan ayat karangan atau buatan tangan jahil orang Israel, karena TIDAK ADA WUJUD DAN BUKTI EMPIRISNYA ….

Dan begitu juga dengan ayat Tanakh yang menyatakan bahwa Tuhan Yahweh menjadikan tanah Kanaan sebagai kampung bangsa Israel untuk selama-lamanya, sebenarnya merupakan ayat karangan atau ayat bikinan tangan jahil orang Israel demi keuntungan sepihak mereka …..

Karena kalaulah benar bahwa Tuhan menjadikan Kanaan sebagai kampung bangsa Israel, lantas mengapa Israel harus berserakan dan terkatung-katung di muka bumi hampir dua ribu tahun? 1878 tahun? Lelucon mana ini?

Bahkan, ayat lain di dalam Tanakh menulis,

Kejadian 12:3 – – Aku (Tuhannya Israel) akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Mana buktinya? Adakah buktinya?

Bangsa jerman membantai ribuan Yahudi, toh sampai sekarang bangsa jerman aman-aman saja ….. bangsa mesir memperbudak ribuan Yahudi, toh sampai sekarang negara mesir aman-aman saja …… romawi pernah menjajah Yahudi,  toh sampai sekarang negara romawi aman-aman saja …. Kenapa bisa begitu?

Lantas di mana wujud dari Firman Tuhan pada Kejadian 12:3 tersebut? Bangsa Indonesia saja, yang selalu mengutuk aksi kekejian Israel, sampai sekarang masih aman-aman saja, bahkan senantiasa diberi kelimpahan rejeki ……

Kalau memang benar bahwa Tuhan berfirman bahwa Tuhan akan mengutuk siapa saja yang mengutuk Israel, maka seharusnya jerman sudah melarat kutukan, bangsa mesir dan bangsa romawi sudah menderita kutukan dari Tuhan Yahweh. Namun mana buktinya?

Jadi jelaslah, bahwa ayat Kejadian 12:3 merupakan ayat karangan atau bikinan tangan jahil Yahudi, untuk keuntungan dan egoisme bangsa Israel sendiri. Wah pantas saja Allah Swt mengutuk bangsa Israel, karena dari sini saja sudah terbukti kebengalan dan ketengilan bangsa ini …

Penutup.

Allah Swt berfirman di dalam Alquran surah Almaidah ayat 18,

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu ” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya; Dia mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).

Ayat Alquran ini menegaskan dan sinkron dengan fakta dunia, bahwa frase “Israel adalah anak Tuhan dan bangsa pilihan Tuhan”, adalah karangan dan bikinan tangan jahil orang Israel semata; frase tersebut bukanlah ayat Tuhan Semesta alam.

Alkitab, memang tidak bisa dipercaya ….. maka celakalah siapa saja yang percaya kepada Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru ……

Qorban Dan Mengorbankan Putra TunggalNya

qorban-dan-mengorbankan-putra-tunggalnya

Islam mempunyai rangkaian ibadah yang dinamakan dengan ‘kurban’ yaitu ibadah yang mengisyaratkan umatnya  untuk memulai memotong hewan korban –biasanya kambing, domba, kerbau dan lain lain- untuk dihadiahkan kepada mereka yang kekurangan. Sementara Kristen mempercayai adanya suatu Pengorbanan, yaitu peristiwa di mana Tuhan mengurbankan Putra tunggalNya, Almasih, untuk disalibkan sebagai penebus dosa semua umat manusia yang percaya pada penyaliban tersebut. Pengurbanan ini pada saat selanjutnya menjadi inti dari ajaran Kristen itu sendiri.

A. Kristen.

Permulaan kelahiran agama Kristen justru berawal dari suatu pengorbanan yang agung –dan kemudian semua umat Kristen mengindentikkan keyakinan mereka dengan kerelaan berkorban yang tulus untuk  seluruh dunia.

Secara keagamaan mereka menggariskan, bahwa untuk suatu alasan yang ajaib, Tuhan dilukiskan telah melahirkan putraNya sendiri ke dunia untuk mengambil tempat hidup terdekat dengan semua umat manusia itu sendiri. ‘Orang’ yang diyakini sebagai ‘Putra Tuhan’ ini dalam pandangan semua umat Kristen mempunyai semua sifat-sifat suci sang Tuhan –mereka menyebutNya Tuhan Ayah atau Tuhan Bapa (biar bagaimana pun memanggil Tuhan dengan sebutan ‘Tuhan Bapa’ ini tetap merupakan warisan dari tradisi Yahudi)- seperti dapat membangkitkan orang dari kematian, dapat menyembuhkan penyakit yang parah dan dapat mengetahui makanan seorang umat yang disimpan di rumahnya. Semasa hidupnya, orang ini, yang dikenal sebagai Yesus, mengajarkan kepada semua umat manusia itu, umat sang Bapa-nya, akan nilai-nilai yang diajarkan oleh Tuhan semesta alam. Pada akhirnya penentangan yang hebat muncul dari tengah kerumunan manusia mengingat mereka semua adalah anak-anak Yahudi yang anti dengan semua apa pun yang bersifat anti-Yahudi. Puncak dari penentangan ini adalah vonis mati atas tubuh dan darah Yesus: tidak bisa tidak Yesus harus mati dengan cara disalib.

Selanjutnya kepercayaan Kristen menjelaskan bahwa kematian (atau pun kekalahan dan ketakberdayaan terhadap kaum Yahudi) Yesus di kayu salib adalah tak lebih dari takdirnya sendiri yang telah ditentukan oleh Tuhan. Untuk pemahaman ini Kristen menjabarkannya sebagai rencana Tuhan untuk mengorbankan nyawa putraNya sendiri untuk menebus semua dosa umat manusia.

Tuhan melalui kisah penyaliban Yesus ini sebenarnya hendak menekankan bahwa biar bagaimana pun tak ada satu cara pun bagi semua umat manusia untuk keluar dari cengkraman dosa melainkan cara-cara yang justru datangnya dari Tuhan sendiri. Tuhan merasa perlu untuk mengambil tindakan yang revolusioner dan sepihak untuk menentukan langkah-langkah penghapusan dosa semua umat manusia secara instant dengan menyatakan pada saat yang bersamaan bahwa tidak mungkin bagi siapa pun dari kalangan umat manusia itu yang pantas untuk masuk ke dalam Neraka.

Dengan demikian Kristen secara normative telah mengadopsi suatu pemahaman bahwa adalah suatu yang mutlak untuk menciptakan konsep dosa yang khas: dosa dengan semua pengampunannya hanya berasal dari Tuhan dan harus merupakan inisiatif Tuhan itu sendiri; manusia mana pun tak  mempunyai inisiatif yang merdeka dalam usaha-usaha dalam penghapusan dan pengampunan dosa tersebut. Manusia tak dapat berkorban dan berinisiatif apa-apa untuk dan tentang dosa mereka di depan Tuhan mereka, dan Tuhan dapat. Oleh karena itu nilai dasar (orang-orang) Kristen tentang dosa bukanlah terletak pada usaha-usaha mereka untuk keluar dari Kuasa Dosa dan kemudian agama itu (dalam hal ini adalah Gereja) mengajarkan pengikutnya beberapa hal yang dapat mengeluarkan mereka dari cengkraman dosa tersebut, namun justru hanya terletak pada keputusan dari seseorang untuk percaya pada Yesus dan penyalibannya karena dalam Yesus dan penyalibannya tersebut semua penebusan dosa dan semua usaha untuk keluar dari dosa tersebut telah ditanggung (dijamin). Surga adalah jaminan yang paling tepat atas pemilihan kepercayaan untuk Yesus.

Secara sederhananya dapat dijelaskan, jika Kristen mempercayai bahwa Tuhan telah melakukan suatu tindakan ‘pengorbanan’ untuk semua umat manusia, maka Yesus adalah apa yang dikorbankan Tuhan untuk maksud tersebut. Adalah jelas bagi semua orang Kristen bahwa tidak ada apa-apa lagi yang dapat diperbuat Tuhan kecuali mengorbankan apa pun jika Tuhan ingin mendapatkan sesuatu atau jika ingin semua umat manusia terbebas dari kejaran dosa dan Neraka. Jika Tuhan tidak mengambil langkah-langkah pengorbanan tersebut (tertentu) dapat dipastikan bahwa suatu hal, maksud, tujuan, atau apa pun tak akan pernah terjadi. Biar bagaimana pun Tuhan dengan pengorbananNya adalah dua hal berbeda yang saling identik. Secara fatalistic Kristen mempercayai, bahwa pengorbanan Tuhan untuk mencapai tujuanNya di satu tempat, adalah identik dengan ketidakberdayaanNya di tempat lain.

B. Islam.

Rangkaian ibadah Qurban sebenarnya  dimulai dari kisah Nabi Ibrahim as ketika ia mendapatkan perintah dari Tuhan untuk menyembelih putra satu-satunya yang masih kecil yaitu Ishmail as. Biar bagaimana pun perintah yang berasal dari Tuhan ini seutuhnya adalah hanya untuk menguji keimanan dan ketabahan hati Ibrahim as dalam menjalankan tugas dari Tuhan Yang Maha Esa.  Ibrahim as. sejurus kemudian segera melaksanakan perintah tersebut dengan penuh keimanan dan kekuatan jiwa untuk menyembelih putra yang sebenarnya ia dambakan selama hidupnya. Penggantian yang diberikan Tuhan berupa seekor domba atas tubuh Ishmail as  tepat ketika ujung pisau telah mengenai batang leher Ishmail, benar-benar meyakinkan Ibrahim beserta putranya bahwa Tuhan kasih dan lebih dari itu, penggantian Tuhan sebenarnya ingin menyatakan bahwa Ibrahim dan putranya telah berhasil melalui ujian yang maha berat.

Penyerahan diri dan ketaqwaan yang dinyatakan oleh  Ibrahim as dan putranya Ishmail as kepada Tuhan menjadi moment yang penting dalam perayaan Idul Qurban (atau biasa juga disebut dengan Idul Adha) yang dirayakan oleh setiap Muslim di seluruh dunia setiap tahun.

Idul Qurban mempunyai keterkaitan dengan mental yang ingin dimiliki oleh setiap Muslimmengingat makna yang terdapat dalam perayaan itu benar-benar menggambarkan tujuan yang jelas dari kehidupan beragama.

Lebih dari itu, perayaan Idul Qurban berada pada pemikiran yang mempengaruhi dan ‘membuktikan’ eksistensi dari kemanusiaan itu sendiri. Arti dari dua kata tersebut (Idul Qurban) ke dalam semua bahasa manusia dapat menjelaskan tujuan apa sebenarnya yang dapat diuraikan kembali oleh semua umat Muslim. “Idul”, “pengembalian”, “re”, “cyclus” atau “recycle”,  langkah pertama yang melukiskan kesinambungan, suatu agenda yang tak akan habis selama-lamanya. Kata “Qurban” dalam bahasa Arab teruraikan menjadi kata dasar yang berarti “dekat” atau “mendekatkan”; menjadikan Qurban berarti suatu langkah, kesempatan yang dapat diambil untuk mendekatkan seseorang pada tujuan-tujuan tertentu. “Sacrifice”, “Qurban” ingin dipahami sebagai objek yang menjadi pilihan untuk dijadikan alasan yang tepat atas tercapainya suatu tujuan yang telah ditentukan tersebut secara mudah dan yang paling memungkinkan.

Idul Qurban, tak pelak lagi selalu menjadi refleksi dan kesadaran dari keadaan yang sebenarnya dari suatu ‘takdir’ yang terus melekat pada apa pun yang disebut dengan ‘makhluk’: biar bagaimana pun makhluk (termasuk di dalamnya manusia) adalah suatu keadaan, suatu kesadaran yang dalam pencapaian semua tujuannya akan selalu menggunakan dan membutuhkan ‘objek-antara’ yang mendekatkan dia dengan tujuan semula. Sebenarnya, ini merupakan spesifikasi yang paling dasar dari apa pun yang dikatakan sebagai makhluk: makhluk adalah suatu objek yang selalu mempunyai tujuan yang pencapaiannya tidak bisa tidak akan menggunakan objek lain sebagai alat untuk memungkinkannya. Ia membutuhkan harga, energi, yang akan ia gunakan (habiskan) untuk maksud tersebut. Namun jika ada satu oknum yang dalam pencapaian semua tujuannya tidak membutuhkan objek lain untuk mendekatkan dan memungkinkannya berhasil dengan tujuan-tujuan tersebut, maka harus dipastikan bahwa oknum tersebut adalah Tuhan. Dengan demikian, sifat dasar yang melekat erat pada takdir kemakhlukan adalah adanya keinginan dan inisiatif yang mutlak untuk menjadikan objek lain di luar dirinya sebagai alasan dia berhasil dengan ide-idenya.

Terdapat suatu paradox, suatu permasalahan yang akan saling bersinerji dalam takdir kemakhlukan: di  satu pihak ia mempunyai tujuan, dan di pihak lain ia selalu diliputi oleh ketidakmampuannya (kecacadan, ketercelaan, hambatan, kekurangan, kepapaan, ketakberdayaan, kelumpuhan, ketergantungan, ketidakmerdekaan, kepeng-hambaan) untuk mencapai tujuan tersebut. Mau tak mau harus ada satu pembicaraan lagi yang akan membahas adanya satu hal yang akan ditempatkan tepat di tengah paradox tersebut: apa pun (objek) itu yang diputuskan (dipilihkan) maka itu harus dapat secara efektif menghilangkan permasalahan dalam paradox tersebut.  Ini berarti objek tersebut adalah yang akan memungkinkan makhluk tersebut  (yang papa dan selalu terhambat) untuk berhasil dengan rencananya  tersebut. Dalam Islam objek  tersebut disebut dengan Qurban, sesuatu yang mendekatkan suatu makhluk (yang tidak berdaya) dengan tujuannya. Hasil dari sinerji antara kekurangan di satu pihak dan tujuan di pihak lain yang ada pada suatu makhluk mau tak mau akan melahirkan konsep berqurban; Islam menganggapnya demikian.

Sungguh, semua hal yang disebut dengan oknum, baik ia sebagai Khalik (Sang Pencipta) mau pun sebagai makhluk (yang diciptakan) tetap akan mempunyai tujuan, apa pun itu. Tuhan, biar bagaimana pun tak pernah bebas dari rencana, kehendak dan ide. Tuhan dengan keagunganNya adalah Oknum yang selalu dapat memastikan bahwa apa pun yang Ia kehendaki, maka hal itu akan terjadi tanpa ada satu pun yang dapat menghalangiNya.  Ia Yang Maha Berkehendak dan Ia pula Yang Maha Kuasa atas semua kehendakNya tersebut. Ia adalah Yang Maha Agung dan Maha Sempurna: Ia bebas dari kecacadan, kepenghambaan, keterbelakangan, pengharapan dan ketidakberdayaan.  Selalu dapat dipastikan bahwa Ia tak membutuhkan apa pun untuk Ia korbankan supaya semua ideNya dapat terwujud secara utuh. Ia, adalah Oknum Yang segalanya adalah mudah di tanganNya. Untuk itu Ia tidak merasa perlu untuk berterima kasih kepada apa pun yang telah meluluskan semua kehendakNya. Ia Yang Maha Sempurna dan Maha Kuasa mandiri dengan semua kehendak, rencana dan ide-ideNya. Dengan demikian Islam memandang bahwa Tuhan adalah satu-satunya Oknum Yang atas dasar  dan karena Kesempurnaan dan KekuasaanNya tidak akan pernah mengadopsi konsep ber-Qurban untuk rencana apa pun yang Ia miliki.

Ini berarti dan berlaku secara kebalikan bagi makhluk, terlebih manusia. Makhluk apa pun akan selalu dibahas sebagai oknum yang mempunyai segala kekurangan dan ketakberdayaan. Jika ia mutlak mempunyai tujuan, kehendak, maka ini harus berarti bahwa ia mutlak pula akan membutuhkan objek lain yang akan dijadikan qurban sebagai respon  bahwa dirinya selalu diliputi oleh kekurangan yang mendasar dan parah.  Peristiwa saling ‘mengkurbankan’ adalah ciri mutlak yang akan diterapkan kepada semua makhluk dalam mencapai tujuan.

Perayaan Idul Qurban (kembali kepada komitmen untuk siap berkorban demi Tuhan) adalah pernyataan kehambaan dan ketakberdayaan di depan tujuan yang maha agung dan berat (ingin mendapatkan Tuhan dan SurgaNya) yang akan selalu diulang dan diperbaharui setiap tahun.  Satu hari dalam satu tahun akan selalu disiapkan untuk mengingatkan semua warga Tuhan bahwa ia akan menjadikan kegiatan berkorban sebagai pandangan hidupnya yang paling mendasar: ia akan berkorban dan mengorbankan apa pun yang ia cintai demi mendapatkan tempat terbaik di mata Tuhan; hanya berkorban yang akan dapat mendekatkan seorang umat kepada Tuhan.

_.:oOo:._

Iman Kristen selalu menempatkan bahwa Yesus adalah objek yang menjadi pilihan Tuhan untuk dikorbankan bagi dunia untuk mendapatkan kesuciannya kembali. Sementara Islam memandang bahwa berkorban hanya akan menunjukkan bahwa apa pun selama ia adalah makhluk maka ia akan dipenuhi oleh kekurangan yang  memilukan.

Ini berarti, Islam dan logika akan memandang bahwa berkorban tak akan dilakukan oleh Tuhan atas dasar kesempurnaan dan keagunganNya. Bagi Islam, dikorbankannya Yesus oleh Tuhan Semesta Alam hanya membuktikan pada suatu tempat yang salah bahwa Tuhan akhirnya telah sampai pada satu kekurangan dan ketakberdayaanNya. Kebajikan akal yang memerintah akan segera menyatakan bahwa jika Islam melembagakan Idul Qurban sebagai moment yang akan selalu mengingatkan bahwa makhluk apa pun akan selalu diliputi oleh kekurangan, maka Kristen dengan Iman Penyalibannya akan menyatakan bahwa Tuhan adalah setakberdaya makhlukNya sendiri. Jika Islam tidak menegaskan  bahwa Tuhan memerlukan untuk berkorban bagi tujuanNya apa pun sehingga itu akan bermakna bahwa Tuhan amat Kuasa, maka itu jelas. Dan jika berkorban berarti membutuhkan,  maka itu akan lebih menegaskan bahwa kisah Tuhan Surga telah memutuskan untuk mengorbankan Yesus adalah bentuk lain dari betapa Tuhan membutuhkan hal lain yang tanpa hal lain tersebut Tuhan tak akan pernah berhasil dengan buah pemikiranNya sendiri, apa pun itu.

Kristen dalam hal ini berpendirian bahwa perbuatan Tuhan yang mengorbankan putraNya sendiri untuk dijadikan penebus dosa dunia adalah pernyataan dari padaNya bahwa Ia Kasih kepada seluruh umat dunia: Tuhan adalah Kasih dan Ia akan mengorbankan apa pun untuk menyatakan KasihNya walau pun itu adalah putraNya sendiri. Namun di pihak lain justru hal itu akan memperkaya kenyataan bahwa sebenarnya Tuhan telah dan akan gagal dalam memastikan bahwa semua tujuanNya akan berhasil secara mandiri, tanpa mengorbankan apa pun.

Selayaknya Kasih Tuhan itu tak akan pernah membuat ada pihak lain yang terluka dan sengsara karenanya. Kasih Tuhan justru akan membuat semuanya merasa aman dari marabahaya sekecil apa pun. Kasih Tuhan akan membuat semua ancaman tetap akan berada pada jarak yang aman dari semua umatNya, termasuk Yesus: tidak perlu ada yang harus merasa sakit, menanggung penderitaan, dan berdarah-darah untuk apa pun. Kasih Tuhan akan selalu menjadi ‘penghiburan’ atas semua yang diciptakanNya. Lebih dari itu, untuk tujuan yang besar, memberikan penghiburan yang agung kepada semua umatNya tersebut, maka Tuhan akan melakukan dan memberikannya tanpa ada satu pun yang harus menjadi korban: Ia Maha Kuasa dan Maha Luas KaruniaNya.

Adalah jelas biar bagaimana pun, bahwa Kasih Tuhan akan selalu dapat memerdekakan siapa pun dari kesakitan dan kesengsaraan. Kasih Tuhan tak akan pernah bernilai marabahaya bagi siapa pun…..

Dengan demikian, sementara Islam selalu memperhatikan akan adanya kecenderungan untuk selalu berkorban (kenyataan kedua setelah ketidakmampuan, kenyataan yang pertama) sebagai takdir  yang akan selalu melekat pada kemakhlukan yang selalu diperbaharui pada perayaan Idul Qurban,  maka Kristen justru telah menciptakan tradisi pemikiran yang berbahaya bagi eksistensi Tuhan.

Kasih dan Kuasa Tuhan: KasihNya selalu menjadi penghiburan dan tak akan mengakibatkan siapa pun terluka, dan KuasaNya, memastikan bahwa Tuhan selalu mendapatkan apa pun yang Ia inginkan tanpa hambatan. Islam telah selesai dengan permasalahan tersebut. Secara fatal, Kristen tidak.

Penamaan Islam vs Penamaan Kristen

penamaan-islam-vs-penamaan-kristen

Secara dunia, agama yang dibawakan oleh Almasih disebut Kristen (Christianity) sementara agama yang dibawa oleh Muhammad Saw dinamakan Islam. Di luar itu pula, sebenarnya nama agama yang dibawa oleh Almasih, secara Arab dinamakan  Nasrani. Menarik untuk dibahas, bahwa pada masa awal persinggungan Islam dengan dunia Barat, Islam dinamakan oleh sarjana Barat sebagai Muhammadisme, mengingat agama tersebut dibawakan oleh seseorang dengan nama Muhammad. Pada saat selanjutnya dunia Muslim menolak penamaan tersebut karena sebenarnya ada perbedaan yang mendasar antara Muhammadisme dengan Islam. Dunia Islam beruntung dengan penolakan ini: Barat segera melupakan penamaan Muhammadisme dan selalu menggunakan nama Islam sebagai gantinya; memang itu adalah nama yang diajarkan oleh Muhammad Saw dan Tuhan Semesta Alam, Swt.

A. Kristen.

Agama ini untuk pertama kalinya diperkenalkan dengan nama Kristen di Barat, dan Nasrani di kawasan yang berbahasa Arab dan untuk selanjutnya memang agama tersebut dinamakan dengan sebutan demikian. Bisa ditelusuri bahwa kata /Kristen/ berasal dari nama pendiri agama tersebut yaitu Almasih: Yesus Kristus. Sementara dalam literature Arab agama ini disebut Nasrani yang sebenarnya penamaan tersebut berasal dari kata /nasirah/, Arabisasi dari kata /Nazareth/, nama daerah tempat kelahiran Almasih.

Sebenarnya trend penamaan agama dengan cara tersebut berlaku secara universal, kecuali untuk Islam. Agama Yahudi terambil dari kata /Yudea/, tempat di mana anak-anak Israel hidup dalam petunjuk Tuhan, kala itu. Pun secara Barat agama ini dinamakan Jews, penginggrisan dari kata /Yudea/ .  Untuk Kong Hu Chu, nama agama ini terambil dari nama pendirinya, yaitu Kong Hu Chu sendiri, begitu juga dengan Buddha dan Zoroaster untuk Zara Tustra. Sementara cara penamaan agama Hindu, lebih mirip agama Yahudi: kata Hindu berasal dari bangsa yang berbahasa dan berbangsa Hindi, di tanah Hindustan.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa nama agama hanya menyiratkan nama pendiri dari agama tersebut mau pun nama daerah asal dari agama tersebut. Ini berarti suatu kultus individu mau pun ‘personal-sentris’ dilibatkan dalam penamaan agama (kecuali Islam).  Dalam kasus ini, semua orang Kristen percaya bahwa semua kebajikan hidup seutuhnya terperikan dalam peri kehidupan Yesus Kristus, seorang warga perkampungan manusia yang hidup pada masa Herodes memerintah Romawi Timur.

Bagi Kristen sendiri ini merupakan satu-satunya jalan untuk menamai faham  dan Iman mereka walau pun ini pada akhirnya cara penamaan tersebut tak akan menimbulkan perbedaan sedikit pun dengan agama lainnya di dunia ini –kecuali  Islam.

B. Islam.

Menurut cara-cara yang biasa digunakan umat manusia dalam penamaan Iman mereka, bisa dipastikan pasti semua umat Muslim di dunia akan menamai faham kebajikan mereka dengan sebutan Muhammadisme (karena agama ini ‘dibawa’ oleh seorang Arab yang bernama Muhammad) atau pun agama Mekkis, yang terambil dari kata Mekkah, tempat lahir dan berjuangnya Muhammad Saw. Namun justru kenyataannya agama tersebut dinamakan /Islam/ yang sama sekali tak berarti ‘Muhammad’ Saw mau pun ‘Mekkah’, terlebih ‘Arab’. Lebih dari itu, Islam sama sekali tak akan pernah berarti ‘Allah Swt’, Tuhan Yang disembah oleh penganut agama ini.

/Islam/ menurut bahasa Arab, berasal dari tiga kata yang berbeda artinya namun saling mempengaruhi satu sama lainnya: satu kata berarti kesempurnaan, kemudian yang lain berarti penyerahan diri, dan yang terakhir berarti keselamatan. Ini berarti adanya  penekanan dalam agama Islam, yang berarti Islam selalu diarahkan untuk membawa pada kesempurnaan hidup, kesempurnaan ajaran, yang mengajarkan umatNya untuk selalu berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui segala Hal, dan kemudian berdasarkan namanya, Islam membawa umatNya kepada keselamatan lahiriah dan bathiniah bagi individual, kemasyarakatan, kenegaraan, baik di dunia mau pun di akhirat. Ketiga kata tersebut menjadi tiga pilar utama dari kesempurnaan agama: kesempurnaan hidup dan kesempurnaan ajaran, penyerahan diri kepada suatu agama yang memang terbukti sempurna, dan kemudian keselamatan sebagai konsekwensi dari penyerahan diri kepada ajaran yang sempuran tersebut.

Berdasarkan arti yang terkandung dalam nama /Islam/ tersebut, dapat dipahami betapa nama agama ini telah disiapkan secara konseptual dan bernilai argumentative yang amat tinggi. Tidak dapat tidak bahwa penamaan agama ini memang telah direncanakan sejak awal mengingat betapa rumit dan konseptualnya penamaan tersebut. Tak dapat dihindari untuk menyimpulkan bahwa penamaan agama tersebut (Islam) tak pernah dilakukan oleh Muhammad Saw mau pun manusia mana pun setelah masa Muhammad Saw. Bahkan secara internal sendiri, Muhammad Saw menyatakan bahwa penamaan tersebut memang datang dari Tuhan melalui beberapa ayat suci yang diturunkan Allah Swt kepadanya.

_.:oOo:._

Sungguh, konsekwensi yang paling logis dari kasus penamaan agama yang dibawa oleh Muhammad Saw ini adalah adanya jalan untuk menyimpulkan bahwa penamaan agama tersebut memang hanya dilakukan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa Yang telah menurunkan Islam tersebut. Jika Tuhan (dalam hal ini Dia adalah Allah Swt) sama sekali tak pernah turun tangan dalam penamaan agama tersebut, pastilah umat dunia akan mengenal agama ini dengan nama Muhammadisme mau pun Mekkis mau pun agama Arabis (atau apa pun!), demi untuk mengikuti trend penamaan agama yang berlaku secara universal. Namun kenyataannya justru Islam menjadi satu-satunya agama yang penamaannya benar-benar ‘distinguished’, bermartabat dan konseptual.

Bisa dipastikan bahwa konsep kesempurnaan hidup dan kesempurnaan ajaran, penyerahan diri kepada Tuhan dan kemudian jalan keselamatan, menjadi monopoli Islam semata mengingat ketiga unsur tersebut menjadi nama dari Islam, sejatinya, sejak awal jauh sebelum semua agama mengadopsi konsep-konsep tersebut.

Di luar itu, jika memang Nasrani adalah jalan rohani yang memang berasal dari Tuhan, maka penamaan yang semata mengikuti trend sosiologis anthropologis akan mengakibatkan klaim bahwa Nasrani berasal dari Surga, tetap berada dalam keraguan. Bukanlah suatu kebajikan berfikir yang paripurna di mana Tuhan yang membina suatu agama membiarkan agama tersebut diberi nama oleh sesuatu yang bukan diriNya.  Tuhan yang meninggalkan agamaNya untuk diberi nama oleh manusia penganutnya (bukan diriNya sendiri) dipastikan Tuhan yang tidak sempurna dalam pekerjaanNya dan ini fatal untuk dijadikan argument. Logikanya, tidak pernah seorang penemu meninggalkan hasil temuannya begitu saja dan membiarkan orang lain memberi nama dari temuannya. Ketidak-sempurnaan dari pekerjaanNya jelas terdeteksi dalam kasus penamaan Nasrani tersebut sementara tidak mungkin umat manusia akan mengenal adanya Tuhan Yang tidak sempurna.

Secara parallel, penamaan Nasrani yang mengikuti modus operandi yang umum terjadi pada semua agama (kecuali Islam) mengindikasikan bahwa agama tersebut bukanlah datang dari Tuhan. Ada kesalahan yang fatal di mana penamaan agama tersebut mengikuti nama pendiri dari agama tersebut (yaitu Yesus Kristus) jika ingin dikatakan bahwa agama tersebut memang datang dari Tuhan –sefatal agama lain (selain Islam) yang penamaannya memang berdasarkan trend sosiologis anthropologis. Ini tidak bisa dihindari untuk diakui.

Penting untuk ditegaskan jika memang Nasrani berasal dari Tuhan dan memang merupakan Karya Tuhan, maka sungguh, kelak agama ini akan mempunyai nama yang amat konseptual dan non-kultuisme, non-person-sentris. Kata /Islam/ (yang berarti perfection,  devotion, dan salvation) adalah kata yang tepat untuk nama agama tersebut karena tidak ada lagi kata yang lebih baik dari /Islam/.

Secara mendasar akhirnya digariskan, bahwa penamaan Kristen mau pun Nasrani untuk agama yang dibawa oleh Almasih (yang tidak dilakukan oleh Tuhan melainkan oleh peri-akal manusia belaka) sedikit pun tak akan dapat menolong agama Kristen dari kemungkinannya untuk ditolak akal:  agama ini biar bagaimana pun gagal dalam menerima penamaan dari Tuhan –seperti agama lain kecuali Islam. Campur-tangan Tuhan yang sempurna dan menyeluruh dalam penamaan agama (total naming) yang dibawa oleh Muhammad Saw amat jelas: Islam.  Oleh karena itu terdapat konsekwensi dari adanya penamaan ini atas Islam:  di dalam Islam benar-benar terdapat campur-tangan Tuhan, dan ini berarti bahwa Islam  benar merupakan karya Tuhan. Kristen sama sekali tak dapat menyangkal kenyataan logika ini.

Jesus Maharaja Diraja!!

maharaja-ku

Luga bercomment:

Anda gak pernah jawab pertanyaan!

Coba tunjukan di mana ayat Yesus berkata Aku nabi, jika gak bisa berati anda kalah!

Ingat utusan banyak banget tapi yang aku bilang Yesus ngaku sendiri.

Robertus Taianus

Desember 14th, 2010 pukul 11:54

Jawab Robertus iQ tinggi:

Dan kata-Nya lagi (Yesus): “Aku (Yesus) berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada Nabi (Yesus) yang di hargai di tempat asalnya”. (LUK 4:24) –

Note: ini pengakuan Yesus terhadap dirinya sendiri tentang kenabiannya.

Dan janganlah kamu menyebut siapapun Bapa (Tuhan) di bumi ini, karena hanya satu Bapamu (Tuhanmu), yaitu Dia (Allah) yang di sorga”. (MAT 23:9).

Janganlah pula kamu disebut pemimpin (Nabi), karena hanya satu pemimpinmu (Nabimu), yaitu Mesias (Yesus)”. (MAT 23:10) –

Note: ini pengakuan Yesus terhadap dirinya sendiri tentang kenabiannya.

KataNya kepada mereka: “Apakah itu?” Jawab mereka (murid): “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia (Yesus) adalah seorang Nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami”. (LUK 24:19) –

Note: ini pengakuan murid terhadap gurunya (Yesus).

Dan orang banyak itu menyahut: “Inilah Nabi Yesus dari Nazaret di Galilea”. (MAT 21:11)

Note: ini pengakuan umat terhadap nabinya (Yesus).

Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia Nabi”. (MAT 21:46) –

Note: ini pengakuan umat terhadap nabinya (Yesus).

Seorang nabi besar telah muncul ditengah-tengah dia”. (LUK 7:16) –

Note: ini pengakuan umat terhadap nabinya (Yesus).

Luga comment:

Lebih besar mana Raja Segala Raja dengan nabi ?

Robertus Taianus

Desember 15th, 2010 pukul 00:36

Robertus menjawab:

Jadi kamu dah puas tooo, TERBUKTI bahwa Yesus sendiri telah menyatakan bahwa dirinya adalah seorang “Nabi” atau “Utusan Allah”.

Dan Yesus “TIDAK PERNAH” menyatakan dirinya adalah seorang “Tuhan” …yang menyatakan Yesus adalah seorang “Tuhan” adalah Paulus dan ajarannya yang bernama Kristen…!!!

Dan  pernyataan / pengakuan bahwa Yesus Tuan itu bukan pernyataan / ajaran asli dari Yesus itu sendiri …sehingga pernyataan di luar ajaran Yesus (menganggap Yesus adalah Tuhan), itu dianggap TIDAK SAH menurut hukum ALLAH … ALIAS HARAM DI IMANI …!!!

Apabila ditanya “lebih besar mana Raja sgela raja dengan nabi ?” ….

Maka jawabannya adalah LEBIH BESAR RAJA SEGALA RAJA ….dari pada Nabi ..!!!

Karena “Raja segala Raja” itu adalah Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta beserta isinya termasuk nabi-nabi adalah ciptaan-Nya.

Disini bisa di simpulkan bawah :

Yesus itu sendiri telah mengakui bahwa dirinya “HANYALAH SEORANG NABI”

PANTAS KALAU YESUS MENYATAKAN DIRINYA HANYALAH SEORANG NABI, KARENA:

1. “DIA (YESUS) SEBAGAI NABI (MAKHLUK DARI RAJA SEGALA RAJA), TELAH MENGAKUI bahwa dirinya TIDAK LEBIH BESAR / TIDAK LEBIH SEMPURNA / TIDAK LEBIH BAIK … DARI PADA “RAJA SEGALA RAJA”.

Jawab Yesus: “Mengapa kau katakan aku baik (BESAR / sempurna)? Tak seorangpun yang baik (BESAR / sempurna) selain dari pada Allah saja”. (LUK 18:19)

2. Yesus punya pribadinya sendiri DAN “Raja segala raja” juga punya pribadinya sendiri …YANG BERBEDA SIFATNYA” … Yesus sebagai Nabi bersifat “Makhluk” sedangkan Raja segala raja mempunyai sifat “Pencipta segala makhluk” yang tidak terbatas kekuasaan-Nya …

Sebab sama seperti Bapa (Allah) mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga di berikan-Nya Anak (Yesus) mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri”. (YOH 5:26)

3. Yesus tidak akan pernah bersatu secara fisik maupun roh, baik saat ada di dunia maupun setelah berada di alam gaib (surga) …

Sesudah Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah ia ke sorga, lalu duduk disebelah kanan Allah”. (MRK 16:19)

DAN MASIH BANYAK PERNYATAAN dan BUKTI-BUKTI DI ALKITAB ITU SENDIRI YANG MENEGASKAN BAHWA “YESUS ADALAH NABI” … HAL INI SAMA DENGAN PERNYATAAN DALAM AL’QURAN BAHWA YESUS ADALAH NABI …DAN INI MEMBUKTIKAN BAHWA AL’QURAN TIDAKLAH MEMFITNAH ATAU MENGADA-ADA ..

Al Masih (Yesus) putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan (sebagai manusia biasa), …….”. (QS. AL MAA-IDAH : 75).

MAKA TIDAKLAH PANTAS BUAT MANUSIA KRISTEN UNTUK “MENUHANKAN YESUS” …. YANG SANGAT LEMAH YANG TIDAK PERNAH BERSATU SECARA FISIK DAN ROH DENGAN ALLAH …

JADI SIAPAKAH “RAJA SEGALA RAJA” ITU? DIALAH ALLAH S.W.T. SANG PENCIPTA SEGALANYA …. DAN DIA BUKANLAH “YESUS” SANG NABI ALLAH …!!!

Zu Nuwas Dan Abrahah: Prolog Islam.

yahudi-islam-kristen

Babak I

Pra kelahiran Muhammad Saw, Yaman purba menyaksikan suatu rezim Kerajaan Yahudi yang amat established kala itu walau pun pada kemudian hari Kerajaan ini berubah menjadi suatu tirani yang amat berbahaya bagi kawasan tersebut. Apa pun yang akan terjadi pada Kerajaan Yahudi tersebut pada masa menjelang kelahiran Muhammad Saw ini, dipastikan itu akan mempunyai hubungan yang amat erat dengan kelahiran Muhammad Saw itu sendiri.

Suatu penggalan dalam Alqur’an (surah Al Fiil) menandaskan bahwa Zu Nuwas, seorang Raja dari dinasti Kerajaan Yahudi Yaman tersebut membuat ‘tindakan politik’ yang amat mengkhawatirkan. Berdasarkan Alqur’an dan juga catatan sejarah Yaman, Raja ini tercatat menghadiri –bahkan yang paling bertanggungjawab atas – suatu operasi pembasmian warga Nasrani yang bermukim di Yaman dengan cara dibakar hidup-hidup. Sebenarnya semua warga Nasrani itu tidak mempunyai pilihan lain kecuali satu di antara dua pilihan yang amat sulit: menjadi penganut Yahudi, atau mati terpanggang.

Namun sungguh pun begitu tetap itu tidak dapat mengurangi betapa banyak darah Yaman yang terpanggang hingga membeku atas nama ketaatan Nasrani di depan keluarga Zu Nuwas. Bagi mereka yang tewas, menjadi Yahudi bukanlah pilihan untuk siapa pun, dan ini berarti mati sebagai Nasrani adalah lebih baik dari pada menjadi Yahudi. Salah seorang dari mereka mengambil resiko terbesar dengan mencoba kabur dari malapetaka tersebut dan melarikan dirinya menjauhi Kerajaan tersebut seefektif mungkin dengan satu tujuan: mencari siapa saja yang dapat menolong saudara Nasraninya yang lain yang tertimpa musibah tersebut atau, yang dapat menumpas Kerajaan Zu Nuwas tersebut. Pemuda tersebut, yang diidentifikasi bernama Simeon, memasuki gerbang istana Romawi untuk mendapatkan perhatian dari Kaisar Imperium Nasrani itu.

Simpati yang mendalam ditunjukkan oleh Kaisar Romawi kala itu. Ia mengirim surat kepada rekannya, Raja Negus, Raja Ethiophia untuk bereaksi secara keras atas kekejaman Zu Nuwas. Raja Negus memilih Jenderal Abrahah sebagai bagiannya untuk memasuki tanah Yaman dan melakukan penghancuran koloni Yahudi tersebut.  Invasi yang dilakukan oleh Abrahah atas nama Kerajaan Ethiphia dan Nasrani kepada Kerajaan Yahudi Yaman tersebut menjadi serangan brutal terakhir yang dialami oleh koloni Yahudi Yaman tersebut: Zu Nuwas dengan semua keluarga dan balatentaranya telah berhasil ditumpas. Pembasmian yang dilakukan Abrahah benar-benar terencana dan besar-besaran. Mungkin sekali Zu Nuwas akan berfikir bahwa ini adalah harga yang harus dibayar olehnya  setelah ia membantai ribuan orang Nasrani.

Babak II

Invasi akan segera diikuti oleh aneksasi Yaman untuk Ethiphia dan Nasrani. Segera setelah ditumbangkannya rezim Zu Nuwas yang Yahudi tersebut, Abrahah segera memasukkan seluruh Yaman ke dalam ketaatan Nasrani.

Namun hal yang paling mendasar untuk dicatat dalam peri-hubungannya dengan kelahiran Muhammad Saw adalah, bahwa Abrahah telah sampai pada kesimpulannya yang akan berpengaruh secara internasional: Yaman akan dijadikan tempat dimulainya ambisi untuk menghancurkan Ka’bah yang terletak di kota Mekkah. Abrahah menilai bahwa Ka’bah ternyata telah mengganggu kestabilan rohaniah kekristenan yang akan tengah ia bangun di Yaman.  Sekuat apa pun usaha Abrahah untuk menasranikan seluruh Yaman, namun Ka’bah tetap merupakan satu hal yang tidak bisa ditinggalkan oleh semua manusia yang bermukim di Yaman, termasuk juga semua Timur Tengah. Setelah ia mengetahui akan keagungan dan pengaruh yang amat luar biasa pada Ka’bah atas Mekkah, sebenarnya ia bertekad,  untuk menjadikan gerejanya, ‘Gereja Besar di Sanaa’ sebagai hal yang lebih pantas mendapatkan penghargaan tersebut dari pada Ka’bah itu sendiri.

Namun setelah sekian lama ia membangun ide tersebut dengan menjadikan gereja besarnya sebagai bagian dari idenya, ia melihat bahwa Ka’bah sama sekali tidak memberinya kemungkinan apa pun kecuali tetap terkucilkannya gereja Sanaa tersebut dari radar rohaniah seluruh Yaman. Cita-citanya untuk menjadikan kemakmuran Sanaa sebagai kemenangannya atas Mekkah yang dominasi Ka’bahnya telah berhasil ia tumbangkan telah dimentahkan oleh keberadaan Ka’bah. Ini membuat ia mengambil keputusan yang fundamental.

Abrahah memimpin pasukannya memasuki kota Mekkah dengan mengendarai sekawanan gajah yang terlatih. Tujuan Abrahah hanya satu: yaitu untuk menghancurkan Ka’bah yang kehancurannya kelak akan membawa kemakmuran bagi Sanaa dan charisma yang luar biasa bagi Iman Nasrani. Gerejanya segera akan menggantikan Ka’bah.  Sebenarnya Abrahah tidak berniat sedikit pun untuk berkompromi dengan warga Mekkah. Apa pun yang diinginkan warga Mekkah, maka tetap Abrahah melihat bahwa selama Ka’bah masih berdiri, Abrahah tidak akan pernah mendapatkan apa yang ia inginkan: glori untuk Gereja Sanaa-nya dan kemakmuran bagi ibu kota Kerajaannya.

Bagian paling inti dari ekspedisinya segera dijalankan setelah semua warga Mekkah memilih mengungsi ke perbukitan sekitarnya. Ia memimpin semua balatentaranya untuk tidak ragu sedikit pun bagi kehancuran Ka’bah. Semua warga Mekkah dipaksa untuk percaya oleh Abrahah bahwa ekspedisinya akan berhasil tanpa ada hambatan apa pun, atau, mitos yang selama ini berkembang dan menjadi kepercayaan semua warga Mekkah akan terjadi dan terbukti: Abrahah akan mendapatkan sanksi yang tegas dari Tuhan Yang menguasai Ka’bah tersebut.

Mungkin untuk kesekian kalinya semua warga Mekkah dibuat tidak pernah mengerti mengapa Yang Kuasa selalu mengambil tindakan yang tegas kepada siapa pun yang berani melanggar kesucian Ka’bah, namun kemunculan segerombolan burung Ababil(yang berarti ‘berbondong-bondong’) akhirnya membuat Abrahah (dan semua warga Mekkah lainnya) mengerti bahwa Abrahah sedang berada dalam kesulitan yang amat serius. Abrahah tidak akan pernah mengerti keseriusan agenda yang sedang ia lakukan sebelum ia mengetahui konsekwensi dari agenda tersebut. Sungguh ia sedang melanggar kesucian suatu rumah (Ka’bah) yang kesakralannya bukanlah legenda semata. Kesucian dan keagungannya justru terletak pada betapa Rumah Suci itu selalu mendapatkan dukungan, perlindungan dan pembelaan yang amat kramat dari Penguasa Langit dan Bumi, siapa pun Dia Swt.

Burung Ababil dilukiskan oleh semua saksi mata sebagai sekawanan burung yang membawa batu-batuan pijar yang kemudian mereka lontarkan ke arah pasukan Abrahah tersebut. Biar bagaimana pun ini adalah sesuatu yang tidak dapat di- ‘counter’oleh Abrahah karena ini sangat tidak manual. Terlebih ternyata Abrahah harus mengakui bahwa ia ‘kalah banyak’ dibanding  dengan balatentara Tuhan tersebut. Ini sungguh tidak ia perkirakan sebelumnya. Artinya, secara tragis Abrahah harus mengakhiri ambisinya atas Ka’bah  dan pulang kembali sebagai orang yang dikalahkan. Ia masih harus melihat betapa sebagian besar pasukannya tewas secara mengenaskan setelah mereka  satu per satu tertimpa batuan pijar dari burung Ababil tersebut.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa apa pun yang diperbuat oleh kehadiran burung Ababil itu, akibatnya amat di luar perhitungan siapa pun. Abrahah kehilangan ambisinya, ia kehilangan sebagian besar pasukannya;  sebagian sejarah yang amat dipercaya menyatakan bahwa sesampainya Abrahah di Kerajaannya sendiri, ia tewas karena luka serius yang ia derita sejak dari pelataran Ka’bah tersebut. Biar bagaimana pun tetap Abrahah harus kehilangan mega ambisinya: menciptakan aktivitas spiritual yang agung yang berpusat pada Gereja Sanaa-nya dan kemudian menciptakan kemakmuran untuk semua Yaman; sesuatu yang ia pindahkan dari Ka’bah dan Mekkah ke dalam ambisinya.

Serangan balik yang ditunjukkan oleh burung Ababil sudah menggagalkan rencana Abrahah untuk mengkristenkan semua Jazirah Arab. Kalau bukan Ka’bah yang binasa oleh rencana Abrahah, maka Abrahah-lah yang akan binasa dengan semua rencana dan ambisinya.

Namun setelah itu semua, kematian Abrahah sekaligus menandai amannya kembali Jazirah Arab dengan Ka’bahnya. Dan Yamannya.

_.:oYo:._

Ayat-ayat Tuhan yang diturunkan pada masa kenabian Muhammad Saw yang membicarakan kejadian tersebut mengulang apa yang telah terjadi yang mengiringi kelahiran Nabi besar tersebut: biar bagaimana pun ayat Tuhan mengenai hal ini adalah informasi yang amat penting untuk menegaskan bahwa ‘Tuhan tetap berada pada tempatNya’ untuk menyaksikan betapa musuhNya telah menggali lubang kuburannya sendiri…….

  1. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana tindakan Tuhanmu atas balatentara yang menunggangi gajah?
  2. Bukankah Tuhanmu telah membuat semua perjuangannya sia-sia?
  3. Dan Tuhanmu mengirim kepada balatentara tersebut burung-burung yang datang berbondong-bondong (Ababil).
  4. Dan burung-burung itu melempari balatentara itu dengan batu-batuan yang diambil dari neraka Sijjil.
  5. Maka serta merta semua balatentara itu menjadi bagaikan daun-daun yang berguguran yang dimakan ulat……..[1]

Dalam kelahiran Islam dan kebangkitan Muhammad Saw sebagai Rasul terakhir Allah Swt, peristiwa penyerangan Ka’bah oleh Abrahah ini amat terkenal dan mempunyai arti yang amat penting. Sejarah Islam selalu menyebutkan: Muhammad Saw lahir pada Tahun Gajah.  Ini memungkinkan semua orang untuk tetap mengingat bahwa kelahiran Muhammad Saw tersebut tidak berselang lama setelah jatuh-terbunuhnya Abrahah oleh burung Ababil, atau menangnya Ka’bah atas ambisi Abrahah tersebut.

Islam menilai sebenarnya ada kerangka pemikiran yang amat mendasar mengapa Tuhan memilih Tahun Gajah tersebut sebagai moment terbaikNya untuk melahirkan Rasul terakhir tersebut.

Prologislamate.

Kelahiran Muhammad Saw yang dirancang oleh Tuhan sebenarnya adalah salah satu mata rantai dari rangkaian kejadian yang amat panjang yang berujung pada kelahiran Rasul terakhirNya tersebut. Serentetan kejadian itu bermula dari insiden pembantaian umat Nasrani oleh rezim Zu Nuwas yang Yahudi, kemudian seorang dari mereka menyelamatkan diri menuju Imperium Romawi yang Nasrani, kemudian diutusnya Abrahah oleh Raja Negus untuk membuat perhitungan dengan Zu Nuwas. Ini semua ditandai dengan terjungkalnya Kerajaan Yahudi Yaman. Serentetan tersebut dilanjutkan dengan perluasan ambisi Abrahah untuk menjadikan Sanaa sebagai pusat spiritual yang amat megah untuk menggantikan Mekkah dengan Ka’bahnya. Penyerangan Abrahah atas Ka’bah dan Mekkah, adalah bagian yang sudah mendekatkan mata dunia kepada inti dari serangkaian panjang cerita tersebut yaitu kelahiran Muhammad Saw.

Pada kenyataannya, diturunkannya Islam untuk seluruh umat manusia di muka bumi ini haruslah juga berarti bahwa Tuhan akan menyatakan secara ‘resmi’ bahwa Ia akan mengaktualisasikan semua kehendak dan Jalan Suci-Nya hanya dalam kerangka Islam. Ini berarti Ia tidak akan melihat adanya kemungkinan lain bagi manusia mana pun untuk mengadopsi kerangka pemikiran lain selain Islam tersebut: Tuhan sendirilah Yang menutup jalan ke arah itu.

Tuhan menganut azas totalitas yang amat final mengenai hal ini. Harus diingat bahwa Tuhan bukanlah ‘sekelompok pemikir’ yang sedang berada dalam keraguan di depan begitu banyak pilihan. Dengan kata lain, Tuhan ingin menyatakan kepada semua manusia bahwa Islam adalah lembaga, suatu kerangka pemikiran, konteks, yang di dalamnya semua dan apa pun yang dibutuhkan manusia sudah tersedia. Islam adalah agama yang paripurna: perfection.

Namun sungguh pun begitu pada sisi lain, hubungan antara manusia dengan Tuhan yang terjalin pada masa pra Muhammad Saw telah  melahirkan dan mewariskan banyak hal bagi peradaban manusia. Yahudi dan Nasrani selalu dikaitkan dengan betapa Tuhan selalu berada dan setia kepada umat manusia kala itu dalam menghadapi begitu banyak kendala yang serius. Ini semua kemudian terperikan ke dalam peri kebudayaan mereka yang kelak mereka sebut dengan agama: agama Yahudi, Nasrani (Zoroaster dan juga agama lainnya secara lebih umum). Masing-masing agama tersebut mengklaim bahwa jalan fikiran mereka adalah satu-satunya hal yang paling dekat dengan pertolongan Tuhan; dan hal itu pun pada saatnya memang tidak diingkari oleh Tuhan:  adalah Tuhan sendiri yang menurunkan agama tersebut (baik Yahudi, Nasrani dan lain lain) kepada kalangan manusia sebagai khabar gembira dan penghiburan yang kudus.

Namun satu hal harus dipermasalahkan: apakah diturunkannya dan ditetapkannya semua agama tersebut (sebagai lembaga tempat di mana umat manusia dan Tuhan berdialog) tidak juga disertai dengan masa berlakunya?

Jika suatu agama tetap merupakan suatu ‘tubuh’ yang di dalamnya akan selalu berdiam ruh Tuhan, maka di muka bumi ini terdapat begitu banyak agama dan adalah tidak mungkin Tuhan melakukan kesalahan sehingga terjadi ‘penumpukan agama’ (atau, suatu ambigue mau pun dualisme) yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Kebajikan berfikir akan memutuskan bahwa tidak benar pada  kesemua ‘tubuh’ tersebut terdapat ruh Tuhan karena itu akan berarti semua agama itu adalah benar sementara pada ghalibnya satu agama akan menentang kehidupan Tuhan dalam agama lainnya secara fundamental.

Kehidupan Tuhan dalam Islam adalah sesuatu yang amat final baik bagi Tuhan sendiri mau pun bagi seluruh dunia. Ia akan segera mengingkari agama lainnya sebagai bagian dari komitmenNya untuk menegaskan bahwa semua umat manusia akan diberkati dan dikuatkan hanya dalam Islam. Artinya adalah, jika memang Tuhan pernah bergaul dengan semua umat manusia dalam kerangka kebajikan Yahudi mau pun Nasrani (atau agama lainnya) maka kelak Tuhan telah sampai pada keputusanNya untuk membekukan kesemua agama pra Islam tersebut. Tuhan melihat bahwa ‘monopoli kerangka pemikiran’ adalah amat tepat  dan konstruktif; manusia amat membutuhkan hal tersebut. Kebalikannya, Tuhan tidak akan pernah membiarkan adanya ambigue mau pun dualisme (terlebih spekulasi) dalam hal menilai apakah suatu agama tertentu akan dapat dianalisa sebagai tempat di mana Tuhan hidup dan mengembangkan kebajikanNya.

Islam dilahirkan, dilarung ke dunia dengan terlebih dahulu mencetuskan Prologislamate tersebut, suatu prolog yang  menjelaskan mengapa Islam lahir, dan juga yang sekaligus menjelaskan bagaimana Islam harus dilahirkan dan dijadikan satu-satunya kepercayaan bagi semua umat manusia:

Pada Babak I, melalui kisah digulingkannya Kerajaan Yahudi Yaman dengan rezim Zu Nuwasnya oleh balatentara Abrahah yang Ethiophia                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     Nasrani, Tuhan mengarahkan semua focus manusia untuk mendapatkan suatu informasi yang fundamental: Tuhan tidak lagi menolong Yahudi-Nya untuk alasan apa pun. Tuhan dengan gayaNya membiarkan Yahudi tersebut terjungkal oleh kekuatan Nasrani sebagai caraNya dalam berkata-kata kepada manusia bahwa periodikalisasi Yahudi telah selesai. Dengan tidak lagi menolong Yahudi-Nya dari serangan Nasrani Ethiophia maka Tuhan telah memulai suatu opini dunia bahwa Yahudi bukan lagi wakil Tuhan, atau Yahudi akan diidentikkan dengan kesalahan, atau pun, sesalah-salahnya Yahudi, tetap Tuhan tidak akan lagi menolongnya seperti dahulu.

Sebenarnya kesalahan Yahudi kala itu amat fatal dengan membantai ribuan nyawa Nasrani taat dalam lobang kuburan api (dalam Alqur’an kisah itu diabadikan Tuhan dalam surah Al Buruj). Sejak awal semua Yahudi kala itu beranggapan bahwa biar bagaimana pun Tuhan mereka –yang memang Yahudi juga – pasti akan mendukung pembantaian tersebut. Namun kenyataan terjungkalnya Kerajaan tersebut oleh Nasrani Abrahah mengarah kepada fakta yang sama sekali lain: sesuci-sucinya Yahudi bahkan di kala kesemena-menaannya sendiri, tetap akan dijungkir-balikkan juga oleh Tuhan.  Jika Yahudi yakin bahwa Tuhan tidak mempunyai pilihan lain selain menolong YahudiNya dan mendukung pembantaian Nasrani tersebut, maka dengan keyakinan tersebut sebenarnya Yahudi akan dapat dikalahkan oleh siapa saja; itu adalah keyakinan yang salah.

Melalui kisah runtuhnya Yahudi Yaman dengan Zu Nuwasnya oleh balatentara Abrahah, maka itu berarti Yahudi telah ‘ditutup-buku-kan’ oleh Tuhan: dengan keruntuhan tersebut Yahudi segera dicabut sebagai mandataris Iman –kepada Tuhan-  di muka bumi.

Nasrani, setelah runtuhnya Yahudi dan tercerabutnya semua mandatekeimanan dari padanya, menjadi jalan Tuhan satu-satunya yang masih ada di muka bumi. Namun ini belum cukup untuk melahirkan Islam dan Muhammad-Nya kelak.

Sebenarnya, dengan berhasilnya kekuatan Kristen mengalahkan Yahudi Yaman dan menjungkalkan kekuasaannya, praktis membuat semua orang Kristen cukup diyakinkan bahwa Tuhan terkesan dengan Kristianitas mereka: Tuhan adalah ‘orang’ Kristen juga, hanya saja Ia lebih Suci, dan oleh karena itu Ia akan menolong Kristen.

Abrahah salah besar dengan opini utopia tersebut.  Sejak Abrahah merasa bahwa semua perhatian Tuhan tertuju pada Pemerintahannya karena ia telah berhasil menjungkalkan musuh YahudiNya,  Tuhan telah merencanakan hal lain lagi yang lebih spesifik.

Pada Babak II  Tuhan menggiring Abrahah kepada kuburannya sendiri: memasangkan semua pelana di atas punggung gajah untuk menghancurkan Ka’bah demi meningkatkan popularitas namanya di mata Tuhan yang Kristen tersebut. Ketika Abrahah memasangkan pelana-pelana tersebut ke atas punggung gajah, maka sebenarnya Tuhan sendirilah yang memasangkan pelana-pekana tersebut, dan ketika Abrahah menyiapkan semua bala tentara gajah-gajah dalam jumlah yang besar, maka sebenarnya Tuhan sendirilah yang menyiapkan sekawanan gajah-gajah tersebut. Hanya saja Abrahah tidak mengetahuinya karena Tuhan melakukannya dalam keheningan. Menghancurkan Ka’bah, bagi Abrahah,  adalah memenangkan Tuhan dengan cara mengungkapkannya yang berbeda. Kemudian secara brutal hal itu direspon oleh Tuhan dengan cara yang kontra dan  orthodox: pembantaian yang dilakukan orang sekawanan burung Ababil. Mungkin bagi Abrahah, ini akan berakibat bahwa ia tidak akan dapat lagi berkomentar bahwa Tuhan Semesta Alam adalah ‘seorang’ Nasrani mengingat apa Yang Ia hajar pada balatentara Abrahah adalah semua salib suci dan icon-icon agung yang mereka bawa dari dalam gereja. Tidak mungkin jiwa Yang Kristen menistakan lambang-lambang kesucian Kristen.

Runtuhnya autoritas Kristen yang ada pada balatentara Abrahah ternyata berdampak luas. Semua mandate, buku-buku dan sejarah Kristen yang semula dipautkan dengan Jalan Surga, telah diakhiri oleh Tuhan. Dengan kata lain, Tuhan tidak lagi menolong Kristen. Periodikalisasi Kristen telah berakhir.

_.:oUo:._

Periodikalisasi Kristen dan Yahudi telah sampai pada hal yang sebenarnya dari tentang suatu keyahudian dan kekristenan: tidak lagi menjadi mandataris Iman di muka bumi dan kemudian membiarkan seantero dunia untuk sementara waktu steril dari semua aktivitas dan kepentingan Iman.

Prologislamate, menjadi latar belakang yang akan menjelaskan betapa Islam akan menjadi satu-satunya agama Tuhan, kerangka pemikiran Tuhan, yang tidak akan mengalami ambigue atau dualisme atau pun tinjauan-tinjauan spekulatif lainnya. Islam yang kemudian diturunkan setelah tuntasnya Prologislamate tersebut, menjadikan semua umat manusia mudah untuk menentukan jalan Iman mereka, atau setidaknya dunia Iman menyaksikan bahwa Tuhan adalah Spirit Yang selalu bercermin pada betapa semua perbuatanNya tetap berada dalam disiplin yang tinggi dan rapi. Itu yang penting.

Islam di dalam kehidupan di atas bumi adalah suatu keniscayaan dan ini mewakili adanya suatu rencana yang amat besar jauh sebelum Islam itu sendiri untuk menjadi bagian penting dalam Kerajaan manusia. Konsep dari rencana itu jelas: dikalahkan dan dijungkalkannya Kerajaan Zu Nuwas yang Yahudi oleh Abrahah yang Nasrani mengisyaratkan dua hal.

Pertama: Yahudi telah menyelesaikan semua mandate yang diberikan Tuhan atasnya. Kedua, kemudian sistem Yahudi tersebut akan segera ‘dikebumikan’ untuk memberi jalan kepada suatu hal yang paling niscaya, yaitu Islam.

Kemudian, Abrahah yang Nasrani (yang telah menghancur-leburkan Yahudi) akan segera berhadapan dengan Tuhan di depan Ka’bahNya;  di pelataran Ka’bah itu Tuhan mulai meninggalkan Nasrani-Nya. Kata akhir bagi sistem Iman ini akan menyertai diselesaikannya mandate Tuhan atas Yahudi, pendahulunya: pertama, Kristen telah dianggap selesai dalam menjalankan dan mengemban semua mandate yang diberikan Tuhan atasnya. Setelah itu, sistem Kristen ini harus telah dibatalkan juga.

Dengan demikian pada masa tersebut Yahudi  dan Nasrani telah tidak dapat lagi ditemui di muka bumi; adalah pada saat tersebut bumi dalam keadaan yang kosong, vacuum akan sistem Iman. Itulah intisari dari pada Prologislamate. Praktis, itu akan menjadi prolog atas datangnya Islam. Akhirnya ketertiban sistem (kelahiran) Iman telah dibuktikan oleh Tuhan, Pemilik dari sistem  Iman. Dengan turunnya Islam beberapa saat setelah Prologislamate tersebut maka Islam tidak menghadapi rivalitas apa pun: ia tidak perlu untuk berkompetisi dengan sistem lainnya.

Islam menjadi satu-satunya Jalan Suci yang disediakan. Jika memang untuk mendapatkan Surga itu adalah sulit, maka Tuhan telah memulai untuk mempermudahnya dengan mengeliminir Yahudi dan Nasrani. Tidak mungkin Tuhan mempersulit siapa pun untuk memasuki dan memenangkan Surga; itu bukanlah sifatNya. Sebaliknya, jika memang untuk mendapatkan Surga itu adalah mudah, maka mau tak mau Tuhan harus meninggalkan Yahudi dan Nasrani terlebih dahulu dan menjadikan Islam kelak sebagai satu-satunya hal yang masuk akal untuk dipilih.  Kalau pun itu masih terasa sulit juga, maka manusianya sendirilah yang tetap meragukan kebajikan Tuhan. Kesulitan yang dikenal dengan nama apa saja tidak pernah datang dari Tuhan.

Prologislamate secara rinci menegaskan bahwa Nasrani dan juga Yahudi bukan lagi menjadi pilihan bagi siapa pun.  Di pihak lain, Prologislamate menjadi pemicu atas kebajikan dan menangnya Islam.

Keotentikan Yoh 7:53- 8:11, Perempuan yang berzinah

keotentikan-yohanes

Keotentikan Yoh 7:53- 8:11, Perempuan yang berzinah

Pertanyaan:

Dear Katolisitas,

Baru-baru ini aku kedapatan pertanyaan tentang Yoh 8:1-11, pertanyaannnya adalah perikop ini ternyata tidak ada di Codex Sinaiticus, lalu darimana sumbernya?

Semoga berkenan menjawabnya.

Terima kasih.

Maximillian Reinhart.

Jawaban:

Shalom Maximillian Reinhart,

Yoh 7:53- Yoh 8:11 adalah perikop tentang Perempuan yang berzinah, yang sejalan dengan kisah- kisah dalam Injil lainnya. Didascalia Apostolorum (semacam edisi awal Didache), yaitu sebuah tulisan yang memuat ajaran- ajaran para rasul, memuat acuan kepada perikop ini, demikian juga tulisan dari Papias (125 AD), yang adalah murid rasul Yohanes.

Teks ini memang tidak ditemukan pada Codex Sianiticus, Vaticanus, maupun versi Syriac demikian juga pada versi Armenian dan Old Georgian. Manuskrip pertama yang memuat perikop ini adalah Codex Bezae (sekitar akhir abad 4/ awal abad 5) yang ditulis dalam bahasa Latin dan Yunani. Maka, para ahli Kitab Suci banyak yang memperkirakan bahwa perikop Yoh 7:53- 8:11 ini bukanlah teks asli dari Injil Yohanes (lihat ‘Pericope adulterae’, in FL Cross (ed.), The Oxford Dictionary of the Christian Church, (New York: Oxford University Press, 2005)); walaupun ada pula para ahli Kitab Suci yang tetap mendukung keaslian perikop ini.

Codex Bezae adalah manuskrip pertama yang memuat perikop ini (sekitar akhir abad 4 sampai awal abad 5) yang ditulis dalam bahasa Latin dan Yunani. Pada tahun 1941 ditemukan koleksi tulisan- tulisan Didymus the Blind (313-398) ditemukan di Mesir dan di sana ditemukan acuan kepada perikop Perempuan yang berzinah (pericope adulterae) tersebut dalam beberapa salinannya. Maka perikop tersebut dianggap telah termasuk dalam manuskrip Alexandria sejak abad ke-4. Codex Vaticanus yang disusun di abad ke-4 di Mesir menandai akhir dari Injil Yohanes bab 7 dengan tanda titik- titik / “umlaut” yang mengindikasikan bahwa ada sebuah perikop alternatif telah diketahui/ ditemukan pada akhir bab 7 tersebut.

St. Jerome menyatakan bahwa perikop Perempuan yang berzinah ini telah ditemukan secara kanonik dalam manuskrip Yunani dan Latin di Roma dan di Gereja Barat pada abad ke-4. Hal ini dikonfirmasikan oleh para Bapa Gereja di abad 4 dan 5, termasuk St. Ambrosius dan St. Agustinus. St. Agustinus mengklaim bahwa ada kemungkinan perikop ini tidak dimasukkan oleh beberapa manuskrip untuk mencegah kesan bahwa Kristus tidak menghukum kasus perzinahan:

“Saya kira, beberapa orang tertentu yang kurang beriman, atau para musuh iman yang benar, takut, bahwa istri- istri mereka harus tidak dihukum jika mereka berdosa [berzinah], [maka mereka] telah menghapus dari manuskrip mereka, tindakan pengampunan dari Tuhan kepada si perempuan yang berzinah, seolah- olah Ia yang telah berkata, ‘Jangan berbuat dosa lagi’, telah memberikan izin untuk berdosa.” (Augustine, De Adulterinis Conjugiis 2:6–7. Cited in Wieland Willker, A Textual Commentary on the Greek Gospels, Vol. 4b, p. 10.)

Dewasa ini memang terdapat dua pandangan tentang keotentikan perikop Perempuan yang berzinah ini. Para ahli Kitab Suci yang menolak keotentikan perikop ini antara lain adalah Cadbury (1917), Codwell (1935) dan Metzger (1971). Namun demikian terdapat juga para ahli Kitab Suci yang dengan kuat mendukung keotentikan perikop ini sebagai ajaran/ karangan Rasul Yohanes, seperti Nolan (1865), Burgon (1886), Hoskier (1920), OT. Fuller (1978), Pickering (1980), Hodges & Farstad (1985), Pierpont dan Robinson (2005).

Argumen Zane C Hodges dan Arthur Farstad didasari atas keserupaan antara gaya bahasa yang digunakan dalam perikop tersebut dengan gaya bahasa keseluruhan Injil Yohanes. Detail yang disebutkan di sana juga sangat cocok dengan konteks ayat- ayat sebelumnya. Fakta bahwa adanya perikop tersebut di mayoritas salinan manuskrip, (walaupun tidak ada di salinan yang tertua), adalah bukti terhadap keotentikan perikop tersebut. Apalagi jika melihat bahwa perikop tersebut mempunyai padanan/ melengkapi kisah yang disebutkan dalam Injil lainnya tentang perempuan yang berdosa, dan kisah ini juga berasal dari jaman para rasul.

Selanjutnya, manuskrip baik Novum Testamentum Graece (NA27) and the United Bible Societies (UBS4) mencantumkan teks perikop tersebut, dengan memberi tanda [[]] yang merupakan indikasi penambahan teks. Namun demikian, USBA mengindikasikan bahwa tambahan tersebut tidak diragukan/ “virtually certain” keasliannya.

Jadi, inilah kesimpulan yang saya sarikan dari pandangan Rm. Pidyarto O Carm:

Dengan adanya fakta bahwa Yoh 7:53– 8:11 (pericope adulterae) tidak ditemukan di Codex Sianiticus ataupun Syriac dan manuskrip kuno lainnya- bukan merupakan indikasi bahwa perikop tersebut bukan Sabda Allah. Sebab perikop Perempuan yang berzinah (pericope adulterae) tersebut berasal dari jaman para rasul, dan dengan demikian merupakan bagian dari wahyu Yesus Kristus.

Juga, bagi kita umat Katolik, yang terpenting adalah kenyataan bahwa perikop Yoh 7:53- 8:11 telah termasuk dalam Kitab Suci kita dan dinyatakan kanonik oleh Magisterium, sehingga kita menerimanya sebagai Sabda Allah. Peneguhan ini lebih berarti daripada pandangan pribadi para ahli Kitab Suci yang menentang perikop tersebut atas dasar pemahaman mereka sendiri tentang bagaimana menentukan keotentikan suatu teks. Para Bapa Gereja meyakini keotentikan teks tersebut, dan teks tersebut ternasuk dalam Kitab Suci yang dinyatakan kanonik oleh Magisterium. Oleh karena itu, kita tidak dapat, atas pemahaman kita sendiri meragukannya.

Demikian, semoga ulasan di atas berguna bagi kita semua.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,

Ingrid Listiati- katolisitas.org

>>>>>>

Access from,

http://katolisitas.org/2010/12/16/keotentikan-yoh-753-811-perempuan-yang-berzinah/

Access date,

4:05 PM 12/20/2010

——————————————————

Sophislam,

Apa yang kita lihat dari uraian di atas ini?

Tidak lain adalah fakta dan tradisi yang aneh dalam penyusunan Alkitab, yaitu bahwa TANGAN MANUSIA-LAH yang menentukan APAKAH SUATU AYAT BOLEH MASUK KE ALKITAB ATAU TIDAK…..

Mengapa bisa demikian?

Mengapa firman Allah yang agung dan kudus, pada akhirnya harus diserahkan kepada kehendak manusia, untuk dianggap firman Allah atau sebaliknya??

Bagaimana dengan Alquran? Apakah ayat-ayat Alquran adalah hasil dari kesepakatan manusia sejak wafatnya Nabi Saw, apakah ayat itu layak masuk Alquran dan  tidak layak masuk Alquran??

Tentu saja tidak! Ayat Alquran, kesemuanya, adalah Hak Allah untuk menyatakan bahwa ayat itu adalah ayatNya…..

Demikianlah kejanggalan dari agama yang namanya adalah Kristen.

Polisi Bentrok Lawan Demonstran Penentang Masjid di Inggris

polisi-bentrok-lawan-demonstran-penentang-masjid-di-inggris

Minggu, 4 April 2010 | 04:07 WIB

WEST MIDLANDS, KOMPAS.com — Polisi antihuru-hara Inggris akhirnya bentrok dengan ribuan demonstran anggota Liga Pertahanan Inggris atau EDL yang menentang rencana pembangunan masjid baru di pusat Kota Dudley, West Midlands, Sabtu (3/4/2010).

Bentrok dipicu tindakan brutal sekitar 2.000 anggota EDL yang merusak pagar besi dan melempari polisi yang dilengkapi dengan perisai dan tongkat. Bahkan, mereka justru menyerang koordinator aksi yang menenangkan tindakan brutal tersebut.

Mereka bawa poster bertulisan, antara lain, “Buruh menolak masjid di Inggris” dan “Tak seorang pun menginginkan masjid ini.” Demonstran dari sayap kanan juga memasang plakat yang terbaca, “Para pengebom muslim enyah dari sini” dan “Katakan tidak pada masjid”.

Lagu kebangsaan Inggris, God Save The Queen, diputar melalui pengeras suara, diikuti pengibaran bendera Inggris. Dewan Kota Dudley di situs webnya menyatakan, “Kami tidak mengundang EDL ke kota kami dan kami tidak menginginkan mereka di sini.” Namun, Dewan juga mengaku tidak punya kekuasaan untuk melarang kegiatan mereka
————————-
Access from,
http://internasional.kompas.com/read/2010/04/04/04075218/Polisi.Bentrok.Lawan.Demonstran
Access date,
10:26 AM 12/21/2010

Sophislam,

Heerbraaaaaht!!!!

Agama dan umat Kristen yang mengaku-ngaku sebagai agama kasih dan damai, namun sudah berulang kali terbukti suka melakukan tindakan tindakan kekerasan dan brutal kepada pihak lain yang tidak seiman dengan mereka. di situs indonesia-faithfreedom.org, semua jidat Kristen gemar sekali memojokkan dan menghina Islam sebagai agama yang mengajarkan manusia untuk menjadi penuh kebencian terhadap siapa saja yang tidak seiman. Namun mengapa ada berita seperti artikel di atas?

Yang lebih miris lagi adalah, justru semua jidat Kristen TUTUPMATA terhadap melimpahnya fakta bahwa jidat Kristen adalah agama barbar dan gemar menumpahkan darah manusia ….

Benarlah demikian, bahwa Kristen, gerejanya, Alkitabnya, adalah komponen-komponen yang mengajarkan siapa pun untuk menjadi munafik. Ingatlah bahwa Paulus pernah berkata dalam injil nya ..

Jikalau kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaanNya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa? Roma 3:7

Dracula Sang Pembantai Ummat Islam

dracula-tour

Banyak di antara saudara kita yang benar-benar tidak tahu pembantaian yang dilakukan Dracula (Vlad Tsepes) karena ada pengkaburan sejarah yang disengaja oleh orang-orang Barat untuk menutupi kebusukan mereka jika sosok “asli” Dracula disebar luaskan.

Dracula bukan saja menyiksa dan membantainya kaumnya / rakyatnya sendiri. Tapi juga ratusan ribu darah ummat Islam telah ditumpahkannya.

princely_court-tirgoviste

Bagaimana itu bisa terjadi?

Selain memusuhi lawan politiknya dan para tuan tanah yang membangkang padanya, Dracula juga sangat membenci ummat Islam, terutama Turki Ottoman (Utsmani) yang dianggapnya telah memisahkannya dengan ibunya. Meskipun di Turki ia diperlakukan dengan baik, namun ia tetap menganggap Turkilah yang menyebabkan dirinya kehilangan masa kecilnya.

Setelah Dracula mempunyai kekuatan di Wallachia dan menjadi penguasa di kala itu, juga telah berhasil membangun benteng yang kokoh, barulah ia menyatakan secara terbuka bahwa dirinya adalah musuh Kerajaan Turki Ottoman. Dia mulai menteror dan membunuhi ummat Islam di wilayahnya sendiri, serta mengusir mereka. Lama kelamaan Dracula semakin bertambah kuat kekuasaannya hingga korban yang berjatuhan pun semakin banyak, terutama ummat Islam. Sejarah mencatat, ada sekitar 300.000 dibantai oleh Dracula sepanjang masa pemerintahannya.

Pembantaian Terhadap Prajurit Turki di Tirgoviste

Setelah Dracula berhasil menguasai tahta Wallachia, itupun atas bantuan para prajurit Turki -ia akhirnya berkhianat. Meski usianya masih 17 tahun, tapi ia memberanikan diri untuk memisahkan diri dari Kerajaan Turki Ottoman yang telah membantu dan mendidiknya.

Prajurit-prajurit Muslim Turki yang masih tersisa di Wallachia ditangkap. Dalam waktu beberapa hari mereka disekap di ruang bawah tanah dengan mendapatkan perlakuan kejam dan tak manusiawi.

salibpisauramuanmembunuhdrakulav-1-kayu-sula-dracula-dan-salib

Pada hari yang telah ditentukan oleh Dracula, para prajurit Turki digiring ke tanah lapang yang ada di pinggiran kota. Mereka ditelanjangi seperti budak lalu digiring ke tempat penyiksaan massal. Dracula yang menaiki kuda paling depan dielu-elukan, karena dianggap telah membebaskan Wallachia dari tangan Turki. Sedangkan prajurit Turki yang ada di belakangnya dilempari batu dan kotoran -juga caci maki dalam kondisi telanjang.

Setelah berjalan cukup jauh, maka tibalah mereka di tempat penyulaan, tiang-tiang sula sudah disiapkan. Dan tanpa menunggu waktu lama, Dracula langsung memerintahkan agar para prajurit Turki itu disula semuanya.

Satu orang selesai disula, langsung dipancangkan di tengah-tengah lapangan. Tubuh-tubuh mereka yang telanjang meregang nyawa menyambut syahid. Sementara itu, Dracula duduk santai sambil menikmati ceceran darah dan jerit kematian si korban. Tampak sekali kesadisan Dracula sang Panglima Salib dalam menyiksa kaum Muslimin.

30.000 Pedagang Yang Disula

Hari Peringatan, St. Bartholome 1459 M, pada masa itu perdagangan ummat Islam memang sedang menggairahkan. Mereka semua menyebar ke belahan bumi Barat maupun Timur. Pedagang yang paling dominan adalah dari Turki yang kebanyakan memperdagangkan permadani dan permata yang juga diperdagangkan di Wallachia.

Jumlah para pedagang dari Turki sangatlah banyak dan membaur dengan penduduk setempat. Hal itu yang membuat Dracula marah karena mereka dianggap sangat merugikan dan tidak memberikan pemasukan apa – apa baginya.

Karena di dalam Islam, yang berhak membayar jizyah (pajak / upeti) hanyalah orang kafir, sedangkan Islam sendiri membayar zakat. Jadi otomatis, tidak ada pembayaran apapun kepada Dracula.

Akhirnya, Dracula mengumpulkan mereka semua beserta keluarganya.

Dan sama seprti yang lain, mereka syahid diujung kayu sula.

Pada malam harinya pun Dracula mengadakan pesta guna merayakan “Hari Peringatan St. Bartholome Yang Merah”. Karena kejamnya pembantaian tersebut, hingga saat ini para petani Transilvania menganggapnya sebagai hari yang mengerikan.

mayat2muslimtersula

Membunuh Dengan Virus

Selain membantai ummat Islam dengan penyulaannya. Dracula juga menyebar virus penyakit untuk mematikan generasi ummat Islam di Wallachia.

Caranya, orang – orang yang terkena virus mematikan, dikumpulkan semuanya oleh Dracula, lalu disebar ke seluruh pelosok desa di Wallachia yang dihuni oleh ummat Islam agar virus yang mematikan tersebut menular ke keluarga Muslim di daerah itu.

Sungguh licik memang apa yang dilakukannya terhadap ummat Islam.

20.000 Ummat Islam Yang Disula

Kekejaman demi kekejaman yang dilakukan oleh Dracula membuat Sultan Muhammad al Fatih semakin gerah dan marah. Pada tahun 1462 M Sultan mengirim 60.000 pasukannya untuk menangkap Dracula hidup atau mati. Sebagai pemimpin pasukan, ditunjklah Randu, adik Dracula sendiri. Dalam catatan sejarah, ini merupakan peperangan terbesar selama Dracula berkuasa.

Seminggu sebelum penyerangan

Pasukan Turki belum mengetahui bahwa seminggu sebelum penyerangan, Dracula telah menyula ummat Islam yang menjadi tawanannya. Belum lagi yang tinggal di Wallachia yang juga disula.

Diantara para tawanannya terdapat isteri Dracula yang Muslim dan berasal dari Turki. Lalu Dracula memerintahkan agar isterinya didekatkan padanya. Lalu diikat di atas meja penyiksaan. Dan ia mengerat dadanya serta mengulitinya di depan ribuan para tawanan. Jerit kesakitan pun trdengar oleh semua yang melihat kejadian keji tersebut. Pisau yang ditangan Dracula pun basah oleh darah segar isterinya sendiri.

Setelah itu ia mengambil sula kecil yang ada di dekat meja. Lalu ia menyulanya tepat pada liang kemaluan isterinya di depan para tawanan dan algojonya. Ia meneruskannya berkali – kali hingga isterinya pingsan lalu syahid di tangannya. Bisa dibayangkan betapa sakitnya itu.

Setelah merasa puas membunuh isterinya. Ia pun memerintahkan agar membawa seorang bayi beserta ibunya maju ke depan. Dracula memerintahkan agar keduanya diikat pada tiang pancang. Setelah selesai diikat, lalu Dracula mengambil kayu sula. Dengan ketenangan yang luar biasa Dracula menyula sang bayi dari pusar sampai tembus ke punggung. Sula yang lumayan panjang itu terus dia dorong sampai menembus ke perut ibunya. Na’udzubillah.

Para tawanan merasa terpukul dan tersakiti melihat saudara / saudari Muslimnya disiksa dengan siksaan yang tak akal dan menyayat hati.

Enam hari sebelum penyerangan

Begitu fajar menyingsing dari ufuk Timur, Dracula memerintahkan prajuritnya agar bergerak meninggalkan Tirgoviste. Para prajurit Dracula yang semuanya kafir menggiring para tawanan Muslim yang telanjang bulat melewati jalan berbatu dan berkelok – kelok.

Keadaan tawanan semakin mengenaskan. Sejak dipanggang di lapangan Tirgoviste beluma ada sesuap makanan yang masuk ke perut mereka, begitu juga belum ada air yang membasahi kerongkongan mereka. Karena tak kuasa menahan lapar, mereka memungut bangkai tikus atau apa saja yang mereka temukan di jalan karena sking lapar dan daruratnya.

Tiada satu patah kata pun yang terucap dari mulut – mulut mereka melainkan rasa sakit dan takut yang ada di dalam hati mereka. Begitulah keadaan kamu Muslimin yang menjadi tawanan Dracula.

Lima hari sebelum penyerangan

Tempat sebagai ajang penyulaan semakin dekat, keadaan para tawanan semakin mengenaskan. Sebagian besar dari mereka hanya mampu menyeret kaki , sedangkan yang benar – benar tak kuat berjalan dipapah oleh yang masih kuat. Suasana duka pun semakin melarut.

Tiga hari sebelum penyerangan

Tempat penyulaan telah dipersiapkan oleh para pasukan Salib yang dipimpin oleh Dracula sendiri semalam sebelumnya. Dracula sendiri telah berada di mejanya bersama beberapa bangsawan dan panglima perang.

Ketika matahari mullai meninggi, Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah dengan cekatan. Begitu penyulaan dimulai, lolong kesakitan dan jeritan kematian pun memenuhi segala penjuru tempat itu. Ummat Islam yang naas itu sedang menjemput syahid dengan cara yang begitu sangat mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah terjadi.

Dracula terlihat kegirangan ketika para korban disula dan dipancangkan di tiang pancang. Setiap tetesan darah korban serasa menyejukkan jiwanya.

Semakin siang suasana penyulaan semakin mengerikan. Para prajurit harus bekerja keras untuk menyula 20.000 ummat Islam dalam waktu sehari, suatu jumlah yang sangat fantastis.

Tak terasa waktu sudah malam, obor – obor pun dinyalakan. Para korban penyulaan yang terpancang di tengah – tengah lapangan semakin mengerikan jika terkena cahaya obor.

Sementara itu, dari dalam tenda Dracula sedang asyik menyantap santapan malam bersama para pembesarnya yang satu ‘pemikiran’ dengannya.

Dari luar tenda, bau anyir darah segar kaum Muslimin mulai tercium. Angin pun masih mengalir membawa rintihan korban yang sekarat. Esok pagi mayat – mayat itu akan berpindah tempat. Mereka akan menjadi persembahan Dracula bagi untuk musuh bebuyutannya, Turki. Malam semakin larut. Alam pun ikut larut dalam duka.

Dua hari sebelum penyerangan

Prajurit Dracula terus berderap mendekati kubu pasukan Turki yang berada di sungai Danube. Sesampainya di tempat yang dituju, komandan pasukan memberikan aba – abakepada prajuritnya untuk berhenti. Setelah semuanya berhenti, maka diperintahkannyalah agar ummat Islam yang telah disula itu dipancangkan di pinggir jalan, kanan dan kiri. Tubuh – tubuh yang disula itu kini telah dipancang disepanjang jalan kira – kira sepanjang 10 km.

Pada hari penyerangan

Pada serangan pertama Kerajaan Turki Ottoman mengerahkan 20.000 prajurit. Mereka berangkat dari arah selatan sungai Danube dan kemudian menyebrangi sungai itu.  Sesampainya di seberang sungai, mereka melanjutkan perjalanan ke ibukota Wallachia, Tirgoviste. Tapi perjalan mereka tiba – tiba terhenti setelah melihat puluhan ribu mayat yang disula. Masyaa’ Alloh, terkaget – kagetlah pasukan Turki melihat kejadian itu.

Melihat hutan mayat tersebut, pasukan Turki memutar arah. Mereka kembali ke kubu pertahan yang ada di seberang sungai Danube dengan perasaan takut dan cemas. Melihat prajuritnya kembali. Sultan Muhammad II terheran – heran melihatnya. Dia langsung bertanya apa penyebabnya hingga pasukannya kembali lagi. Komandan pasukan segera menceritakan apa yang terjadi.

Betapa marahnya Sultan Muhammad II setelah mendengar pengakuan komandan pasukannya. Namun, belum sempat sang Sultan memutuskan langkah apa untuk menghadapi hinaan Dracula, tiba – tiba terjadilah serangan mendadak dari arah seberang sungai Danube.

river-danube

Serangan Mendadak

Pasukan Turki yang belum siap bertarung karena mengingat para saudaranya yang dibantai Dracula dengan cara yang mengenaskan. Suara riuh dan jerit kematian beradu menjadi satu. Suara tombak dan pedang saling beradu.Dalam waktu yang tidak begitu lama banyak pasukan Turki yang menjadi korban. Sejarah mencatat dalam peristiwa ini Sultan Muhammad hampir terbunuh. Atas pertolongan Alloh Tuhan Robbul ‘Alamiin dan pengalaman dalam berbagai peperanganlah yang menyelamatkan nyawanya.

Sebagai penakluk Konstantinopel, Sultan Muhammad II (Sultan Muhammad Al Fatih) segera mendapat kepercayaan dirinya kembali setelah bermunajat sejenak dan meminta pertolongan kepada Alloh. Dengan keberanian yang sangat luar biasa dia memimpin pasukannya untuk memukul mundur para pasukan Salib yang dipimpin Dracula sang Penyula.

muhammad-al-fatih-sultan-muhammad-al-fatih-sultan-muhammad-ii-sang-pahlawan-islam-penakluk-dracula

Melihat sang Sultan begitu gigih dan berani menerjang pasukan musuh yang kafir, pasukan Turki kembali tercambuk. Mereka terus merangsek maju, mendesak pasukan Dracula hingga ke pinggir sungai Danube.

Melihat pasukannya terdesak mundur, Dracula memutuskan untuk melarikan diri. Dan ia pun memerintahkan pasukannya untuk segera menyeberangi sungai Danube. Sementara itu pekikan takbir dari pasukan Turki semakin membahana dan membuat takut hati – hati dan jiwa – jiwa pasukan salib Dracula.

Sultan Muhammad II pun tidak memerintahkan pasukannya untuk menyerang pasukan Dracula karena hanya ingin menyusun strategi jitu untuk menghadapi pasukan salib itu.

Sebelum memikirkan cara menangkap Dracula, sang Sultan memerintahkan agar ummat Islam yang menjadi korban peperangan dan korban penyulaan dikuburkan terlebih dahulu dengan cara yang sebaik – baiknya tanpa melanggar syari’at sedikitpun.

poienari-castle-2

Sementara itu, Dracula memerintahkan pada sebagian kecil prajurit agar mereka meneruskan perjalanan ke Wallachia dan menugaskan untuk memboyong seluruh keluarganya ke benteng Poenari dalam waktu secepat – cepatnya.

Akhir Riwayat Dracula

40.000 pasukan Turki bergerak menyebrangi sungai Danube. Panji– panji bulan sabit berkibar – kibar dihembus angin. Kaki – kaki kuda suci menjejaki dasar sungai dan menimbulkan gelombang yang kemudian pecah di tepi sungai. Di belakangnya, disusul barisan para panglima yang berbadan kokoh dengan menunggang kuda – kuda yang gemuk – gemuk.

Tiada istirahat bagi mereka selain makan dan sholat. Setelah berkuda dua hari dua malam akhirnya sampai juga mereka di Tirgoviste lalu berhentilah mereka di pinggiran kota.

Sekitar 5.000 pasukan terlatih diperintahkan memasuki Tirgoviste, mereka kaget, ternyata Tirgoviste menjadi kota mati tak bertuan setelah semua penduduknya dipindahkan semuanya ke benteng Poenari. Juga tidak tampak 1 batang hidung pun dari prajurit Dracula.

Maka, Randu (adik Dracula yang ditugaskan untuk memimpin pasukan Turki) memerintahkan 3.000 pasukan untuk bergerak menuju benteng Poenari. Sedangkan 10.000 prajurit menjaga Tirgoviste.

Dalam perjalanannya ke benteng Poenari, Dracula masih saja memamerkan kekejamannya. Di sepanjang jalan yang dilaluinya, Dracula membantai penduduk desa. Korban – korban tersebut mayatnya dibiarkan teronggok di sepanjang jalan (diperkirakan jumlahnya 30.000 orang), sehingga bau busuk menyebar dan tercium ke hidung – hidung pasukan Turki.

Setelah sehari semalam menempuh perjalanan yang sulit dan berkelok – kelok juga mendaki. Akhirnya sampai juga pasukan Turki dekat dengan benteng Poenari. Benteng tersebut berdiri kokoh di atas tebing. Hanya ada satu jalan untuk mencapai ke benteng tersebut, karena ketiga sisi benteng adalah jurang yang sangat curam.

Pasukan Turki yang dipimpin Randu pun membuat tenda– tenda peristirahatan. Sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, mereka akan menyerang benteng di keesokan harinya.

Sementara itu, di dalam benteng Dracula semakin gelisah dan ketakutan.

“Dan Alloh akan melemparkan ketakutan dalam hati mereka.” Begitulah Alloh menyusupi rasa takut di dada musuh – musuh-Nya.

Ketika rasa putus asanya semakin memuncak, di saat malam telah menyelimuti benteng Poenari, Dracula memutuskan diri untuk melarikan diri. Dengan memasuki lorong rahasia, dia dan pasukannya menelusuri hutan dan pegunungan Carpathian. Setelah berhari – hari berjalan, sampailah ia di Brasov, wilayah bagian kerajaan Honggaria.

Larinya Dracula pun memudahkan Randu untuk menguasai benteng Poenari. Dengan jatuhnya benteng tersebut ke tangan pasukan Turki merupakan tanda lepasnya kekuasaan Dracula di Wallachia untuk kedua kalinya. Peristiwa ini terjadi pada bulan Agustus 1462 M.

Beberapa tahun berlalu

Kekuasaan Dracula sudah memudar, sedangkan perang salib semakin menggila. Pasukan Turki pun sudah memasuki Bucharest untuk memukul mundur pasukan salib menjauh dari wilayah Islam. Sultan Muhammad II turun langsung di pertempuran tersebut.

Pada situasi yang semakin memanas ini, Dracula sebagai bagian dari sekutu pasukan salib mendapatkan tugas untuk menggempur pasukan Turki di sekitar sungai Danube.

Pada awal Desember 1476 M, Dracula ke luar dari pintu gerbang Tirgoviste dengan pasukan yang sangat kecil. Tiada teriakan rakyat yang memberikan semangat, seolah warga kota tak perduli dengan adanya peperangan.

Dracula dan pasukannya bergerak menelusuri sungai Dimbovita dengan tujuan utama danau Snagov.  Setelah kurang lebih 15 hari melintasi hutan dan rawa, akhirnya Dracula dan pasukannya sampai juga di danau Snagov. Tapi rupanya pasukan Turki Ottoman telah menyambut mereka di hutan Vlasia, sebuah hutan yang tidak jauh dari danau Snagov.

danau-snagov

Sunyi pagi pun terusik kala itu, suara – suara teriakan menyobek pagi yang muram. Dan pertempuran sengit pun terjadi. Pasukan Dracula yang kalah dalam berperang seperti kesetanan menyerang siapa saja tanpa mengetahui musuhnya atau kawannya. Dracula sendiri juga tak mau kalah kesetanannya. Ia menerjang musuh yang ada di dekatnya tanpa memberikan ampun. Pedang kecil miliknya beberapa kali melesak ke tubuh musuhnya. Rintihan sekarat, erangan kematian, jerit kesakitan dan teriakan membahana untuk membinasakan musuh membahana di sekitar danau Snagov.

Di medan pertempuran Dracula semakin terpojok. Sebesar apa pun kekuatan Dracula, ia tak akan mampu menghadapi melawan pasukan Turki yang jumlahnya tiga kali lipat lebih besar. Tebasan pedangnya pun sudah berubah menjadi tebasan keputus asaan. Dan akhirnya, ia menjemput ajalnya di tepi danau Snagov.

Simpang Siur Kematian Dracula

Ada banyak pendapat dan versi tentang sebab – sebab kematian Dracula. Ada yang mengatakan Dracula terbunuh oleh prajuritnya sendiri. Karena diantara prajuritnya, ada yang menjadi pembunuh bayaran para tuan tanah yang keluarganya dibantai / yang kontra dengan Dracula.

Ada yang mengatakan bahwa Dracula dibunuh oleh prajurit Turki yang menyamar menjadi pelayan.

Ada juga yang mengatakan bahwa Dracula dibunuh oleh prajuritnya sendiri. Dari banyaknyapendapat yang berkembang tentang kematian Dracula. Dapat diambil kesimpulan dan juga semua pendapat sepakat bahwa Dracula mati terbunuh dan kepalanya dipenggal lalu dibawa ke Konstantinopel, Turki sebagai bukti bahwa iblis si penyula telah tewas. Mereka juga bersepakat setelah di Konstantinopel, kepala tersebut dipancang di alun – alun dan dipertunjukkan kepada rakyat Turki.

Dasar Kekristenan Nomor #1.

sembah-yesus-masuk-neraka

DAN INGATLAH WAHAI JIDAT KRISTEN …

APA-APA YANG KAMU YAKINI ITU,
SEMUA NYA TIDAKLAH AKAN BERGUNA DAN KAMU TIDAK AKAN DIAKUI SEBAGAI UMAT YESUS, KARENA YESUS SAMA SEKALI TIDAK MAU DI TUHANKAN …

KARENA MEMANG DIA BUKAN TUHAN, DAN KAMU SEKALIAN AKAN DI MASUKAN KE NERAKA JAHANAM SELAMANYA KARENA DIANGGAP SEBAGAI PEMBUAT KEJAHATAN … SBB:

YESUS MENGUTUK ORANG YANG MENUHANKANNYA:

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku (Yesus): Tuhan, Tuhan! Akan masuk kedalam kerajaan sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”. (MAT 7:21)

“Pada hari terakhir (Kiamat) banyak orang akan berseru kepada-Ku (Yesus): Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu (Yesus), dan mengusir setan demi nama-Mu (Yesus), dan mengadakan banyak muzijat demi nama-Mu (Yesus) juga?”. (MAT 7:22)

“Pada waktu itulah Aku (Yesus) akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku (yesus) tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku (Yesus), kamu sekalian pembuat kejahatan”. (MAT 7:23)

4 Hukum Riba dalam Kristen dan Perkembangannya

riba

Riba adalah tindakan yang dilakukan seseorang dengan meminjamkan uang kepada orang lain dan meminta bunga dari orang tersebut. Pada abad keempat, hierarki Gereja Katolik Roma sempat melarang pengambilan bunga semacam ini. Pihak gereja menjadikan Perjanjian Lama sebagai pedoman, dimana di dalamnya terdapat larangan dalam hal pengambilan bunga atau riba.

Banyak pendapat negatif mengenai riba pada jaman ini. Seseorang yang berniat membantu namun memberlakukan praktik riba dianggap sebagai pertolongan palsu.  Selain itu, riba juga dipandang sebagai tindakan yang tidak berperikmanusiaan karena mengambil keuntungan dari orang-orang yang memerlukan. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa pemberi bunga adalah seorang perampok yang kejam.

Dan sebelum kita membahas lebih jauh mengenai hukum riba menurut Kristen, mari terlebih dahulu kita cermati beberapa ayat yang berbicara mengani hukum riba dalam Kristen.

1 Keluaran 22:25-27

“Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya. Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam, sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya–pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih.”

Ulangan 23:19

“Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan atau apapun yang dapat dibungakan.”

Matius 5:42

“Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.”

Imamat 25:36-37

“Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu. Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kauberikan dengan meminta riba.”

Apabila kita mencermati pesan dari ayat-ayat tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya pengambilan bunga / riba dilarang oleh Alkitab. Namun, tentu saja kita harus berpikir terbuka. Kita tidak bisa menilai dari satu sisi saja, kita juga perlu melihat dari sisi lain bahwa dunia semakin berkembang, ekonomi semakin bertumbuh pesat, dan kehidupan modern yang tak terelakkan.

Bukan artinya kita mengabaikan Alkitab sebagai pedoman, melainkan kita memahami riba dengan makna yang berbeda. Dan pelarangan riba dalam Alkitab itu sendiri pasti memiliki alasan. Nah di dalam artikel ini, kita akan mengetahui apa itu sebenarnya riba dan kapan riba itu dapat mendatangkan dosa.

Perkembangan Riba

Pada akhir abad ke-13, terdapat kelompok-kelompok yang berusaha untuk menghilangkan aturan gereja yang dianggap kolot ini, sehingga pemberlakuan bunga mulai berkembang luas dan bahkan dianggap sah di Eropa.

Hal lain yang mempengaruhi meluasnya sistem bunga pada masa itu adalah karena perkembangan ekonomi yang sangat pesat. Uang menjadi unsur yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, sehingga perlahan-lahan pasar uang mulai terbentuk. Dan hal tersebut mendorong semakin meluasnya suku bunga pasar.

Pertimbangan yang dilakukan oleh sarjana Kristen pada saat itu sehingga menerima sistem bunga ini tidak hanya merujuk pada Alkitab, melainkan mereka juga mengaitkan dengan aspek-aspek lain, di antaranya  jenis dan bentuk undang-undang, hak seseorang terhadap harta, ciri dan makna keadilan, bentuk keuntungan, niat dan perbuatan manusia, serta perbedaan antara dosa individu dan kelompok.

Sehingga, definisi bunga itu sendiri pun mulai berubah. Bunga dibedakan menjadi dua macam, yaitu interset dan usury. Interset adalah bunga yang diperbolehkan sedangkan usury adalah bunga yang berlebihan.

Para penggerak sejarah reformasi gereja seperti John Calvin juga berpikir bahwa pemberian bunga boleh dilakukan asalkan bunga tersebut digunakan untuk kepentingan yang produktif. Jadi intinya, mereka berpendapat bahwa dosa atau tidaknya pemberlakuan bunga tergantung pada niat si pemberi bunga.

Dan terlebih lagi, Gereja Katolik pun mulai menerima riba. Namun, bukan karena mereka dengan sengaja melanggar perintah Alkitab, melainkan karena pemahaman mereka terhadap riba itu sendiri mulai berubah. Pada jaman dahulu, uang tidak akan memberikan hasil apabila tidak dijalankan. Dan kita bisa lihat ekonomi saat ini bahwa uang dapat diinvestasikan. Sehingga, pemberian bunga dengan presentase yang pantas dianggap tindakan yang cukup adil. Sedangkan apabila bunga yang diberikan itu terlalu tinggi, maka tindakan ini dianggap suatu dosa. Maka dari itu, riba bisa dipahami dari sisi lain dan harus dilaksanakan dengan bijaksana.

Contoh riba yang tidak boleh dilakukan adalah mengambil bunga dari orang yang miskin dan sangat membutuhkan. Kalau kita melakukannya, itu sama saja kita melanggar hukum kasih dalam Alkitab dengan mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain. Sedangkan contoh riba yang boleh dilakukan adalah pemberian bunga dalam urusan bisnis dimana kedua belah pihak sudah menyetujuinya sejak awal.

Namun, apabila kita melihat dari peran nilai-nilai Kristiani dan tidak melihat dari sisi kepentingan bisnis, maka alangkah baiknya kita meresapi ayat Alkitab dalam Matius 10:8, yang menasihati kita untuk memberi dengan cuma-cuma karena kita telah menerima anugerah-Nya dengan cuma-cuma pula. Terapkan selalu prinsip kasih tentang Alkitab kepada sesama. Dan alangkah baiknya juga kalau kita tidak menjadi pihak yang berhutang. Paulus sendiri mengatakan supaya kita jangan berhutang apapun, selain hutang kasih.

Sekian artikel tentang hukum riba dalam Kristen. Semoga artikel ini dapat membantu pembaca memandang riba dalam berbagai sisi dan sesuai konteksnya. Terima kasih.

Sumber, https://tuhanyesus.org/hukum-riba-dalam-kristen. Diakses 1 Oktober 2019.

-o0o-

Sophislam,

Jadi intinya, Kristen menghalalkan riba, walau pun Alkitab telah menjerit-jerit tentang betapa haramnya riba, sehingga bisa dikatakan bahwa Gereja beserta umatnya begitu berani menentang kitab suci mereka sendiri.

Tidak usah berpanjang lebar mengenai kebolehan riba, toh intinya Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru jelas-jelas mengharamkan riba. Pantaslah, masyarakat Kristen menjadi masyarakat terdepan di dunia di dalam hal praktek riba, yang kemudian menjalar ke mana-mana sampai ke negeri Indonesia.

Ohya, jangan lupa juga satu hal, bahwa Jesus menebus dosa seluruh umatnya. Jadi umatnya (yaitu umat Kristen) dibiarkan saja berbuat maksiat sebanyak mungkin, toh nanti semua dosanya akan ditebus Jesus kelak. Maka dari itu Gereja beserta umatnya berani melawan Alkitab, karena toh nanti Jesus akan datang sebagai penebus dosa, termasuk di dalam hal ini, yaitu menentang Alkitab di dalam hal pengharaman riba.

Islam sendiri dengan jelas mengharamkan riba, tidak beda dengan Alkitab. Dan sampai kini umat Muslim tetap taat kepada pengharaman ini, sehingga semua umat Muslim memandang riba sebagai praktek haram. Diakui tidak sedikit Muslim yang berbuat riba, namun bukankah hal tersebut selalu dikaitkan dengan maksiat dan terkutuk di tengah umat Muslim?

Ujung-ujungnya, bagaimana mungkin umat Kristen dapat dianggap sebagai umat yang kitabiah? Mereka sendiri yang menentang Alkitab mereka, maka apakah pantas disebut umat yang taat kepada Alkitab? Di mana posisi umat Kristen terhadap Alkitab? Ketuhanan Jesus saja, tidak pernah diajarkan Alkitab, tidak ada satu pun ayat Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa Jesus adalah anak Tuhan dan penebus dosa umat, namun entah bagaimana seluruh Gereja dan umatnya meyakini bahwa Jesus adalah putra Allah dan penebus dosa umatnya yang percaya kepada Jesus sebagai  putra Allah. Sekali lagi, di mana posisi umat Kristen terhadap Alkitab mereka sendiri?

Wallahu a’lam bishawab.