Qorban Dan Mengorbankan Putra TunggalNya

qorban-dan-mengorbankan-putra-tunggalnya

Islam mempunyai rangkaian ibadah yang dinamakan dengan ‘kurban’ yaitu ibadah yang mengisyaratkan umatnya  untuk memulai memotong hewan korban –biasanya kambing, domba, kerbau dan lain lain- untuk dihadiahkan kepada mereka yang kekurangan. Sementara Kristen mempercayai adanya suatu Pengorbanan, yaitu peristiwa di mana Tuhan mengurbankan Putra tunggalNya, Almasih, untuk disalibkan sebagai penebus dosa semua umat manusia yang percaya pada penyaliban tersebut. Pengurbanan ini pada saat selanjutnya menjadi inti dari ajaran Kristen itu sendiri.

A. Kristen.

Permulaan kelahiran agama Kristen justru berawal dari suatu pengorbanan yang agung –dan kemudian semua umat Kristen mengindentikkan keyakinan mereka dengan kerelaan berkorban yang tulus untuk  seluruh dunia.

Secara keagamaan mereka menggariskan, bahwa untuk suatu alasan yang ajaib, Tuhan dilukiskan telah melahirkan putraNya sendiri ke dunia untuk mengambil tempat hidup terdekat dengan semua umat manusia itu sendiri. ‘Orang’ yang diyakini sebagai ‘Putra Tuhan’ ini dalam pandangan semua umat Kristen mempunyai semua sifat-sifat suci sang Tuhan –mereka menyebutNya Tuhan Ayah atau Tuhan Bapa (biar bagaimana pun memanggil Tuhan dengan sebutan ‘Tuhan Bapa’ ini tetap merupakan warisan dari tradisi Yahudi)- seperti dapat membangkitkan orang dari kematian, dapat menyembuhkan penyakit yang parah dan dapat mengetahui makanan seorang umat yang disimpan di rumahnya. Semasa hidupnya, orang ini, yang dikenal sebagai Yesus, mengajarkan kepada semua umat manusia itu, umat sang Bapa-nya, akan nilai-nilai yang diajarkan oleh Tuhan semesta alam. Pada akhirnya penentangan yang hebat muncul dari tengah kerumunan manusia mengingat mereka semua adalah anak-anak Yahudi yang anti dengan semua apa pun yang bersifat anti-Yahudi. Puncak dari penentangan ini adalah vonis mati atas tubuh dan darah Yesus: tidak bisa tidak Yesus harus mati dengan cara disalib.

Selanjutnya kepercayaan Kristen menjelaskan bahwa kematian (atau pun kekalahan dan ketakberdayaan terhadap kaum Yahudi) Yesus di kayu salib adalah tak lebih dari takdirnya sendiri yang telah ditentukan oleh Tuhan. Untuk pemahaman ini Kristen menjabarkannya sebagai rencana Tuhan untuk mengorbankan nyawa putraNya sendiri untuk menebus semua dosa umat manusia.

Tuhan melalui kisah penyaliban Yesus ini sebenarnya hendak menekankan bahwa biar bagaimana pun tak ada satu cara pun bagi semua umat manusia untuk keluar dari cengkraman dosa melainkan cara-cara yang justru datangnya dari Tuhan sendiri. Tuhan merasa perlu untuk mengambil tindakan yang revolusioner dan sepihak untuk menentukan langkah-langkah penghapusan dosa semua umat manusia secara instant dengan menyatakan pada saat yang bersamaan bahwa tidak mungkin bagi siapa pun dari kalangan umat manusia itu yang pantas untuk masuk ke dalam Neraka.

Dengan demikian Kristen secara normative telah mengadopsi suatu pemahaman bahwa adalah suatu yang mutlak untuk menciptakan konsep dosa yang khas: dosa dengan semua pengampunannya hanya berasal dari Tuhan dan harus merupakan inisiatif Tuhan itu sendiri; manusia mana pun tak  mempunyai inisiatif yang merdeka dalam usaha-usaha dalam penghapusan dan pengampunan dosa tersebut. Manusia tak dapat berkorban dan berinisiatif apa-apa untuk dan tentang dosa mereka di depan Tuhan mereka, dan Tuhan dapat. Oleh karena itu nilai dasar (orang-orang) Kristen tentang dosa bukanlah terletak pada usaha-usaha mereka untuk keluar dari Kuasa Dosa dan kemudian agama itu (dalam hal ini adalah Gereja) mengajarkan pengikutnya beberapa hal yang dapat mengeluarkan mereka dari cengkraman dosa tersebut, namun justru hanya terletak pada keputusan dari seseorang untuk percaya pada Yesus dan penyalibannya karena dalam Yesus dan penyalibannya tersebut semua penebusan dosa dan semua usaha untuk keluar dari dosa tersebut telah ditanggung (dijamin). Surga adalah jaminan yang paling tepat atas pemilihan kepercayaan untuk Yesus.

Secara sederhananya dapat dijelaskan, jika Kristen mempercayai bahwa Tuhan telah melakukan suatu tindakan ‘pengorbanan’ untuk semua umat manusia, maka Yesus adalah apa yang dikorbankan Tuhan untuk maksud tersebut. Adalah jelas bagi semua orang Kristen bahwa tidak ada apa-apa lagi yang dapat diperbuat Tuhan kecuali mengorbankan apa pun jika Tuhan ingin mendapatkan sesuatu atau jika ingin semua umat manusia terbebas dari kejaran dosa dan Neraka. Jika Tuhan tidak mengambil langkah-langkah pengorbanan tersebut (tertentu) dapat dipastikan bahwa suatu hal, maksud, tujuan, atau apa pun tak akan pernah terjadi. Biar bagaimana pun Tuhan dengan pengorbananNya adalah dua hal berbeda yang saling identik. Secara fatalistic Kristen mempercayai, bahwa pengorbanan Tuhan untuk mencapai tujuanNya di satu tempat, adalah identik dengan ketidakberdayaanNya di tempat lain.

B. Islam.

Rangkaian ibadah Qurban sebenarnya  dimulai dari kisah Nabi Ibrahim as ketika ia mendapatkan perintah dari Tuhan untuk menyembelih putra satu-satunya yang masih kecil yaitu Ishmail as. Biar bagaimana pun perintah yang berasal dari Tuhan ini seutuhnya adalah hanya untuk menguji keimanan dan ketabahan hati Ibrahim as dalam menjalankan tugas dari Tuhan Yang Maha Esa.  Ibrahim as. sejurus kemudian segera melaksanakan perintah tersebut dengan penuh keimanan dan kekuatan jiwa untuk menyembelih putra yang sebenarnya ia dambakan selama hidupnya. Penggantian yang diberikan Tuhan berupa seekor domba atas tubuh Ishmail as  tepat ketika ujung pisau telah mengenai batang leher Ishmail, benar-benar meyakinkan Ibrahim beserta putranya bahwa Tuhan kasih dan lebih dari itu, penggantian Tuhan sebenarnya ingin menyatakan bahwa Ibrahim dan putranya telah berhasil melalui ujian yang maha berat.

Penyerahan diri dan ketaqwaan yang dinyatakan oleh  Ibrahim as dan putranya Ishmail as kepada Tuhan menjadi moment yang penting dalam perayaan Idul Qurban (atau biasa juga disebut dengan Idul Adha) yang dirayakan oleh setiap Muslim di seluruh dunia setiap tahun.

Idul Qurban mempunyai keterkaitan dengan mental yang ingin dimiliki oleh setiap Muslimmengingat makna yang terdapat dalam perayaan itu benar-benar menggambarkan tujuan yang jelas dari kehidupan beragama.

Lebih dari itu, perayaan Idul Qurban berada pada pemikiran yang mempengaruhi dan ‘membuktikan’ eksistensi dari kemanusiaan itu sendiri. Arti dari dua kata tersebut (Idul Qurban) ke dalam semua bahasa manusia dapat menjelaskan tujuan apa sebenarnya yang dapat diuraikan kembali oleh semua umat Muslim. “Idul”, “pengembalian”, “re”, “cyclus” atau “recycle”,  langkah pertama yang melukiskan kesinambungan, suatu agenda yang tak akan habis selama-lamanya. Kata “Qurban” dalam bahasa Arab teruraikan menjadi kata dasar yang berarti “dekat” atau “mendekatkan”; menjadikan Qurban berarti suatu langkah, kesempatan yang dapat diambil untuk mendekatkan seseorang pada tujuan-tujuan tertentu. “Sacrifice”, “Qurban” ingin dipahami sebagai objek yang menjadi pilihan untuk dijadikan alasan yang tepat atas tercapainya suatu tujuan yang telah ditentukan tersebut secara mudah dan yang paling memungkinkan.

Idul Qurban, tak pelak lagi selalu menjadi refleksi dan kesadaran dari keadaan yang sebenarnya dari suatu ‘takdir’ yang terus melekat pada apa pun yang disebut dengan ‘makhluk’: biar bagaimana pun makhluk (termasuk di dalamnya manusia) adalah suatu keadaan, suatu kesadaran yang dalam pencapaian semua tujuannya akan selalu menggunakan dan membutuhkan ‘objek-antara’ yang mendekatkan dia dengan tujuan semula. Sebenarnya, ini merupakan spesifikasi yang paling dasar dari apa pun yang dikatakan sebagai makhluk: makhluk adalah suatu objek yang selalu mempunyai tujuan yang pencapaiannya tidak bisa tidak akan menggunakan objek lain sebagai alat untuk memungkinkannya. Ia membutuhkan harga, energi, yang akan ia gunakan (habiskan) untuk maksud tersebut. Namun jika ada satu oknum yang dalam pencapaian semua tujuannya tidak membutuhkan objek lain untuk mendekatkan dan memungkinkannya berhasil dengan tujuan-tujuan tersebut, maka harus dipastikan bahwa oknum tersebut adalah Tuhan. Dengan demikian, sifat dasar yang melekat erat pada takdir kemakhlukan adalah adanya keinginan dan inisiatif yang mutlak untuk menjadikan objek lain di luar dirinya sebagai alasan dia berhasil dengan ide-idenya.

Terdapat suatu paradox, suatu permasalahan yang akan saling bersinerji dalam takdir kemakhlukan: di  satu pihak ia mempunyai tujuan, dan di pihak lain ia selalu diliputi oleh ketidakmampuannya (kecacadan, ketercelaan, hambatan, kekurangan, kepapaan, ketakberdayaan, kelumpuhan, ketergantungan, ketidakmerdekaan, kepeng-hambaan) untuk mencapai tujuan tersebut. Mau tak mau harus ada satu pembicaraan lagi yang akan membahas adanya satu hal yang akan ditempatkan tepat di tengah paradox tersebut: apa pun (objek) itu yang diputuskan (dipilihkan) maka itu harus dapat secara efektif menghilangkan permasalahan dalam paradox tersebut.  Ini berarti objek tersebut adalah yang akan memungkinkan makhluk tersebut  (yang papa dan selalu terhambat) untuk berhasil dengan rencananya  tersebut. Dalam Islam objek  tersebut disebut dengan Qurban, sesuatu yang mendekatkan suatu makhluk (yang tidak berdaya) dengan tujuannya. Hasil dari sinerji antara kekurangan di satu pihak dan tujuan di pihak lain yang ada pada suatu makhluk mau tak mau akan melahirkan konsep berqurban; Islam menganggapnya demikian.

Sungguh, semua hal yang disebut dengan oknum, baik ia sebagai Khalik (Sang Pencipta) mau pun sebagai makhluk (yang diciptakan) tetap akan mempunyai tujuan, apa pun itu. Tuhan, biar bagaimana pun tak pernah bebas dari rencana, kehendak dan ide. Tuhan dengan keagunganNya adalah Oknum yang selalu dapat memastikan bahwa apa pun yang Ia kehendaki, maka hal itu akan terjadi tanpa ada satu pun yang dapat menghalangiNya.  Ia Yang Maha Berkehendak dan Ia pula Yang Maha Kuasa atas semua kehendakNya tersebut. Ia adalah Yang Maha Agung dan Maha Sempurna: Ia bebas dari kecacadan, kepenghambaan, keterbelakangan, pengharapan dan ketidakberdayaan.  Selalu dapat dipastikan bahwa Ia tak membutuhkan apa pun untuk Ia korbankan supaya semua ideNya dapat terwujud secara utuh. Ia, adalah Oknum Yang segalanya adalah mudah di tanganNya. Untuk itu Ia tidak merasa perlu untuk berterima kasih kepada apa pun yang telah meluluskan semua kehendakNya. Ia Yang Maha Sempurna dan Maha Kuasa mandiri dengan semua kehendak, rencana dan ide-ideNya. Dengan demikian Islam memandang bahwa Tuhan adalah satu-satunya Oknum Yang atas dasar  dan karena Kesempurnaan dan KekuasaanNya tidak akan pernah mengadopsi konsep ber-Qurban untuk rencana apa pun yang Ia miliki.

Ini berarti dan berlaku secara kebalikan bagi makhluk, terlebih manusia. Makhluk apa pun akan selalu dibahas sebagai oknum yang mempunyai segala kekurangan dan ketakberdayaan. Jika ia mutlak mempunyai tujuan, kehendak, maka ini harus berarti bahwa ia mutlak pula akan membutuhkan objek lain yang akan dijadikan qurban sebagai respon  bahwa dirinya selalu diliputi oleh kekurangan yang mendasar dan parah.  Peristiwa saling ‘mengkurbankan’ adalah ciri mutlak yang akan diterapkan kepada semua makhluk dalam mencapai tujuan.

Perayaan Idul Qurban (kembali kepada komitmen untuk siap berkorban demi Tuhan) adalah pernyataan kehambaan dan ketakberdayaan di depan tujuan yang maha agung dan berat (ingin mendapatkan Tuhan dan SurgaNya) yang akan selalu diulang dan diperbaharui setiap tahun.  Satu hari dalam satu tahun akan selalu disiapkan untuk mengingatkan semua warga Tuhan bahwa ia akan menjadikan kegiatan berkorban sebagai pandangan hidupnya yang paling mendasar: ia akan berkorban dan mengorbankan apa pun yang ia cintai demi mendapatkan tempat terbaik di mata Tuhan; hanya berkorban yang akan dapat mendekatkan seorang umat kepada Tuhan.

_.:oOo:._

Iman Kristen selalu menempatkan bahwa Yesus adalah objek yang menjadi pilihan Tuhan untuk dikorbankan bagi dunia untuk mendapatkan kesuciannya kembali. Sementara Islam memandang bahwa berkorban hanya akan menunjukkan bahwa apa pun selama ia adalah makhluk maka ia akan dipenuhi oleh kekurangan yang  memilukan.

Ini berarti, Islam dan logika akan memandang bahwa berkorban tak akan dilakukan oleh Tuhan atas dasar kesempurnaan dan keagunganNya. Bagi Islam, dikorbankannya Yesus oleh Tuhan Semesta Alam hanya membuktikan pada suatu tempat yang salah bahwa Tuhan akhirnya telah sampai pada satu kekurangan dan ketakberdayaanNya. Kebajikan akal yang memerintah akan segera menyatakan bahwa jika Islam melembagakan Idul Qurban sebagai moment yang akan selalu mengingatkan bahwa makhluk apa pun akan selalu diliputi oleh kekurangan, maka Kristen dengan Iman Penyalibannya akan menyatakan bahwa Tuhan adalah setakberdaya makhlukNya sendiri. Jika Islam tidak menegaskan  bahwa Tuhan memerlukan untuk berkorban bagi tujuanNya apa pun sehingga itu akan bermakna bahwa Tuhan amat Kuasa, maka itu jelas. Dan jika berkorban berarti membutuhkan,  maka itu akan lebih menegaskan bahwa kisah Tuhan Surga telah memutuskan untuk mengorbankan Yesus adalah bentuk lain dari betapa Tuhan membutuhkan hal lain yang tanpa hal lain tersebut Tuhan tak akan pernah berhasil dengan buah pemikiranNya sendiri, apa pun itu.

Kristen dalam hal ini berpendirian bahwa perbuatan Tuhan yang mengorbankan putraNya sendiri untuk dijadikan penebus dosa dunia adalah pernyataan dari padaNya bahwa Ia Kasih kepada seluruh umat dunia: Tuhan adalah Kasih dan Ia akan mengorbankan apa pun untuk menyatakan KasihNya walau pun itu adalah putraNya sendiri. Namun di pihak lain justru hal itu akan memperkaya kenyataan bahwa sebenarnya Tuhan telah dan akan gagal dalam memastikan bahwa semua tujuanNya akan berhasil secara mandiri, tanpa mengorbankan apa pun.

Selayaknya Kasih Tuhan itu tak akan pernah membuat ada pihak lain yang terluka dan sengsara karenanya. Kasih Tuhan justru akan membuat semuanya merasa aman dari marabahaya sekecil apa pun. Kasih Tuhan akan membuat semua ancaman tetap akan berada pada jarak yang aman dari semua umatNya, termasuk Yesus: tidak perlu ada yang harus merasa sakit, menanggung penderitaan, dan berdarah-darah untuk apa pun. Kasih Tuhan akan selalu menjadi ‘penghiburan’ atas semua yang diciptakanNya. Lebih dari itu, untuk tujuan yang besar, memberikan penghiburan yang agung kepada semua umatNya tersebut, maka Tuhan akan melakukan dan memberikannya tanpa ada satu pun yang harus menjadi korban: Ia Maha Kuasa dan Maha Luas KaruniaNya.

Adalah jelas biar bagaimana pun, bahwa Kasih Tuhan akan selalu dapat memerdekakan siapa pun dari kesakitan dan kesengsaraan. Kasih Tuhan tak akan pernah bernilai marabahaya bagi siapa pun…..

Dengan demikian, sementara Islam selalu memperhatikan akan adanya kecenderungan untuk selalu berkorban (kenyataan kedua setelah ketidakmampuan, kenyataan yang pertama) sebagai takdir  yang akan selalu melekat pada kemakhlukan yang selalu diperbaharui pada perayaan Idul Qurban,  maka Kristen justru telah menciptakan tradisi pemikiran yang berbahaya bagi eksistensi Tuhan.

Kasih dan Kuasa Tuhan: KasihNya selalu menjadi penghiburan dan tak akan mengakibatkan siapa pun terluka, dan KuasaNya, memastikan bahwa Tuhan selalu mendapatkan apa pun yang Ia inginkan tanpa hambatan. Islam telah selesai dengan permasalahan tersebut. Secara fatal, Kristen tidak.

Penamaan Islam vs Penamaan Kristen

penamaan-islam-vs-penamaan-kristen

Secara dunia, agama yang dibawakan oleh Almasih disebut Kristen (Christianity) sementara agama yang dibawa oleh Muhammad Saw dinamakan Islam. Di luar itu pula, sebenarnya nama agama yang dibawa oleh Almasih, secara Arab dinamakan  Nasrani. Menarik untuk dibahas, bahwa pada masa awal persinggungan Islam dengan dunia Barat, Islam dinamakan oleh sarjana Barat sebagai Muhammadisme, mengingat agama tersebut dibawakan oleh seseorang dengan nama Muhammad. Pada saat selanjutnya dunia Muslim menolak penamaan tersebut karena sebenarnya ada perbedaan yang mendasar antara Muhammadisme dengan Islam. Dunia Islam beruntung dengan penolakan ini: Barat segera melupakan penamaan Muhammadisme dan selalu menggunakan nama Islam sebagai gantinya; memang itu adalah nama yang diajarkan oleh Muhammad Saw dan Tuhan Semesta Alam, Swt.

A. Kristen.

Agama ini untuk pertama kalinya diperkenalkan dengan nama Kristen di Barat, dan Nasrani di kawasan yang berbahasa Arab dan untuk selanjutnya memang agama tersebut dinamakan dengan sebutan demikian. Bisa ditelusuri bahwa kata /Kristen/ berasal dari nama pendiri agama tersebut yaitu Almasih: Yesus Kristus. Sementara dalam literature Arab agama ini disebut Nasrani yang sebenarnya penamaan tersebut berasal dari kata /nasirah/, Arabisasi dari kata /Nazareth/, nama daerah tempat kelahiran Almasih.

Sebenarnya trend penamaan agama dengan cara tersebut berlaku secara universal, kecuali untuk Islam. Agama Yahudi terambil dari kata /Yudea/, tempat di mana anak-anak Israel hidup dalam petunjuk Tuhan, kala itu. Pun secara Barat agama ini dinamakan Jews, penginggrisan dari kata /Yudea/ .  Untuk Kong Hu Chu, nama agama ini terambil dari nama pendirinya, yaitu Kong Hu Chu sendiri, begitu juga dengan Buddha dan Zoroaster untuk Zara Tustra. Sementara cara penamaan agama Hindu, lebih mirip agama Yahudi: kata Hindu berasal dari bangsa yang berbahasa dan berbangsa Hindi, di tanah Hindustan.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa nama agama hanya menyiratkan nama pendiri dari agama tersebut mau pun nama daerah asal dari agama tersebut. Ini berarti suatu kultus individu mau pun ‘personal-sentris’ dilibatkan dalam penamaan agama (kecuali Islam).  Dalam kasus ini, semua orang Kristen percaya bahwa semua kebajikan hidup seutuhnya terperikan dalam peri kehidupan Yesus Kristus, seorang warga perkampungan manusia yang hidup pada masa Herodes memerintah Romawi Timur.

Bagi Kristen sendiri ini merupakan satu-satunya jalan untuk menamai faham  dan Iman mereka walau pun ini pada akhirnya cara penamaan tersebut tak akan menimbulkan perbedaan sedikit pun dengan agama lainnya di dunia ini –kecuali  Islam.

B. Islam.

Menurut cara-cara yang biasa digunakan umat manusia dalam penamaan Iman mereka, bisa dipastikan pasti semua umat Muslim di dunia akan menamai faham kebajikan mereka dengan sebutan Muhammadisme (karena agama ini ‘dibawa’ oleh seorang Arab yang bernama Muhammad) atau pun agama Mekkis, yang terambil dari kata Mekkah, tempat lahir dan berjuangnya Muhammad Saw. Namun justru kenyataannya agama tersebut dinamakan /Islam/ yang sama sekali tak berarti ‘Muhammad’ Saw mau pun ‘Mekkah’, terlebih ‘Arab’. Lebih dari itu, Islam sama sekali tak akan pernah berarti ‘Allah Swt’, Tuhan Yang disembah oleh penganut agama ini.

/Islam/ menurut bahasa Arab, berasal dari tiga kata yang berbeda artinya namun saling mempengaruhi satu sama lainnya: satu kata berarti kesempurnaan, kemudian yang lain berarti penyerahan diri, dan yang terakhir berarti keselamatan. Ini berarti adanya  penekanan dalam agama Islam, yang berarti Islam selalu diarahkan untuk membawa pada kesempurnaan hidup, kesempurnaan ajaran, yang mengajarkan umatNya untuk selalu berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui segala Hal, dan kemudian berdasarkan namanya, Islam membawa umatNya kepada keselamatan lahiriah dan bathiniah bagi individual, kemasyarakatan, kenegaraan, baik di dunia mau pun di akhirat. Ketiga kata tersebut menjadi tiga pilar utama dari kesempurnaan agama: kesempurnaan hidup dan kesempurnaan ajaran, penyerahan diri kepada suatu agama yang memang terbukti sempurna, dan kemudian keselamatan sebagai konsekwensi dari penyerahan diri kepada ajaran yang sempuran tersebut.

Berdasarkan arti yang terkandung dalam nama /Islam/ tersebut, dapat dipahami betapa nama agama ini telah disiapkan secara konseptual dan bernilai argumentative yang amat tinggi. Tidak dapat tidak bahwa penamaan agama ini memang telah direncanakan sejak awal mengingat betapa rumit dan konseptualnya penamaan tersebut. Tak dapat dihindari untuk menyimpulkan bahwa penamaan agama tersebut (Islam) tak pernah dilakukan oleh Muhammad Saw mau pun manusia mana pun setelah masa Muhammad Saw. Bahkan secara internal sendiri, Muhammad Saw menyatakan bahwa penamaan tersebut memang datang dari Tuhan melalui beberapa ayat suci yang diturunkan Allah Swt kepadanya.

_.:oOo:._

Sungguh, konsekwensi yang paling logis dari kasus penamaan agama yang dibawa oleh Muhammad Saw ini adalah adanya jalan untuk menyimpulkan bahwa penamaan agama tersebut memang hanya dilakukan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa Yang telah menurunkan Islam tersebut. Jika Tuhan (dalam hal ini Dia adalah Allah Swt) sama sekali tak pernah turun tangan dalam penamaan agama tersebut, pastilah umat dunia akan mengenal agama ini dengan nama Muhammadisme mau pun Mekkis mau pun agama Arabis (atau apa pun!), demi untuk mengikuti trend penamaan agama yang berlaku secara universal. Namun kenyataannya justru Islam menjadi satu-satunya agama yang penamaannya benar-benar ‘distinguished’, bermartabat dan konseptual.

Bisa dipastikan bahwa konsep kesempurnaan hidup dan kesempurnaan ajaran, penyerahan diri kepada Tuhan dan kemudian jalan keselamatan, menjadi monopoli Islam semata mengingat ketiga unsur tersebut menjadi nama dari Islam, sejatinya, sejak awal jauh sebelum semua agama mengadopsi konsep-konsep tersebut.

Di luar itu, jika memang Nasrani adalah jalan rohani yang memang berasal dari Tuhan, maka penamaan yang semata mengikuti trend sosiologis anthropologis akan mengakibatkan klaim bahwa Nasrani berasal dari Surga, tetap berada dalam keraguan. Bukanlah suatu kebajikan berfikir yang paripurna di mana Tuhan yang membina suatu agama membiarkan agama tersebut diberi nama oleh sesuatu yang bukan diriNya.  Tuhan yang meninggalkan agamaNya untuk diberi nama oleh manusia penganutnya (bukan diriNya sendiri) dipastikan Tuhan yang tidak sempurna dalam pekerjaanNya dan ini fatal untuk dijadikan argument. Logikanya, tidak pernah seorang penemu meninggalkan hasil temuannya begitu saja dan membiarkan orang lain memberi nama dari temuannya. Ketidak-sempurnaan dari pekerjaanNya jelas terdeteksi dalam kasus penamaan Nasrani tersebut sementara tidak mungkin umat manusia akan mengenal adanya Tuhan Yang tidak sempurna.

Secara parallel, penamaan Nasrani yang mengikuti modus operandi yang umum terjadi pada semua agama (kecuali Islam) mengindikasikan bahwa agama tersebut bukanlah datang dari Tuhan. Ada kesalahan yang fatal di mana penamaan agama tersebut mengikuti nama pendiri dari agama tersebut (yaitu Yesus Kristus) jika ingin dikatakan bahwa agama tersebut memang datang dari Tuhan –sefatal agama lain (selain Islam) yang penamaannya memang berdasarkan trend sosiologis anthropologis. Ini tidak bisa dihindari untuk diakui.

Penting untuk ditegaskan jika memang Nasrani berasal dari Tuhan dan memang merupakan Karya Tuhan, maka sungguh, kelak agama ini akan mempunyai nama yang amat konseptual dan non-kultuisme, non-person-sentris. Kata /Islam/ (yang berarti perfection,  devotion, dan salvation) adalah kata yang tepat untuk nama agama tersebut karena tidak ada lagi kata yang lebih baik dari /Islam/.

Secara mendasar akhirnya digariskan, bahwa penamaan Kristen mau pun Nasrani untuk agama yang dibawa oleh Almasih (yang tidak dilakukan oleh Tuhan melainkan oleh peri-akal manusia belaka) sedikit pun tak akan dapat menolong agama Kristen dari kemungkinannya untuk ditolak akal:  agama ini biar bagaimana pun gagal dalam menerima penamaan dari Tuhan –seperti agama lain kecuali Islam. Campur-tangan Tuhan yang sempurna dan menyeluruh dalam penamaan agama (total naming) yang dibawa oleh Muhammad Saw amat jelas: Islam.  Oleh karena itu terdapat konsekwensi dari adanya penamaan ini atas Islam:  di dalam Islam benar-benar terdapat campur-tangan Tuhan, dan ini berarti bahwa Islam  benar merupakan karya Tuhan. Kristen sama sekali tak dapat menyangkal kenyataan logika ini.

Jesus Maharaja Diraja!!

maharaja-ku

Luga bercomment:

Anda gak pernah jawab pertanyaan!

Coba tunjukan di mana ayat Yesus berkata Aku nabi, jika gak bisa berati anda kalah!

Ingat utusan banyak banget tapi yang aku bilang Yesus ngaku sendiri.

Robertus Taianus

Desember 14th, 2010 pukul 11:54

Jawab Robertus iQ tinggi:

Dan kata-Nya lagi (Yesus): “Aku (Yesus) berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada Nabi (Yesus) yang di hargai di tempat asalnya”. (LUK 4:24) –

Note: ini pengakuan Yesus terhadap dirinya sendiri tentang kenabiannya.

Dan janganlah kamu menyebut siapapun Bapa (Tuhan) di bumi ini, karena hanya satu Bapamu (Tuhanmu), yaitu Dia (Allah) yang di sorga”. (MAT 23:9).

Janganlah pula kamu disebut pemimpin (Nabi), karena hanya satu pemimpinmu (Nabimu), yaitu Mesias (Yesus)”. (MAT 23:10) –

Note: ini pengakuan Yesus terhadap dirinya sendiri tentang kenabiannya.

KataNya kepada mereka: “Apakah itu?” Jawab mereka (murid): “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia (Yesus) adalah seorang Nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami”. (LUK 24:19) –

Note: ini pengakuan murid terhadap gurunya (Yesus).

Dan orang banyak itu menyahut: “Inilah Nabi Yesus dari Nazaret di Galilea”. (MAT 21:11)

Note: ini pengakuan umat terhadap nabinya (Yesus).

Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia Nabi”. (MAT 21:46) –

Note: ini pengakuan umat terhadap nabinya (Yesus).

Seorang nabi besar telah muncul ditengah-tengah dia”. (LUK 7:16) –

Note: ini pengakuan umat terhadap nabinya (Yesus).

Luga comment:

Lebih besar mana Raja Segala Raja dengan nabi ?

Robertus Taianus

Desember 15th, 2010 pukul 00:36

Robertus menjawab:

Jadi kamu dah puas tooo, TERBUKTI bahwa Yesus sendiri telah menyatakan bahwa dirinya adalah seorang “Nabi” atau “Utusan Allah”.

Dan Yesus “TIDAK PERNAH” menyatakan dirinya adalah seorang “Tuhan” …yang menyatakan Yesus adalah seorang “Tuhan” adalah Paulus dan ajarannya yang bernama Kristen…!!!

Dan  pernyataan / pengakuan bahwa Yesus Tuan itu bukan pernyataan / ajaran asli dari Yesus itu sendiri …sehingga pernyataan di luar ajaran Yesus (menganggap Yesus adalah Tuhan), itu dianggap TIDAK SAH menurut hukum ALLAH … ALIAS HARAM DI IMANI …!!!

Apabila ditanya “lebih besar mana Raja sgela raja dengan nabi ?” ….

Maka jawabannya adalah LEBIH BESAR RAJA SEGALA RAJA ….dari pada Nabi ..!!!

Karena “Raja segala Raja” itu adalah Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta beserta isinya termasuk nabi-nabi adalah ciptaan-Nya.

Disini bisa di simpulkan bawah :

Yesus itu sendiri telah mengakui bahwa dirinya “HANYALAH SEORANG NABI”

PANTAS KALAU YESUS MENYATAKAN DIRINYA HANYALAH SEORANG NABI, KARENA:

1. “DIA (YESUS) SEBAGAI NABI (MAKHLUK DARI RAJA SEGALA RAJA), TELAH MENGAKUI bahwa dirinya TIDAK LEBIH BESAR / TIDAK LEBIH SEMPURNA / TIDAK LEBIH BAIK … DARI PADA “RAJA SEGALA RAJA”.

Jawab Yesus: “Mengapa kau katakan aku baik (BESAR / sempurna)? Tak seorangpun yang baik (BESAR / sempurna) selain dari pada Allah saja”. (LUK 18:19)

2. Yesus punya pribadinya sendiri DAN “Raja segala raja” juga punya pribadinya sendiri …YANG BERBEDA SIFATNYA” … Yesus sebagai Nabi bersifat “Makhluk” sedangkan Raja segala raja mempunyai sifat “Pencipta segala makhluk” yang tidak terbatas kekuasaan-Nya …

Sebab sama seperti Bapa (Allah) mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga di berikan-Nya Anak (Yesus) mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri”. (YOH 5:26)

3. Yesus tidak akan pernah bersatu secara fisik maupun roh, baik saat ada di dunia maupun setelah berada di alam gaib (surga) …

Sesudah Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah ia ke sorga, lalu duduk disebelah kanan Allah”. (MRK 16:19)

DAN MASIH BANYAK PERNYATAAN dan BUKTI-BUKTI DI ALKITAB ITU SENDIRI YANG MENEGASKAN BAHWA “YESUS ADALAH NABI” … HAL INI SAMA DENGAN PERNYATAAN DALAM AL’QURAN BAHWA YESUS ADALAH NABI …DAN INI MEMBUKTIKAN BAHWA AL’QURAN TIDAKLAH MEMFITNAH ATAU MENGADA-ADA ..

Al Masih (Yesus) putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan (sebagai manusia biasa), …….”. (QS. AL MAA-IDAH : 75).

MAKA TIDAKLAH PANTAS BUAT MANUSIA KRISTEN UNTUK “MENUHANKAN YESUS” …. YANG SANGAT LEMAH YANG TIDAK PERNAH BERSATU SECARA FISIK DAN ROH DENGAN ALLAH …

JADI SIAPAKAH “RAJA SEGALA RAJA” ITU? DIALAH ALLAH S.W.T. SANG PENCIPTA SEGALANYA …. DAN DIA BUKANLAH “YESUS” SANG NABI ALLAH …!!!

Zu Nuwas Dan Abrahah: Prolog Islam.

yahudi-islam-kristen

Babak I

Pra kelahiran Muhammad Saw, Yaman purba menyaksikan suatu rezim Kerajaan Yahudi yang amat established kala itu walau pun pada kemudian hari Kerajaan ini berubah menjadi suatu tirani yang amat berbahaya bagi kawasan tersebut. Apa pun yang akan terjadi pada Kerajaan Yahudi tersebut pada masa menjelang kelahiran Muhammad Saw ini, dipastikan itu akan mempunyai hubungan yang amat erat dengan kelahiran Muhammad Saw itu sendiri.

Suatu penggalan dalam Alqur’an (surah Al Fiil) menandaskan bahwa Zu Nuwas, seorang Raja dari dinasti Kerajaan Yahudi Yaman tersebut membuat ‘tindakan politik’ yang amat mengkhawatirkan. Berdasarkan Alqur’an dan juga catatan sejarah Yaman, Raja ini tercatat menghadiri –bahkan yang paling bertanggungjawab atas – suatu operasi pembasmian warga Nasrani yang bermukim di Yaman dengan cara dibakar hidup-hidup. Sebenarnya semua warga Nasrani itu tidak mempunyai pilihan lain kecuali satu di antara dua pilihan yang amat sulit: menjadi penganut Yahudi, atau mati terpanggang.

Namun sungguh pun begitu tetap itu tidak dapat mengurangi betapa banyak darah Yaman yang terpanggang hingga membeku atas nama ketaatan Nasrani di depan keluarga Zu Nuwas. Bagi mereka yang tewas, menjadi Yahudi bukanlah pilihan untuk siapa pun, dan ini berarti mati sebagai Nasrani adalah lebih baik dari pada menjadi Yahudi. Salah seorang dari mereka mengambil resiko terbesar dengan mencoba kabur dari malapetaka tersebut dan melarikan dirinya menjauhi Kerajaan tersebut seefektif mungkin dengan satu tujuan: mencari siapa saja yang dapat menolong saudara Nasraninya yang lain yang tertimpa musibah tersebut atau, yang dapat menumpas Kerajaan Zu Nuwas tersebut. Pemuda tersebut, yang diidentifikasi bernama Simeon, memasuki gerbang istana Romawi untuk mendapatkan perhatian dari Kaisar Imperium Nasrani itu.

Simpati yang mendalam ditunjukkan oleh Kaisar Romawi kala itu. Ia mengirim surat kepada rekannya, Raja Negus, Raja Ethiophia untuk bereaksi secara keras atas kekejaman Zu Nuwas. Raja Negus memilih Jenderal Abrahah sebagai bagiannya untuk memasuki tanah Yaman dan melakukan penghancuran koloni Yahudi tersebut.  Invasi yang dilakukan oleh Abrahah atas nama Kerajaan Ethiphia dan Nasrani kepada Kerajaan Yahudi Yaman tersebut menjadi serangan brutal terakhir yang dialami oleh koloni Yahudi Yaman tersebut: Zu Nuwas dengan semua keluarga dan balatentaranya telah berhasil ditumpas. Pembasmian yang dilakukan Abrahah benar-benar terencana dan besar-besaran. Mungkin sekali Zu Nuwas akan berfikir bahwa ini adalah harga yang harus dibayar olehnya  setelah ia membantai ribuan orang Nasrani.

Babak II

Invasi akan segera diikuti oleh aneksasi Yaman untuk Ethiphia dan Nasrani. Segera setelah ditumbangkannya rezim Zu Nuwas yang Yahudi tersebut, Abrahah segera memasukkan seluruh Yaman ke dalam ketaatan Nasrani.

Namun hal yang paling mendasar untuk dicatat dalam peri-hubungannya dengan kelahiran Muhammad Saw adalah, bahwa Abrahah telah sampai pada kesimpulannya yang akan berpengaruh secara internasional: Yaman akan dijadikan tempat dimulainya ambisi untuk menghancurkan Ka’bah yang terletak di kota Mekkah. Abrahah menilai bahwa Ka’bah ternyata telah mengganggu kestabilan rohaniah kekristenan yang akan tengah ia bangun di Yaman.  Sekuat apa pun usaha Abrahah untuk menasranikan seluruh Yaman, namun Ka’bah tetap merupakan satu hal yang tidak bisa ditinggalkan oleh semua manusia yang bermukim di Yaman, termasuk juga semua Timur Tengah. Setelah ia mengetahui akan keagungan dan pengaruh yang amat luar biasa pada Ka’bah atas Mekkah, sebenarnya ia bertekad,  untuk menjadikan gerejanya, ‘Gereja Besar di Sanaa’ sebagai hal yang lebih pantas mendapatkan penghargaan tersebut dari pada Ka’bah itu sendiri.

Namun setelah sekian lama ia membangun ide tersebut dengan menjadikan gereja besarnya sebagai bagian dari idenya, ia melihat bahwa Ka’bah sama sekali tidak memberinya kemungkinan apa pun kecuali tetap terkucilkannya gereja Sanaa tersebut dari radar rohaniah seluruh Yaman. Cita-citanya untuk menjadikan kemakmuran Sanaa sebagai kemenangannya atas Mekkah yang dominasi Ka’bahnya telah berhasil ia tumbangkan telah dimentahkan oleh keberadaan Ka’bah. Ini membuat ia mengambil keputusan yang fundamental.

Abrahah memimpin pasukannya memasuki kota Mekkah dengan mengendarai sekawanan gajah yang terlatih. Tujuan Abrahah hanya satu: yaitu untuk menghancurkan Ka’bah yang kehancurannya kelak akan membawa kemakmuran bagi Sanaa dan charisma yang luar biasa bagi Iman Nasrani. Gerejanya segera akan menggantikan Ka’bah.  Sebenarnya Abrahah tidak berniat sedikit pun untuk berkompromi dengan warga Mekkah. Apa pun yang diinginkan warga Mekkah, maka tetap Abrahah melihat bahwa selama Ka’bah masih berdiri, Abrahah tidak akan pernah mendapatkan apa yang ia inginkan: glori untuk Gereja Sanaa-nya dan kemakmuran bagi ibu kota Kerajaannya.

Bagian paling inti dari ekspedisinya segera dijalankan setelah semua warga Mekkah memilih mengungsi ke perbukitan sekitarnya. Ia memimpin semua balatentaranya untuk tidak ragu sedikit pun bagi kehancuran Ka’bah. Semua warga Mekkah dipaksa untuk percaya oleh Abrahah bahwa ekspedisinya akan berhasil tanpa ada hambatan apa pun, atau, mitos yang selama ini berkembang dan menjadi kepercayaan semua warga Mekkah akan terjadi dan terbukti: Abrahah akan mendapatkan sanksi yang tegas dari Tuhan Yang menguasai Ka’bah tersebut.

Mungkin untuk kesekian kalinya semua warga Mekkah dibuat tidak pernah mengerti mengapa Yang Kuasa selalu mengambil tindakan yang tegas kepada siapa pun yang berani melanggar kesucian Ka’bah, namun kemunculan segerombolan burung Ababil(yang berarti ‘berbondong-bondong’) akhirnya membuat Abrahah (dan semua warga Mekkah lainnya) mengerti bahwa Abrahah sedang berada dalam kesulitan yang amat serius. Abrahah tidak akan pernah mengerti keseriusan agenda yang sedang ia lakukan sebelum ia mengetahui konsekwensi dari agenda tersebut. Sungguh ia sedang melanggar kesucian suatu rumah (Ka’bah) yang kesakralannya bukanlah legenda semata. Kesucian dan keagungannya justru terletak pada betapa Rumah Suci itu selalu mendapatkan dukungan, perlindungan dan pembelaan yang amat kramat dari Penguasa Langit dan Bumi, siapa pun Dia Swt.

Burung Ababil dilukiskan oleh semua saksi mata sebagai sekawanan burung yang membawa batu-batuan pijar yang kemudian mereka lontarkan ke arah pasukan Abrahah tersebut. Biar bagaimana pun ini adalah sesuatu yang tidak dapat di- ‘counter’oleh Abrahah karena ini sangat tidak manual. Terlebih ternyata Abrahah harus mengakui bahwa ia ‘kalah banyak’ dibanding  dengan balatentara Tuhan tersebut. Ini sungguh tidak ia perkirakan sebelumnya. Artinya, secara tragis Abrahah harus mengakhiri ambisinya atas Ka’bah  dan pulang kembali sebagai orang yang dikalahkan. Ia masih harus melihat betapa sebagian besar pasukannya tewas secara mengenaskan setelah mereka  satu per satu tertimpa batuan pijar dari burung Ababil tersebut.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa apa pun yang diperbuat oleh kehadiran burung Ababil itu, akibatnya amat di luar perhitungan siapa pun. Abrahah kehilangan ambisinya, ia kehilangan sebagian besar pasukannya;  sebagian sejarah yang amat dipercaya menyatakan bahwa sesampainya Abrahah di Kerajaannya sendiri, ia tewas karena luka serius yang ia derita sejak dari pelataran Ka’bah tersebut. Biar bagaimana pun tetap Abrahah harus kehilangan mega ambisinya: menciptakan aktivitas spiritual yang agung yang berpusat pada Gereja Sanaa-nya dan kemudian menciptakan kemakmuran untuk semua Yaman; sesuatu yang ia pindahkan dari Ka’bah dan Mekkah ke dalam ambisinya.

Serangan balik yang ditunjukkan oleh burung Ababil sudah menggagalkan rencana Abrahah untuk mengkristenkan semua Jazirah Arab. Kalau bukan Ka’bah yang binasa oleh rencana Abrahah, maka Abrahah-lah yang akan binasa dengan semua rencana dan ambisinya.

Namun setelah itu semua, kematian Abrahah sekaligus menandai amannya kembali Jazirah Arab dengan Ka’bahnya. Dan Yamannya.

_.:oYo:._

Ayat-ayat Tuhan yang diturunkan pada masa kenabian Muhammad Saw yang membicarakan kejadian tersebut mengulang apa yang telah terjadi yang mengiringi kelahiran Nabi besar tersebut: biar bagaimana pun ayat Tuhan mengenai hal ini adalah informasi yang amat penting untuk menegaskan bahwa ‘Tuhan tetap berada pada tempatNya’ untuk menyaksikan betapa musuhNya telah menggali lubang kuburannya sendiri…….

  1. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana tindakan Tuhanmu atas balatentara yang menunggangi gajah?
  2. Bukankah Tuhanmu telah membuat semua perjuangannya sia-sia?
  3. Dan Tuhanmu mengirim kepada balatentara tersebut burung-burung yang datang berbondong-bondong (Ababil).
  4. Dan burung-burung itu melempari balatentara itu dengan batu-batuan yang diambil dari neraka Sijjil.
  5. Maka serta merta semua balatentara itu menjadi bagaikan daun-daun yang berguguran yang dimakan ulat……..[1]

Dalam kelahiran Islam dan kebangkitan Muhammad Saw sebagai Rasul terakhir Allah Swt, peristiwa penyerangan Ka’bah oleh Abrahah ini amat terkenal dan mempunyai arti yang amat penting. Sejarah Islam selalu menyebutkan: Muhammad Saw lahir pada Tahun Gajah.  Ini memungkinkan semua orang untuk tetap mengingat bahwa kelahiran Muhammad Saw tersebut tidak berselang lama setelah jatuh-terbunuhnya Abrahah oleh burung Ababil, atau menangnya Ka’bah atas ambisi Abrahah tersebut.

Islam menilai sebenarnya ada kerangka pemikiran yang amat mendasar mengapa Tuhan memilih Tahun Gajah tersebut sebagai moment terbaikNya untuk melahirkan Rasul terakhir tersebut.

Prologislamate.

Kelahiran Muhammad Saw yang dirancang oleh Tuhan sebenarnya adalah salah satu mata rantai dari rangkaian kejadian yang amat panjang yang berujung pada kelahiran Rasul terakhirNya tersebut. Serentetan kejadian itu bermula dari insiden pembantaian umat Nasrani oleh rezim Zu Nuwas yang Yahudi, kemudian seorang dari mereka menyelamatkan diri menuju Imperium Romawi yang Nasrani, kemudian diutusnya Abrahah oleh Raja Negus untuk membuat perhitungan dengan Zu Nuwas. Ini semua ditandai dengan terjungkalnya Kerajaan Yahudi Yaman. Serentetan tersebut dilanjutkan dengan perluasan ambisi Abrahah untuk menjadikan Sanaa sebagai pusat spiritual yang amat megah untuk menggantikan Mekkah dengan Ka’bahnya. Penyerangan Abrahah atas Ka’bah dan Mekkah, adalah bagian yang sudah mendekatkan mata dunia kepada inti dari serangkaian panjang cerita tersebut yaitu kelahiran Muhammad Saw.

Pada kenyataannya, diturunkannya Islam untuk seluruh umat manusia di muka bumi ini haruslah juga berarti bahwa Tuhan akan menyatakan secara ‘resmi’ bahwa Ia akan mengaktualisasikan semua kehendak dan Jalan Suci-Nya hanya dalam kerangka Islam. Ini berarti Ia tidak akan melihat adanya kemungkinan lain bagi manusia mana pun untuk mengadopsi kerangka pemikiran lain selain Islam tersebut: Tuhan sendirilah Yang menutup jalan ke arah itu.

Tuhan menganut azas totalitas yang amat final mengenai hal ini. Harus diingat bahwa Tuhan bukanlah ‘sekelompok pemikir’ yang sedang berada dalam keraguan di depan begitu banyak pilihan. Dengan kata lain, Tuhan ingin menyatakan kepada semua manusia bahwa Islam adalah lembaga, suatu kerangka pemikiran, konteks, yang di dalamnya semua dan apa pun yang dibutuhkan manusia sudah tersedia. Islam adalah agama yang paripurna: perfection.

Namun sungguh pun begitu pada sisi lain, hubungan antara manusia dengan Tuhan yang terjalin pada masa pra Muhammad Saw telah  melahirkan dan mewariskan banyak hal bagi peradaban manusia. Yahudi dan Nasrani selalu dikaitkan dengan betapa Tuhan selalu berada dan setia kepada umat manusia kala itu dalam menghadapi begitu banyak kendala yang serius. Ini semua kemudian terperikan ke dalam peri kebudayaan mereka yang kelak mereka sebut dengan agama: agama Yahudi, Nasrani (Zoroaster dan juga agama lainnya secara lebih umum). Masing-masing agama tersebut mengklaim bahwa jalan fikiran mereka adalah satu-satunya hal yang paling dekat dengan pertolongan Tuhan; dan hal itu pun pada saatnya memang tidak diingkari oleh Tuhan:  adalah Tuhan sendiri yang menurunkan agama tersebut (baik Yahudi, Nasrani dan lain lain) kepada kalangan manusia sebagai khabar gembira dan penghiburan yang kudus.

Namun satu hal harus dipermasalahkan: apakah diturunkannya dan ditetapkannya semua agama tersebut (sebagai lembaga tempat di mana umat manusia dan Tuhan berdialog) tidak juga disertai dengan masa berlakunya?

Jika suatu agama tetap merupakan suatu ‘tubuh’ yang di dalamnya akan selalu berdiam ruh Tuhan, maka di muka bumi ini terdapat begitu banyak agama dan adalah tidak mungkin Tuhan melakukan kesalahan sehingga terjadi ‘penumpukan agama’ (atau, suatu ambigue mau pun dualisme) yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Kebajikan berfikir akan memutuskan bahwa tidak benar pada  kesemua ‘tubuh’ tersebut terdapat ruh Tuhan karena itu akan berarti semua agama itu adalah benar sementara pada ghalibnya satu agama akan menentang kehidupan Tuhan dalam agama lainnya secara fundamental.

Kehidupan Tuhan dalam Islam adalah sesuatu yang amat final baik bagi Tuhan sendiri mau pun bagi seluruh dunia. Ia akan segera mengingkari agama lainnya sebagai bagian dari komitmenNya untuk menegaskan bahwa semua umat manusia akan diberkati dan dikuatkan hanya dalam Islam. Artinya adalah, jika memang Tuhan pernah bergaul dengan semua umat manusia dalam kerangka kebajikan Yahudi mau pun Nasrani (atau agama lainnya) maka kelak Tuhan telah sampai pada keputusanNya untuk membekukan kesemua agama pra Islam tersebut. Tuhan melihat bahwa ‘monopoli kerangka pemikiran’ adalah amat tepat  dan konstruktif; manusia amat membutuhkan hal tersebut. Kebalikannya, Tuhan tidak akan pernah membiarkan adanya ambigue mau pun dualisme (terlebih spekulasi) dalam hal menilai apakah suatu agama tertentu akan dapat dianalisa sebagai tempat di mana Tuhan hidup dan mengembangkan kebajikanNya.

Islam dilahirkan, dilarung ke dunia dengan terlebih dahulu mencetuskan Prologislamate tersebut, suatu prolog yang  menjelaskan mengapa Islam lahir, dan juga yang sekaligus menjelaskan bagaimana Islam harus dilahirkan dan dijadikan satu-satunya kepercayaan bagi semua umat manusia:

Pada Babak I, melalui kisah digulingkannya Kerajaan Yahudi Yaman dengan rezim Zu Nuwasnya oleh balatentara Abrahah yang Ethiophia                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     Nasrani, Tuhan mengarahkan semua focus manusia untuk mendapatkan suatu informasi yang fundamental: Tuhan tidak lagi menolong Yahudi-Nya untuk alasan apa pun. Tuhan dengan gayaNya membiarkan Yahudi tersebut terjungkal oleh kekuatan Nasrani sebagai caraNya dalam berkata-kata kepada manusia bahwa periodikalisasi Yahudi telah selesai. Dengan tidak lagi menolong Yahudi-Nya dari serangan Nasrani Ethiophia maka Tuhan telah memulai suatu opini dunia bahwa Yahudi bukan lagi wakil Tuhan, atau Yahudi akan diidentikkan dengan kesalahan, atau pun, sesalah-salahnya Yahudi, tetap Tuhan tidak akan lagi menolongnya seperti dahulu.

Sebenarnya kesalahan Yahudi kala itu amat fatal dengan membantai ribuan nyawa Nasrani taat dalam lobang kuburan api (dalam Alqur’an kisah itu diabadikan Tuhan dalam surah Al Buruj). Sejak awal semua Yahudi kala itu beranggapan bahwa biar bagaimana pun Tuhan mereka –yang memang Yahudi juga – pasti akan mendukung pembantaian tersebut. Namun kenyataan terjungkalnya Kerajaan tersebut oleh Nasrani Abrahah mengarah kepada fakta yang sama sekali lain: sesuci-sucinya Yahudi bahkan di kala kesemena-menaannya sendiri, tetap akan dijungkir-balikkan juga oleh Tuhan.  Jika Yahudi yakin bahwa Tuhan tidak mempunyai pilihan lain selain menolong YahudiNya dan mendukung pembantaian Nasrani tersebut, maka dengan keyakinan tersebut sebenarnya Yahudi akan dapat dikalahkan oleh siapa saja; itu adalah keyakinan yang salah.

Melalui kisah runtuhnya Yahudi Yaman dengan Zu Nuwasnya oleh balatentara Abrahah, maka itu berarti Yahudi telah ‘ditutup-buku-kan’ oleh Tuhan: dengan keruntuhan tersebut Yahudi segera dicabut sebagai mandataris Iman –kepada Tuhan-  di muka bumi.

Nasrani, setelah runtuhnya Yahudi dan tercerabutnya semua mandatekeimanan dari padanya, menjadi jalan Tuhan satu-satunya yang masih ada di muka bumi. Namun ini belum cukup untuk melahirkan Islam dan Muhammad-Nya kelak.

Sebenarnya, dengan berhasilnya kekuatan Kristen mengalahkan Yahudi Yaman dan menjungkalkan kekuasaannya, praktis membuat semua orang Kristen cukup diyakinkan bahwa Tuhan terkesan dengan Kristianitas mereka: Tuhan adalah ‘orang’ Kristen juga, hanya saja Ia lebih Suci, dan oleh karena itu Ia akan menolong Kristen.

Abrahah salah besar dengan opini utopia tersebut.  Sejak Abrahah merasa bahwa semua perhatian Tuhan tertuju pada Pemerintahannya karena ia telah berhasil menjungkalkan musuh YahudiNya,  Tuhan telah merencanakan hal lain lagi yang lebih spesifik.

Pada Babak II  Tuhan menggiring Abrahah kepada kuburannya sendiri: memasangkan semua pelana di atas punggung gajah untuk menghancurkan Ka’bah demi meningkatkan popularitas namanya di mata Tuhan yang Kristen tersebut. Ketika Abrahah memasangkan pelana-pelana tersebut ke atas punggung gajah, maka sebenarnya Tuhan sendirilah yang memasangkan pelana-pekana tersebut, dan ketika Abrahah menyiapkan semua bala tentara gajah-gajah dalam jumlah yang besar, maka sebenarnya Tuhan sendirilah yang menyiapkan sekawanan gajah-gajah tersebut. Hanya saja Abrahah tidak mengetahuinya karena Tuhan melakukannya dalam keheningan. Menghancurkan Ka’bah, bagi Abrahah,  adalah memenangkan Tuhan dengan cara mengungkapkannya yang berbeda. Kemudian secara brutal hal itu direspon oleh Tuhan dengan cara yang kontra dan  orthodox: pembantaian yang dilakukan orang sekawanan burung Ababil. Mungkin bagi Abrahah, ini akan berakibat bahwa ia tidak akan dapat lagi berkomentar bahwa Tuhan Semesta Alam adalah ‘seorang’ Nasrani mengingat apa Yang Ia hajar pada balatentara Abrahah adalah semua salib suci dan icon-icon agung yang mereka bawa dari dalam gereja. Tidak mungkin jiwa Yang Kristen menistakan lambang-lambang kesucian Kristen.

Runtuhnya autoritas Kristen yang ada pada balatentara Abrahah ternyata berdampak luas. Semua mandate, buku-buku dan sejarah Kristen yang semula dipautkan dengan Jalan Surga, telah diakhiri oleh Tuhan. Dengan kata lain, Tuhan tidak lagi menolong Kristen. Periodikalisasi Kristen telah berakhir.

_.:oUo:._

Periodikalisasi Kristen dan Yahudi telah sampai pada hal yang sebenarnya dari tentang suatu keyahudian dan kekristenan: tidak lagi menjadi mandataris Iman di muka bumi dan kemudian membiarkan seantero dunia untuk sementara waktu steril dari semua aktivitas dan kepentingan Iman.

Prologislamate, menjadi latar belakang yang akan menjelaskan betapa Islam akan menjadi satu-satunya agama Tuhan, kerangka pemikiran Tuhan, yang tidak akan mengalami ambigue atau dualisme atau pun tinjauan-tinjauan spekulatif lainnya. Islam yang kemudian diturunkan setelah tuntasnya Prologislamate tersebut, menjadikan semua umat manusia mudah untuk menentukan jalan Iman mereka, atau setidaknya dunia Iman menyaksikan bahwa Tuhan adalah Spirit Yang selalu bercermin pada betapa semua perbuatanNya tetap berada dalam disiplin yang tinggi dan rapi. Itu yang penting.

Islam di dalam kehidupan di atas bumi adalah suatu keniscayaan dan ini mewakili adanya suatu rencana yang amat besar jauh sebelum Islam itu sendiri untuk menjadi bagian penting dalam Kerajaan manusia. Konsep dari rencana itu jelas: dikalahkan dan dijungkalkannya Kerajaan Zu Nuwas yang Yahudi oleh Abrahah yang Nasrani mengisyaratkan dua hal.

Pertama: Yahudi telah menyelesaikan semua mandate yang diberikan Tuhan atasnya. Kedua, kemudian sistem Yahudi tersebut akan segera ‘dikebumikan’ untuk memberi jalan kepada suatu hal yang paling niscaya, yaitu Islam.

Kemudian, Abrahah yang Nasrani (yang telah menghancur-leburkan Yahudi) akan segera berhadapan dengan Tuhan di depan Ka’bahNya;  di pelataran Ka’bah itu Tuhan mulai meninggalkan Nasrani-Nya. Kata akhir bagi sistem Iman ini akan menyertai diselesaikannya mandate Tuhan atas Yahudi, pendahulunya: pertama, Kristen telah dianggap selesai dalam menjalankan dan mengemban semua mandate yang diberikan Tuhan atasnya. Setelah itu, sistem Kristen ini harus telah dibatalkan juga.

Dengan demikian pada masa tersebut Yahudi  dan Nasrani telah tidak dapat lagi ditemui di muka bumi; adalah pada saat tersebut bumi dalam keadaan yang kosong, vacuum akan sistem Iman. Itulah intisari dari pada Prologislamate. Praktis, itu akan menjadi prolog atas datangnya Islam. Akhirnya ketertiban sistem (kelahiran) Iman telah dibuktikan oleh Tuhan, Pemilik dari sistem  Iman. Dengan turunnya Islam beberapa saat setelah Prologislamate tersebut maka Islam tidak menghadapi rivalitas apa pun: ia tidak perlu untuk berkompetisi dengan sistem lainnya.

Islam menjadi satu-satunya Jalan Suci yang disediakan. Jika memang untuk mendapatkan Surga itu adalah sulit, maka Tuhan telah memulai untuk mempermudahnya dengan mengeliminir Yahudi dan Nasrani. Tidak mungkin Tuhan mempersulit siapa pun untuk memasuki dan memenangkan Surga; itu bukanlah sifatNya. Sebaliknya, jika memang untuk mendapatkan Surga itu adalah mudah, maka mau tak mau Tuhan harus meninggalkan Yahudi dan Nasrani terlebih dahulu dan menjadikan Islam kelak sebagai satu-satunya hal yang masuk akal untuk dipilih.  Kalau pun itu masih terasa sulit juga, maka manusianya sendirilah yang tetap meragukan kebajikan Tuhan. Kesulitan yang dikenal dengan nama apa saja tidak pernah datang dari Tuhan.

Prologislamate secara rinci menegaskan bahwa Nasrani dan juga Yahudi bukan lagi menjadi pilihan bagi siapa pun.  Di pihak lain, Prologislamate menjadi pemicu atas kebajikan dan menangnya Islam.

Keotentikan Yoh 7:53- 8:11, Perempuan yang berzinah

keotentikan-yohanes

Keotentikan Yoh 7:53- 8:11, Perempuan yang berzinah

Pertanyaan:

Dear Katolisitas,

Baru-baru ini aku kedapatan pertanyaan tentang Yoh 8:1-11, pertanyaannnya adalah perikop ini ternyata tidak ada di Codex Sinaiticus, lalu darimana sumbernya?

Semoga berkenan menjawabnya.

Terima kasih.

Maximillian Reinhart.

Jawaban:

Shalom Maximillian Reinhart,

Yoh 7:53- Yoh 8:11 adalah perikop tentang Perempuan yang berzinah, yang sejalan dengan kisah- kisah dalam Injil lainnya. Didascalia Apostolorum (semacam edisi awal Didache), yaitu sebuah tulisan yang memuat ajaran- ajaran para rasul, memuat acuan kepada perikop ini, demikian juga tulisan dari Papias (125 AD), yang adalah murid rasul Yohanes.

Teks ini memang tidak ditemukan pada Codex Sianiticus, Vaticanus, maupun versi Syriac demikian juga pada versi Armenian dan Old Georgian. Manuskrip pertama yang memuat perikop ini adalah Codex Bezae (sekitar akhir abad 4/ awal abad 5) yang ditulis dalam bahasa Latin dan Yunani. Maka, para ahli Kitab Suci banyak yang memperkirakan bahwa perikop Yoh 7:53- 8:11 ini bukanlah teks asli dari Injil Yohanes (lihat ‘Pericope adulterae’, in FL Cross (ed.), The Oxford Dictionary of the Christian Church, (New York: Oxford University Press, 2005)); walaupun ada pula para ahli Kitab Suci yang tetap mendukung keaslian perikop ini.

Codex Bezae adalah manuskrip pertama yang memuat perikop ini (sekitar akhir abad 4 sampai awal abad 5) yang ditulis dalam bahasa Latin dan Yunani. Pada tahun 1941 ditemukan koleksi tulisan- tulisan Didymus the Blind (313-398) ditemukan di Mesir dan di sana ditemukan acuan kepada perikop Perempuan yang berzinah (pericope adulterae) tersebut dalam beberapa salinannya. Maka perikop tersebut dianggap telah termasuk dalam manuskrip Alexandria sejak abad ke-4. Codex Vaticanus yang disusun di abad ke-4 di Mesir menandai akhir dari Injil Yohanes bab 7 dengan tanda titik- titik / “umlaut” yang mengindikasikan bahwa ada sebuah perikop alternatif telah diketahui/ ditemukan pada akhir bab 7 tersebut.

St. Jerome menyatakan bahwa perikop Perempuan yang berzinah ini telah ditemukan secara kanonik dalam manuskrip Yunani dan Latin di Roma dan di Gereja Barat pada abad ke-4. Hal ini dikonfirmasikan oleh para Bapa Gereja di abad 4 dan 5, termasuk St. Ambrosius dan St. Agustinus. St. Agustinus mengklaim bahwa ada kemungkinan perikop ini tidak dimasukkan oleh beberapa manuskrip untuk mencegah kesan bahwa Kristus tidak menghukum kasus perzinahan:

“Saya kira, beberapa orang tertentu yang kurang beriman, atau para musuh iman yang benar, takut, bahwa istri- istri mereka harus tidak dihukum jika mereka berdosa [berzinah], [maka mereka] telah menghapus dari manuskrip mereka, tindakan pengampunan dari Tuhan kepada si perempuan yang berzinah, seolah- olah Ia yang telah berkata, ‘Jangan berbuat dosa lagi’, telah memberikan izin untuk berdosa.” (Augustine, De Adulterinis Conjugiis 2:6–7. Cited in Wieland Willker, A Textual Commentary on the Greek Gospels, Vol. 4b, p. 10.)

Dewasa ini memang terdapat dua pandangan tentang keotentikan perikop Perempuan yang berzinah ini. Para ahli Kitab Suci yang menolak keotentikan perikop ini antara lain adalah Cadbury (1917), Codwell (1935) dan Metzger (1971). Namun demikian terdapat juga para ahli Kitab Suci yang dengan kuat mendukung keotentikan perikop ini sebagai ajaran/ karangan Rasul Yohanes, seperti Nolan (1865), Burgon (1886), Hoskier (1920), OT. Fuller (1978), Pickering (1980), Hodges & Farstad (1985), Pierpont dan Robinson (2005).

Argumen Zane C Hodges dan Arthur Farstad didasari atas keserupaan antara gaya bahasa yang digunakan dalam perikop tersebut dengan gaya bahasa keseluruhan Injil Yohanes. Detail yang disebutkan di sana juga sangat cocok dengan konteks ayat- ayat sebelumnya. Fakta bahwa adanya perikop tersebut di mayoritas salinan manuskrip, (walaupun tidak ada di salinan yang tertua), adalah bukti terhadap keotentikan perikop tersebut. Apalagi jika melihat bahwa perikop tersebut mempunyai padanan/ melengkapi kisah yang disebutkan dalam Injil lainnya tentang perempuan yang berdosa, dan kisah ini juga berasal dari jaman para rasul.

Selanjutnya, manuskrip baik Novum Testamentum Graece (NA27) and the United Bible Societies (UBS4) mencantumkan teks perikop tersebut, dengan memberi tanda [[]] yang merupakan indikasi penambahan teks. Namun demikian, USBA mengindikasikan bahwa tambahan tersebut tidak diragukan/ “virtually certain” keasliannya.

Jadi, inilah kesimpulan yang saya sarikan dari pandangan Rm. Pidyarto O Carm:

Dengan adanya fakta bahwa Yoh 7:53– 8:11 (pericope adulterae) tidak ditemukan di Codex Sianiticus ataupun Syriac dan manuskrip kuno lainnya- bukan merupakan indikasi bahwa perikop tersebut bukan Sabda Allah. Sebab perikop Perempuan yang berzinah (pericope adulterae) tersebut berasal dari jaman para rasul, dan dengan demikian merupakan bagian dari wahyu Yesus Kristus.

Juga, bagi kita umat Katolik, yang terpenting adalah kenyataan bahwa perikop Yoh 7:53- 8:11 telah termasuk dalam Kitab Suci kita dan dinyatakan kanonik oleh Magisterium, sehingga kita menerimanya sebagai Sabda Allah. Peneguhan ini lebih berarti daripada pandangan pribadi para ahli Kitab Suci yang menentang perikop tersebut atas dasar pemahaman mereka sendiri tentang bagaimana menentukan keotentikan suatu teks. Para Bapa Gereja meyakini keotentikan teks tersebut, dan teks tersebut ternasuk dalam Kitab Suci yang dinyatakan kanonik oleh Magisterium. Oleh karena itu, kita tidak dapat, atas pemahaman kita sendiri meragukannya.

Demikian, semoga ulasan di atas berguna bagi kita semua.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,

Ingrid Listiati- katolisitas.org

>>>>>>

Access from,

http://katolisitas.org/2010/12/16/keotentikan-yoh-753-811-perempuan-yang-berzinah/

Access date,

4:05 PM 12/20/2010

——————————————————

Sophislam,

Apa yang kita lihat dari uraian di atas ini?

Tidak lain adalah fakta dan tradisi yang aneh dalam penyusunan Alkitab, yaitu bahwa TANGAN MANUSIA-LAH yang menentukan APAKAH SUATU AYAT BOLEH MASUK KE ALKITAB ATAU TIDAK…..

Mengapa bisa demikian?

Mengapa firman Allah yang agung dan kudus, pada akhirnya harus diserahkan kepada kehendak manusia, untuk dianggap firman Allah atau sebaliknya??

Bagaimana dengan Alquran? Apakah ayat-ayat Alquran adalah hasil dari kesepakatan manusia sejak wafatnya Nabi Saw, apakah ayat itu layak masuk Alquran dan  tidak layak masuk Alquran??

Tentu saja tidak! Ayat Alquran, kesemuanya, adalah Hak Allah untuk menyatakan bahwa ayat itu adalah ayatNya…..

Demikianlah kejanggalan dari agama yang namanya adalah Kristen.

Polisi Bentrok Lawan Demonstran Penentang Masjid di Inggris

polisi-bentrok-lawan-demonstran-penentang-masjid-di-inggris

Minggu, 4 April 2010 | 04:07 WIB

WEST MIDLANDS, KOMPAS.com — Polisi antihuru-hara Inggris akhirnya bentrok dengan ribuan demonstran anggota Liga Pertahanan Inggris atau EDL yang menentang rencana pembangunan masjid baru di pusat Kota Dudley, West Midlands, Sabtu (3/4/2010).

Bentrok dipicu tindakan brutal sekitar 2.000 anggota EDL yang merusak pagar besi dan melempari polisi yang dilengkapi dengan perisai dan tongkat. Bahkan, mereka justru menyerang koordinator aksi yang menenangkan tindakan brutal tersebut.

Mereka bawa poster bertulisan, antara lain, “Buruh menolak masjid di Inggris” dan “Tak seorang pun menginginkan masjid ini.” Demonstran dari sayap kanan juga memasang plakat yang terbaca, “Para pengebom muslim enyah dari sini” dan “Katakan tidak pada masjid”.

Lagu kebangsaan Inggris, God Save The Queen, diputar melalui pengeras suara, diikuti pengibaran bendera Inggris. Dewan Kota Dudley di situs webnya menyatakan, “Kami tidak mengundang EDL ke kota kami dan kami tidak menginginkan mereka di sini.” Namun, Dewan juga mengaku tidak punya kekuasaan untuk melarang kegiatan mereka
————————-
Access from,
http://internasional.kompas.com/read/2010/04/04/04075218/Polisi.Bentrok.Lawan.Demonstran
Access date,
10:26 AM 12/21/2010

Sophislam,

Heerbraaaaaht!!!!

Agama dan umat Kristen yang mengaku-ngaku sebagai agama kasih dan damai, namun sudah berulang kali terbukti suka melakukan tindakan tindakan kekerasan dan brutal kepada pihak lain yang tidak seiman dengan mereka. di situs indonesia-faithfreedom.org, semua jidat Kristen gemar sekali memojokkan dan menghina Islam sebagai agama yang mengajarkan manusia untuk menjadi penuh kebencian terhadap siapa saja yang tidak seiman. Namun mengapa ada berita seperti artikel di atas?

Yang lebih miris lagi adalah, justru semua jidat Kristen TUTUPMATA terhadap melimpahnya fakta bahwa jidat Kristen adalah agama barbar dan gemar menumpahkan darah manusia ….

Benarlah demikian, bahwa Kristen, gerejanya, Alkitabnya, adalah komponen-komponen yang mengajarkan siapa pun untuk menjadi munafik. Ingatlah bahwa Paulus pernah berkata dalam injil nya ..

Jikalau kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaanNya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa? Roma 3:7

Dracula Sang Pembantai Ummat Islam

dracula-tour

Banyak di antara saudara kita yang benar-benar tidak tahu pembantaian yang dilakukan Dracula (Vlad Tsepes) karena ada pengkaburan sejarah yang disengaja oleh orang-orang Barat untuk menutupi kebusukan mereka jika sosok “asli” Dracula disebar luaskan.

Dracula bukan saja menyiksa dan membantainya kaumnya / rakyatnya sendiri. Tapi juga ratusan ribu darah ummat Islam telah ditumpahkannya.

princely_court-tirgoviste

Bagaimana itu bisa terjadi?

Selain memusuhi lawan politiknya dan para tuan tanah yang membangkang padanya, Dracula juga sangat membenci ummat Islam, terutama Turki Ottoman (Utsmani) yang dianggapnya telah memisahkannya dengan ibunya. Meskipun di Turki ia diperlakukan dengan baik, namun ia tetap menganggap Turkilah yang menyebabkan dirinya kehilangan masa kecilnya.

Setelah Dracula mempunyai kekuatan di Wallachia dan menjadi penguasa di kala itu, juga telah berhasil membangun benteng yang kokoh, barulah ia menyatakan secara terbuka bahwa dirinya adalah musuh Kerajaan Turki Ottoman. Dia mulai menteror dan membunuhi ummat Islam di wilayahnya sendiri, serta mengusir mereka. Lama kelamaan Dracula semakin bertambah kuat kekuasaannya hingga korban yang berjatuhan pun semakin banyak, terutama ummat Islam. Sejarah mencatat, ada sekitar 300.000 dibantai oleh Dracula sepanjang masa pemerintahannya.

Pembantaian Terhadap Prajurit Turki di Tirgoviste

Setelah Dracula berhasil menguasai tahta Wallachia, itupun atas bantuan para prajurit Turki -ia akhirnya berkhianat. Meski usianya masih 17 tahun, tapi ia memberanikan diri untuk memisahkan diri dari Kerajaan Turki Ottoman yang telah membantu dan mendidiknya.

Prajurit-prajurit Muslim Turki yang masih tersisa di Wallachia ditangkap. Dalam waktu beberapa hari mereka disekap di ruang bawah tanah dengan mendapatkan perlakuan kejam dan tak manusiawi.

salibpisauramuanmembunuhdrakulav-1-kayu-sula-dracula-dan-salib

Pada hari yang telah ditentukan oleh Dracula, para prajurit Turki digiring ke tanah lapang yang ada di pinggiran kota. Mereka ditelanjangi seperti budak lalu digiring ke tempat penyiksaan massal. Dracula yang menaiki kuda paling depan dielu-elukan, karena dianggap telah membebaskan Wallachia dari tangan Turki. Sedangkan prajurit Turki yang ada di belakangnya dilempari batu dan kotoran -juga caci maki dalam kondisi telanjang.

Setelah berjalan cukup jauh, maka tibalah mereka di tempat penyulaan, tiang-tiang sula sudah disiapkan. Dan tanpa menunggu waktu lama, Dracula langsung memerintahkan agar para prajurit Turki itu disula semuanya.

Satu orang selesai disula, langsung dipancangkan di tengah-tengah lapangan. Tubuh-tubuh mereka yang telanjang meregang nyawa menyambut syahid. Sementara itu, Dracula duduk santai sambil menikmati ceceran darah dan jerit kematian si korban. Tampak sekali kesadisan Dracula sang Panglima Salib dalam menyiksa kaum Muslimin.

30.000 Pedagang Yang Disula

Hari Peringatan, St. Bartholome 1459 M, pada masa itu perdagangan ummat Islam memang sedang menggairahkan. Mereka semua menyebar ke belahan bumi Barat maupun Timur. Pedagang yang paling dominan adalah dari Turki yang kebanyakan memperdagangkan permadani dan permata yang juga diperdagangkan di Wallachia.

Jumlah para pedagang dari Turki sangatlah banyak dan membaur dengan penduduk setempat. Hal itu yang membuat Dracula marah karena mereka dianggap sangat merugikan dan tidak memberikan pemasukan apa – apa baginya.

Karena di dalam Islam, yang berhak membayar jizyah (pajak / upeti) hanyalah orang kafir, sedangkan Islam sendiri membayar zakat. Jadi otomatis, tidak ada pembayaran apapun kepada Dracula.

Akhirnya, Dracula mengumpulkan mereka semua beserta keluarganya.

Dan sama seprti yang lain, mereka syahid diujung kayu sula.

Pada malam harinya pun Dracula mengadakan pesta guna merayakan “Hari Peringatan St. Bartholome Yang Merah”. Karena kejamnya pembantaian tersebut, hingga saat ini para petani Transilvania menganggapnya sebagai hari yang mengerikan.

mayat2muslimtersula

Membunuh Dengan Virus

Selain membantai ummat Islam dengan penyulaannya. Dracula juga menyebar virus penyakit untuk mematikan generasi ummat Islam di Wallachia.

Caranya, orang – orang yang terkena virus mematikan, dikumpulkan semuanya oleh Dracula, lalu disebar ke seluruh pelosok desa di Wallachia yang dihuni oleh ummat Islam agar virus yang mematikan tersebut menular ke keluarga Muslim di daerah itu.

Sungguh licik memang apa yang dilakukannya terhadap ummat Islam.

20.000 Ummat Islam Yang Disula

Kekejaman demi kekejaman yang dilakukan oleh Dracula membuat Sultan Muhammad al Fatih semakin gerah dan marah. Pada tahun 1462 M Sultan mengirim 60.000 pasukannya untuk menangkap Dracula hidup atau mati. Sebagai pemimpin pasukan, ditunjklah Randu, adik Dracula sendiri. Dalam catatan sejarah, ini merupakan peperangan terbesar selama Dracula berkuasa.

Seminggu sebelum penyerangan

Pasukan Turki belum mengetahui bahwa seminggu sebelum penyerangan, Dracula telah menyula ummat Islam yang menjadi tawanannya. Belum lagi yang tinggal di Wallachia yang juga disula.

Diantara para tawanannya terdapat isteri Dracula yang Muslim dan berasal dari Turki. Lalu Dracula memerintahkan agar isterinya didekatkan padanya. Lalu diikat di atas meja penyiksaan. Dan ia mengerat dadanya serta mengulitinya di depan ribuan para tawanan. Jerit kesakitan pun trdengar oleh semua yang melihat kejadian keji tersebut. Pisau yang ditangan Dracula pun basah oleh darah segar isterinya sendiri.

Setelah itu ia mengambil sula kecil yang ada di dekat meja. Lalu ia menyulanya tepat pada liang kemaluan isterinya di depan para tawanan dan algojonya. Ia meneruskannya berkali – kali hingga isterinya pingsan lalu syahid di tangannya. Bisa dibayangkan betapa sakitnya itu.

Setelah merasa puas membunuh isterinya. Ia pun memerintahkan agar membawa seorang bayi beserta ibunya maju ke depan. Dracula memerintahkan agar keduanya diikat pada tiang pancang. Setelah selesai diikat, lalu Dracula mengambil kayu sula. Dengan ketenangan yang luar biasa Dracula menyula sang bayi dari pusar sampai tembus ke punggung. Sula yang lumayan panjang itu terus dia dorong sampai menembus ke perut ibunya. Na’udzubillah.

Para tawanan merasa terpukul dan tersakiti melihat saudara / saudari Muslimnya disiksa dengan siksaan yang tak akal dan menyayat hati.

Enam hari sebelum penyerangan

Begitu fajar menyingsing dari ufuk Timur, Dracula memerintahkan prajuritnya agar bergerak meninggalkan Tirgoviste. Para prajurit Dracula yang semuanya kafir menggiring para tawanan Muslim yang telanjang bulat melewati jalan berbatu dan berkelok – kelok.

Keadaan tawanan semakin mengenaskan. Sejak dipanggang di lapangan Tirgoviste beluma ada sesuap makanan yang masuk ke perut mereka, begitu juga belum ada air yang membasahi kerongkongan mereka. Karena tak kuasa menahan lapar, mereka memungut bangkai tikus atau apa saja yang mereka temukan di jalan karena sking lapar dan daruratnya.

Tiada satu patah kata pun yang terucap dari mulut – mulut mereka melainkan rasa sakit dan takut yang ada di dalam hati mereka. Begitulah keadaan kamu Muslimin yang menjadi tawanan Dracula.

Lima hari sebelum penyerangan

Tempat sebagai ajang penyulaan semakin dekat, keadaan para tawanan semakin mengenaskan. Sebagian besar dari mereka hanya mampu menyeret kaki , sedangkan yang benar – benar tak kuat berjalan dipapah oleh yang masih kuat. Suasana duka pun semakin melarut.

Tiga hari sebelum penyerangan

Tempat penyulaan telah dipersiapkan oleh para pasukan Salib yang dipimpin oleh Dracula sendiri semalam sebelumnya. Dracula sendiri telah berada di mejanya bersama beberapa bangsawan dan panglima perang.

Ketika matahari mullai meninggi, Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah dengan cekatan. Begitu penyulaan dimulai, lolong kesakitan dan jeritan kematian pun memenuhi segala penjuru tempat itu. Ummat Islam yang naas itu sedang menjemput syahid dengan cara yang begitu sangat mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah terjadi.

Dracula terlihat kegirangan ketika para korban disula dan dipancangkan di tiang pancang. Setiap tetesan darah korban serasa menyejukkan jiwanya.

Semakin siang suasana penyulaan semakin mengerikan. Para prajurit harus bekerja keras untuk menyula 20.000 ummat Islam dalam waktu sehari, suatu jumlah yang sangat fantastis.

Tak terasa waktu sudah malam, obor – obor pun dinyalakan. Para korban penyulaan yang terpancang di tengah – tengah lapangan semakin mengerikan jika terkena cahaya obor.

Sementara itu, dari dalam tenda Dracula sedang asyik menyantap santapan malam bersama para pembesarnya yang satu ‘pemikiran’ dengannya.

Dari luar tenda, bau anyir darah segar kaum Muslimin mulai tercium. Angin pun masih mengalir membawa rintihan korban yang sekarat. Esok pagi mayat – mayat itu akan berpindah tempat. Mereka akan menjadi persembahan Dracula bagi untuk musuh bebuyutannya, Turki. Malam semakin larut. Alam pun ikut larut dalam duka.

Dua hari sebelum penyerangan

Prajurit Dracula terus berderap mendekati kubu pasukan Turki yang berada di sungai Danube. Sesampainya di tempat yang dituju, komandan pasukan memberikan aba – abakepada prajuritnya untuk berhenti. Setelah semuanya berhenti, maka diperintahkannyalah agar ummat Islam yang telah disula itu dipancangkan di pinggir jalan, kanan dan kiri. Tubuh – tubuh yang disula itu kini telah dipancang disepanjang jalan kira – kira sepanjang 10 km.

Pada hari penyerangan

Pada serangan pertama Kerajaan Turki Ottoman mengerahkan 20.000 prajurit. Mereka berangkat dari arah selatan sungai Danube dan kemudian menyebrangi sungai itu.  Sesampainya di seberang sungai, mereka melanjutkan perjalanan ke ibukota Wallachia, Tirgoviste. Tapi perjalan mereka tiba – tiba terhenti setelah melihat puluhan ribu mayat yang disula. Masyaa’ Alloh, terkaget – kagetlah pasukan Turki melihat kejadian itu.

Melihat hutan mayat tersebut, pasukan Turki memutar arah. Mereka kembali ke kubu pertahan yang ada di seberang sungai Danube dengan perasaan takut dan cemas. Melihat prajuritnya kembali. Sultan Muhammad II terheran – heran melihatnya. Dia langsung bertanya apa penyebabnya hingga pasukannya kembali lagi. Komandan pasukan segera menceritakan apa yang terjadi.

Betapa marahnya Sultan Muhammad II setelah mendengar pengakuan komandan pasukannya. Namun, belum sempat sang Sultan memutuskan langkah apa untuk menghadapi hinaan Dracula, tiba – tiba terjadilah serangan mendadak dari arah seberang sungai Danube.

river-danube

Serangan Mendadak

Pasukan Turki yang belum siap bertarung karena mengingat para saudaranya yang dibantai Dracula dengan cara yang mengenaskan. Suara riuh dan jerit kematian beradu menjadi satu. Suara tombak dan pedang saling beradu.Dalam waktu yang tidak begitu lama banyak pasukan Turki yang menjadi korban. Sejarah mencatat dalam peristiwa ini Sultan Muhammad hampir terbunuh. Atas pertolongan Alloh Tuhan Robbul ‘Alamiin dan pengalaman dalam berbagai peperanganlah yang menyelamatkan nyawanya.

Sebagai penakluk Konstantinopel, Sultan Muhammad II (Sultan Muhammad Al Fatih) segera mendapat kepercayaan dirinya kembali setelah bermunajat sejenak dan meminta pertolongan kepada Alloh. Dengan keberanian yang sangat luar biasa dia memimpin pasukannya untuk memukul mundur para pasukan Salib yang dipimpin Dracula sang Penyula.

muhammad-al-fatih-sultan-muhammad-al-fatih-sultan-muhammad-ii-sang-pahlawan-islam-penakluk-dracula

Melihat sang Sultan begitu gigih dan berani menerjang pasukan musuh yang kafir, pasukan Turki kembali tercambuk. Mereka terus merangsek maju, mendesak pasukan Dracula hingga ke pinggir sungai Danube.

Melihat pasukannya terdesak mundur, Dracula memutuskan untuk melarikan diri. Dan ia pun memerintahkan pasukannya untuk segera menyeberangi sungai Danube. Sementara itu pekikan takbir dari pasukan Turki semakin membahana dan membuat takut hati – hati dan jiwa – jiwa pasukan salib Dracula.

Sultan Muhammad II pun tidak memerintahkan pasukannya untuk menyerang pasukan Dracula karena hanya ingin menyusun strategi jitu untuk menghadapi pasukan salib itu.

Sebelum memikirkan cara menangkap Dracula, sang Sultan memerintahkan agar ummat Islam yang menjadi korban peperangan dan korban penyulaan dikuburkan terlebih dahulu dengan cara yang sebaik – baiknya tanpa melanggar syari’at sedikitpun.

poienari-castle-2

Sementara itu, Dracula memerintahkan pada sebagian kecil prajurit agar mereka meneruskan perjalanan ke Wallachia dan menugaskan untuk memboyong seluruh keluarganya ke benteng Poenari dalam waktu secepat – cepatnya.

Akhir Riwayat Dracula

40.000 pasukan Turki bergerak menyebrangi sungai Danube. Panji– panji bulan sabit berkibar – kibar dihembus angin. Kaki – kaki kuda suci menjejaki dasar sungai dan menimbulkan gelombang yang kemudian pecah di tepi sungai. Di belakangnya, disusul barisan para panglima yang berbadan kokoh dengan menunggang kuda – kuda yang gemuk – gemuk.

Tiada istirahat bagi mereka selain makan dan sholat. Setelah berkuda dua hari dua malam akhirnya sampai juga mereka di Tirgoviste lalu berhentilah mereka di pinggiran kota.

Sekitar 5.000 pasukan terlatih diperintahkan memasuki Tirgoviste, mereka kaget, ternyata Tirgoviste menjadi kota mati tak bertuan setelah semua penduduknya dipindahkan semuanya ke benteng Poenari. Juga tidak tampak 1 batang hidung pun dari prajurit Dracula.

Maka, Randu (adik Dracula yang ditugaskan untuk memimpin pasukan Turki) memerintahkan 3.000 pasukan untuk bergerak menuju benteng Poenari. Sedangkan 10.000 prajurit menjaga Tirgoviste.

Dalam perjalanannya ke benteng Poenari, Dracula masih saja memamerkan kekejamannya. Di sepanjang jalan yang dilaluinya, Dracula membantai penduduk desa. Korban – korban tersebut mayatnya dibiarkan teronggok di sepanjang jalan (diperkirakan jumlahnya 30.000 orang), sehingga bau busuk menyebar dan tercium ke hidung – hidung pasukan Turki.

Setelah sehari semalam menempuh perjalanan yang sulit dan berkelok – kelok juga mendaki. Akhirnya sampai juga pasukan Turki dekat dengan benteng Poenari. Benteng tersebut berdiri kokoh di atas tebing. Hanya ada satu jalan untuk mencapai ke benteng tersebut, karena ketiga sisi benteng adalah jurang yang sangat curam.

Pasukan Turki yang dipimpin Randu pun membuat tenda– tenda peristirahatan. Sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, mereka akan menyerang benteng di keesokan harinya.

Sementara itu, di dalam benteng Dracula semakin gelisah dan ketakutan.

“Dan Alloh akan melemparkan ketakutan dalam hati mereka.” Begitulah Alloh menyusupi rasa takut di dada musuh – musuh-Nya.

Ketika rasa putus asanya semakin memuncak, di saat malam telah menyelimuti benteng Poenari, Dracula memutuskan diri untuk melarikan diri. Dengan memasuki lorong rahasia, dia dan pasukannya menelusuri hutan dan pegunungan Carpathian. Setelah berhari – hari berjalan, sampailah ia di Brasov, wilayah bagian kerajaan Honggaria.

Larinya Dracula pun memudahkan Randu untuk menguasai benteng Poenari. Dengan jatuhnya benteng tersebut ke tangan pasukan Turki merupakan tanda lepasnya kekuasaan Dracula di Wallachia untuk kedua kalinya. Peristiwa ini terjadi pada bulan Agustus 1462 M.

Beberapa tahun berlalu

Kekuasaan Dracula sudah memudar, sedangkan perang salib semakin menggila. Pasukan Turki pun sudah memasuki Bucharest untuk memukul mundur pasukan salib menjauh dari wilayah Islam. Sultan Muhammad II turun langsung di pertempuran tersebut.

Pada situasi yang semakin memanas ini, Dracula sebagai bagian dari sekutu pasukan salib mendapatkan tugas untuk menggempur pasukan Turki di sekitar sungai Danube.

Pada awal Desember 1476 M, Dracula ke luar dari pintu gerbang Tirgoviste dengan pasukan yang sangat kecil. Tiada teriakan rakyat yang memberikan semangat, seolah warga kota tak perduli dengan adanya peperangan.

Dracula dan pasukannya bergerak menelusuri sungai Dimbovita dengan tujuan utama danau Snagov.  Setelah kurang lebih 15 hari melintasi hutan dan rawa, akhirnya Dracula dan pasukannya sampai juga di danau Snagov. Tapi rupanya pasukan Turki Ottoman telah menyambut mereka di hutan Vlasia, sebuah hutan yang tidak jauh dari danau Snagov.

danau-snagov

Sunyi pagi pun terusik kala itu, suara – suara teriakan menyobek pagi yang muram. Dan pertempuran sengit pun terjadi. Pasukan Dracula yang kalah dalam berperang seperti kesetanan menyerang siapa saja tanpa mengetahui musuhnya atau kawannya. Dracula sendiri juga tak mau kalah kesetanannya. Ia menerjang musuh yang ada di dekatnya tanpa memberikan ampun. Pedang kecil miliknya beberapa kali melesak ke tubuh musuhnya. Rintihan sekarat, erangan kematian, jerit kesakitan dan teriakan membahana untuk membinasakan musuh membahana di sekitar danau Snagov.

Di medan pertempuran Dracula semakin terpojok. Sebesar apa pun kekuatan Dracula, ia tak akan mampu menghadapi melawan pasukan Turki yang jumlahnya tiga kali lipat lebih besar. Tebasan pedangnya pun sudah berubah menjadi tebasan keputus asaan. Dan akhirnya, ia menjemput ajalnya di tepi danau Snagov.

Simpang Siur Kematian Dracula

Ada banyak pendapat dan versi tentang sebab – sebab kematian Dracula. Ada yang mengatakan Dracula terbunuh oleh prajuritnya sendiri. Karena diantara prajuritnya, ada yang menjadi pembunuh bayaran para tuan tanah yang keluarganya dibantai / yang kontra dengan Dracula.

Ada yang mengatakan bahwa Dracula dibunuh oleh prajurit Turki yang menyamar menjadi pelayan.

Ada juga yang mengatakan bahwa Dracula dibunuh oleh prajuritnya sendiri. Dari banyaknyapendapat yang berkembang tentang kematian Dracula. Dapat diambil kesimpulan dan juga semua pendapat sepakat bahwa Dracula mati terbunuh dan kepalanya dipenggal lalu dibawa ke Konstantinopel, Turki sebagai bukti bahwa iblis si penyula telah tewas. Mereka juga bersepakat setelah di Konstantinopel, kepala tersebut dipancang di alun – alun dan dipertunjukkan kepada rakyat Turki.

Dasar Kekristenan Nomor #1.

sembah-yesus-masuk-neraka

DAN INGATLAH WAHAI JIDAT KRISTEN …

APA-APA YANG KAMU YAKINI ITU,
SEMUA NYA TIDAKLAH AKAN BERGUNA DAN KAMU TIDAK AKAN DIAKUI SEBAGAI UMAT YESUS, KARENA YESUS SAMA SEKALI TIDAK MAU DI TUHANKAN …

KARENA MEMANG DIA BUKAN TUHAN, DAN KAMU SEKALIAN AKAN DI MASUKAN KE NERAKA JAHANAM SELAMANYA KARENA DIANGGAP SEBAGAI PEMBUAT KEJAHATAN … SBB:

YESUS MENGUTUK ORANG YANG MENUHANKANNYA:

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku (Yesus): Tuhan, Tuhan! Akan masuk kedalam kerajaan sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”. (MAT 7:21)

“Pada hari terakhir (Kiamat) banyak orang akan berseru kepada-Ku (Yesus): Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu (Yesus), dan mengusir setan demi nama-Mu (Yesus), dan mengadakan banyak muzijat demi nama-Mu (Yesus) juga?”. (MAT 7:22)

“Pada waktu itulah Aku (Yesus) akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku (yesus) tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku (Yesus), kamu sekalian pembuat kejahatan”. (MAT 7:23)

4 Hukum Riba dalam Kristen dan Perkembangannya

riba

Riba adalah tindakan yang dilakukan seseorang dengan meminjamkan uang kepada orang lain dan meminta bunga dari orang tersebut. Pada abad keempat, hierarki Gereja Katolik Roma sempat melarang pengambilan bunga semacam ini. Pihak gereja menjadikan Perjanjian Lama sebagai pedoman, dimana di dalamnya terdapat larangan dalam hal pengambilan bunga atau riba.

Banyak pendapat negatif mengenai riba pada jaman ini. Seseorang yang berniat membantu namun memberlakukan praktik riba dianggap sebagai pertolongan palsu.  Selain itu, riba juga dipandang sebagai tindakan yang tidak berperikmanusiaan karena mengambil keuntungan dari orang-orang yang memerlukan. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa pemberi bunga adalah seorang perampok yang kejam.

Dan sebelum kita membahas lebih jauh mengenai hukum riba menurut Kristen, mari terlebih dahulu kita cermati beberapa ayat yang berbicara mengani hukum riba dalam Kristen.

1 Keluaran 22:25-27

“Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya. Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam, sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya–pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih.”

Ulangan 23:19

“Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan atau apapun yang dapat dibungakan.”

Matius 5:42

“Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.”

Imamat 25:36-37

“Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu. Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kauberikan dengan meminta riba.”

Apabila kita mencermati pesan dari ayat-ayat tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya pengambilan bunga / riba dilarang oleh Alkitab. Namun, tentu saja kita harus berpikir terbuka. Kita tidak bisa menilai dari satu sisi saja, kita juga perlu melihat dari sisi lain bahwa dunia semakin berkembang, ekonomi semakin bertumbuh pesat, dan kehidupan modern yang tak terelakkan.

Bukan artinya kita mengabaikan Alkitab sebagai pedoman, melainkan kita memahami riba dengan makna yang berbeda. Dan pelarangan riba dalam Alkitab itu sendiri pasti memiliki alasan. Nah di dalam artikel ini, kita akan mengetahui apa itu sebenarnya riba dan kapan riba itu dapat mendatangkan dosa.

Perkembangan Riba

Pada akhir abad ke-13, terdapat kelompok-kelompok yang berusaha untuk menghilangkan aturan gereja yang dianggap kolot ini, sehingga pemberlakuan bunga mulai berkembang luas dan bahkan dianggap sah di Eropa.

Hal lain yang mempengaruhi meluasnya sistem bunga pada masa itu adalah karena perkembangan ekonomi yang sangat pesat. Uang menjadi unsur yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, sehingga perlahan-lahan pasar uang mulai terbentuk. Dan hal tersebut mendorong semakin meluasnya suku bunga pasar.

Pertimbangan yang dilakukan oleh sarjana Kristen pada saat itu sehingga menerima sistem bunga ini tidak hanya merujuk pada Alkitab, melainkan mereka juga mengaitkan dengan aspek-aspek lain, di antaranya  jenis dan bentuk undang-undang, hak seseorang terhadap harta, ciri dan makna keadilan, bentuk keuntungan, niat dan perbuatan manusia, serta perbedaan antara dosa individu dan kelompok.

Sehingga, definisi bunga itu sendiri pun mulai berubah. Bunga dibedakan menjadi dua macam, yaitu interset dan usury. Interset adalah bunga yang diperbolehkan sedangkan usury adalah bunga yang berlebihan.

Para penggerak sejarah reformasi gereja seperti John Calvin juga berpikir bahwa pemberian bunga boleh dilakukan asalkan bunga tersebut digunakan untuk kepentingan yang produktif. Jadi intinya, mereka berpendapat bahwa dosa atau tidaknya pemberlakuan bunga tergantung pada niat si pemberi bunga.

Dan terlebih lagi, Gereja Katolik pun mulai menerima riba. Namun, bukan karena mereka dengan sengaja melanggar perintah Alkitab, melainkan karena pemahaman mereka terhadap riba itu sendiri mulai berubah. Pada jaman dahulu, uang tidak akan memberikan hasil apabila tidak dijalankan. Dan kita bisa lihat ekonomi saat ini bahwa uang dapat diinvestasikan. Sehingga, pemberian bunga dengan presentase yang pantas dianggap tindakan yang cukup adil. Sedangkan apabila bunga yang diberikan itu terlalu tinggi, maka tindakan ini dianggap suatu dosa. Maka dari itu, riba bisa dipahami dari sisi lain dan harus dilaksanakan dengan bijaksana.

Contoh riba yang tidak boleh dilakukan adalah mengambil bunga dari orang yang miskin dan sangat membutuhkan. Kalau kita melakukannya, itu sama saja kita melanggar hukum kasih dalam Alkitab dengan mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain. Sedangkan contoh riba yang boleh dilakukan adalah pemberian bunga dalam urusan bisnis dimana kedua belah pihak sudah menyetujuinya sejak awal.

Namun, apabila kita melihat dari peran nilai-nilai Kristiani dan tidak melihat dari sisi kepentingan bisnis, maka alangkah baiknya kita meresapi ayat Alkitab dalam Matius 10:8, yang menasihati kita untuk memberi dengan cuma-cuma karena kita telah menerima anugerah-Nya dengan cuma-cuma pula. Terapkan selalu prinsip kasih tentang Alkitab kepada sesama. Dan alangkah baiknya juga kalau kita tidak menjadi pihak yang berhutang. Paulus sendiri mengatakan supaya kita jangan berhutang apapun, selain hutang kasih.

Sekian artikel tentang hukum riba dalam Kristen. Semoga artikel ini dapat membantu pembaca memandang riba dalam berbagai sisi dan sesuai konteksnya. Terima kasih.

Sumber, https://tuhanyesus.org/hukum-riba-dalam-kristen. Diakses 1 Oktober 2019.

-o0o-

Sophislam,

Jadi intinya, Kristen menghalalkan riba, walau pun Alkitab telah menjerit-jerit tentang betapa haramnya riba, sehingga bisa dikatakan bahwa Gereja beserta umatnya begitu berani menentang kitab suci mereka sendiri.

Tidak usah berpanjang lebar mengenai kebolehan riba, toh intinya Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru jelas-jelas mengharamkan riba. Pantaslah, masyarakat Kristen menjadi masyarakat terdepan di dunia di dalam hal praktek riba, yang kemudian menjalar ke mana-mana sampai ke negeri Indonesia.

Ohya, jangan lupa juga satu hal, bahwa Jesus menebus dosa seluruh umatnya. Jadi umatnya (yaitu umat Kristen) dibiarkan saja berbuat maksiat sebanyak mungkin, toh nanti semua dosanya akan ditebus Jesus kelak. Maka dari itu Gereja beserta umatnya berani melawan Alkitab, karena toh nanti Jesus akan datang sebagai penebus dosa, termasuk di dalam hal ini, yaitu menentang Alkitab di dalam hal pengharaman riba.

Islam sendiri dengan jelas mengharamkan riba, tidak beda dengan Alkitab. Dan sampai kini umat Muslim tetap taat kepada pengharaman ini, sehingga semua umat Muslim memandang riba sebagai praktek haram. Diakui tidak sedikit Muslim yang berbuat riba, namun bukankah hal tersebut selalu dikaitkan dengan maksiat dan terkutuk di tengah umat Muslim?

Ujung-ujungnya, bagaimana mungkin umat Kristen dapat dianggap sebagai umat yang kitabiah? Mereka sendiri yang menentang Alkitab mereka, maka apakah pantas disebut umat yang taat kepada Alkitab? Di mana posisi umat Kristen terhadap Alkitab? Ketuhanan Jesus saja, tidak pernah diajarkan Alkitab, tidak ada satu pun ayat Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa Jesus adalah anak Tuhan dan penebus dosa umat, namun entah bagaimana seluruh Gereja dan umatnya meyakini bahwa Jesus adalah putra Allah dan penebus dosa umatnya yang percaya kepada Jesus sebagai  putra Allah. Sekali lagi, di mana posisi umat Kristen terhadap Alkitab mereka sendiri?

Wallahu a’lam bishawab.

Kuasa Pengampunan Jesus Adalah Nonsense Bagian 2

TTO

Purgatorium (kutipan dari wikipedia)

Dalam teologi Kristen, dan khususnya dalam teologi Katolik, Purgatorium (bahasa Inggris: Purgatory) adalah suatu keadaan antara atau peralihan setelah kematian jasmani yang melaluinya mereka yang ditentukan ke Surga “menjalani pemurnian, sehingga mencapai kekudusan yang diperlukan untuk memasuki kegembiraan surga”. Hanya mereka yang meninggal dunia dalam keadaan rahmat, namun belum menjalani hukuman sementara akibat dosa-dosa mereka, yang dapat berada dalam Purgatorium, dan dengan demikian tidak ada seorang pun dalam Purgatorium yang akan berada selamanya dalam keadaan tersebut ataupun pergi ke neraka. Asal mula konsep ini memiliki akar-akar sejak dahulu.

Kata Purgatorium juga digunakan untuk mengacu pada berbagai konsepsi historis dan modern tentang penderitaan pasca kematian fisik menjelang hukuman kekal, dan digunakan, dalam pengertian non-spesifik, dengan arti setiap tempat ataupun kondisi dalam penderitaan atau siksaan, terutama yang bersifat sementara.

Sejarah keyakinan

Keyakinan akan adanya hukuman sementara yang sepadan dalam kehidupan setelah kematian, atas semua sikap dan perilaku masing-masing orang selama hidupnya di dunia ini, diungkapkan dalam karya tulis Kristen awal berbahasa Yunani yang dikenal sebagai Diskursus Yosefus untuk Orang Yunani mengenai Hades, yang pernah diatribusikan pada Yosefus (37 – kr. 100) namun sekarang diyakini sebagai karya Hippolitus dari Roma (170–235).

Sesaat sebelum ia berpindah keyakinan menjadi Katolik Roma, akademisi Inggris John Henry Newman berpendapat bahwa esensi doktrin ini terletak dalam tradisi kuno, dan bahwa konsistensi inti keyakinan-keyakinan semacam ini merupakan bukti bahwa Kekristenan “pada dasarnya diberikan kepada kita dari surga”. Umat Katolik Roma tidak menganggap ajaran tentang Purgatorium sebagai penambahan-penambahan imajinatif, memandangnya sebagai bagian dari iman yang berasal dari penyataan Yesus Kristus yang diwartakan oleh Para Rasul. Dari antara para Bapa Gereja awal, Origenes mengatakan bahwa “ia yang diselamatkan, karena itu diselamatkan melalui api” yang membakar dosa-dosa dan keduniawian sama seperti pemurnian emas dalam api dari logam-logam lain seperti timah hitam. St. Ambrosius dari Milan berbicara mengenai semacam “baptisan api” yang terletak di pintu masuk menuju Surga, dan semua orang musti melewatinya, pada akhir dunia ini. St. Gregorius Agung mengatakan bahwa keyakinan akan Purgatorium adalah “jelas” (constat), dan “diyakini” (credendum), serta menegaskan bahwa ………

‘api’ Purgatorial hanya dapat memurnikan pelanggaran-pelanggaran kecil, bukan “besi, perunggu, atau timah hitam,” ataupun dosa-dosa “keras” (duriora) lainnya. Dengan ini ia menyampaikan bahwa keterikatan pada dosa, kebiasaan berdosa, dan bahkan dosa-dosa ringan dapat dilepaskan dalam Purgatorium, tetapi tidak dosa berat, yang menurut doktrin Katolik mengakibatkan HUKUMAN KEKAL. :::Point 01:::

Selama berabad-abad, para teolog dan kalangan Kristen lainnya mengembangkan doktrin mengenai Purgatorium, yang kemudian menyebabkan penetapan doktrin secara resmi (berbeda dari deskripsi-deskripsi legendaris yang ditemukan dalam literatur puitis) pada Konsili Lyon I (1245), Konsili Lyon II (1274), Konsili Florence (1438–1445), dan Konsili Trente (1545–63).

Kekristenan

Sejumlah gereja, khususnya Katolik Roma, mengakui doktrin Purgatorium. Banyak gereja Protestan dan Ortodoks Timur tidak menggunakan terminologi yang sama, yang pertama disebutkan mendasari pada doktrin sola scriptura mereka, dikombinasikan dengan pengecualian mereka atas Kitab 2Makabe dari Alkitab; sementara Gereja Ortodoks menganggap Purgatorium sebagai suatu doktrin yang non-esensial.

Katolisisme

Gereja Katolik memberi nama Purgatorium atas pemurnian akhir semua orang yang wafat dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah, tetapi masih belum dimurnikan secara sempurna. Purgatorium lebih sering digambarkan sebagai tempat suatu proses pemurnian, namun gagasan purgatorium sebagai suatu tempat secara fisik bukan merupakan bagian dari doktrin Gereja.

Surga dan Neraka

Menurut keyakinan Katolik, seketika setelah kematian jasmaninya, seseorang menjalani penghakiman khusus yang menentukan nasib jiwanya dalam kekekalan. Beberapa jiwa dapat langsung bersatu dengan Allah dalam Surga, dibayangkan sebagai suatu firdaus sukacita abadi, Theosis terselesaikan dan jiwa mengalami visiun beatifis Allah. Sebaliknya, sebagian jiwa lainnya (mereka yang mati dalam kebencian kepada Allah dan Kristus) mencapai suatu keadaan yang disebut Neraka, yaitu KETERPISAHAN SELAMANYA dari Allah yang sering dibayangkan sebagi suatu kediaman yang tanpa akhir dalam SIKSAAN NYALA API, suatu api yang terkadang dianggap metaforis. :::Point 02:::

Peranan terkait dosa

Selain menerima keadaan surga dan neraka, Katolisisme juga memandang adanya keadaan ketiga bagi jiwa sebelum diterima dalam surga. Menurut doktrin Katolik, sebagian jiwa belum bebas sepenuhnya dari efek temporal dosa dan konsekuensinya untuk dapat langsung memasuki keadaan surga, ………..

sementara sebagian lainnya sedemikian berdosa dan penuh kebencian kepada Kristus sehingga langsung memasuki keadaan neraka. :::Point 03:::

Jiwa-jiwa tersebut, yang ditentukan berakhir dalam persatuan dengan Allah dalam surga,

pertama-tama perlu dibersihkan terlebih dahulu melalui purgatorium – :::Point 04:::

-suatu keadaan pemurnian atau penyucian. Melalui purgatorium, jiwa-jiwa “meraih kekudusan yang diperlukan untuk memasuki kegembiraan surga”.

Dosa berat mengakibatkan hukuman sementara sekaligus hukuman kekal, sementara dosa ringan hanya mengakibatkan hukuman sementara. :::Point 05:::

Gereja Katolik membuat perbedaan antara kedua jenis dosa tersebut. Dosa berat adalah “dosa yang objeknya adalah hal berat serta yang juga dilakukan dengan pengetahuan penuh dan persetujuan yang telah dipertimbangkan”, sehingga “kalau tidak ditebus melalui penyesalan dan pengampunan Allah mengakibatkan ……………..

pengecualian dari kerajaan Kristus dan kematian abadi dalam neraka, sebab kebebasan kita mempunyai kuasa untuk membuat pilihan untuk selama-lamanya tanpa dapat ditarik kembali“.:::Point 06:::

Sebaliknya, dosa ringan “tidak menjadikan kita bertentangan secara langsung terhadap kehendak dan persahabatan Allah” dan, kendati masih “merupakan suatu gangguan moral”, tidak melepaskan persahabatan dengan Allah dalam diri orang yang berdosa, dan konsekuensinya kebahagiaan kekal dalam surga. Namun, karena dosa ringan memperlemah kasih, memanifestasikan afeksi yang tidak semestinya pada barang-barang ciptaan, dan menghambat kemajuan jiwa dalam melakukan kebajikan-kebajikan serta kebaikan moral, ……………

maka dosa ringan mengakibatkan hukuman sementara (temporal). :::Point 07:::

Santa Katarina dari Genoa menuliskan: “Adapun surga, Allah tidak menempatkan pintu di sana. Siapapun yang ingin masuk, [dapat] melakukannya. Allah yang penuh belas kasih berdiri di sana dengan tangan-Nya terbuka, menanti untuk menerima kita ke dalam kemuliaan-Nya. Tetapi, saya juga melihat bahwa hadirat ilahi begitu murni dan penuh cahaya – jauh melebihi yang dapat kita bayangkan – bahwa jiwa yang pantas namun …….

memiliki sedikit ketidaksempurnaan lebih memilih melemparkan dirinya ke dalam seribu neraka :::Point 08:::

daripada tampil di hadapan hadirat ilahi. Lidah tidak dapat mengungkapkan dan hati juga tidak memahami sepenuhnya arti purgatorium, yang rela diterima jiwa sebagai suatu belas kasih atas kesadaran bahwa penderitaan itu tidak penting dibandingkan dengan pelepasan hambatan dosa”.

Rasa sakit dan api

Purgatorium umumnya dipandang sebagai suatu penyucian dengan cara ……

hukuman sementara yang menyakitkan, yang—sama seperti hukuman kekal Neraka  :::Point 09:::

—dihubungkan dengan gagasan mengenai api.  Kendati “rasa sakit indra-indra” (berbeda dengan “rasa sakit kerinduan” akan Visiun Beatifis) secara doktrinal tidak didefinisikan sebagai bagian dari Purgatorium, para teolog memiliki konsensus yang sangat kuat bahwa kesakitan indrawi juga termasuk. Beberapa Bapa Gereja memandang 1 Korintus 3:10–15 sebagai bukti adanya suatu keadaan peralihan yang membakar habis sisa-sisa pelanggaran ringan, dan jiwa yang telah dimurnikan akan diselamatkan.

Api merupakan penggambaran yang diilhami Alkitab (“Kami telah menempuh api dan air”) yang digunakan umat Kristen untuk konsep pemurnian dalam kehidupan setelah kematian. St. Agustinus mendeskripsikan api-api dalam penyucian sebagai sesuatu yang LEBIH MENYAKITKAN dari apa pun yang dapat diderita seseorang dalam kehidupan ini, dan Paus Gregorius I menuliskan bahwa HARUS ADA SUATU API PENYUCIAN UNTUK BEBERAPA KESALAHAN KECIL yang mungkin masih perlu disingkirkan. Origenes menuliskan tentang api yang diperlukan untuk memurnikan jiwa, dan St. Gregorius dari Nyssa juga menulis tentang api pembersihan.

Kebanyakan teolog dari masa lampau menyatakan bahwa api tersebut dalam arti tertentu adalah suatu api materiil, meski sifatnya berbeda dari api biasa, namun pendapat teolog-teolog lainnya yang menafsirkan istilah biblis “api” secara metaforis tidak dikecam oleh Gereja dan mungkin sekarang menjadi pandangan yang lebih umum di antara para teolog. Katekismus Gereja Katholik (KGK) berbicara tentang suatu “api penyucian” dan mengutip ungkapan “purgatorius ignis” (api pemurnian) yang digunakan Paus Gregorius Agung. KGK berbicara tentang hukuman sementara karena dosa, bahkan dalam kehidupan ini, sebagai salah satu dari “segala macam penderitaan dan cobaan”. KGK mendeskripsikan purgatorium sebagai pemurnian yang diperlukan karena “suatu keterikatan yang tidak sehat dengan makhluk-makhluk”, suatu pemurnian yang “membebaskan seseorang dari apa yang dinamakan ‘siksa dosa sementara'”, suatu hukuman yang “tidak boleh dipandang sebagai semacam balas dendam yang ditimpakan Allah dari luar, TETAPI SEBAGAI SESUATU YANG TIMBUL DARI HAKIKAT DOSA ITU SENDIRI.”

Doa untuk arwah dan indulgensi

Gereja Katolik mengajarkan bahwa nasib mereka yang berada dalam purgatorium dapat dipengaruhi oleh tindakan mereka yang masih hidup di dunia ini. Ajaran itu juga didasarkan pada praktik berdoa bagi arwah sejak zaman dahulu sebagaimana disebutkan pada 2 Makabe 12:42–46, yang dipandang oleh umat Katolik dan Ortodoks sebagai bagian dari Kitab Suci.

Dalam konteks yang sama ada disebutkan praktik indulgensi. Suatu indulgensi merupakan remisi di hadapan Allah, melalui perantaraan Gereja, atas hukuman sementara akibat dosa-dosa yang telah mendapat pengampunan. Indulgensi dapat diperoleh bagi diri sendiri, ataupun dipersembahkan bagi orang yang telah meninggal dunia. Terlepas dari persepsi populer di kalangan non-Katolik, Gereja Katolik TIDAK PERNAH mengajarkan bahwa INDULGENSI MEMILIKI KUASA PENGAMPUNAN DOSA KARENA HAL ITU DIPANDANG SEBAGAI YURISDIKSI ALLAH SAJA. Siapa pun yang mengajarkan bahwa dengan melakukan tindakan-tindakan kasih seperti indulgensi saja dapat mengampuni dosa -telah dikecam sebagai bidah (sesat) oleh Gereja Katolik.

Mengatakan bahwa indulgensi dapat berlaku tanpa peduli seberapa besar kadar keimanan seseorang, tanpa memenuhi persyaratan yang ditetapkan, juga dipandang sesat. Suatu indulgensi bergantung (atau tindakan kasih apa pun untuk hal itu) pada kadar keimanan seorang individu Kristen pada saat tersebut (lihat kasus Johann Tetzel). :::Point 10:::

Indulgensi dan doa untuk arwah telah secara umum dibayangkan sebagai pengurang “durasi” waktu yang dihabiskan oleh arwah dalam purgatorium. Gagasan itu terkait dengan kenyataan bahwa, pada masa lampau, indulgensi diterapkan dalam ukuran jumlah hari, periode 40 hari sebagaimana masa Prapaskah, ataupun tahun, yang sesungguhnya berarti bahwa bukan purgatorium yang dipersingkat dengan jumlah waktu tetapi indulgensi dilakukan sepanjang penitensi kanonik pada sisi orang Kristen yang masih hidup di dunia ini.

Pernyataan Katolik

Kompendium Katekismus Gereja Katolik, pertama kali diterbitkan pada tahun 2005, memuat ringkasan Katekismus Gereja Katolik (KGK) dalam bentuk dialog. Kompendium KGK membahas tentang purgatorium[b] dalam rupa tanya jawab berikut:

210. Apa itu purgatorium?

Purgatorium ialah keadaan mereka yang wafat dalam persahabatan dengan Allah, ada kepastian akan keselamatan kekal mereka, tetapi masih membutuhkan pemurnian untuk masuk ke dalam kebahagiaan surga.

  1. Bagaimana kita bisa membantu jiwa-jiwa yang sedang dimurnikan di purgatorium?

Karena persekutuan para kudus, umat beriman yang masih berjuang di dunia ini dapat membantu jiwa-jiwa di purgatorium dengan mempersembahkan doa-doa untuk mereka, khususnya kurban Ekaristi. Umat beriman juga dapat membantu mereka dengan beramal, indulgensi, dan karya penitensi. :::Point 11:::

Kedua tanya jawab di atas merangkum penjelasan yang terdapat dalam KGK 1020–1032 dan 1054, yang dipublikasikan pada tahun 1992, yang juga berbicara tentang purgatorium pada bagian 1472 dan 1473.

Katolisisme Timur

Beberapa kalangan Ortodoks percaya pada suatu ajaran tentang adanya “rumah tol aerial” bagi jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dunia. Menurut teori tersebut, yang ditolak oleh kalangan Ortodoks lainnya tetapi terdapat dalam himnologi Gereja Ortodoks, “setelah kematian seseorang jiwanya meninggalkan tubuhnya dan dihantar kepada Allah oleh malaikat-malaikat. Selama perjalanan ini, jiwa melintasi suatu dunia aerial (“udara”) yang dikuasai oleh roh-roh jahat.

Jiwa menjumpai roh-roh jahat itu di berbagai titik yang disebut sebagai ‘rumah-rumah tol’ tempat roh-roh jahat kemudian berusaha untuk menuduhnya karena dosa dan, bila memungkinkan, menarik jiwa ke dalam Neraka”. :::Point 12:::

Sumber, https://id.m.wikipedia.org/wiki/Purgatorium …….. Di-akses 24 September 2019.

Note. Beberapa paragraf telah dihapus karena tidak mempunyai relevansi.

Bold and capital emphasize mine.

-o0o-

Sophislam.

Artikel di atas membahas purgatori yang berasal dari wikipedia yang mengutip berbagai sumber, dan apa yang dibahas adalah adanya api Neraka buat umat Kristen, yaitu umat / individu yang percaya kepada Jesus sebagai putra Allah dan Juru Penebus Dosa yang mempunyai KUASA PENEBUSAN DOSA (KPD) melalui darah penyaliban yang menyengsarakan sang Jesus di tiang salib.

Jadi intinya, siapa saja orang yang percaya kepada Jesus sebagai putra Allah dan sebagai penebus dosa, maka semua dosanya akan ditebus Jesus kelak di hari kiamat, yang akan membuatnya bebas masuk Surga.  Itu semua berkat besarnya kasih Tuhan Bapa kepada umat dunia, …………

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3: 16).

Namun berkebalikan dengan janji / ayat di atas, justru artikel mengenai purgatori ini membahas adanya siksa Neraka buat para Kristen pendosa, baik itu Neraka sementara (purgatori) maupun Neraka kekal, seolah percaya kepada Jesus sebagai putra Allah dan Juru Penebus Dosa tidak pernah ada di dalam Alkitab; atau seolah percaya kepada Jesus sebagai putra Allah dan Juru Penebus Dosa tidak ada gunanya dan tidak ada efeknya sama sekali. Lantas buat apa ada ayat Yohanes 3: 16 tersebut?

Artikel purgatori ini, sedikit pun tidak menyinggung penebusan dosa Jesus untuk umatnya, baik dosa kecil maupun dosa besar. Justru artikel ini membahas bahwa orang Kristen yang dosanya kecil, akan dimasukkan ke Neraka purgatori, sementara yang mempunyai dosa (sedemikian) besar akan dilempar ke Neraka abadi nan kekal. Lantas di mana letak kepenebusan dosa Jesus, seperti yang  tertera pada ayat Yohanes di atas?

Apakah penulis artikel purgatori ini, saking serius dan bangganya membahas purgatori, membuatnya lupa bahwa ada penebusan dosa dari Jesus bagi siapa saja yang percaya kepadanya sebagai putra Allah dan penebus dosa? Atau, apakah memang sebenarnya jabatan Jesus sebagai penebus dosa hanya hoax semata?

Atau ingin membuat umat Kristen bingung? Di satu pihak, di Gereja mereka dijanjikan penebusan dosa dari Jesus –sehingga umatnya kelak tidak merasakan kesengsaraan hukuman, sementara di pihak lain adanya artikel purgatori ini menegaskan TETAP ADANYA hukuman Neraka bagi orang Kristen di hari kiamat, baik dosa kecil maupun dosa besar; jadinya artikel wikipedia ini hanya menegaskan bahwa jabatan Jesus sebagai penebus dosa hanya nonsense yang tidak lucu? Mana yang benar?

Kalau memang benar Jesus menjabat sebagai penebus dosa, maka seharusnya tidak ada Neraka sementara alias purgatori, dan juga tidak ada Neraka kekal bagi para pendosa besar. Jadi seharusnya Neraka itu hanya untuk mereka yang menolak Jesus sebagai putra Allah dan penebus dosa (Muslim contohnya).  Namun mana faktanya? Mana pasalnya?

Maka pada akhirnya dapat disimpulkan, bahwa ajaran yang menyatakan bahwa Jesus merupakan penebus dosa umatnya, merupakan nonsense, tidak berdasar dan tidak ada logikanya: menjadi orang Kristen sama sekali tidak menjamin masuk Surga; justru Neraka abadi dan Neraka purgatori sudah menunggu setiap orang Kristen, kendati selalu diajarkan bahwa Jesus mempunyai Kuasa Penebusan Dosa bagi orang percaya. Lantas buat apa terus menjadi orang Kristen?

Apa bedanya dari Islam? Di dalam Islam jelas diajarkan bahwa Muslim saleh akan masuk Surga, sementara Muslim pendosa akan masuk Neraka kekal di dalamnya, dan begitu juga dengan orang-orang yang menolak menjadi Muslim alias menolak percaya kepada ajaran Nabi Muhammad Saw (yaitu kaum kafir), mereka semua akan masuk Neraka kekal di dalamnya ….. jadi apa bedanya antara Islam dan Kristen? Buat apa ada Jesus sebagai penebus dosa, kalau Neraka masih juga dibahas buat para Kristen pendosa? Ternyata Jesus tidak bisa menebus dosa secuil pun!!!

Berikut di bawah ini merupakan cuplikan-cuplikan dari artikel di atas, supaya dapat semakin jelas bahwa KPD yang disandang Jesus tidak pengaruh sedikit pun.

:::Point 01:::

‘api’ Purgatorial hanya dapat memurnikan pelanggaran-pelanggaran kecil, bukan “besi, perunggu, atau timah hitam,” ataupun dosa-dosa “keras” (duriora) lainnya. Dengan ini ia menyampaikan bahwa keterikatan pada dosa, kebiasaan berdosa, dan bahkan dosa-dosa ringan dapat dilepaskan dalam Purgatorium, tetapi tidak dosa berat, yang menurut doktrin Katolik mengakibatkan HUKUMAN KEKAL.

Keterangan.

Paragraf ini jelas menunjukkan bahwa orang Kristen yang mempunyai dosa kecil, akan dimasukkan ke Neraka purgatori, sementara orang Kristen yang mempunyai dosa besar akan mengakibatkannya menerima HUKUMAN KEKAL. Lantas di mana kepenebusan dosa yang dijabat Jesus?

:::Point 02:::

Menurut keyakinan Katolik, seketika setelah kematian jasmaninya, seseorang menjalani penghakiman khusus yang menentukan nasib jiwanya dalam kekekalan. Beberapa jiwa dapat langsung bersatu dengan Allah dalam Surga, dibayangkan sebagai suatu firdaus sukacita abadi, Theosis terselesaikan dan jiwa mengalami visiun beatifis Allah. Sebaliknya, sebagian jiwa lainnya (mereka yang mati dalam kebencian kepada Allah dan Kristus) mencapai suatu keadaan yang disebut Neraka, yaitu KETERPISAHAN SELAMANYA dari Allah yang sering dibayangkan sebagi suatu kediaman yang tanpa akhir dalam SIKSAAN NYALA API, suatu api yang terkadang dianggap metaforis.

Keterangan.

Paragraf ini juga menyiratkan bahwa orang Kristen pendosa akan mengalami keterpisahan selamanya dari Allah yang dibayangkan sebagai kediaman tanpa akhir di dalam siksan nyala api. TEGAS SEKALI paragraf ini MENAFIKAN jabatan Jesus sebagai pemilik KPD.

:::Point 03:::

sementara sebagian lainnya sedemikian berdosa dan penuh kebencian kepada Kristus sehingga langsung memasuki keadaan neraka.

Keterangan.

Apalagi paragraf ini, disebutkan dia yang sedemikian berdosa dan penuh kebencian kepada Jesus langsung masuk Neraka. Berarti kuasa penebusan dosa Jesus tidak ada sama sekali, dan berarti kasih Bapa seperti yang tertulis dalam Yohanes 3: 26 tidak mempunyai dasar sama sekali.

:::Point 04:::

pertama-tama perlu dibersihkan terlebih dahulu melalui purgatorium –

keterangan.

Apa? Harus terlebih dahulu dibersihkan melalui Neraka purgatori? Lantas buat apa Jesus didapuk sebagai penebus dosa umatnya, kalau umatnya yang berdosa harus menjalani hukuman juga? Mana penebusan dosanya?

:::Point 05:::

Dosa berat mengakibatkan hukuman sementara sekaligus hukuman kekal, sementara dosa ringan hanya mengakibatkan hukuman sementara.

Keterangan.

Parah sekali paragraf ini, benar-benar mengindikasikan bahwa TIDAK PERNAH ADA YANG NAMANYA KUASA PENEBUSAN DOSA dari Jesus yang dibangga-banggakan umat Kristen, karena toh hukuman kekal maupun hukuman sementara tetap harus diderita umatnya di hari kiamat!!!!

:::Point 06:::

pengecualian dari kerajaan Kristus dan kematian abadi dalam neraka, sebab kebebasan kita mempunyai kuasa untuk membuat pilihan untuk selama-lamanya tanpa dapat ditarik kembali”.

Keterangan.

Nah, pada paragraf ini, susunan kata-katanya benar-benar menunjukkan KETIADAAN penebusan dosa Jesus, karena jelas disebut adanya KEMATIAN ABADI DALAM NERAKA ….. lantas apa gunanya Jesus sebagai penebus dosa?

:::Point 07:::

maka dosa ringan mengakibatkan hukuman sementara (temporal).

Keterangan.

Dosa ringan saja tetap harus menjalani hukuman di Neraka, maka apalagi dosa besar? Jadi buat apa selalu dijerit-jeritkan bahwa Jesus adalah putra Allah yang mempunyai kuasa penebusan dosa bagi umatnya yang percaya kepadanya sebagai putra Allah dan penebus dosa?

:::Point 08:::

memiliki sedikit ketidaksempurnaan lebih memilih melemparkan dirinya ke dalam seribu neraka

Keterangan.

Paragraf ini jelas sekali mentiadakan fungsi Jesus sebagai penebus dosa, sehingga umatnya yang berdosa lebih memilih melemparkan dirinya ke dalam 1000 Neraka. Maka di mana kasih Jesus itu yang dikatakan demikian besar?

:::Point 09:::

hukuman sementara yang menyakitkan, yang—sama seperti hukuman kekal Neraka

Keterangan.

Katanya sengsara Jesus di tiang salib sudah cukup untuk menebus dosa seluruh umatnya sehingga umatnya tidak perlu lagi merasakan sakitnya api Neraka? Namun mengapa paragraf ini ingin membuat kita faham bahwa para pendosa Kristen harus merasakan sakitnya hukuman kekal Neraka? Benar-benar nonsense!!

:::Point 10:::

Mengatakan bahwa indulgensi dapat berlaku tanpa peduli seberapa besar kadar keimanan seseorang, tanpa memenuhi persyaratan yang ditetapkan, juga dipandang sesat. Suatu indulgensi bergantung (atau tindakan kasih apa pun untuk hal itu) pada kadar keimanan seorang individu Kristen pada saat tersebut (lihat kasus Johann Tetzel).

Keterangan.

Memalukan! Doa arwah masih diperlukan untuk membebaskan saudara-saudara mereka yang berada di dalam siksa Neraka? Lantas mengapa mereka yang sudah wafat masih harus menjalani hukuman api Neraka, kalau diajarkan di dalam Gereja bahwa Jesus merupakan penebus dosa seluruh orang percaya?

Kalau memang benar bahwa Jesus mempunyai KPD, maka seharusnya setiap orang Kristen yang wafat langsung masuk Surga (karena semua dosanya langsung ditebus Jesus seketika itu juga), tidak perduli sebesar dan sebanyak apa dosanya, sehingga di dunia orang Kristen tidak perlu lagi melantunkan doa bagi keselamatan arwah Kristen. Lantas mengapa di paragraf ini doa arwah masih diperlukan bagi keselamatan para arwah dari Neraka? Dikemanakan KPD Jesus itu?

Sementara fakta menunjukkan orang Kristen dianjurkan untuk melantunkan doa arwah bagi saudara Kristen mereka yang sudah wafat dan sedang berada di dalam Neraka  …….., maka itu berarti Jesus TIDAK MEMPUNYAI KUASA PENEBUSAN DOSA seciul pun!

:::Point 11:::

  1. Apa itu purgatorium?

Purgatorium ialah keadaan mereka yang wafat dalam persahabatan dengan Allah, ada kepastian akan keselamatan kekal mereka, tetapi masih membutuhkan pemurnian untuk masuk ke dalam kebahagiaan surga.

  1. Bagaimana kita bisa membantu jiwa-jiwa yang sedang dimurnikan di purgatorium?

Karena persekutuan para kudus, umat beriman yang masih berjuang di dunia ini dapat membantu jiwa-jiwa di purgatorium dengan mempersembahkan doa-doa untuk mereka, khususnya kurban Ekaristi. Umat beriman juga dapat membantu mereka dengan beramal, indulgensi, dan karya penitensi.

Keterangan untuk 210.

Dikatakan, “tetapi masih membutuhkan pemurnian untuk masuk ke dalam kebahagiaan Surga” ……. Masih butuh pemurnian? Jadi persahabatan dengan Allah (dan tentu juga dengan putraNya yaitu Jesus) sama sekali tidak membuatnya mendapatkan penebusan dosa dari Jesus, sehingga tetap harus dimurnikan dulu melalui api Neraka purgatori? Fantastis!! Jadi ini benar-benar membuktikan bahwa KPD yang disandang Jesus tidak ada efeknya sama sekali, untuk mereka yang bersahabat dengan Allah sekali pun!

Keterangan untuk 211.

Dikatakan bahwa umat yang masih di dunia dapat membantu jiwa-jiwa di purgatori dengan melantunkan doa-doa. Waow! Pertanyaannya adalah, mengapa jiwa-jiwa berdosa itu berada di siksa Neraka purgatori, sementara di Gereja selalu diajarkan bahwa Jesus merupakan penebus dosa? Bukankah itu berarti para jiwa tersebut tidak melihat adanya penebusan dosa yang disandang Jesus? Dan bukankah ini berarti Jesus tidak mempunyai KPD?

:::Point 12:::

Jiwa menjumpai roh-roh jahat itu di berbagai titik yang disebut sebagai ‘rumah-rumah tol’ tempat roh-roh jahat kemudian berusaha untuk menuduhnya karena dosa dan, bila memungkinkan, menarik jiwa ke dalam Neraka”.

Keterangan.

Ya! Itu semua terjadi karena KPD yang disandang Jesus tidak pernah ada, karena KPD merupakan hoax yang diajarkan Gereja selama ini, itulah sebabnya jiwa-jiwa yang berdosa akan ditarik ke Neraka oleh roh jahat -dan mereka akan kekal di sana, sementara Jesus tidak berbuat apa-apa melihat jiwa-jiwa orang Kristen ditarik roh jahat ke Neraka: bukannya ditarik Tuhan Jesus yang mempunyai KPD ke di dalam Surga, malah ditarik roh jahat ke Neraka.

Percuma jadi orang Kristen yang percaya bahwa Jesus adalah anak Tuhan, karena justru mereka malah ditarik roh jahat ke Neraka lantaran dosa mereka tidak ditebus Jesus, padahal penebusan dosa Jesus itulah yang selalu dijerit-jeritkan di dalam Gereja setiap peribadatan.

-o0o-

Roma 6:18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.

Roma 6:22 Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal

Roma 6:23 Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Pasal-pasal Roma ini, 100% berkebalikan dari artikel wikipedia mengenai adanya Neraka sementara (alias purgatori) dan juga Neraka kekal buat para Kristen pendosa. Roma 6: 23 saja menjelaskan bahwa karena karunia Allah (pasti di sini di dalam bentuk Jesus yang mempunyai KPD), membuat orang Kristen hidup di dalam Kerajaan Jesus, sementara pada penjelasan artikel wikipedia disebutkan adanya keterpisahan untuk selamanya dari Kerajaan Jesus (Point 02) dan Neraka yang kekal bagi para Kristen yang percaya kepada Jesus. Jadi mana yang benar?

Yang benar adalah bahwa kuasa penebusan dosa dari Jesus tidak pernah ada dan tidak pernah dijanjikan di dalam Alkitab, tepat seperti apa yang dipaparkan oleh artikel wikipedia ini. Baiklah dikutip lagi di bawah ini,

“ Umat Katolik Roma tidak menganggap ajaran tentang Purgatorium sebagai penambahan-penambahan imajinatif, memandangnya sebagai bagian dari iman yang berasal dari penyataan Yesus Kristus yang diwartakan oleh Para Rasul. Dari antara para Bapa Gereja awal, Origenes mengatakan bahwa “ia yang diselamatkan, karena itu diselamatkan melalui api” yang membakar dosa-dosa dan keduniawian sama seperti pemurnian emas dalam api dari logam-logam lain seperti timah hitam. St. Ambrosius dari Milan berbicara mengenai semacam “baptisan api” yang terletak di pintu masuk menuju Surga, dan semua orang musti melewatinya, pada akhir dunia ini. St. Gregorius Agung mengatakan bahwa keyakinan akan Purgatorium adalah “jelas” (constat), dan “diyakini” (credendum), serta menegaskan bahwa ………

‘api’ Purgatorial hanya dapat memurnikan pelanggaran-pelanggaran kecil, bukan “besi, perunggu, atau timah hitam,” ataupun dosa-dosa “keras” (duriora) lainnya. Dengan ini ia menyampaikan bahwa keterikatan pada dosa, kebiasaan berdosa, dan bahkan dosa-dosa ringan dapat dilepaskan dalam Purgatorium, tetapi tidak dosa berat, yang menurut doktrin Katolik mengakibatkan HUKUMAN KEKAL.

Wallahu a’lam bishawab.

Silahkan lanjut baca artikel terkait: Kuasa Pengampunan Jesus Adalah Nonsense Bagian 1